
Ya udah, emang bener sih. Udah nggak ada artinya antara Ridho dan Arini, toh saat ini aku yang memiliki Ridho seutuhnya.
Kita memutuskan untuk balik ke apartemenku dulu, buat ambil baju baru kita ke rumahnya Ridho. Lebih tepatnya rumah yang ditempati Ridho selama menjadi asisten pak Bagas.
"Tunggu dulu, aku beresin baju di kamar..." kataku saat kita udah nyampe apartemen.
Aku ngeloyor ke dalem kamar sedangkan Ridho nunggu di ruang tengah, sambil ngaso bentar. Kan capek tuh dia nyetir.
"Kalau mau minum ambil sendiri di kulkas!" aku teriak dari dalam kamar.
"Ya ndoroooo?!" seru Ridho.
Aku cuma geleng-geleng kepala denger jawaban mas suami.
"Aku bawa baju seadanya dulu, gampang nanti balik lagi, ah!" gumamku sambil ngepack.
"Bawa apa lagi, ya?" aku melihat sekitar meja rias.
Aku ambil semua peralatan lenongan beserta skincare yang ada di tempat khusus, aku mauskin semua ke dalam koper lain lagi.
Kalau tas dan sepatu mah, aku nggak begitu mikirin banget. Pake satu tas atau sepatu dengan warna netral kayak hitam aja udah cukup. Gampang kalau ada waktu aku kesini lagi buat ambil barang yang lain.
"Masih lama?" Ridhoasuk bawa minuman berasa di tangannya, dia jongkok ngecek apa aja yang aku siapin dan nyodorin tuh botol.
"Minum?" Ridho nawarin.
Aku yang udah haus banget, nyamber aja botol yang ada di tangan suami.
"Apalagi yang mau dibawa? biar aku ambilin juga," kata Ridho sok tau banget.
"Aku siapin sendiri aja, kamu mana tau," aku kasih lagi botol ke Ridho yang udah kosong, lanjut ngepack barang lagi. Dua koper sementara ini cukuplah, apalagi aku bukan yang ribet banget masalah penampilan.
"Cuma ini aja?" tanya Ridho yang bantuin nutup koper terakhir.
"Iya, yang lain nggak usah sekarang. Ribet," kataku yang bangkit dan bawa satu koper, tapi dihalangi Ridho.
"Biar suamimu yang bawa ini, Sayang..." ucap Ridho.
Wah kebetulan, aku juga lagi pegel. Jadilah dua koper kangmas yang bawa dan aku yang ngunci pintu unit.
__ADS_1
Sekarang kita pergi ke rumah Ridho. Dia lagi yang nyetir, jaraknya lumayan dibilang jauh nggak begitu tapi dibilang deket nggak juga.
Dan kita berada di sebuah perumahan, ya nggak elit-elit amat lah. Jauhlah sama rumahnya pak Karan, tapi ini modelnya manis dan cukup elegan.
"Ini rumah aku," kata Ridho seraya bangga nunjukin rumah hasil kerja kerasnya.
"Dikasih atau beli sendiri?" aku nanya.
"Beli sendirilah, emang aku gebetannya pak Bagas yang dibeliin rumah segala?" kata Ridho.
"Bentar aku ambil koper dulu, ini kuncinya tolong kamu bukain pintu depan ya," lanjut Ridho.
Ridho keluar mobil buat ambil dua koper, sedangkan aku jalan ke arah pintu dan ngebuka dengan kunci yang Ridho kasih.
Buat ukuran rumah cowok ini netral banget. Maksudnya nggak pakai warna monokrom atau warna-warna yang maskulin gitu.
"Masuk, yuk?" ucap Ridho dengan ngegeret dua koper di tangannya.
"Assalamualaikum," ucap Ridho ketika melangkah masuk.
Ridho emang biasa ya ngucapin salam saat masuk ke suatu bangunan, walaupun cuma sebenernya nggak ada orang selain dia gitu disitu.
Aku ngikutin Ridho.
"Males beli kali, bukan simple!"
