
"Darah? dimana?" tanya Ridho.
"Ituuuu disana, di botol yang aku buang tadi," aku nunjuk ke arah aku buang botol sedangkan muka ku mlengos ke arah lain. Aku mual banget rasanya ngecium baunya.
"Nggak ada darah, Sayang. Ini cuma air biasa..." ucap Ridho.
Mendengar itu aku ngeliat ke arah botol air mineral tadi, dan anehnya iya. Yang tumpah air biasa, nggak ada merah-merahnya sama sekali.
"Nggak mungkin, tadi ada kok?! beneran aku nggak bohong," kataku.
"Iya iya aku percaya kok. Kamu yang tenang ya?" ucap Ridho nyentuh kedua bahuku.
"Aku ambil kain pel dulu ya ke bawah, takutnya kalau nggak dipel ntar bikin kamu kepleset," ucap Ridho yang kemudian keluar dari kamar.
"Mas ... Mas?! aku ikut?!"
"Aku cuma bentar doang, ambil kain pel terus balik kesini lagi. Kalau kamu ikut nanti kamu capek naik turun tangga," kata kangmas.
Ih, nggak tau banget. Lebih bahaya kan kalau aku ditinggal sendirian di kamar. Tadi aja di bawah aku denger lagu cepirit cepirit eh cing ciripit, maap kita anaknya suka kepleset gitu lidahnya.
Nah apakabar kalau tuh setan nongol lagi disini. Terus dia nagih janji pengen main petak umpet lagi? Aduh aduh, nggak tau deh nasib aing gimana abis ini.
"Lama banget ngambil pel doang," ucapku.
"Nggak bisa nih kalau kayak gini, aku harus susulin ke bawah,"
Aku turunin kaki, dan dengan hati-hati pakai selop khusus yang biasa aku pakai di rumah.
"Cuma ambil kain pel, lamanya satu abad," aku ngomel aja sambil keluar kamar.
Pelan-pelan aku turun tangga, "Mass? udah ketemu belom kain pelnya?" aku bersuara biar ngusir takut.
"Jangan turun ke bawah, Va?! naik ke atas, kunci pintunya!" teriak kangmas dari arah bawah.
"E-mangnya ada apaan?"
Braaakkkk?!!!
Aku denger barang yang dibanting.
"Naik ke atas Revaaaaaa?!!" teriak kangmas lagi.
"Aku nggak akan biarin kamu mencelakai istriku?!!" teriak kangmas disertai suara-suara pecahan barang.
__ADS_1
Prang?!!
Aku yang masih ditangga, bingung harus gimana. Disisinlain aku nggak bisa berbuat apa-apa dengan kondisi hamil besar kayak gini. Tapi aku juga khawatir dengan keadaaan Ridho di bawah.
"Aku telfon pak Karan aja," aku naim ke atas buat menghubungi adek sepupu.
Greep?!!
Pintu aku tutup dan aku kunci.
Aku menghubungi pak Karan di jam 3 pagi.
"H-halo, tolong aku," ucapku gugup.
"Kenapa? kamu kenapa?"
"Ada sesuatu di rumahku. Aku takut terjadi sesuatu sama Ridho, aku nggak bisa ngeliat ke bawah..."
"Maksud kamu rumahmu kemalingan?" tanya pak Karan.
"Bukan maling tapi setan, tolong bawa seseirang yang bisa mengusir para hantu, tolong aku," kataku panik.
"Aku segera kesana," kata pak Karan tang kemudian menutup pintu.
Aku yang ngeliat itu masuk ngibrit ke kamar ganti dan masuk ke dalam lemari sambil baca doa-dia yang aku bisa.
"Ya Allah ada apa lagi sih ini, kenapa mulai kayak gini lagi? nggak bisa nunggu aku selesai lahiran apa gimana? perutku gede kayak gini, buat jalan aja udah engep, ya Allah. Apalagi buat kejar-kejaran sama setan. Please, cariin dia temen lain buat main petak umpet ," ucapku dalam hati sambil nahan suara supaya nggak berisik.
Kali ini karena lemarinya juga gede gitu, dengan model di pintunya ada bolongan udara, lumayan nggak begitu pengap dan aku pun bisa duduk, walaupun tetep aja, susah dan nggak nyaman.
