
"Revaaaaaa, Revaaaaa..." suara seorang lelaki memanggilku.
"Revaaaaaaaa..." suara itu meneriakkan namaku lagi, jelas aku tau siapa pemilik suara itu, Ridho.
"Aku disiniiiiiiiiii, Dhoooo!" aku juga teriak.
Pak Karan mencegah lenganku saat aku mau pergi mencari suara Ridho, "Apa kamu yakin? itu suara Ridho?"
"Yakinlah, Pak! itu teman saya, saya hafal suaranya..."
"Tapi saya saya tidak mendengar suara apa-apa dari tadi!" pak bos menatapku serius.
"Tidak mungkin, Pak! itu pasti suara Ridho, saya yakin itu. Dan kenapa Bapak ikut berdiri kalau Bapak tidak mendengar suara apapun!"
"Kalau pun iya, belum tentu itu Ridho. Ingat Reva kita di dalam hutan, dan..."
"Terserah!" aku serobot omongan pak bos, dan aku meraih apa yang tergeletak di atas batu, aku ambil jas dan tas. Setelah aku memasukkan botol air yang ada di kantong, aku berlari meninggalkan pak Karan yang masih berdiri di tepi sungai.
"Revaaaaa! kamu jangan bertindak bodoh!" aku denger pak Karan teriak tapi aku nggak peduli, aku terus aja nyari suara Ridho.
"Dhoooo? aku disini, Dho?" aku percepat langkah, aku menekuk kedua telapak tanganku didekat mulut, supaya suaraku terdengar lebih nyaring.
"Revaaaaaaaa," aku dengar suara Ridho semakin jauh.
"Dhooo, jangan pergi, Dho! aku disini, Dhoooo? akkh..." aku panik, aku lari bahkan sampai aku nyungsruk jatuh di tanah, tapi suara Ridho semakin lama semakin hilang.
"Nggak, nggak! Ridhoooo, jangan tinggalin aku, Dhoo..." aku berusaha buat berdiri dan mengejar Ridho.
Tapi suara itu udah nggak ada, digantikan dengan suara serangga-serangga dan juga burung yang terbang di sekitar hutan ini.
"Hah ... hhh ... hhh, Ridhoooooooooo!" aku menjerit, aku nangis saat aku udah kehilangan suara itu.
"Huhuhuhuhu, kenapa kamu ninggalin aku sih, Dho! padahal aku disini, kenapa kamu nggak denger suaraku? huhuhuhu..." aku nangis sesenggukan, kepalaku rasanya udah pening dan nggak tau lagi harus gimana. Satu-satunya harapan aku dicari Ridho udah pupus. Aku akan tua dan membusuk disini bersama pak Karan.
"Pak Karan..." aku mendongak, dan melihat ke sekeliling.
Nggak ada pak Karan. Aku mengusap kedua mataku yang basah.
Satu kebodohan yang selalu aku ulangi, bertindak gegabah saat aku dirundung emosi. Pergi disaat aku kesal melihat Karla dan Ridho yabg selalu bersama dan kini aku juga pergi meninggalkan pak Karan disaat aku marah dengan ucapan pak Karan yang bilang nggak ada suara apapun yang dia dengar. .
"Pak Kaaaraaaaaaan!" aku teriak, aku menjatuhkan diriku diatas tanah.
Dan...
Sreeeeeet.
Sreeeeett.
Ada langkah kaki yang diseret.
__ADS_1
Aku menoleh ke belakang, "Hah, hhh ... hhh," nggak ada siapa-siapa.
"Heeeey, siapa itu!" aku teriak.
Aku yakin ada orang disini, aku jelas mendengar langkah kakinya.
"Pak? pak Karan!" aku mencoba menebak, mataku melirik ke seluruh penjuru mata angin.
Sreeeeekkkkk!
Ada sekelebat bayangan di belakangku.
"Akkh,"
Aku memutar badan, nggak ada siapa-siapa.
"Hahahhahahahahaha," ada suara wanita tertawa.
"Aaaaaaaaakkkkkkkkhhhhh! pergiiiiiiii, pergiiiiiik...!" aku menjerit sambil menyembunyikan kepala di kedua lutut sambil tanganku menutup telinga.
"Revaaaa! Revaaaaa! ini saya. Kamu kenapa?" ada seseorang yang menggoyang-goyangkan badanku.
Lantas aku mendongak, "Pak Karaaaan!" aku menyebut namanya histeris, aku peluk pak bos.
