
"Senaaa!" seru seorang wanita paruh baya yang setengah berlari menghampiri kami.
"Sen ... Sena, ini mama, Sayang!"
Dia main peluk mbak Sena. Dan ada satu orang lagi yang turun menyusul si ibu.
"Akhirnya kamu kembali, kamu selamat! hiks ... maafkan mama papa, Sen! hikss, syukurlah ... kami bisa melihatmu lagi," wanita itu membelai rambut mbak Sena.
"Tunggu, tunggu, Bu! ibu ini ibunya mbak Sena?" aku memastikan.
Si ibu melepaskan pelukan nya pada mbak Sena, "Iya, betul!" ucap si ibu yang udah berurai airmata.
"Mama..." lirih mbak Sena. Dia memandang wanita yang sudah tidak myda lagi itu dengan senyuman tipis.
"Terima kasih, kalian sudah menemukan anak kami. Kami sangat berhutang budi..." ucap si Bapak yang berdiri di belakang wanita yang ternyata ibunya mbak Sena.
Nggak enak mengobrol di luar kayak gini, selain bisa jadi tontonan para tetangga kaki kita pun rasanya pegel. Jadilah aku dan Ridho menawari untuk duduk di dalam rumah. Biar lebih enak gitu.
Biasalah calon istri ngaduk minuman dulu di dapur. Kali ini kita butuh yang dingin-dingin biar otak dan hati jadi ikutan adem, jadi nanti nyeritain kejadiannya enak gitu. Sedangkan Arjun udah pasti disuruh nunggu lagi sampai lebaran haji taun depan.
"Silakan, diminum, Pak Bu..." ucapku sopan. Lumayan kan pencitraan.
"Terima kasih, Nak..." ucap si ibu yang belum ngasih tau namanya.
Setelah minuman dingin meluncur ke tenggorokan baru lah si Bapak yang menjadi jubir, juru bicara.
"Kami tidak menyangka akan bertemu kembali dengan Sena, ini sebuah keajaiban..." ucap si Bapak yang kayaknya udah nahan-nahan supaya nggak sedih.
"Alhamdulillah, mbak Sena bisa bertemu kembali dengan Bapak dan Ibu. Tapi maaf, darimana Bapak dan Ibu tau kalau mbak Sena ada di sini?" tanyaku kepo.
Ya udah, si Bapak cerita kalau dia di hubungi oleh orang kepercayaan pak Karan. Mereka menginformasikan kalau Sena baru saja ditemukan dan berada di kontrakan temannya. Aku nggak nyangka kalau pak Karan kalau nolongin orang nggak tanggung-tanggung. Baru kali ini aku salut sama adek sepupu ketemu gede yang galaknya ngalahin aing maung.
"Jadi begini, Pak. Tadinya kita mau nganter mbak Sena ini ke rumah sakit. Bagaimanapun mbak Sena sudah hilang cukup lama, jadi pak Karan berbaik hati untuk meminta kami mengecek kondisi mbak Sena di rumah sakit yang sudah di tentukan," kata Ridho.
Aku juga jadi kagum sama Ridho. Walaupun aku tau, antara pak Karan dan Ridho ada perseteruan perkara sama-sama menyukai orang yang sama yaitu Reva Velya, tapi untuk urusan yang kali ini Ridho kayak nyingkirin rasa dongkol dan keselnya sama pak Karan demi menolong mbak Sena. Udah fix calon imam dunia akherat buat aing ini mah.
__ADS_1
Orang ganteng banyak, orang yang punya duit alias kaya juga banyak tapi orang yang kayak abang Ridho cuma atu di dunia. Paket komplit, nyebelinnya ada, seriusnya ada, slengeannya apa lagi, dan yang jelas ada bekal agama yang aku rasa cukup buat mengayomi aku dan anak-anak kita nanti. Kalau bayangin itu aku jadi malu sendiri. Yang yang terpenting dia nggak mau main-main soal hubungan, dia datang bawa kepastian. Ceileeehhh.
"Vaaaa ... Vaaaa..." Ridho nyenggol aing.
"Apaan sih?"
