Mendadak Dikejar Setan

Mendadak Dikejar Setan
Tidak Usah Mengelak!


__ADS_3

Karla terdiam. Pak Karan natap Karla udah kayak macan yang siap menerkam lawannya.


"Jawab Karla!" pak Karan ngebentak, aing jadi ikutan kaget. Karla nunduk, feelingku ada yang nggak beres ini sama si Karla.


"Hey, kamu jangan diam saja! saya itu lagi tanya sama kamu!" pak Karan menunjuk wajah Karla.


"Emh, sebenernya..." muka Karla udah kayak orang panik gitu.


"Sebenarnya tadi kamu dapat petunjuk dari nenek kamu, saya dengar kamu bicara sendiri waktu Reva dan Ridho keluar tenda. Saya yakin kamu sedang berkomunikasi dengan nenek kamu," tuduh pak Karan.


"Ah, emh ... bukan seperti itu, Pak..."


"Halah, tidak usah mengelak!" pak Karan marah besar.


"Dan saya yakin kamu sudah mendapatkan peringatan dari kemarin tapi kamu tidak mau memberitahu kami!" lanjut pak Karan menggebu-gebu.


"Hey, ada apa ini?" tanya Ridho yang datang dengan banyak kayu bakar di tangannya.


"Ssshhh, awwwh!" luka di lenganku sakitnya nggak main-main, aku juga lemes banget dengerin pak Karan marah-marah tambah bikin aku cenat-cenut.


Karla mendekat lalu mengangkat tanganku yang luka, mungkin niat dia mau liat luka ku ini tapi tangan Karla langsung di tepis pak Karan.


"Ada apa? kalian ini kenapa?" tanya Ridho yang melihat sikap pak bos yang terkesan kasar dengan Karla.


"Saya tahu dia hanya pura-pura pingsan, saya yakin dia berharap Reva dibawa makhluk tadi. Dan kalaupun tidak, kenapa dia tidak memberitahu kita petunjuk yang sudah dia dapat dari neneknya? bisa saja dia berniat menyelamatkan dirinya sendiri," tuduh pak Karan, Karla makin kicep.


"Apa benar kamu sudah mendapatkan petunjuk lain dan kamu menyembunyikan itu dari kita semua?" baru kali ini aku liat Ridho semarah itu.


"Nggak, nggak kayak gitu, Dho..." Karla berdiri dan mendekat pada Ridho


"Kenapa kamu kayak gitu sama aku, La? " aku natap Karla nggak percaya.


"Nggak kayak gitu, dengerin dulu. Ini semua nggak kayak yang kalian pikir..." Karla mencoba ngejelasin dua sampai bingung itu mau ngomong madep siapa.


Nggak bisa dipercaya ini ondel-ondel, kok ya bisa-bisanya dia pura-pura pingsan, biar apa coba? Biar Ridho nggak usah nolongin aku apa gimana. Tolong siapapun yang bisa benerin pikirannya Karla ke mode pabrik bisa ya langsung ke sini.

__ADS_1


"Besok malam bulan purnama," kata Karla takut-takut.


"Besok kesempatan terakhir kita, pasir di dalam botol ini semakin sedikit. Itu artinya, waktu kita tidak banyak. Kata nenek kamu sudah mendapatkan clue dari seseorang. Apa itu betul?" tanya Karla sama aku.


Dan sekarang semua mata tertuju sama aku.


"Ya dari hantu anak kecil yang ngikutin aku terus..." ucapku lirih, aku berusaha berdiri. Ridho yang ngeliat aku lemes langsung nyamperin. Dia nahan badanku yang hampir limbung.


"Hantu?" pak Karan mengernyit.


"Iya hantu," akhirnya aku pun menceritakan semua yang hantu itu bilang ke aku. Terakhir, aku baru inget kalau tadi dia sempet ngasih aku petunjuk sebelum Ridho dateng.


"Jadi kamu udah dapet petunjuk buat kita bisa keluar dari sini?" tanya Ridho.


"Iya..." ucapku lirih.


"Dan apa yang dia sampein sama persis dengan apq yang tertera di dalam kqin milik pak Karan..." kataku sambil melihat pak Karan.