"Syukurlah saya bisa menemukan kamu! tolong jangan pergi sendirian, disini kita nggak tau bahaya apa yang bisa mengintai kita berdua. Sssshhh..." pak Karan mengelus rambutku.
"Huhuhu, kita pergi dari sini, Pak! saya pengen pulang ... huhuhu," aku menangis sejadi-jadinya.
Aku nggak mau tua dan renta di hutan ini, aku mau beruban di tempat yang hangat dan penuh cinta. Sekarang pak Karan membantu aku berdiri, aku memegang tangannya. Aku nggak boleh gegabah, aku nggak boleh selalu bergerak disaat emosi mengusai pikiranku.
"Ayo," pak Karan mengajakku berjalan.
Aku nggak tau apa kita semakin nyasar atau bagaimana, yang jelas aku hanya mengikuti kemana pak Karan membawaku. Cukup lama kami berjalan, sampai akhirnya pak Karan berhenti dan mengajak beristirahat di bawah pohon besar.
"Reva? masih ada air?" tanya pak Karan setelah kami duduk.
"Masih ada satu setengah botol," aku menunjukkan air yang ada di dalam tas.
"Beri aku satu," kata pak Karan.
Aku menyerahkan botol yang masih penuh, tapi pak Karan menolak, "Kita habiskan dulu, yang sudah terbuka," pak Karan menunjuk satu botol yang isinya tinggal setengah.
Aku memberikan apa yang dia minta.
Dan glek.
Pak Karan hanya minum satu teguk.
"Minumlah, kita harus menghematnya," ucap pak Karan, tumben banget dia nggak marah-marah. Biasanya kan dia jauh dari kata adem, aku hanya melongo mendapatkan botol dari pak Karan.
__ADS_1
"Kamu tidak haus?" pertanyaan pak Karan menyadarkan aku yang lagi ndowoh.
"Eh, iya..." aku menerima botol itu dan meneguknya sedikit, hanya untuk membasahi bibir dan kerongkonganku yang kering.
"Pak?" aku panggil pak Karan.
"Yang kita duduki ini akar pohon ya, Pak?" lanjutku.
"Sepertinya begitu," jawab pak Karan.
"Setua apa ya Pak pohon ini?" aku mendongak ke atas.
"Tidak tahu..."
"Apakah kita akan tua disini seperti sepasang pohon ini?" aku menunjuk pohon ini dan pohon yang ada di samping.
"Aku jamin tidak. Percaya saja kalau kita semakin dekat dengan jalan keluar..."
Hari sudah beranjak sore, kita berdua nggak mungkin melanjutkan perjalanan. Pak Karan menyuruhku untuk mengumpulkan beberapa ranting dan daun kering. Dia mengumpulkan daun yang ukurannya lebar dan mengalasi tanah yang sudah dia bersihkan.
"Segini cukup?" tanyaku.
"Cukup..."
"Ini semua untuk apa, Pak?" aku menaruh kumpulan ranting kering diatas tanah.
"Apa kamu tidak pernah ikut pramuka?" tanya pak Karan sinis.
"Tidak, saya selalu beralasan sakit jadi tidak perlu mengikuti kegiatan yang pasti menguras energi,"
"Pantas saja, hal sepele seperti membuat api unggun saja kamu tidak tahu. Dasar karyawan payah!" pak bos nyebelinnya kumat lagi.
"Jangan diam saja, bantu saya menyusunnya," suruh pak Karan. Aku yang baru aja mau duduk diatas tanah yang sudah dilapisi daun pun harus bangkit lagi.
"Bagaimana caranya, saya tidak berpengalaman!" aku berjongkok berhadapan dengan pak Karan.
"Astaga, kamu memang sangat sangat tidak bisa diandalkan!" ucap pak Karan sewot.
Akhirnya pak Karan menyusun kayu dan ranting kering yang udah kita kumpulin tadi. Dia merogoh saku jasnya, dan mengambil korek api dan rokok.
"Bapak ngebul juga, Pak?" aku nanya saat aku nggak sengaja melihat sebungkus rokok di yang dia masukkan kembali ke dalam sakunya.
"Hanya sesekali," jawabnya.
Pak Karan menyalakan korek apinya dan membakar beberapa daun kering. Setelah api kecil sudah menyala, dia masukkan lagi beberapa daun kering agar api semakin membesar dan membuat kita berdua hangat.
Langit sudah gelap dan sekarang aku melihat wajahnya di sinari api unggun, namun tiba-tiba saja ada satu sosok yang muncul di belakang punggung pak Karan.
"Pergiiii!" aku berteriak histeris.
__ADS_1
...----------------...