
"Kotak apa, Va?" mama nanya lagi.
"Bukan apa-apa, Mah. Ini cuma barang-barang Reva di kantor yang udah nggak kepake. Reva mau mandi dulu," ucapku yang ngeloyor pergi ke dalam kamar.
Tapi baru aja aku mau buka pintu kamar, ada tangan seseorang yang menarikku.
"Eh busetttt!" aku kaget karena badanku ketarik syaithonirrojim yang berbentuk makhluk bernama Ridho.
Nggak sih, ini Ridho beneran kok. Aing cuma asal ngejeplak aja.
"Dari mana aja?" tanya Ridho.
"Dari mana ya?" aku jawab sambil muterin bola mata, males ngeliat nih orang.
"Itu Mama ngomong sama siapa di ruang tamu?" Ridho nanya lagi, soalnya mama kayak lagi ngobrol sama orang.
"Liat aja sendiri, awas ah! aku mau mandi!" aku lepasin tangan Ridho dan masuk ke dalam kamar. Ternyata ada Ravel di dalem, dia lagi beberes koper.
"Vel, keluar dulu bentar! aku mau ngomong sama Mbak kamu. Penting!" Ridho main nerobos aja.
"Apaan lagi, sih?" aku melotot ke Ridho.
"Wuih mau ada perang bar-bar nih," Ravel nutup kopernya dan langsung jalan ngelewatin aku, dan nyebelinnya nih adek nggak tau diri sempet-sempetnya dia senyum sambil naik turunin alisnya liat ke aku.
"Semoga berhasil ya, Mas! kalau mbak Reva ambekan mulu mending sama Ravel aja, Mas! Ravel mah dijamin lebih dewasa!" celetuk Ravel.
"Raaaaveeeeel!" teriakanku menggema di ruangan itu, Ravel langsung tutup pintu.
"Reva, kenapa aku telfon nggak kamu angkat?" tanta Ridho.
Aku cuekin aja, aku naro kotak dan tas di atas kasur.
"Emang kenapa?"
"Aku khawatir tau, nggak!" Ridho ngebalik badan aku dan kedua tangannya setrong itu megangin bahuku.
"Khawatir? hmmm, masa sih?" aku tersenyum kecut.
"Aku nggak bermaksud buat bikin kamu..."
"Sssssttt! diem kamu pulgosoh!" aku dorong mulutnya pakai jari telunjukku
"Nggak usah ngomong itu disini! aku nggak mau mama denger dan jadi kepikiran!" aku tepis kedua tangan Ridho.
"Lagian udahlah, semua udah kejadian! mau gimana lagi," aku balik badan, buka blazer udah gerah. Ridho ngerebut blazer yang mau aku lempar ke atas kasur.
"Aku udah mundur dari perusahaan itu, jadi kita impas, Va!"
Aku senyum mengejek, "Udahlah, nggak usah ngada-ngada!" aku rebut lagi blazerku, tapi Ridho dengan cepat nyembunyiin di belakang badannya.
"Aku serius! nih kalau nggak percaya!" Ridho ngeluarin surat pengunduran dirinya.
__ADS_1
"Halah, paling juga bohongan..." aku baca surat yang ada di tanganku.
Dan ya bener, itu surat pengunduran diri. Dia juga udah ngantongin surat paklaring, ya istilahnya surat pengalaman kerja lah.
"Nggak mungkin perusahaan ngeluarin paklaring langsung," aku cemas, tapi aku berusaha nutupin itu dari Ridho.
"Ya bisa, kan aku maksa! masa iya aku mau malsuin tanda tangan?" ucapan Ridho bikin aku kicep.
"Lagian nyari kerja di kota ini susah, yang ada kamu tuh nambah-nambahin jumlah pengangguran. Kqmu udah ada kerjaan malah ngundurin diri, konyol tau nggak?" aku nunjukin kertas yang ada di tanganku.
"Ya nggak apa-apa konyol, asal kamu nggak marah lagi sama aku. Aku bisa cari kerja lagi, tenang aja..." ucap Ridho dengan percaya dirinya.
"Bukannya harusnya seneng ya, jadi kan kalau nggak ada aku bisa deh tuh pacaran sama Karla di kantor!"
"Di kantor itu tempat orang kerja, bukan tempat orang pacaran!" Ridho ngetukin jarinya di pelipisku.