Pak bos ngeluarin kain yang kini udah basah dan untungnya aku sempet ngafalin isi tulisan di kain itu.


"Semakin buram," katabpak Karan yang ngejereng kain di tangannya dia mendekatkan kain itu ke aku.


"Saya yakin bapak tau akan hal itu," lanjut Karla.


"Cincin itu harus dikembalikan di kolam yang terletak di belakang air terjun itu, seperti nama pemiliknya. Ilena yang berarti cahaya yang terang dan Jesalyn artinya kolam dibawah air terjun. Kolam itu ada di belakang air terjun itu tapi posisinya ada di bawah, di dalam air. Dan pak Karan dan Reva yang harus mengembalikannya. Waktu yang paling tepat adalah ketika matahari tepat diatas kepala, setidaknya itu yang dikatakan nenek," jelas Karla.


"Tapi Reva terluka, dia nggak mungkin buat menyelam. Tanyakan pada nenekmu, apa bisa Reva digantikan aku? biar aku yang menyelam dan menaruh cincin itu ke tempatnya..." ucap Ridho.


Karla menggeleng, "Semua udah ada aturan mainnya. Hanya itu cara supaya Reva terlepas dari ikatan cincin itu,"


"Sshiiiiiiiiiit!" Ridho ngusap wajahnya kasar dengan satu tangannya, sedangkan tangan satunya menyangga badanku yang makin kesini makin lemas.


"Kamu bisa berenang kan Reva?" tanya pak Karan.


Aku cuma bisa nunduk dan menggeleng.

__ADS_1


"Astagaaaaa! apa kamu tidak pernah les berenang? apa tidak ada pelajaran di sekolah?" pak Karan mencecar aing dengan pertanyaan.


"Saya takut air, Pak. Saya cocoknya di darat..." ucapku pasrah.


"Sudah sudah, kita masih punya waktu buat mikirin caranya buat naruh tuh cincin. Sekarang lebih baik kamu duduk. Aku dan pak Karan akan membuat api unggun. Lagi pula baju kamu basah, minimal aku bisa bikinin kamu minuman panas supaya kamu nggak sakit," kata Ridho ngusap kepalaku, kayak orang yang sayang banget.


Sekarang aku duduk di samping Karla, sedangkan pak bos dan Ridho lagi nyalain api unggun lagi.


"Sorry, aku nggak bermaksud..." Karla ngucapin itu lirih.


"Hem," aku cuma berdehem aja.


"Yang jelas tujuan kita sekarang keluar dari tpat ini dengan selamat," kataku datar.


Aku sebenernya cukup tau ya, apa yang dilakukan Karla tuh sebagai wujud kekecewaan dia sama Ridho. Perkara hantu itu kan ngincernya aku dan pak Karan, kalau pun aku kenapa-napa kan nggak ada efeknya juga sama si Karla. Dia tetep bisa keluar dari tempat ini.


Api menyala, melahap kayu kering yang ditumpuk sedemikian rupa. Pak bos mulai menuangkan air panas ke dalam gelas yang terbuat dari stainless.


"Minum," pak bos nyodorin satu gelas minuman sereal buat aku.


"Makasih, Pak..."


"Masih panas," pak bos ngingetin.


Srrrrruuuppp.


Aku menyesap minumanku sedikit demi sedikit, lumayan anget nih badan.


"Minuman kamu, La..." Ridho nyodorin gelas byat Karla dan lanjut bikinin aku mie seduh.


"Makan dulu, biar kamu nggak masuk angin. Oh ya, baju kamu basah semua, di dalem ada jaket aku, kamu buka baju kamu ini dan pakai jaket aku itu. Nanti baju kamu yang basah aku jemur, biar besok udah bisa dipakai," kata Ridho.


"Nggak, ah..." aku menggeleng.


"Aku sama pak Karan tidur diluar, jadi nggak ada alasan risih atau apapun itu..." kata Ridho nggak mau dibantah.

__ADS_1


"Betul yang dikatakan Ridho, sudah menurut saja!" kata pak Karan yang tumben kompak sama calon imamku.


...----------------...


__ADS_2