
"Pak kok Bapak bisa nemuin saya di rumah Karla?"
"Bukannya tadi kamu seneng saya jemput? tapi kenapa sekarang kamu mempertanyakan itu? jangankan rumah karyawan saya, kalau kamu bersembunyi di lubang semut sekalipun saya akan bisa menemukan kamu, Reva! saya datang karena kita harus secepatnya menemukan jawaban dari kain itu,"
"Ya tadi saya seneng tuh karena ngerasa kalau Bapak menyelamatkan saya dari sikon yang yang kurang nyaman," lirihku, tapi kayaknya pak bos nggak denger deh. Soalnya dia lagi fokus nyetir.
"Oh, ya ... kenapa kamu pakai cincin itu lagi? bukannya Ridho yang menyimpannya? apa tidak apa-apa jika kamu memakainya lagi?" tanya pak Karan bertubi-tubi.
"Sebenarnya apa-apa sih, Pak! tapi mau gimana lagi, daripada Ridho yang efeknya..." aku menoleh pada pak bos.
"Lalu kamu memilih supaya kamu yang..."
"Mau saya pakai ini atau nggak toh saya juga yang dikejar-kejar sama makhluk itu, kan? jadi apa bedanya?" aku memotong ucapan pak bos dengan senyuman getir. Hujan masih turun deras.
"Benar juga, karena mereka semua muncul kapan saya tanpa bisa saya cegah," kata pak bos.
Hujan makin deras, cacing di perut mendadak kosidahan.
"Pak? saya lapar..."
"Saya sudah tahu, ambilah kantong di belakang, " pak Bos menunjuk kursi belakang.
Badan aku julurkan ke belakang meraih kantong berwarna putih yang terdapat beberapa roti, air dan juga snack.
"Bapak sengaja beli?"
"Kamu pikir makanan itu bisa datang dengan sendirinya?" pak bos ketus amat jawabnya.
Mendadak dia menghentikan laju mobilnya, dan kanan kiri jalan hanya ada pohon-pohon dan tumbuhan yang tumbuh dengan liar.
"Loh, Pak? kenapa berhenti?" aku nanya saat pak Karan menghentikan mobilnya di bahu jalan, beruntung bukan jalan menanjak atau menurun.
"Kamu pikir cuma kamu yang lapar?" kata pak bos yang mengambil bungkusan roti yang ada di dalam kantong. Lalu dia membukanya.
Aku pun melakukan hal yang sama, aku buka bungkus roti dan mulai memakannya. Aku melihat di ponselku sudah menunjukkan pukul 3 sore, itu artinya kita sudah melakukan perjalanan selama 3 jam.
Aku sekilas melihat chat dari Ridho, tapi aku abaikan aja. Sebenernya aku bukannya cemburu sama si karet, tapi rasanya aneh kalau yang disamping Ridho bukan aku, semua perhatiannya sekarang disabet sama si Karla. dan aku cuma kebagian remahannya doang.
Asal kalian tau aja, Karla tuh gebetannya banyak, aku nggak mau aja si Ridho dimainin atau dimanfaatin sama karet nasi warteg. Ya walaupun aku akui bagian depan dan belakang si Karla on point semua, wajar kalau laki-laki normal kayak Ridho bisa tertarik sama dia.
Tapi gimana pun aku sama Ridho udah lama temenan, dan rasanya nggak rela aja kalau dia sampai disakitin. Temen tetep temen iya, nggak?
"Kamu lagi mikirin apa, Va?" tanya pak bos.
"Nggak ada, Pak..." aku senyum canggung.
__ADS_1
"Mungkin lebih baik kita mencari penginapan saja, Reva!"
"Bapak jangan macem-macem ya, Pak! saya tuh perempuan baik-baik, masih suci lahir batin!" aku mendadak menyilangkan kedua tangan di depan dada, melindungi aset terbaikku.
"Heh, pikiranmu itu yang nggak suci!" pak bos menunjuk pelipisku, "lagian kamu bukan tipe saya, jadi jangan mikir yang aneh-aneh, kaki saya pegal sudah menyetir bolak balik!" pak bos keluar tanduk.
"Eh, iya, Pak! terserah Bapak saja kalau begitu..."
"Aiiiiir..." pak bos menunjuk kantong, lalu aku menyodorkan air mineral dari dalam kantong itu.
