Mendadak Dikejar Setan

Mendadak Dikejar Setan
Diajak Cuma Buat Jadi Kacang Goreng, Gaes!


__ADS_3

"Nyebut, Paaaakk! nyebuuuuuut ... teriakan Bapak bikin kuping saya berdengung tau, nggak!" aku reflek aja ngusap kupingku yang sakit karena diteriakin.


"Lagian siapa juga sih yang bilang kalau cincin itu hilang?" aku nggak ngasih kesempatan pak bos buat ngomong, lagian siapa suruh marah-marah mulu.


"Ya kan tadi kamu bilang..."


"Aduh Bapak nih kebiasaan nggak mau disalahin, maunya bener terus. Ingat Pak, kalau tugas seorang laki-laki itu mengalah pada perempuan, bukan malah main ngotot-ngototan..." aku sok ngasih pencerahan.


"Sekarang itu cincin lagi bertengger manis di jari manis saya, sekarang Bapak puas? dan biarkan saya istirahat dan tidur nyenyak, assalamualaikum!" aku langsung nutup telfon sepihak. Mau marah sabodo teuing, secara hari ini hari libur jadi dia nggak berhak ngatur-ngatur.


Bukan cuma bos besar doang yang butuh privacy kita karyawan ecekebret begini juga perlu keles. Hidup karyawan!


Aku yang udah ngantuk parah pun langsung bersembunyi di dalam selimut tebel warna pink punya Karla.


Tuh perempuan pergi kemana juga sabodo amat, paling juga mojok sama Ridho. Mereka nggak mungkin berbuat cem macem, karena disini ada biyungnya karet nasi yang aku yakin akan mengawasi mereka berdua seperti cctv, kecuali kalau Ridho pengen disunat 2 kali.


Aku yang rasanya lagi merem ngerasa ada orang yang nepuk-nepuk pipi ku.


"Ya ampun siapa, sih! ganggu orang tidur aja!" aku ngomong tanpa melihat siapa pelaku yang membuat tidurku terganggu.


"Nak Revaaa..." suara lembut wanita menyapa telingaku. Dan aku pun langsung tersadar jika aku sedang berada di rumah orang.


Aku pun langsung membuka mata dan melihat ada biyungnya Karla duduk di tepi ranjang, aku melirik kakinya yang napak, "Oke bukan setan..." ucapku dalam hati.


"Eh, Bu. Maaf, saya nggak tau kalau Ibu yang bangunin saya," aku jadi isin dewek, duh kepriben kiye, lur.


"Iya tidak apa-apa, Nak. Ini sudah maghrib, tidak baik jika anak gadis masih tidur," kata biyungnya Karla.


"Karla mana, Bu?"


"Oh, dia shalat berjamaah sama Ridho di mushola kecil di rumah ini,"


"Ooh, jadi mereka udah sampai tahap belajar jadi imam dan makmum?" aku tertawa dalam hati.


"Nak Reva?"


"Eh, iya, Bu..." aku garuk-garuk kepala, malu karena ketangkap lagi ngelamun.

__ADS_1


"Nak Reva ini teman sekantor Karla?" tanya wanita itu.


"Iya, Bu. Nama saya, Reva Velya..." ucapku sambil menunduk sopan.


"Kalau nama ibu, Wati Suhendra. Biasa dipanggil Wati," biyungnya Karla memperkenalkan dirinya.


"Nanti ada yang mau ibu tanyakan, tapi sebaiknya Nak Reva mandi dulu dan shalat," kata bu Wati dengan lembut.


Habis ngomong kayak gitu, bu Wati keluar dari kamarku. Dan di kamarnya Karla nggak ada kamar mandi dalam, jadi aku ambil anduk dan keluar nyari kamar mandi. Tentunya aku lepas dulu cincin berlian dan masukin ke dalam tas.


Nggak sengaja aku berpapasan sama Ridho yang keluar dari mushola bareng Karla. Ridho masih pakai baju koko, sarung plus peci. Tapi aku mlengos aja, anggap yang tadi tuh setan bukan manusia.


