Mendadak Dikejar Setan

Mendadak Dikejar Setan
Bukan Halusinasib


__ADS_3

"Hey, Revaaaa! sadar!" pak bos menggoyang-goyangkan badanku yang rasanya kaku.


Pak bos meniupkan napasnya di telapak tanganku, "Reva..."


Perlahan mataku terbuka, dia peluk aku.


"Syukurlah, kamu sudah sadar..." kata pak Karan, seenggaknya cuma itu yang aku dengar.


"Ssaya kenapa, Pak?"


Pak Karan bukannya menjawab, tapi dia malah memberikan jasnya buat aku pakai double.


"Kamu mengigau dan menggigil sepanjang malam, ini masih jam 4 pagi. Tidurlah," kata pak Karan.


Pak Karan yang semula ada di sampingku, kini menarik badanku buat duduk di depannya sementara kepalaku bersandar di dada bidang pak bos, kita cuma bisa mengandalkan satu sama lain. Api mulai padam, memejamkan mata lagi.


"Emh," aku mengucek mataku. Aku melihat nggak ada siapa-siapa.


"Paaak?" aku manggilin pak bos.


Hanya ada sisa asap dari api unggun tanpa ada makhluk tuhan yang galaknya minta ampun.


"Pak Karan? Paaaak?" aku buka kedua jas yang nutupin badanku. Aku sampirin di lengan tangan.


Aku ngider dulu nyariin pak bos, "Paaaaak? pak Karaaaan?"


Aku nggak berani jalan jauh-jauh, takut nyasar. Sepi banget nih hutan, walaupun udah terang tapi kan tetep aja hawanya beda kalau sendiri.


Sreeeeeeeek.


Kreeeeesssss.


Aku denger suara langkah kaki yang sedang berjalan diatas dedaunan kering yang menimbulkan bunyi nyaring, aku takut tapi penasaran.


"Apa cuma perasaanku aja, ya?" aku mengusap tengkukku.


Dan saat aku mau berbalik badan, ada seseorang laki-laki yang mengaduh.


"Aaawhhhhh!"


Aku yang emang orangnya kepo tapi juga takut bingung harus gimana.


"Cek dulu aja, kali aja ada warga yang lagi cari kayu bakar atau sejenisnya," aku mencoba mendekat mencari asal muasal suara itu.


Dan aku melihat seorang pria sedang berdiri membelakangiku sambil membersihkan lengan baju dan celananya. Beberapa kayu bakar tergeletak di atas tanah, "Heh! kamu siapa?" aku memberanikan diri buat nanya.


Dia lantas berbalik, "Ridhooooooo!" lalu berlari mendekat melihat sosok laki-laki yang kini terbelalak melihat kehadiranku.


"Nggak, nggak. Aku pasti lagi mimpi!" aku tepokin pipi dua kali, uh sakit.


"Reva? alhamdulillah, akhirnya aku nemuin kamu! ya Allah kemana aja kamu, Va?" Ridho maju beberapa langkah, dia menatap aku nggak percaya.

__ADS_1


"Tunggu, tunggu. Jadi? aku nggak lagi halusinasib?" aku nanya ke Ridho menatap sepasang matanya yang udah lama banget nggak sedekat ini.


"Nggak, Reva! ini bukan halusinasi, ini aku Ridho. Aku nyari kamu kemana-mana, kamu tuh udah ilang selama dua minggu. Semua orang khawatir sama kamu, Rev!" dia membawa aku ke dalam dekapannya, dan saat itu aku baru nangis.


"Jangan pergi kayak gini lagi, Reva! kalau kamu marah sama aku, ngomong salah aku tuh apa. Jangan main pergi sama orang, udah berapa kali kejadian, tapi kamu masih aja bebel kalau dibilangin!"


"Aku kira, kamu nggak akan nyariin aku, Dho! huhuhuhu,"


"Aku pasti nyari. Tapi kan nggak semudah itu. Kamu masuk di hutan terlarang. Dan kamu tau?buat mencapai ke hutan ini aja susahnya minta ampun, aku harus minta tolong seseorang buat melacak keberadaan kamu. Kamu udah bkin kita semua khawatir, ngerti!" Ridho nyerocosnya kayak kereta api.


Aku nggak peduli apa yang dia omongin yang jelas, aku cuma pengen peluk dia. Tapi kemesraan ini lantas punah, saat ada suara perempuan.


"Revaaaaa!" perempuan itu memanggilku, aku melepaskan tubuhku dari Ridho.


"Karla?" lirihku, "Jadi kamu kesini sama dia?" raut wajahku udah pasti langsung berubah.


"Ya ampun, Va! akhirnya," Karla peluk aku sekilas, dan aku menatap Ridho penuh kecewa.


"Ayo, Va. Kita ke tenda..." ajak Ridho setelah Karla melepaskan pelukannya.


