Mendadak Dikejar Setan

Mendadak Dikejar Setan
Pinjam Raga


__ADS_3

Lagi melow-melownya nih, aku sempet-sempetnya ketiduran di depan pintu. Mungkin capek nangis, nangis yang lebih ke arah kesel dongkol dan kecewa dengan apa yang udah aku lewatin. Aku kebangun karena aku ngerasa ada angin yang masuk. Pas aku buka mata, beneran pintu kaca yang mengarah ke balkon kebuka.


"Akkh!" aku bangkit dari posisiku yang senderan di pintu.


Aku ngucek mata, karena angin yang berhembus lumayan kenceng. Rambut panjang indahku jadi terbang-tetbang nggak karuan.


"Perasaan aku nggak ngebuka pintu balkon," gumamku. Ya iya kapan aku bukanya, orang aku aja tau- tau ngeglosor di lantai ketiduran.


"Nggak mungkin maling kan, ya?" aku mulai agak takut.


Ya soalnya kan nggak mungkin tuh pintu bisa kebuka gara-gara angin yang gerakin. Nggak nyantol gitu di logika aing.


Aku tutup pintu balkon, dan pas mau narik tirai, tiba-tiba aku melihat sosok wanita yang berada di dalam mobil Barraq, "Aaarrghh! Astaga!"


Gimana nggak kaget, muka dia tau-tau tepat di depan muka aku. Persis banget hadap-hadapan, dan cuma kehalang kaca bening aja.


Aku langsung tutup tirai, "Hhh ... hhh, muka dia ngagetin coyy!!!" aku ketuk kepalaku pakai buku jari.


"Vaaaa...! Revaaaaa!" suara Ridho dibalik pintu. Dia manggil sambil gedorin pintu.


"Vaaa, kamu kenapa, Vaaa?" seru Ridho.


Aku yang namanya dipanggil pun menoleh ke arah pintu.


"Dia belum pulang?" kedua alisku bertautan.


Baru juga mau jalan, buat ngebuka pintu. Kakiku kayak susah buat digerakkin. Jadi kakiku kayak ada yang nahan, tapi aku nggak ngeliat tangan atau apapun itu.


"Arrghh, kok nggak bisa buat jalan?" aku nyoba sekuat tenaga buat melangkah tapi hasilnya nihil.


"Vaaaa?"


Ceklek!


Ceklek!


Ridho kayaknya nyoba buat buka habdle tapi nggak bisa karena pas aku masuk aku sengaja ngunci.


Dan sosok yang tadinya ada di balik pintu balkon, sekarang ada di kamarku.


Perlahan dia membalikkan badanku, lebih tepatnya diputar.


Sreetttt!


Aku sekarang berhadapan dengan wanita yang udah hilang dari dunia tipu-tipu ini.


Dia mencoba mendekat.


"Heeey, mau apa kamu?" aku coba gerakin badan, tapi nggak bisa. Semuanya kaku.


Dia semakin dekat, dan semakin dekat.


"Vaaaa? Revaaaa ... kamu nggak apa-apa?" Ridho masih manggilin di luar.

__ADS_1


Wanita dengan wajah yang penuh luka yang tertutupi sebagian rambutnya itu menoleh.


"Pinjami aku ragamu..." ucap wanita itu.


"Nggak, nggak mau! enak aja pinjam-pinjam, aku bukan barang!" ucapku dengan tegas.


"Kau harus mau!" ucap wanita itu yang mendekat dan menembus badanku.


"Aaaargghhhhhhhh!" aku ngerasain sakit waktu badanku ditembus makhluk yang aku nggak tau asal usulnya dari mana.


"Uhuuukkk!"


Rasanya sakit banget.


"Arrghhh kenapa tidak bisa..." ucap wanita itu.


"Sekali lagi," Wanita iru mengulangi aksinya, sepertinya dia ingin meminjam ragaku untuk dirasuki. Tapi dia lagi-lagi terpental.


"Aaaaaarghh!" aku memekik kesakitan.


"Akh, kenapa sulit sekali!" dia kesel sendiri.


Hantu kok ngeyelan, kan aku udah bilang kalau aku nggak mau minjemin ragaku. Dia kok maksa mulu.


Ceklek!


Ceklek!


Beberapa kali si hantu mencoba buat mengambil alih badanku, tapi berkali-kali iru juga dia gagal.