"Kamu yang kenapa? cengar cengir sendirian. Itu mama papanya mbak Sena sampe heran liatin kamu daritadi..." ucap Ridho yang bikin aku yang tadinya mau sewot malah jadi salting sendiri, malu. Ternyata daritadi aku kepergok ngelamun.
Setelah perbincangan satu abad ini, kita semua berbondong-bondong ke rumah sakit. Buat nganterin mbak Sena. Pokoknya kita terima beres, mbak Sena ternyata langsung mendapat penanganan. Udah disiapin ruang rawat dan lain-lain. Dan ketika mbak Sena udah anteng tiduran di ruang perawatannya, aku dikasih waktu buat ngobrol berdua sama mbak Sena.
"Makasih..." dia ngucap itu dengan lirih.
"Sama-sama, yang penting mbak Sena bisa sehat lagi..." ucapku.
"Kamu juga..."
"Iya aku juga. Aku mah udah sehat, Mbak. Paling masih lemes-lemes dikit, itu mah liat duit 5 gepokan aja udah langsung semangat lagi..." ucapku garing.
"Nggak banyak yang aku inget..." mbak Sena memutar bola matanya, dia berusaha mengingat sesuatu.
"Nggak usah diinget-inget kalau emang nggak inget. Mbak Sena yang penting istirahat ya, biar cepet pulih. Aku pamit..."
"Kenapa tidak mau dirawat?" tanya pak Karan.
"Kan nggak sakit, ngapain dirawat?" aku celingukan nyari Ridho.
"Tapi kamu itu baru saja--"
"Keluar dari hutan? ketemu setan?" aku nebak yang bakal dia omongin.
"Nah itu kamu sudah tau!"
"Tapi sayanya nggak kenapa-napa. Jalan masih tegak nggak sempoyongan, mata masih ngeliat jelas. Badan nggak ada yang luka, terus buat apa dirawat? ngabisin duit aja kalau gitu mah!" aku ngeles kayak bajaj.
"Ya sudah kalau begitu suntik vitamin saja!" pak Karan main narik tangan aing.
__ADS_1
"Eh, eh, eh! ngapain suntik vitamin? nggak, nggak, nggak! nehi ya, nggak mau!" aku lepasin tangannya, nolak.
Pas lagi debat sama pak Karan, tiba-tiba kangmas datang.
"Udah pamit sama mbak Sena? kalau udah kita pulang!" ucap kangmas yang membuat kita nengok ke arah Ridho secara bersamaan.
"Udah, Dho! udah pamit tadi!" aku bergeser ke samping kangmas. Aku nggak mau disuntik vitamin, aku itu butuhnya suntikan dana, tau nggak?
"Kalau begitu kami permisi, Pak!" ucap Ridho formal.
"Dia belum diperiksa!" ucap pak Karan.
Aku gelengin kepala sambil memelas sama Ridho.
"Tuh, anaknya nggak mau! daripada ini rumah sakit heboh karena ada pasien yang berontak, mending Reva istirahat saja di rumah. Saya bisa menjaga dan merawatnya..." kata Ridho.
"Kamu bukan suaminya dan kamu juga bukan dokter!" pak Karan sinis.
Baru juga Ridho mau mangap, nggak jadi karena ada mama papanya mbak Sena yang datang dengan membawa sesuatu di tangannya.
"Selamat siang. Apa anda yang bernama tuan Karan Perkasa?" tanya papa mbak Sena.
"Iya, betul!"
"Terima kasih, Tuan! kami tidak tau lagi harus membalasnya dengan cara apa, kami sangat berhutang budi..." ucap papanya mbak Sena.
"Tidak perlu sungkan. Saya hanya menuruti rasa kemanusiaan!" ucap pak Karan yang harusnya lebih ramah.
"Maafkan saudara saya, Pak ... Bu..." ucapku ngerasa nggak enak.
"Tidak apa-apa, Nak!" ucap mamanya mbak Sena.
Aku melirik saudara sepupu, dia cuek aja ngerasa nggak salah.
"Oh ya, Pak ... Bu, maaf saya dan Reva tidak bisa menemani. Karena Reva juga masih butuh istirahat," ucap Ridho.
__ADS_1
Setelah mengucapkan itu, kangmas pun menarik aku buat jalan di sampingnya meninggalkan mereka yang masih di depan ruang rawat mbak Sena.
...----------------...