"Sorry, aku nggak bisa. Aku harus balik ke tempatku, aku nggak bisa ninggalin pak Karan gitu aja..." aku menatap mereka berdua sebelum aku balik badan.


"Kita ikut sama kamu," ucap Ridho


Aku berjalan, mencoba kembali ke tempat dimana aku dan pak Karan menyalakan api unggun.


Dan benar saja, Pak Karan mendekati ku dengan wajah paniknya.


"Maaf, Pak..."


Dan sepasang mata elang pak Karan menangkap dua orang di belakangku, "Kalian?"


"Syukurlah, kami bisa menemukan Reva dan pak Karan," ucap Ridho, sementara pak bos menatapku minta penjelasan.


Dan sekarang disinilah kita, berada di dalam satu tenda. Ridho lagi masakin kita mie instant.


Cuma ada satu tenda. Jadi semalam mereka berdua aja di dalam sini? Ah, memikirkan itu otakku mendadak panas lagi saat pikiran-pikiran buruk hinggap di kepalaku ini.


"Kamu kenapa, Reva?" tanya pak bos yang duduk di sampingku.


"Tidak apa-apa,"


"Kamu menyukainya?" pak bos menunjuk Ridho dengan dagunya.


"Bapak ini ngomong apa, sih? ngawur. Oh, ya saya boleh lihat kain itu lagi?" aku mengalihkan pembicaraan. Aku mengajak pak Karan menjauh dari tenda. Dia mengikutiku.


Pak bos mengeluarkan kain dari sakunya, "Ini..."


Aku menerimanya dan meletakkannya diatas telapak tanganku, "Ini tulisan yang ada di tangan gadis itu," gumamku dalam hati.


"Epistrofi stin archiki thesi," aku mengulang kalimat yang diucapkan gadis itu yang lagi-lagi muncul di dalam mimpiku.

__ADS_1


"Kamu bisa bahasa yunani?"


"Hah? gimana-gimana?"


"Bahasa Yunani,"


"Aku taunya Yudarmi..." jawabku.


"Serius, Reva!" pak Karan merebut kembali kain yang ada di tanganku, ada binar harapan di matanya.


"Ya ini bahasa yunani. Kenapa aku nggak kepikiran sama sekali, tapi tulisan ini sudah memudar. Sulit untuk membacanya dengan benar, walupun aku sempat belajar bahasa ini tapi ... arghhh! kenapa aku bisa sebodoh ini!" lanjutnya.


"Kembalikan ke tempat semula. Prin tin panselino, sebelum bulan purnama..." aku mengucapkan itu sambil menatap pak Karan.


"Jadi kita harus mengembalikannya sebelum bulan purnama tiba? tapi dimana?" aku bertanya pada pak Karan yang menjawabku dengan gelengan. Kita punya satu clue tapi berasa nggak ada gunanya sama sekali tau, nggak.


"Astaga, aku mencari kalian kemana-mana, ternyata kalian ada disini. Ayo kita sarapan..." seru Ridho memanggil kita berdua.


"Kamu pasti lapar, kita ke tenda sekarang..."


"Bapak duluan, saya mau ... ehm, Bapak duluan saja..." ucapku menggantung


"Oke,"


Bukan apa-apa, masalahnya aku harus siapin mental dulu sebelum melihat karet nasi warteg yang nempel mulu sama Ridho. Aku tarik nafas sebelum melangkah.


"Va..." Ridho manggil, aku kasih senyum tipis. Karla duduk anteng di samping Ridho, dia lagi ngembat mie seduh. Kita semua duduk di luar tenda.


Aku yang baru datang milih duduk di samping pak bos aja.


"Punya kamu," pak bos nyodorin mie yang masih ngebul.


"Makasih Pak. Punya Bapak mana?" aku sok perhatian.


"Ini punya saya," kata pak bos nunjukin mie punya dia.


Aku meniupkan udara dari mulut ke mie yang lagi aku angkat pakai garpu plastik. Nggak sengaja pandangan aku dan Ridho bertemu dalam satu garis lurus, aku pura-pura nggak


liat dan aku lanjutin makan makanan yang bikin aku lumayan kenyang ini.


Pak bos udah selesai makan, dia lagi nyeruput kopi item. Wangi kopi langsung nyamber ke hidungku.


"Pak, minta dong!"


Dan semua mata tertuju padaku, Karla yang lagi ngunyang aja mendadak berhenti. Apalagi Ridho, dia kedip beberapa kali dan melihatku dan pak Karan secara bergantian.


"Kenapa?" tanyaku cuek.


"Minta ya, Pak!" aku nyerobot papper cup punya pak bos.


"Emangnya si karet doang yang bisa kayak gitu. Aku juga bisa keles!" gumamku dalam hati sambil melempar senyum pada pak Karan.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2