Aku buka kran shower dan sentuh airnya dulu. Woh, sedingin itu ternyata gaes. Fix kalau pakai air dingin aku nggak kuat kayaknya, jadi aku gerakin dikit puteran showernya supaya switch ke pilihan air hangat.


Aku bener-bener menikmati air yang menyentuh kulitku saat ini dan mandi pakai air hangat lumayan bikin badan enteng gitu, loh. Rasa capek karena perjalanan selama berjam-jam, akhirnya terobati.


Dan setelah mengeringkan badan dan memakai baju santai, akhirnya aku keluar dari kamar mandi. Sedangkan Ridho, Karla dan bu Wati sudah berkumpul di ruang tengah gelaran karpet. Berbagai macam makanan sudah tersedia, kayaknya ini makan dengan tema lesehan.


"Nak Reva, ayo makan..."


"Duluan saja, Bu. Rambut saya masih basah, permisi..." aku ngacir ke kamar.


"Mau ujan gede kayaknya, ya..." kataku yang menaruh anduk dan berjalan menuju jendela yang terbuka.


"Perasaan tadi ketutup deh jendelanya, apa dibuka sama Karla?" aku ngomong sendiri. Tapi ketika aku akan menutup jendela aku dikagetkan dengan satu sosok anak kecil yang berdiri di depan halaman rumah Karla.


"Nggak mungkin anak manusia keliaran jam segini, kan?" lirihku, sementara jantung udah jedag-jedug daritadi.


Buru-buru aku tutup jendela, aku nggak kuat liat wajah anak kecil itu, bukan nakutin tapi lebih ke kekasihan gitu. Nggak tau kenapa.


Ceklek


Pintu kamar dibuka.


"Va?" Karla masuk ke dalam kamar.


"Kenapa, La?"

__ADS_1


"Kita makan bareng..." kata Karla.


"Kalian aja, La. Aku belum laper..." ucapku bohong.


"Ayo kita makan bareng, Biyung nungguin kamu, loh..." Karla masih keukeuh minta supaya aku makan bareng sama mereka.


"Ya udah, deh!" aku akhirnya keluar kamar dan jalan ngintilin si karet.


Dan setelah sampai di ruang tengah, si karet duduk di samping Ridho. Sementara aku duduk di samping bu Wati.


"Ayo, Nak..." bu Wati mempersilahkan aku untuk mrngambil nasi.


Tapi tangan aku yang lelet udah keduluan sama Karla yang ternyata udah pegang centong nasi yang terbuat dari kayu itu dan dia naruh nadi lumayan banyak di piringnya.


"Eeetdah, ini anak wadon makan udah kaya habis nguli aja," aku ngomong dalam hati.


Dan ternyata itu piring dengan nasi yang metungtung begitu Karla kasihin ke Ridho, aku cuma ngangkat satu sudut bibirku.


"Kebanyakan, La..." kata Ridho sambil ngelirik aku yang cuma ngambil satu centong nasi ke dalam piring putih.


"Oh, gitu? ya udah aku kurangin lagi," kata Karla yang mengambil piring lain untuk menaruh lebihan nasi yang dari piring Ridho.


Udah kayak main rumah-rumahan mereka berdua tuh. Yang cewek ngeladenin banget, kayak ngambil-ngambilin lauk gitu.


Kalau sku nggak ngehargain bu Wati, aku mah ogah makan bareng kayak gini.


"Loh, kok Nak Reva ambil lauknya sedikit? apa masakan ibu tidak enak?" tanya bu Wati yang sepertinya menyadari kalau aku nggak begitu niat buat makan.


Sedangkan Ridho melihat lurus ke arah ku yang duduk di bersebrangan dengan dia.


"Enak kok, Bu ... saya cuma lagi ngurangin makan nasi," jawabku ngeles.


"Ooalah, lagi diet? maaf ya Nak Reva, Ibu kira Nak Reva tidak suka makanan seperti ini," kata bu Wati menunjuk semur daging buatannya.


Dan cepat-cepat aku menyelesaikan makananku yang memang sedikit dan meneguk minumanku sebelum ijin ke dapur membawa piring kotor bekas makanku.


"Diajak cuma buat jadi kacang goreng, gaes!" aku nyuci piring sambil nyindir diri sendiri.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2