Aku bawa hape di tangan, aku nggak tau apa yang terjadi di bawah. Tapi nggak mungkin Ridho nyuruh aku ke atas tanpa alasan.
Kreeeeekkk?!
Aku denger pintu balkon di geser, aku cuma bisa tutup mulutku sendiri biar nggak bersuara, sambil terus komat-kamit baca doa-doa yang aku hafal.
Sementara di bawah aku denger pekikan Ridho berkali-kali. Aku nggak tau apa yang dia hadapi di bawah, yang jelas situasi malam yang tadinya hening sekarang jadi gaduh dengan suara-suara geraman dan juga barang-barang yang melayang.
Brakkkk?!!
Aku denger ada suara kursi atau apapun itu yang jatuh. Tapi aku cuma diem aja di dalem sini, walaupun rasanya udah gerah nggak karuan.
"Sabar ya, Sayang. Pasti kita bisa selamat dari kejaran makhluk itu," ucapku sambil ngelus perutku sendiri.
__ADS_1
Dan...
Dughhh!
Anakku ini menendang perutku sebagai jawabannya.
"Anak pinter," ucapku lirih.
Braaakk!
Aku denger suara pintu kebuka, kayaknya dari arah kamar mandi. Kalau ada sosok yang mendatangiku di kamar, kenapa Ridho nggak berusaha buat nyusulin aku ke sini. Apa mungkin ini makhluk yang berbeda dengan yang Ridho hadapi? Tapi kenapa? Kenapa mereka seakan-akan ingin memperebutkan aku. Maap kita suka direbutin tapi minimal sama cowok-cowok ganteng bukan sama setan, dudul?! Ih hidupku gimana sih konsepnya?!
Ceklek.
Yap pinter, ada yang masuk nih ke ruang ganti, sosoknya pakai baju ungu lilac.
"Maap ini setan abis kondangan apa gimana, kok bajunya warna ungu lilac, coba?" batinku.
Dari celah pintu lemari, aku bisa liat dia kayak bergerak mengamati ruangan ini.
"Heyy, andah. Jangan bilang mau nyolong dress aku yang warnanya lilac juga? ck ck bener-bener ya, setan nggak modal?!!" aku dalam hati.
Tapi sekuat tenaga gitu ya kita tahan jiwa-jiwa ngelabrak kita. Karena persis di depan lemari tempat aku bersembunyi ini, ada deretan dress yang sengaja digantung gitu di tiang gantungan baju. Nah ini Etan berhenti di depan situ.
"Please jangan ambil baju favotit ainggggg?!!" sebenernya aku pengen banget teriak kayak gitu tapi apa daya diriku lagu sembunyi. Kalau teriak otomatis ketauan dong sama dia.
Dia bergerak lagi sementara jantungku udah deg-degan mulu daritadi. Berasa main petak umpet beneran ini mah.
Seeeeet!
Dia gerak gitu menjauh lagi, mungkin lagi ngabsenin baju-baju apa aja yang aku punya, karena emang disitu tempatnya deretan baju dan sepatu beserta aksesoris juga segala tas yang aku punya. Sedangkan lemari toat aku sembunyi ini tempat nyimpen setelan jasnya kangmas.
"Huuuffh," aku udah engep dan rasanya mau pingsan. Kaki juga udah sakit kelamaan duduk di bawah sini.
Pelan-pelan aku ambil dua setelan jas punya kangmas. Nggak tau pengen ngambil aja sekalian buat jaga-jaga kali aja nanti diperlukan.
Teloleeeet teloleet.
Hapeku bunyi, aku yang gugup main matiin aja. Sekilas aku liat tadi namanya pak Karan ada dilayar, mungkin aja dia udah nyampe.
"Anjir, gimana nih kalau ketauan?" batinku cemas.
Aku sembunyiin tuh hape biar cahayanya nggak kemana-mana, tapi tau nggak?
__ADS_1
Sosok itu sekarang ada di depan pintu lemariku dan dia mendekatkan wajahnya dengan senyuman yang mengerikan, "Hahahaha," dia tertawa.