
"Ngapunten sanget, Bu. Saya diperintahkan kesini untuk menjadi pelayan ibu untuk sementara waktu," ucap wanita yang usianya sekitar 50 tahunan.
"Maaf, tapi saya sudah ada pembantu. Mungkin ibuk salah alamat, kayak lagu dengdot yang pernah viral itu dijamannya," ucapku sambil celingukan, kali aja ini ibu rada setres apa gimana ya.
"Benar bu. Ini rumah ibu, kan?" ucap wanita itu sambil nyodorin kertas.
"I-iya bener sih ini alamat rumah saya, tapi saya itu nggak lagi nyari pelayan, Bu..." kataku yang balikin lagi tuh kertas.
"Masa iya saya ditipu?" ucapnya sedih.
Aku bingung harus gimana. Muka ibu itu sendu banget kayak langit mendung yang mau ujan. Tinggal nunggu nangisnya doang itu.
Aju celingukan mau nyari pak Medi atau satpam siapa kek yang lagi jaga siang ini, "Aissh, kalau lagi dibutuhin kok nggak pada lewat gitu, akh nyebelin?!" aku ngedumel dalam hati.
"Lalu bagaimana, Bu?"
"Bagaimana apa ya, Bu? saya juga tidak bisa bantu," kataku yang masih berdiri di depan pintu.
Namun, dengan tiba-tiba, tangan wanita itu menyentuh perutku.
"Aakhh," Refleks aku mundur ke belakang. Aku ngeliat wajah ibu itu yang tertunduk tapi kok horor banget.
"Maaf, saya tidak suka kalau---"
"Berikan bayi itu?!" ucap si ibuk ngelantur.
"Apa?" aku udah mulai ancang-ancang, kayaknya adabyang nggak beres.
"Berikan bayiii ituuuuuu....?!!!" Dia teriak dan melotot ke arahku
Aku yang kaget, refleks nutup pintu.
"Aaaadaaaadaaah, tangankuuuu?! kejepit?!!" teriak si ibuk.
"Pantesan aja ngeganjel," gumamku. Aku buka pintu dan dorong tangan si ibuk. Aku kunci pintu secepetnya.
Tokkk!!
Tok?!!!
"Buka pintunyaaaa," teriak ibuk yang nggak tau siapa namanya.
Aku yang mebgalami kejadian yang horor disiang bolong kayak gini labgsubg lari ke arah ruang tengah. Aku ambil hape dan segera ngehubungin pos satpam.
"Halooo? halooo?"
"Ya halo," ucap seorang yang familiar.
"Ini pak Medi?" aku nyerocos bae, dengan nafas yang udah ngos-ngosan.
"Iya ada apa, Mbak Reva?"
__ADS_1
"Tolong, tolong ke rumah saya, Pak. Ada ibuk-ibuk gila. Tolong usir dia, Pak. Dia mau mencelakai saya, Pak...?!" kataku.
"Baik, Bu?! saya segera kesana," pak Medi nutup sambungan telepon.
Tok?!!
Tok?!!
Tok?!!
Pintuku masih digedor dari luar, tapi kemudian berhenti seketika.
"Hh ... hhh ... nakutinnya nglebihin setan itu, Mah?!" aku berusaha ngatur napas.
"Mbaaak, Mbaaak Revaaa?" dari luar kedengeran suara pak Medi.
Aku yang lagi engep, akhirnya jalan lagi ke depan buat bukain pintu.
Dan ketika pintu aku buka, ada pak Medi.
"Maaf, Mbak. Di luar tadi nggak ada ibu-ibu yang mbak Reva maksud," kata pak Medi.
"Astaga, tadi ada kok, Pak. Beneran saya nggak bohong," kataku yang melihat kesana kemari, mencari sosok wanita paruh baya tadi
.
.
.
"Kalau aku nggak lagi hamil, udah pasti aku bales itu ibuk-ibuk," aku duduk di tepi ranjang dan ngatur napas lagi yang engep perkara naik tangga.
Aku coba ngehubungin hapenya kangmas.
"Haloooo?" suara serak-serak becek seorang wanitaaah.
"Maaf ini siapa ya? kenapa hapenya mas Ridho ada sama kamu?"
"Ini saya Rimar, Mbak. Mas Ridhonya lagi meeting sama pak Bagas, tapi hapenya ketinggalan di resto pas kita semua makan siang,"
"Ooh, gitu. Meetingnya kira-kira masih lama nggak ya?"
"Nggak tau saya, Mbak. Soalnya saya balik ke kantor buat nyiapin dokumen buat besok, sedangkan pak Bagas dan Mas Ridho lanjut ke pertemuan selanjutnya," jelas Rimar.
