Mendadak Dikejar Setan

Mendadak Dikejar Setan
Karam


__ADS_3

Aku memeluk Ridho, sedangkan laki-laki ini berpegangan pada sesuatu yang kuat. Kapal ini bergoyang seakan hampir ditelan lautan.


"Jangan takut, bayangkan aja sebentar lagi akan ada bantuan dan secepatnya kita bisa pulang..." ucap Ridho.


"Hhhh ... hiks..." aku cuma bisa nangis.


BYUUUUURRRRR!!


"Akkkhhhh!" aku memekik.


Sedangkan Ridho mendekap aku dengan satu tangannya.


Kapal kami dihantam ombak yang besar. Jadi bukan dari air hujan yang bikin kami basah kuyup tapi juga ombak yang menerjang dengan aur yang nyiprat kemana-mana juga bikin aku dan Ridho udah kayak basah sebadan-badan.


"Apa kita bisa pulang, Dho?" aku mulai pesimis.


Karena lama kelamaan aku ngerasa kalau kapal ini bakalan karam. Sedangkan badanku udah menggigil kedinginan.


"Sabar, kapal penyelamat pasti lagi menuju kesini. Yang kita harus lakykan selalu bersama," kata Ridho.


Aku semakin memeluknya semakin erat. Membayangkan nyebur ke lautan kayak gini aja udah ngeri.


"Aaakkkhhhh!"


"Aaarrgghh!" Kapal mulai semakin miring. Beberapa orang menyusul kami ke atas sini termasuk nahkoda.


Air udah makin masuk ke dalam kapal yang menyebabkan aliran listrik juga padam. Kami terombang ambing tanpa adanya kejelasan.


Aku cuma bisa nangis dengan kepala yang udah berat banget, pusing.


"Va ... Revaaa?" Ridho goyangin badanku, mastiin aku supaya aku tetep sadar.


"Iya, Dho ... kepalaku pusing banget!" kataku.


Dan kapal perlahan mulai menenggelamkan dirinya ke dasar lautan. Aku merasakan gerakan menuju ke bawah, saat ini aku cuma bisa pasrah dengan takdir yang akan menjemput kami berdua. Mataku memejam, nggak siap dengan hal mengerikan apa yang akan aku lihat. Karena aku bisa ngerasain getaran dari tangan Ridho, mungkin dia juga udah nggak kuat nahan badan kami berdua dari goncangan yang maha dahsyat ini.


Pwwiiiiiiiiittt!


Terdengar sebuah peluit.


"Va, kapal bantuan sudah datang. Kita harus bersiap untuk pindah..." seru Ridho.Mataku yang sudah menutup akhirnya terbuka kembali. Aku melihat fari kejauhan ada sinar sebuah kapal besar yang mendekat ke arah kami.


Tapi kapal ini semakin lama semakin hilang dari permukaan.


"Kita harus berenang sebelum apala ini akhirnya tenggelam!" ucap Ridho.


"Aku nggak bisa renang, aku nggak pernah makan ikan!" jawabku.


"Nggak ada hubungannya sama makan ikan, Revaaaa!" sahut Ridho. Matanya melihat ke segala arah, dia bergerak. Aku pun akhirnya mengikutinya.

__ADS_1


"Mau kemana?" tanyaku yang ufah nggak tau lagi harus gimana.


"Aku akan ikat badanmu ke badanku. Jadi kita nggak akan terpisah. Kita harus berenang seperti mereka," ucap Ridho yang udah diberi kode untuk segera terjun ke lautan.


"Aku takut," ucapku bergetar.


"Ada aku. Lihat, kita terikat satu sama lain. Kita nggak akan terpisah. Aku akan memegangimu seperti ini, dan jaket ini akan membuat kamu tetap berada di permukaan, kamu nggak akan tenggelam! percaya sama aku, Va..." jelas Ridho, aku cuma bisa ngangguk.


Ombak sudah tak seganas tadi, hanya saja kapal ini nggak mungkin bisa di selamatkan. Dia akan jatuh mengejar keris yang aku buang ke dasar lautan.


"Pada hitungan yang ketiga, kita harus secepatnya terjun ke bawah..." ucap Ridho.


"Okey, siap? satu ... dua ... tiga!" seru Ridho


BYUUUURRRRRRR!!!


Aku lemparkan badanku ke lautan tak bertepi. Ombak membuat aku kesulitan berpegangan pada Ridho.


Aku melihat kapal mewah yang aku sewa itu sudah karam. Beberapa orang berenang seperti ikan-ikan. Aku berharap nggak ada yang terjebak di kapal itu, semoga.