"Kita akan coba lain waktu!" ucap si hantu.


Dan...


Braaaaakk!


Ridho ngedobrak pintu.


"Revaaaa?" panggil Ridho, danketika pintu dibuka hantu tadi pun menghilang.


Ridho nyamperin aku, "Kamu nggak apa-apa? siapa makhluk tadi?" tanya Ridho cemas.


Kakiku yang semula kaku, sekarang malah lemes dan aku hampir jatuh kalau Ridho nggak nangkep badanku.


Boro-boro mau ngejawab, badanku udah kayak kerupuk melempem, udah nggak ada tenaganya.


"Kamu pucet banget!" Ridho ngangkat badanku dan ngrebahin aku di tempat tidur.


Entah apa yang merasuki hantu itu, eh salah. Maksudnya entah apa yang membuat hantu itu ingin merasukiku sampai-sampai dia keukeuh bersikeras buat minjem ragaku yang aduhai ini.


"Kamu pengen minum? aku ambilin..." ucap Ridho.


Tapi tanganku segera menangkap tangannyabyang hendak pergi, aku menggeleng. Ridho sekilas terpaku pada genggaman tanganku di pergelangan tangannya, reflek aku lepasin.

__ADS_1


"Kenapa?"


"Nggak usah," ucapku lirih.


Nggak ada pak Karan, mungkin dia udah pulang atau digondol meong. Yang jelas disini cuma ada Ridho.


"Mau ditemenin?" tanya Ridho.


Ya elah pake nanya lagi nih orang, udah tau aku lagi lemes banget. Buat ngomong satu kata aja buruh tenaga extra, akhirnya aku cuma ngangguk aja.


"Aku bakal disini tenang aja..." ucap Ridho yang menelisik setiap ruangan. Kayaknya dia juga mungkin sempet ngeliat sosok tadi atau emabg feelingnya yang jalan. Kata netijen yang suka suudzonan sama aing mah, katanya kalau aku sama Ridho tuh aura-auranya manggilin setan pada dateng.


Mungkin liat aku celingukan dan liat ke arah pintu terus Ridho jadi ngeh akan sesuatu.


"Dia udah pulang!" ucap Ridho tanpa diminta.


"Bukan, kamu udah rusakin pintu aku!" ucapku dengan susah payah.


"Oh, itu ... besok aku benerin, gini-gini aku multi tasking," seloroh Ridho.


"Aku salah liat atau memang tadi ada satu makhluk yang baru aja dateng kesini? karena aku hanya melihatnya sekelebat aja," tanya Ridho.


"Ya..." ucapku. Satu kata yang muncul dari bibirku, udah cukup bikin Ridho ngerti kalau feelingnya emang bener.


.


.


Paginya badanku nggak enak, semalaman aku demam. Nggak tau karena aku habis ketu face to face sama setan. Atau emang karena daya tahan tubuhku yang menurun dan bikin aku akhirnya drop kayak gini.


"Udah bangun? aku bikinin bubur buat kamu," ucap Ridho yang pagi-pagi udah glatakan di dapur orang. Semaleman nih orang pasti nggak tidur karena ngompresin aku terus. Walaupun aku ngliyep-ngliyep bentar tapi aku kerasa kok kalau emang dia tuh rutin ganti kompresan.


Dia udah pegang sendok yang isinya bubur, tapi aku geleng-geleng. Aku nyoba buat makan sendiri aja, mau ambil sendok ama mangkok yang dipegang Ridho.


"Kamu masih lemes, ntar bisa jatuh mangkoknya. Ini buburnya masih panas juga," Ridho menolak memberikan apa yang aku minta.


"Aku suapin," Ridho maksa.


Berhubung perutku udah laper, ya udah aku makan aja. Mataku nggak sengaja liat jam, dan sekarang udah jam 9 pagi.


"Ini hari apa?" tanyaku.


"Senin?" sahut Ridho.


"Aku ada pertemuan penting!" ucapku yang berniat bangkit dari tempat tidur.


"Udah istirahat aja, semuanya udah diurus Arlin," ucap Ridho yang nyuruh aku buat jangan panik.


"Kamu? nggak kerja?" gantian aku nanya.


"Aku ijin sama pak Bagas, aku bilang kalau aku lagi ngurusin calon istri yang lagi sakit..." ucapnya mulai kumat.


"Calon istri?" aku mengerutkan kening

__ADS_1


__ADS_2