"Nanti pulang kerja, saya mampir rumah Mbak. Buat balikin hapenya mas Ridho,"
"Oh, ya udah. Makasih sebelumnya," ucapku.
Aku tutup telfonnya. Dan kembali dengan kegiatan yang bikin siapapun bakalan jenuh yaitu 'menunggu'.
Mau mandi aja nunggu ngitungin kancing, "Mandi, enggak, mandi, enggak, mandi..."
__ADS_1
"Nggak mandi kan ya?" aku cekikikan sendiri.
Ya allah, apa kata anak kite di dalem perut sini. Emaknye rada-rada somplak dikit gitu ya, perkara mandi aja harus ngitung kancing. Sabar ya, Nak!
Bukan apa-apa, barangkali nih kemunculan wanita tadi tuh pertanda teror Etan segera dimulai begitu, kita kan anaknya suka was-was. Apalagi ada janin yang ada di dalam perut yang wajib dilindungi.
Akhirnya biar buang sial karena tadi ketemu wanita aneh, aku buruan mandi sholat dan turun ke bawah. Mendadak perut agak mual dan pengen minum yang anget-anget.
Walaupun sebenernya aku pengennya ngejogrog di kamar, tapi apa daya mualnya udah nggak terkondisikan. Jadi aku harus turun dan bikin minuman sendiri.
Baru setengah jalan menuruni anak tangga, kedengeran tuh bunyi bell.
"Mungkin itu mas Ridho udah pulang..." aku bergumam dan mempercepat langkah.
"Ya, bentaaaaaaar..."
Dan pas pintu dibuka, bukan kangmas Ridho yang nongol tapi seorang wanita. Kali ini bukan wanita tua melainkan wanita muda yang songongnya naudzubillah, tiada lain dan tiada bukan tunangannya pak Karan, Kanaya.
"Ada perlu apa?" alisku naik satu.
"Hah, nggak sopan ya, ada tamu bukannya disuruh masuk tapi malah ditanya-tanya di depan pintu. Emang bener ya, money can't buy attitude," ucapnya nyinyir.
"Silakan, masuk..." ucapku rada sewot.
Dia masuk nglewatin aku gitu aja, bahkan hampir nyenggol perutku yang gede ini. Astaga, nih orang belum ngerasain diulek pake sambel geprek apa gimana dah! Aku biarin pintu ngablak kebuka, biar udara dari luar bisa masuk. Biar nggak engep, karena roman-romannya si Kanaya bakalan nyap-nyap nggak berfaedah.
Kanaya duduk dengan angkuhnya, "Ada hal yang pelu kita bicarakan,"
Aku ikutan duduk tapi jaga jarak sama nih perempuan, waspada takut dia tiba-tiba kesurupan dan membahayakan diriku.
"Membicarakan apa? sepertinya kita bukan teman dekat dan hanya saling kenal nama saja," aku nyautin dengan terus mengawasi tindak tanduk Kanaya.
"Aku nggak suka ya, kamu terlalu dekat dengan calon suamiku. Aku tau kalian sepuou, tapi kehadiran kamu itu terlalu mengganggu hubungan aku sama Karan..."
"Apa sih? nggak jelas banget," aku nggak ngerti apa yang dimaksud nih orang.
"Nggak usah pura-pura bodoh?! aku juga tau kalau kekayaan dan fasilitas yang kamu dapatkan itu semuanya dari Karan," tuduh Kanaya.
Aku males ngeladenin orang setengah waras kayak gini, jadi aku pura-pura ngeliatin kuku aku yang baru aja di menicure kemaren.
"Heh, aku ngomong sama kamu?! kamu itu budek atau---"
"Nona Kanaya yang terhormat, kalau anda mau protes langsung aja ke adek sepupu saya itu, Karan Perkasa. Jangan malah marah-marah disini, anda salah alamat?!"
"Karena kamu terlalu menjadi prioritas Karan, emangnya aku nggak tau kalau---"
"Kalau apa, hah? kalau anda mau cari ribut, silakan keluar. Karena ini rumah saya, dan saya berhak untuk mengusir siapapun yang ingin membuat kekacauan disini!" aku bangun dan menunjuk pintu.
"Dari awal aku udah diperingatkan oleh seseorang, ternyata dia benar. Kalau kamu itu nggak lebih dari seorang pengeret dan pelakor?!" ucap Kanaya berdiri menunjuk wajahku dengan telunjuknya.
Kanaya tersenyum sinis, dan keluar dengan angkuhnya.
__ADS_1
"Sial banget aku hari ini, kedatangan wanita-wanita ibelissssss?!!!!" ucapku sembari nutup pintu.