Glek
Glek
Glek
Pak bos meneguk air mineral yang udah dibuka, sedangkan aku hanya diam melihat pria galak itu tanpa berkedip.
"Heh, apa kamu tidak pernah melihat orang sedang minum?" ucapan pak bos membuatku tersadar dari lamunan singkatku itu.
"Siapa juga yang memperhatikan Bapak? saya cuma lagi mikir memangnya ada penginapan di sekitar sini?" aku memutar otak.
"Maka dari itu kita cari tahu,"
Setelah menghabiskan satu bungkus roti, aku membuka satu bungkus snack cokelat, "Apa kita tidak jalan sekarang saja, Pak?"
Hujan masih awet, aku hanya melihat wiper yang bergerak di kaca mobil.
"Mereka pasti lagi ... argh, ngapain juga sih mikirin orang itu," aku ngomong sendiri di dalam pikiranku. Dan seketika aku kepo dengan chat yang Ridho kirim.
💬Va? kamu udah sampai mana?
💬Hujan lebat hati-hati!
💬Aku sama Karla juga lagi perjalanan pulang. Mona lagi nginep di rumah temennya, malam ini biar Karla nemenin kamu di kontrakan.
"Cih, Karla lagi Karla lagi. Baru juga kenal sebentar, tapi nama dia yang berkali-kali kamu sebut," aku bergumam dalam hati.
Dan tiba-tiba saja petir menggelegar.
Jederrrrr!
"Astaghfirllah!" aku memegang dada ku yang rasanya mau copot.
"Kita harus cepat pergi dari sini," kata pak bos yang kemudian menancapkan pedal gasnya .
__ADS_1
Jedeerrrrrr!
Petir bergemuruh, seakan menumpahkan kekesalannya, ya nggak jauh beda sama apa yang aku rasain sekarang.
Dan
Ciiiiiittttt...!
Pak bos mengerem mobilnya mendadak, beruntung aku memakai sabuk pengaman jadi badanku hanya sedikit terdorong ke depan.
"Ada apa, Pak?" aku menoleh pada pak bos.
"Kamu tidak lihat? ada pohon tumbang di depan? kita bisa celaka kalau saya tidak menghentikan mobil ini," kata pak Karan.
"Tunggu di dalam, aku akan menggesernya sedikit," kata pak Karan yang kemudian keluar dari mobil.
Dan aku melihat pria itu keluar tanpa pelindung apaoun, sementara hujan mengguyur begitu derasnya. Hari sudah menuju senja, tapi kita belum juga sampai di kota dan sepertinya kita hanya berputar-putar dari tadi.
Aku melihat ke luar jendela di sampingku, aku melihat tiga pohon besar berdampingan dengan satu dahan yang menjuntai ke bawah.
"Dan kayaknya pohon ini udah sempat kita lewati, tapi kenapa bisa ketemu lagi?" aku menunjuk ke arah pohon.
"Aneh banget, suwer!" dan aku mengalihkan pandanganku ke depan. Aku melihat pak Karan kesulitan menggeser dahan itu.
"Aku turun aja, deh!" aku keluar dari mobil meninggalkan mobil yang masih menyala, lampu mobil menyorot pak Karan yabg sedang menggeser batang pohon yang cukup besar itu.
"Kenapa kamu turun? kembali ke mobil!" perintah pak Karan.
"Biar aku bantu, Pak!" kataku yang ikut menarik pohon besar itu berdua dengan pak Karan. Badan kita basah kuyup dari ujung kaki sampai ujung kepala, mataku juga kerasa perih karena kemasukan air.
"Aaaaaaarrggghhh!" suara pak Karan yang berusaha mengerahkan kekuatannya untuk membuat batang pohon itu bergeser dan memberi akses jalan untuk mobil besar berwarna hitam milik pak Karan.
"Ayo, kamu dorong dari sebelah sana!" dia menyuruhku, sedangkan pak bos menarik salah satu dahan yang besar.
"Aaaaaaarrghhhh!" aku mendorong sekuat tenaga.
"Sudah cukup! ayo masuk ke dalam mobil!" kata pak bos.
Aku dan pak Karan berlari menuju mobil.
Brukk!
Aku menutup pintu mobil setelah duduk di kursi penumpang samping kemudi.
"Ssshhhhhh," gigiku saling beradu, dingin membuatku menggigil.
__ADS_1
"Pindah belakang! ganti pakaianmu!" ucap pak Karan sambil mengusap wajahnya yang basah.
...----------------...