
Beneran capek banget apa ya, Ridho masih dengan posisi yang sama tidurnya, telungkup.
Aku jadi inget, semalem aku denger suara Ridho. Apa mungkin semalem dia kesini? buat ngebujuk mama? atau gimana? aku penasaran banget sih, terutama cara Ridho dapetin restunya mama.
Aku telfon mba Rosma pakai telepon interkom yang ada di kamar, aku bilang nanti aja anterin makanannya kalau aku udah minta. Percuma juga si Ridho masih molor, yang ada tuh nasi keburu dingin dan nggak enak pas dimakan.
Aku duduk di sofa, dengan kebaya yang aku taruh disampingku. Mataku terpaku ada sisok pria yang masih stay di alam mimpinya sambil pikiranku melanglang buana.
"Mungkin karena semuanya diluar rencana, pernikahanku ini nggak dihadiri mamanya Ridho ataupun adeknya, Mona..." batinku.
Pada dasarnya kita nggak bisa mendaoatkan semua hal yang kita inginkan di dunia. Ravel yang udah ngerencanain hari pernikahannya, malah dikecewain sama ijab yang gagal diucapin sama calon suaminya. Sedangkan aku yang nggak ada rencana, malah bisa nikah sama Ridho dan itu jadi sebuah kejutan tersendiri di hari ini.
Aku jadi inget sama papa, coba kalau papa ada disini, pasti papa bahagia ketika anaknya satu persatu disunting pria pilihannya. Tanpa sadar air mataku meleleh, aku coba meremin mata. Ngebayangin aku, mama dan Ravel kumpul bareng papa dan ngelewatin hari bahagia ini sebagai satu keluarga utuh.
Entah mungkin aku yang kecapean banget atau gimana, aku ngerasa kalau sekarang aku lagi di tempat yang sangat empuk, dengan selimut yang hangat.
Wait, selimut?
Aku yang menyadari kalau aku sempet ketiduran pun segera buka mata, dan ya aku sekarang rebahan di atas kasur.
"Perasaan aku radi di sofa, siapa yang mindahin?" aku bergumam.
"Aku," jawab seorang pria yang baru saja keluar dari kamar mandi.
Aku yang kaget langsung malingin wajah, takut melihat hal yang iya iya.
"Kamu ketiduran di sofa, jadi aku pindahin kesini," ucap Ridho yang dengan santainya pakai handuk punyaku.
Aku nggak liat sepenuhnya, aku cuma nggak sengaja ngeliat sekilas.
Dan untungnya dia masuk lagi ke dalem kamar mandi, "Huuufh untung ajah!" aku gelengin kepala karena sempet melihat 6 kotak tisu punya kangmas.
Aku yang udah kebangun, mencoba buat turun dari tempat tidur.
"Mau ikut?" tanya Ridho yang tiba-tiba buka pintu kamar mandi dengan setelan waktu ijab tadi pagi.
"Ikut? kemana?"
"Ke hotel?" ucap Ridho yang beralih buat nyisirin rambutnya yang setengah lembab.
__ADS_1
"Ho-tel? secepat itu?"
"Iya, kan bajuku semua ada disana, aku nggak betah juga pakai kemeja ini daripagi. Ya itu juga kalau kamu mau ikut. Tapi kalau kamu capek ya nggak usah..." kata Ridho yang kemudian berbalik.
"Biar aku sendiri yang kesana," lanjutnya.
"Emmmh," aku menimbang apa aku perlu ikut atau nggak.
"Kalau aku nggak ikut, kamu bakalan marah?" tanyaku yang emang masih capek banget.
"Ya nggak lah! masa kayak gitu aja marah?" ucap Ridho.
"Aku kayaknya masih capek banget," ucapku setengah nggak enak nolak ajakan Ridho.
"Ya udah, kamu istirahat aja. Tapi jangan tidur lagi. Ini udah ngelewatin ashar, nggak baik kalau merem lagi..." ucap Ridho yang ngusap pipiku dengan tangannya.
"Aku pergi," lanjut Ridho.
"Tunggu,"
Ridho berbalik dengan safu alis terangkat, "Kenapa? kamu mau nitip sesuatu?"
"Nanti aja, aku nggak laper,"
"Tapi nanti pasti mama nanyain," ucapku.
"Aku makan pas balik lagi kesini, sekarang aku pergi dulu. Kamu aja yang makan ya? kamu juga kan belum makan dari siang," ucap Ridho.
"Ya udah hati-hati di jalan," kataku ngelepas kepergian kangmas.
"Aku cuma sebentar kok," Ridho melayangkan satu kecupan di keningku sebelum dia keluar dari kamar.
Karena hari udah sore, aku putuskan buat cepetan mandi. Lumayan relaks banget setelah berendam air anget. Badan yang tadinya pegel-pegel jadi lumayan terobati.
Sesuai janji, aku ambil kebaya yang aku dapetin secara gretongan dari madam Anna. Aku berniat ngasih itu buat Ravel.
Tok!
Tok!
__ADS_1
Tok!
"Masuk aja, Mbak!" kata Ravel dari dalam.
Aku masuk ke dalam, tapi nggak ada orang.
"Lah, bukannya tadi ada suara si Ravel nyuruh aku masuk?"
"Ini aku di kamar mandi, Mbak!" kata Ravel.
Syukurlah, aku kira tadi suaranya syaithonirrojjim ternyata bukan. Mungkin tadi Ravel ngejawab sebelum dia masuk ke dalam kamar mandi kali.
"Vel, ini kebayanya. Mbak taruh dimana?"
"Diatas tempat tidur aja," Muka Ravel nongol dari balik pintu.
"Astaghfirllah! bikin kaget aja kamu, Dek!" ucapku.
"Sorry," Ravel nyengir.
"Taruh aja disana, aku lagi mandi...". ucap Ravel, dia nutup pintu lagi.
Ya udah, aku taruh kebayanya di atas toat tidurnya Ravel dan keluar dari kamar adekku itu.
"Mbak Rosma?" alisku terangkat sata aku melihat mbak Rosma berada tepat di depan kamarku dengan nampan di tangannya.
"Eh, Non! ini saya bawa makanan, katanya Non eh Mbak Reva belum makan..."
"Ehm, kata siapa?"
"Suami Non Reva..." jawab mbak Rosma.
"Saya taruh di dalem ya, Non?" lanjutnya yang ijin masuk ke dalam kamarku.
"Maksih ya, Mbak..." kataku ketika mbak Rosma mau keluar dari kamarku.
"Iya, Non sama-sama..."
Aku yang dianterin makanan pun langsung duduk di sofa dan mulai menikmati apa yang tersaji di piring.
__ADS_1
"Ridho pasti laper, dia kan belum makan apa-apa dari siang. Maaf ya suami aku makan duluan!" ucapku setengah merasa bersalah.