Mendadak Dikejar Setan

Mendadak Dikejar Setan
Siapa Yang Mindahin?


__ADS_3

Sampai di IGD, aku yang sesek nafas langsung ditangani oleh dokter. Nggak taulah diapain, aku kayak menghirup asep yang keluar dari sebuah alat yang terhubung dengan masker. Aku sama sekali nggak bisa berbaring. Posisiku sekarang setengah duduk. Tadi ku sempet diperiksa juga perutku dengan alat yang buat mendeteksi detak jantung janin. Dan katanya semuanya normal. Aku bersyukur untuk itu, karena anakku berarti nggak kekurangan pasokan oksigen.


"Gimana? udah mendingan?" tanya kangmas. Dia cemas banget. Aku cuma bisa ngangguk, lemes juga akunya.


"Syukurlah kalau udah mendingan. Aku cuma khawatir kamu kenapa-napa, dan bayi kita di dalem ini juga baik-baik aja, kan?" tanya Ridho, lagi-lagi aku cuma ngangguk.


Dia ngelus kepalaku, dan jari jemarinya mengisi jemariku. Dia menempelkan bibirnya di punggung tanganku, tangan yang dia genggam.


Aku yang melihat itu lantas berpikir, apa mungkin Ridho bermain api di belakangku, atau penciumanku aja yang emang terlalu sensitif semenjak aku hamil.


"Jangan banyak pikiran," ucap Ridho seakan tau, benang kusut yang ada di otakku. Dia usap-usap punggung tanganku.


Aku nggak mau jawab apa-apa. Aku lagi fokus aja sama keadaanku sekarang yang sedikit demi sedikit sesek nafasku berangsur berkurang. Rasanya dadaku yang tadinya kayak diiket, terus iketan itu jadi lepas dan nafasku bisa lega banget.


Tengah malem kita berdua ngapelin IGD. Aku tau Ridho masih ngantuk banget, tapi dia berusaha buat tetep melek dan nemenin aku yang masih diasepin.


Dan setelah keadaanku stabil, aku dibolehin buat pulang. Masih untung aku nggak disuruh rawat inap, karena pasti aku nggak mau. Dan untungnya juga di IGD nggak ada acara suntik menyuntik.


"Beneran sekarangbkamu udah nggak apa-apa?" tanya Ridho saat nyetir mobil.


"Iya," aku cuma jawab singkat.


"Ya udah kalau gitu..." Ridho fokus liat jalanan yang masih gelap.


Mataku menatap ke luar jendela, sebelumnya aku nggak pernah ngalamin kejadian kayak gini cuma karena bangun dari mimpi. Aku atur nafasku, aku mencoba buat nggak inget-inget mimpi itu lagi.


Dan kita sampai di rumah sekitar jam 3 pagi. Ridho nggak ngebiarin aku jalan ke lantai atas, dia dengan gentle-nya ngegendong aku yang udah pasti tambah berat. Tapi suamiku enteng aja ngegendongnya, sampai masuk ke dalam kamar. Dia tutup pintu juga pake kaki.


"Kamu tidur lagi, ya? mau diganjel punggungnya?" tanya Ridho, aku cuma ngangguk kecil.


Ridho atur tuh bantal supaya aku tidur dengan posisi setengah duduk.


"Udah enakan?" tanya mas suami.


"Udah," aku jawab singkat aja.

__ADS_1


"Ya udah aku ganti baju dulu ya," ucap Ridho yang nikin selimut sampai nutupin perutku yang sebelas dua belas sama balon.


Ridho masuk ke dalam toilet. Aku denger kran wastafel yang dibuka, dia cuci-cuci muka dulu kali. Ternyata dia nggak langsung ganti puyama, tapi sarung sama baju koko. Dia gelar tuh sajadah ngadep ke kiblat.


"Apa mungkin Ridho setega itu sama aku yang lagi hamil kayak gini?" aku perhatiin punggung Ridho. Dia mulai dengan gerakan sholatnya.


Dia yang secara mata aku liat ibadahnya rajin kayaknya nggak mungkin tega untuk berbuat yang nggak-nggak di luaran sana. Kecuali apa yang ditampilkan dia cuma buat kedok aja.


