Mendadak Dikejar Setan

Mendadak Dikejar Setan
Angin Kencang


__ADS_3

Setelah acara sarapan yang aku sengaja bikin secanggung mungkin itu selesai, aku pun pergi mengasingkan diri dari mereka semua.


Aku perlu menyadarkan diri kalau memang mungkin sudah ada Karla di hati Ridho, dan sampai kapan pun aku cuma akan dianggap sebagai teman.


Aku nggak tau, kenapa aku nggak suka banget ngeliat mereka jalan berdua, makan berdampingan, bahkan kalau berpikir mereka tinggal dalam satu tenda berdua udah cukup bikin aku cengap-cengap.


Dan semua perhatian yang Karla berikan buat Ridho tuh lebih dari batas kewajaran, menurutku.


Bisa jadi 99% kemungkinan mereka punya hubungan spesial. Kalau masalah pak Karan, Walaupun pak bos udah mulai belajar care sama aku, tapi aku anggap semua itu dia lakukan karena dia butuh aku supaya bisa menyelesaikan teka-teki dari semua malapetaka yang menimpa kami berdua.


Hanya ada dua kemungkinan, aku bisa memutus keterikatan dengan cincin itu dan kembali ke kehidupanku sebelumnya ataukah kami semua akan menjadi penghuni baru dan selamanya terjebak disini.


Sekarang aku duduk di batang pohon yang tumbang, "Pohon segede ini aja bisa roboh! apalagi hati aku?" aku ngetawain diri sendiri.


Aku mendongak, melihat langit, namun sesaat aku merasakan ada hawa dingin menyentuh tanganku. Lantas aku menoleh.


"Kamu?" aku melihat satu sosok gadis kecil, gadis yang selalu masuk ke dalam mimpiku.


"Heh, ini masih pagi. Kenapa kamu bisa berkeliaran bebas?" lanjutku.


"Ini hutan terlarang, semua makhluk bisa muncul kapan saja, Teh. Tidak ada batasannya..." ucapnya, wajahnya yang pucat dengan dress lusuh dan rambut yang selalu basah membuatku takut memandangnya.


"Bisa kah kamu berpenampilan lebih baik? karena jujur saja, aku takut melihatmu dengan penampilan seperti itu," aku memalingkan wajahku.


"Apa seperti ini sudah lebih baik, Teh?" si gadis kecil itu sudah sedikit rapi, walaupun kulitnya tetap saja pucat.


"Lebih baik dari Hongkong? kamu hanya merapikan rambutmu saja, astaga..." baru kali ini aku tertawa dengan hantu, si gadis kecil menunduk mendengar ucapanku.


"Maaf, maaf...." aku menghentikan tawaku, "Apa ada kemungkinan aku bisa keluar dari sini?"


"Tentu, dan waktu Teteh hanya tinggal beberapa hari lagi menuju bulan purnama..."


"Sumpah, aku nggak ngerti harus ngembaliinnya kemana?" aku nanya sama si bocah kecil itu. Baru kali ini aku bisa nahan supaya nggak takut sama makhluk astral yang ada di hadapanku.


"Semua itu ada dibalik nama pemiliknya," setelah mengucapkan itu si bocah kecil mendadak hilang.


"Hey..." aku berdiri mencari keberadaan hantu itu yang sampai saat ini aku nggak tau namanya karena belum sempat kenalan.


"Astaga, dia main ngilang aja!"


Dan dari arah berlawanan, aku mendengar suara seseorang yang berbicara sendiri. "Apa si Karla?"

__ADS_1


Aku mencoba mendekati orang itu, namun dari segi postur tubuh, kayaknya dia bukan Karla.


"Kamu siapa?" aku melihat seseorang wanita dengan kaos biru lengan panjang dan jeans yang sudah robek di bagian betisnya.


Wanita itu hanya menolehkan wajahnya sejenak, "Mbak Sena?"


"Duuuh, aku pasti halusinasib lagi!" aku mengucek mataku dan saat aku buka mata, nggak ada orang sama sekali.


"Tuh kan, nggak ada siapa-siapa. Lagian masa iya mbak Sena sampai nyasar kesini? ngaco banget, sumpeh..." aku ngomong sendirian.


Dan tiba-tiba saja ada tangan yang menepuk pundakku.


"Revaaa..." suara orang yang lagi deket sama karet nasi warteg, siapa lagi kalau bukan Ridho.


