
Malam ini Ridho nggak ke kontrakan kita yang baru. Katanya dia capek banget, besok ada job lagi jadi supir penganten. Kalau Mona sih sampai sekarang nggak tau kalau abangnya itu udah berhenti kerja dan malah jadi kerja serabutan kayak gitu. Tapi itulah Ridho, nggak ada gengsi dan itu cara dia buat survive di kota besar kayak gini.
Ibarat kata, kita jatuh buat nanti melompat lebih tinggi. Terkadang kita harus rehat sejenak untuk mendapatkan sesuatu yang luar biasa. Ceileeehh, Reva emang tokcer otaknya!
Aku masih ngecekin email di leptop, dan juga sekarang mah hape harus standby 24 jam. Nggak ada waktu hape aku buat koit barang sebentar aja. Sebelum ngedrop udah harus aku charge pokoknya. Ya kan kali aja ada panggilan dari salah satu perusahaan yang aku kirimin CV. Dan aku nggak mau kehilangan kesempatan itu perkara telat angkat telpon.
Aku kira jadi kaum rebahan enak, tapi ternyata banyak bosennya juga. Karena kegiatannya itu-itu aja, ditambah nggak ada pemasukan sama sekali.
Tadinya aku ngide bangetbtuh buat jualan makanan, tapi aku lupa kalau aku nggak bisa masak. Bukannya dapet duit yang ada aku dapet omel dari pembeli.
Duit pesangon makin hari makin menipis, apalagi udah ada yang aku transferin buat mama dan Ravel. Kepalaku makin nyut-nyutan aja, sampe aku pasangin koyo di pelipis kanan kiri.
Bosen liatin leptop, aku beralih ke hape. Dan baru juga dipegang tau-tau ada telpon dari pak Karan.
"Angkat nggak ya?" aku menimbang. Kelamaan mikir, akhirnya panggilan itu mati sendiri.
Terus tau-tau dia nge-chat gini.
📱Cepat angkat! saya tau kamu sedang online!
Astaga, ini mantan bos emang ya vibes nya nyuruh-nyuruh bae. Aku ini kakak sepupunya loh, walaupun secara umur lebih tuaan dia tapi kan jangan begitulah sama saudara.
Dia nelpon lagi, dan mau nggak mau aku angkat.
"Kenapa lama sekali?" tanya pak Karan biasa dengan nada juteknya.
"Lagi di kamar mandi!" jawabku bohong.
"Kamu jorok sekali bawa hape ke kamar mandi!" kata pak Karan.
"Biar nggak bete! ada apa nelpon saya malem-malem?" aku nggak ada basa-basinya.
"Lalu kamu kenapa masih online tengah malam begini?" pak Karan balik nanya.
Kebiasaan emang, orang nanya malah dia nanya balik. Kan kezel.
"Shhhhh, terserah saya lah mau online jam berapa juga, emangnya itu mengganggu Bapak?"
"Saya bukan Bapak kamu!"
"Ya udah adek kalau gitu!"
"Iiishhh, kamu ini benar-benar..." pak Karan mulai kesel.
"Kenapa kalian tiba-tiba pinda" tanya pak Karan.
"Karena masa sewanya udah habis!" jawabku jujur.
"Saya ada rumah yang lain tidak jauh juga dari kontrakanmu yang sekarang. Kalau kamu mau, kamu bisa tinggal disana..." kata pak Karan.
"Tidak perlu. Kata Bapak eh adek kan aku saudara yang selalu ngrepotin. Jadi biarin aja aku bertahan hidup sengan caraku sendiri," kataku yang ninggiin harga diri.
__ADS_1
"Kata-kata seperti itu saja kamu ambil hati!" sindir pak Karan.
"Gimana nggak diambil hatiiii buldoserr. Itu kata-kata keluar mulu dari mulut situ. Katanya aing suka ngrepotin dan nyusahin. Giliran aing menjauh, situ nyariin. Gimana sih?" aku dalam hati.
"Ya sudah kalau begitu, saya menelfon hanya untuk memastikan kamu itu baik-baik saja disana. Karena sepertinya rumah itu tidak begitu baik untuk ditinggali!" ucap pak Karan sebelum menutup telponnya.
"Iiish dasar adek sepupu lucknut! dia nelpon tujuannya buat nakut-nakutin aku yang emang udah takut daritadi sore, hem!" aku banting hape di atas ranjang.
Tiba-tiba aja, petir menyambar.