Ketika suamiku itu udah dirakaat terakhirnya dan ngucapin salam aku mencoba buat merem. Aku denger Ridho yang berhalan mendekat. Dia cium kepalaku dan pergi lagi.


Aku buka mata dikit, dan ternyata dia lagi fanti piyama.


Dulu waktu cuma jadi staff aja banyak yang ngincer apalagi sekarang dengan penampilan yang lebih mentereng dan badan yang oke.


Sebenernya bukan cuma Karla aja, tapi dari divisi lain juga banyak, apalagi Ridho orangnya humble. Mereka disenyumin aja pasti udah mikirnya kemana-mana. Aku tau karena kalau ke kantin terus Ridho nyamperin aku, ya udah itu mulut mereka pada was wes wos bisik-bisik tetangga. Elah kok kita malah jadi nostalgila ya?


"Loh kok kebangun?" tanya kangmas yang udah pakai piyama lengkap.


Astogeh, jadi daritadi mata aing melek tanpa bisa dikondisikan, terlalu khusyuk liat kangmas ganti baju.


"Kok kebangun?" tanyanya lagi.


"Masih kurang enak posisinya?" ucap kangmas yang benerin lagi bantal-bantal di belakang punggungku.


"Udah,"


"Hoammph," Ridho jalan ke sisi ranjang sebelahnya dan masuk ke dalam selimut.


"Aku nggak matiin lampu, takut kamu sesek nafas lagi," ucapnya dengan mata yang udah ngantuk parah.


"Iya," ucapku.


Baru juga ngomong gitu kangmas udah merem aja, beneran ***** nih orang. Sedangkan aku tidur tapi yang keinget malah mukanya si Etan yang rambutnya bisa sekalian buat nyapu lantai.


"Astaga, kenapa keinget mulu. Nggak, nggak. Lupain Reva, lupain..." aku bergumam sendiri.

__ADS_1


Aku mencoba merem walaupun pikiranku lagi travelling entah kemana, dan aku ngerasa kangmas makin lama makin mepet, ngusel malah.


Tapi paling nggak deketan sama suami kayak gini jadi ngerasa aman dan nggak mungkin ada setan diantara kita gitu ya.


Kayaknya aku baru merem bentar tapi kok aku ngerasa hawanya panas dan pengen banget minum dan pas aku buka mata, ternyata aku lagi ada di ruang tamu.


"Kok aku ada disini?" aku panik karena seingetku tadi tuh aku tidur di kamar sama kangmas.


"Nggak mungkin kan Ridho yang mindahin aku ke sini?" aku berusaha buat berdiri dan balik lagi naik ke lantai dua.


Tapi sewaktu aku nglewarin ruang tengah aku denger ada yabg bersenanndung di dalam toilet, "Cing caripit, tulang bajing kacapit---"


Wah aku denger nyanyian itu langsung auto ngibrit naik tangga sambil tangan satu pegangin perut, "Hhh ... bisa-bisanya dia mau nongol lagi padahal belum 1 x 24 jam,"


Aku buka pintu kamar dan...


Brukkkk!


Aku tutup pintu dengan tergesa-gesa.


"Sayang?" panggil Ridho dengan suara seraknya.


"I-ya..." aku balik lagi masuk ke dalam selimut.


"Kamu dari luar?" tanya Ridho yang mepet aing.


"Iya,"


Dan nggak ada pertanyaan lain. Dia lanjut merem lagi. Sementara aku boro-boro bisa tidur. Tenggorokan kayaknya kering banget, pengen minum gitu. Untung ada botol air putih yang sengaja disedian kangmas biar aku nggak bolak-balik ke dapur kalau mau minum.


Tapi baru juga aku buka tutup botol air mineral, aku mencium bau yang nggak enak. Aku melihat air di dalam botol yabg semula benibg berubah jadi merah.


"Akkh," sontak aja aku buang tuh botol.


"Ada apa, Sayang? kamu kenapa?" Ridho kebangun karena teriakanku.

__ADS_1


"Di botol minumanku ada darah," aku nunjuk ke arah botol yang tergeletak di lantai,"


"Darah?" Ridho naikin alisnya.


__ADS_2