"Ngapain kamu disini sendirian?" tanya Ridho.


"Cari angin supaya ada supply oksigen yang masuk ke otakku yang bebel ini,"


"Kamu marah gara-gara aku katain bebel? tumben, Va! biasanya juga kamu nggak ambil hati omonganku yang kayak gitu," tanya Ridho.


"Nggak, kan aku emang gitu. Nggak bisa dikasih tau, beda sama Karla iya, kan?" aku sindir langsung aja.


Aku balik badan dan jalan lagi. Aku duduk lagi di batang pohon yang ngegeletak itu. Ridho ikutan duduk disampingku.


Kita berdua sama-sama diem, cuma terdengar Ridho yang sesekali berdehem.


"Jadi? udah berapa malam kamu satu tenda sama Karla?" aku ngomong tanpa menatap Ridho.


"Nggak,"


"Nggak apanya?"


"Nggak satu tenda. Gila aja, Va! bisa terjadi sesuatu yang sangat diinginkan dong kalau sampai aku satu tenda sama dia," jawab Ridho


Mendengar jawaban Ridho, ada perasaan lega saat aku tau kalau Ridho dan Karla nggak tidur dalam satu tenda yang sama.


"Kenapa emangnya? kenapa kamu tanya kayak gitu?" tanya Ridho.


"Kan tenda kalian cuma satu, aku kan cuma nanya aja. Udah berapa malam kamu sama Karla tidur di tenda itu,"


"Baru juga semalem," jawab Ridho, sedangkan aku langsung menatap mata Ridho dengan alis yang mengerut.

__ADS_1


"Baru juga semalem kita bermalam di hutan terlarang ini. Dan aku tidur di luar dekat api unggun, walaupun si Karla nyuruh aku masuk karena semalem cuacanya ekstreme, tapi nggak lah. Aku mending menciut karena kedinginan, daripada iman yang jadi taruhannya..." kata Ridho.


"Otak kamu ngeres banget sih, Dho!"


"Aku sama pak Karan aja dua malem di sini nggak ada tuh sempet-sempetnya mikirin kayak gitu!" aku mendadak kesel.


"Bukan kayak gitu, tapi aku cuma menjaga diri. Setan bisa datang kapan aja, Reva..."


Berarti bener dong ya, Ridho ada ketertarikan sama Karla. Dia kayak ngejaga Karla banget soalnya.


"Terus kamu selama disini tidur dimana?"


"Disamping pak Karan," jawabku enteng.


"Nggak usah bercanda deh, Va!"


"Nggak bercanda, lah. Tanya aja sendiri kalau nggak percaya. Dua malam ini aku tidur sambil duduk sebelahan sama pak Karan, lah daripada nyender di batang pohon yang keras, lebih enak juga nyender di bahunya pak bos!"


"Ridhoooo!" Karla manggil terus nyamperin kita.


"Ngapain ini orang kesini? nggak bisa liat aku ngomong berdua sama Ridho, deh! Gedeg banget sumpah," aku mengumpat di dalam hati. Aku yang males liat Karla langsung ngeloyor pergi menuju tenda.


Tiba-tiba saja angin berhembus lumayan kencang, ternyata Ridho dan Karla pun nyusul balik lagi ke tenda.


"Masuk!" pak Karan menarikku masuk ke dalam tenda.


Dan Kami berempat masuk ke dalam tenda berwarna biru ini, umpel-umpelan udah kaya ikan pepes. Karla udah nyungsep duluan di dada bidangnya Ridho, sementara aku hanya bisa melihat mereka berdua dengan hati yang berdarah-darah.


"Sini," pak Karan membawaku masuk ke dalam jas yang dipakainya.


Pandangan aku dan Ridho seperti satu cahaya yang saling menusuk, aku langsung berpaling. Menenggelamkan wajahku di dada pak bos.


Seenggaknya apa yang dilakuin pak bos kali ini menyelamatkan aku dari situasi yang membuatku sangat menyedihkan.


"Apa iya aku menyukai Ridho lebih dari teman?" aku bertanya pada hatiku sendiri.


Aku mengintip, saat ini Ridho melayangkan tatapan tajam pada pak Karan.


"Apa arti tatapan itu?" aku bertanya-tanya, sedangkan tangan pak bos memelukku dengan erat dihadapan orang yang ingin sekali aku peluk.


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2