"Lagian aku udah bilang kok kalau aku nganggep dia cuma temen, paling mentok ya sodara..." lanjut Ridho.
"Gimana-gimana, jadi Ridho udah deklarasiin hubungan aku sama dia di depan Karla, gitu? eh bukan ya...? eh gimana sih!" aku dalam hati.
Lagi serius-serius ngebahas hubungan rumit ini eh ada yang ketok pintu.
Tok.
Tok.
Tok.
Dan pintu pun dibuka, dan ternyata si Ravel yang nongol.
"Udah selese belom perangnya?" tanya Ravel.
"Udah ditungguin noh," lanjut nih adik nggak beradab.
"Siapa ditungguin siapa, Vel?" tanya Ridho kepo.
"Itu siapa ya, Mbak! lupa aku namanya, bosnya Mbak Reva itu loh!" Ravel sambil garuk-garuk kepala.
"Pak Karan?" Ridho mastiin.
"Nah itu, iya! yang mukanya jutek banget itu loh, untung aja ganteng!" Ravel ngoceh nggak jelas.
"Bilang aja aku mau mandi dulu gitu!" aku nitip pesen ke Ravel buat bilangin ke manusia kutub.
"Ya ya ya..." Ravel keluar tanpa nutup pintu.
"Aku mau mandi, keluar sana!" aku ngusir Ridho.
"Kok perkara cincin udah selese kalian masih deket aja, hem?"
"Kita sodara tentu aja deket," kataku.
__ADS_1
"Oh ya, aku minta alamatnya Karla yang di desa," lanjutku, tapi Ridho malah ngerutin kening dia berjalan mendekat.
"Buat apa?"
"Ya buat kirim paket kek, atau kirim-kirim apa gitu, pokoknya aku minta alamatnya!" aku maksa.
"Ngapain? aku harus tau dulu, kamu minta alamatnya itu buat apa..."
"Ya udahlah kalau nggak mau ngasih! dah sana sana, aku mau mandi!" aku dorong Ridho ke belakang sejengkal demi sejengkal.
Braaakk!
Aku nutup pintu setelah tuh orang udah keluar dari kamar.
Aku cepetan mandi, dan baru juga basahin badan sebentar eh ada yang gedor-gedor pintu.
"Mbak? Mbak Reva di dalem?" teriak Mona.
"Iya, Mon! kenapa?"
"Gantian, Mbak! aku mau mandi juga! aku udah ditungguin temen!" teriak Mona.
Astaga, hidupku gini amat. Nggak Mona nggak Ravel sama-sama nggak bisa ngasih aku kesempatan buat mandi selayaknya manusia pada umumnya.
Aku cepetan bilas dan keluar udah pakai pakaian lengkap, dan si Mona langsung nyerobot aja ke dalem.
"Sorry, Mbak, Peace!" Mona nyengir sebelum nutup pintu kamar mandi.
Sedangkan aku nggak sempat sampoan, boro-boro basahin rambut. Basahin badan juga baru seadanya.
Ya udah aku setelah aku sisiran dan pastiin muka udah segeran, baru deh aku keluar.
Di ruang tamu nggak ada mama cuma ada dua makhluk yang duduk berhadapan tapi nggak ada yang diobrolin.
"Loh kok Bapak masih ada disini? Bapak nggak lupa jalan pulang kan?" aku duduk ngeliat mereka berdua aneh banget.
"Saya lupa kalau mau ajak kamu ke dokter, buat benerin muka kamu itu!" kata pak Karan.
"Emang harus hari ini? nggak ada hari laen apa? lagian saya baru pulang, belum juga istirahat,"
"Nggak baik keluyuran jam segini, apalagi sebentar lagi mau maghrib. Yang ada Reva bisa dicolong demit!" Ridho nyeletuk.
"Demit juga mikir-mikir kalau mau nyolong orang!" timpal mantan bos.
"Berisiklah! lebih baik pak Karan pulang aja udah..." kataku.
Ridho nyengir penuh kemenangan.
"Kamu juga, Dho! mau maghrib nggak baik masih ngejogrog di rumah orang!" aku gantian ngomong ke Ridho.
"Tapi ini bukan rumah orang, ini masih sah kontrakan yang aku sewa!" balas Ridho, sementara aku langsung kena mental seketika.
__ADS_1
...----------------...