Brakk!
Jendela terbuka begitu saja, karena angin yang begitu kencang.
"Mau ujan?" aku coba nutup jendela besar dengan tirai bergerak-gerak ditiup angin. Bukan cuma tirai yang berkibar-kibar, rambut panjang aing juga ikutan pada dikibas-kibas secara bar-bar sama si angin. Kalau di-zoom in zoom out bagus banget ini, jadi menambah nilai keindahan rambut aing yang udah mempesonaaaah sejak dulu kala.
JEDEEEERRRRRRR!
BREEEEEEEEEESSSS!!
Hujan dan petir dateng secara bersamaan.
Tok!
Tok!
Tok!
"Mbaaaaaak!" Mona ngetuk pintu nggak sabaran.
Mona dateng dengan wajah yang panik.
"Ada apa, Mon?" tanyaku.
"Aku disini ya, Mbak! petirnya keceng banget, aku takut!" kata Mona yang duduk di ranjangku.
"Ya udah kamu disini aja," aku sok ngelindungi, padahal aku juga takut kalau ada hujan disertai angin dan petir kayak gini.
JEDEERRRRRRRR!!!!
Suara petir bergemuruh lagi.
"Mbak, telpon Mas Ridho. Suruh kesini!" ucap Mona.
"Kosan dia jauh dari sini, Mon! ini kita udah pindahan dan bukan di kontrakan pak Burhan lagi, loh!"
"Oh iya, yah!" ucap Mona, dia kayaknya belum sadar kalau kita ini udah beda tempat.
"Astagaaa, baru nyadar dia!" gumamku.
JEDEEEEEEEEEERRR!!!!
__ADS_1
Petir menggelegar lagi. Mona refleks tarik selimut, dia mepet ke aku.
"Mbak kok petirnya kayak gini banget, ya? duh, kalau mati listrik gimana, Mbaak?! aku takut!" kata Mona.
Dan beberapa detik kemudian, ucapan Mona dikabulin tuhan. Baguuuusssss!
Deppppp, depppp!
Lampu di kamar kedap-kedip sebelum akhirnya mati.
Astoooogehhh, kedele buat bikin tempeeee! Si Mona emang bener-bener, ya bikin aing gregetan. Ini mah definisi ucapan adalah doa. Dia ngucap takut mati listrik, malah itu yang terjadi saat ini.
"Mbaaaaakkk!" Mona meluk aku.
"Kamu itu ngagetin tau nggak, Mon!" aku kaget tiba-tiba Mona main nubruk aja sampe dagu aku kesondol kepala dia.
Ya ampun, Mona. Aku juga takut kali. Semakin dia parno aku juga ikutan parno.
"Mbak, nyalain hape!" Mona main nyuruh-nyuruh aja.
"Bentar, tadi mana hapeku!" tanganku mencoba menelusuri kasur.
"Awas ati-ati tangannya, Mbaaak!"
"Monaaaaa! nggak usah nakut-nakutin, deh!" aku tegur calon adik ipar.
Sumpeh, si Mona bikin aing tambah stres. Bukannya bantuin, dia malah bikin aku tambah worry.
"Jangan jauh-jauh, Mbaaaakkk?" seru Mona.
KEDUBRAAAAAKKKKK!!!
Aku yang lagi gratakan nyari-nyari hape pun nggak kalah kaget karena kejengkang perkara ditarik Mona secara mendadak.
"Mbaaak? Mbaak nggak apa-apa?" teriak Mona.
"Ya Allah, pinggangku!!" aku usap pinggang yang kepentok lantai.
"Nggak apa-apa gundulmu, Mon! pinggang Mbak sakit, tau!" aku ngeluh.
"Sorry, Mbak. Aku nggak sengaja!"
Dan ketika aku mau bangkit, aku ngeliat hapeku nyala dan terjatuh di lantai. Mungkin tuh hape ikutan nyungsep dan senasib sama yang punya.
"Alhamdulillah ketemu!" ucapku dengan posisi merangkak mau menggapai benda pipih itu.
Tapi sebelum itu terjadi, ada sesuatu yang membuat aku dan Mona terdiam mematung di tempat beberapa saat.
"Mbaaaaakk?" bisik Mona dengan suara bergetar.
Aku buru-buru ambil hape dan melompat ke atas ranjang.
__ADS_1
"Ssssshhhh! diem, Mon!" ucapku sambil pegangan sama Mona.
...----------------...