"Aarghhh," aku yang payah dalam berenang ngerasain kakiku kram.


"Aaaarrrrrrrrrrkkkhhhh!" aku nggak bisa gerakin kaki.


Dan pekikan suaraku itu kedengeran sama Ridho, "Ada apa, Va?"


"Aaarhkk, kaki ... kakiku ... kram!" ucapku dengan susah payah. Hujan deras membuat pandanganku susah buat ngeliat.


Aku bertahan dengan kaki yang sakitnya bukan main. Ridho dengan segala kekuatannya mencoba bergerak mendekati kapal yang terdengar semakin dekat.


Dan mereka melempar pelampung buat ngangkut kita ke atas, "Kamu duluan yang naik!" ucap Ridho yang melepaskan tali atau tambang yang dia iketin di badanku.


"Tapi..."


"Aky bakalan nyusul setelah kamu," ucap Ridho.


Aku pun menurut, dengan kakki yang lagi sakit, aku meraih pelampung itu. Beberapa orang mencoba membantuku naik ke atas kapal. Sedangkan akuasih melihat Ridho masih mengapung di air.


"Tolong, angkat dia ke atas! tolooong, dia ... hiks..." ucapku pada seseorang.


Dan orang itu mencoba menolong Ridho yang sepertinya kesulitan buat menggapai pelampung. Nafasku udah sesek banget ngeliat dia terombang-ambing di laut lepas.


"Ridhooooooo!" aku neriakin namanya.


"Aaarghhhhh" aku denger dia memekik


Mungkin dia udah kehabisan tenaga, secara Ridho berusaha ngejagain aku ditengah ombak yang menghantam tubuh kami berdua.


"Ridhooooo! pegang talinya!" aku teriak sekuat tenaga, aku takut dia terbawa ombak.

__ADS_1


"Paaaakk selametin pacar saya, tolong! cepetaaan!" teriakku pada orang yang lagi berusaha nolongin Ridho. Akhirnya ada satu orang yang terjun ke bawah buat ngebantu Ridho.


Tubuh Ridho sekarang ditarik ke atas.


"Ridhoooo, Ridhoooo! sadar, Dhoooo!" aku tepokin pipinya.


Dan aku yang berusaha membuat Ridho sadar, malah kliyengan dan pandanganku mulai kabur dan semuanya menjadi gelap seketika.


.


.


.


Badanku rasanya sakit semua.


"Aaakhhh!" aku merasakan kepalaku sakit luar binasaah.


Mataku perlahan terbuka, dan melihat sekeliling.


"Rumah sakit?" aku melihat selang infus yang terpasang di punggung tanganku.


"Ridho? dimana Ridhooo?" aku mencari-cari dimana makhluk ganteng yang satu itu.


"Ridhoooooooooooo!" aku teriak frustasi. Aku takut dipisahin lagi sama Ridho buat yang kedua kalinya.


"Aku harus cari Ridhooo! Ridhoooo janagn tingggalin aku, Dhooooooo!!!!" teriakku.


"Ssshhh, jangan berisik, Vaaaaa! kepalaku sakit!" suara laki-laki mirip Ridho.


"Nggak, nggak mungkin Ridho udah jadi setan?! ada suaranya tapi nggak ada wujudnya. Nggak mungkin Ridho gentayangan..." ucapku.


Sreeeettt!


Tirai disibak.


"Aku belum jadi setan!" ucap Ridho yang memegang keningnya dengan aatu tangannya yang terpasang selang infus.


"Jadi, kamu masih hidup?" mataku berbinar.


"Kamu ngarepin aku mati?" Ridho nanya balik.


"Ya nggak. Masa iya aku ngarepin kamu mati sih, Dho..." ucapku yang mau bangkit dari ranjang. Ternyata ranjangku dan Ridho bersebelahan dan hanya terpisahkan satu tirai.


"Kamu mau ngapain?" tanya Ridho.


"Liat kedaaan kamu lah," sahutku.


Ridho menggeleng, "Tetap di tempat tidur kamu. Badan kamu masih lemah, kalau kamu jatuh atau gimana, aku nggak bisa nolongin. Jadi, mending kamu diem-diem aja disitu, anteng..." Ridho ngodein aku dengan tangannya.

__ADS_1


Aku yang tadinya mau berbaik hati ngecek keadaan Ridho pun mengurungkan niat dan balik lagi rebahan. Sementara aku biarin tirainya kebuka, biar aku bisa liat kalau Ridho ada disana dan nggak kemana-mana.


__ADS_2