"Nah, poin kedua itu mungkin salah satunya," Ridho tersenyum, dan melanjutkan langkahnya menuju ruang tengah yang ada sofa dan tivi LED super gede.
Dia naruh dua koperku di pojok dekat kabinet tivi.
"Ini ruang tengah, biasa buat leha-leha. Tapi aku jarang nyantai juga sih disini, soalnya aku seringnya ngabisini waktu di kantor, dan ngeliatin kamu darj jauh..." kata Ridho, deuh berasa dapet secret admirer deh.
Aku nggak bisa komen atau nyautin, aku cuma lanjut ngikutin Ridho.
"Disini ada toilet juga lebih kecil daripada yang diatas. Biasanya buat tamu aja gitu barangkali ada yang mau nanam saham," jelasnya sambil buka pintu toilet yang kinclong.
Rumah ini bersih banget, lebih rapi daripada apartemenku kayaknya. Kan aku males beberes, cuma ngandelin orang yang sesekali dateng buat bersih-bersih.
"Disini, dapur dan meja makan. Nanti kamu bisa masak disini, nggak sih nggak masak ya. Daripada ntar kompornya mledak, mending nanti gunain aja meja makannya buat kita makan..." kata Ridho saat kita udah ada di area kitchen.
__ADS_1
"Ya nggak sampe mledak juga kali, paling juga gosong-gosong dikit wajannya," kali ini aku nyautin.
"Canda kali, Sayang. Maksudnya biar kamu nggak usah capek gitu buat masak," Ridho ngerangkul pundakku dan ngajak aku naik ke atas.
"Aku tunjukin kamarku yang sekarang jadi kamar aku sama kamu,"
Lantai tangga yang dari lantai parket dengan aksen wooden bikin nuansa rumah ini jadi hangat.
Sampai di kamar.
Ridho ngajak aku masuk, "Ini kamar kita. Kamarnya ya kayak gini lah, kamu kalau pengen ngerubah catnya juga boleh. Pokoknya atur aja sesuai apa yang kamu pengenin, dan disana ada kamar kecil khusus buat tempat baju. Dan buat kamarandinya nggak ada bathtube cuma ada shower, karena aku emang jarang rendeman kayak anak bayi," jelas Ridho, sembari kita mengeksplore satu persatu ruangan di kamar ini.
"Gimana?" tanya Ridho.
"Apanya?"
"Apa ada yang nggak sesuai sama keinginan kamu?" tanya Ridho yang ngajak aku duduk di tepi ranjang.
"Paling aku butuh meja rias aja sih, yang lain mah ntar aja kalau aku udah mood pengen ganti suasana. Itu juga kalau nggak males," sahutku.
"Sekarang kamu istirahat aja dismi, biar aku ke bawah buat naikin koper kamu," kata Ridho yang ngelus punggungku lembut, kemudian mengecup sekilas kepalaku.
Dan sekarang tinggal aku sendirian di kamar ini, "Semoga aja nggak ada penghuni 'lain' di rumah ini, udah capek berurusan sama yang begituan," gumamku sambil mengedarkan pandangam ke segala penjuru kamar.
Nggak lama, Ridho masuk lagi dengan dua koper gede.
"Taruh disitu aja, biar aku nanti yang beresin..." ucapku biar Ridho nggak usah buka-buka koper dulu maksudnya.
"Aku taruh di ruang tempat penyimpanan baju aja ya, biar nanti kamu masukin bajunya diaana, masih banyak space yang kosong kok..." jata Ridho.
Aku ngangguk, "Oke, siap?!"
Ridho ngegeret dua koper tadi ke ruang kevil yang khusus nyimpen baju yang udah di setrika.
"Kamu laper nggak? biar aku pesenin makanan?" tanya Ridho.
"Lumayan laper,"
"Pengen makan apa, Sayang?" Ridho nyelipin rambut panjangku ke belakang daun telinga.
__ADS_1
"Ayam bakar, plus sambel. Kayaknya mantap tuh," kataku.
"Oke siap, sesuai keinginan Ndorooo," seloroh Ridho, aku cuma bisa nyengir kalau Ridho udah bilang 'Ndoro'.