
Akhirnya pencarian hari ini berakhir juga. Kita berhasil menemukan mbak Sena dan itu bikin aku tambah yakin kalau keajaiban itu masih ada.
Kami semua bersiap-siap buat keluar dari hutan ini. Karena kata pak Sarmin, kita nggak boleh terlalu lama disini takut hal-hal buruk bisa terjadi.
Dan untuk mengantisipasi itu, kita sepakat buat pulang.
Mbak Sena masih lemes, dia dibawa dengan tandu. Kalau aku sih jalan aja, semampunya. Paling kalau nggak kuat ada dua punggung yang siap ditemplokin.
Ya udah sebelum sore kita semua turun tuh dengan dipandu pak Sarmin. Pokoknya nggak ada yang boleh tengak-tengok ke belakang. Fokus aja jalan kedepan, itu yang berkali-kali pak Sarmin sampein ke kita-kita.
Namanya orangtua ya, dia ngucapin hal yang sama berkali-kali. Mungkin waspada kita bakal bandel dan ngelanggar apa yang dia perintahkan tadi.
"Capek, Va?" tanya Ridho yang persis di depan aing.
"Lumayan..."
"Mau istirahat?" tanya Ridho.
"Nggak usah, aku masih kuat..." jawabku yang sebisa mungkin nggak nengok ke belakang.
Punggung lebar dan kokoh pak bos ada di depan mata. Dia nampak fokus atau mungkin juga pikirannya lagi ngawang-ngawang. Tau akh, yang jelas dia diem-diem bae kayak orang yang lagi nahan kentut.
Aku iseng nanya, "Bapak nggak lagi ngelamun, kan?"
"Tidak! perhatikan saja jalanmu!" jawab pak Karan judes.
Galaknya kumat lagi setelah beberapa waktu terakhir kayak agak lembutan. Setelah dirasa cukup aman, pak Sarmin menyuruh kita semua untuk beristirahat untuk sekedar minum dan ngelurusin kaki.
Aku mau nyamperin mbak Sena tapi dicegah sama ayang.
"Biar Mbak Luri aja. Kamu juga kan belum sepenuhnya pulih..." kata Ridho.
Aku ngangguk dan cuma ngeliat mbak Luri ngecek keadaan mbak Sena. Ya itung-itung sekali-kali jangan membantah kali ya, biar ayang jangan esmosi mulu sama aing. Nah, kalau pak bos beda cerita. Dia nggak glosoran di tanah kayak kita-kita karena para pengawalnya langsung ngasih kursi lipet buat dia duduk. Duit emang nggak bisa membohongi ya, dimanapun bisa membeli kenyamanan secara lahir. Tapi batin belum tentu terjamin, karena kebahagiaan itu tidak melulu bersumber dari duit.
__ADS_1
Singkatnya, kami semua bisa keluar dari hutan dengan selamat sentosa, ayey! Intinya semua pasukan lengkap, nggak ada satu orang pun yang ketinggalan atau dicolong demit. Kita juga udah capek lah ya, urusannya begitu mulu. Udah khatam lah yang namanya healing yang berujung sinting di dunia perjurigan.
Satelah sampai di tempat awal masuk hutan, udah berjejer tuh mobil-mobil punya pak bos. Secara dia kan yang paling banyak bawa bala pasukan.
"Kamu mau ikut saya atau?" tanya pak Karan.
Baru Ridho mau nyamber, pak Sarmin langsung motong.
"Lebih baik kamu ikut Nak Karan saja yang lebih nyaman. Kondisimu belum pulih dengan sempurna. Iya kan Nak Ridho?" ucap pak Sarmin yang dibalas senyuman tidak ikhlas dari kangmas.
"Iya, Pak..." jawab Ridho.
"Tenang aja, aku nanti juga ikut kamu, kok!" ucap Ridho nggak kehilangan akal.
"Saya tidak mengajak kamu!" ucap Pak Karan.
"Memang, tapi saya yang mau!" jawab Ridho.
"Ayo, Va!" ucap Ridho sambil ngeloyor gandeng aku yang masuk ke mobil pak Karan.
Emang kangmas paling bisa ngakalin situasi. Dan kita bilang pengen mampir dulu ke rumah pak Sarmin. Bagaimana pun kita kan belum ngucapin terima kasih dan nggak sopan juga kalau main pergi. Untungnya adek sepupu setuju.
Sedangkan sebagian pengawal pak Karan disuruh pulang. Dia hanya menyisakan dua mobil yang mana salah satunya akan digunakan buat ngangkut mbak Sena.
"Kita sudah sampai, Tuan!" ucap supir pak Karan.
"Ya!" jawab pak bos.
Aku dan Ridho yang emang denger pun nggak usah disuruh, otomatis kita buka pintu dan turun dari mobil.
Pak Sarmin udah pakai gelaran tikar di teras rumahnya karena kalau pakai kursi nggak bakal cukup buat nampung segini banyak orang.
"Assalamualaikum..." ucap Ridho sambil buka alas kaki yang diikuti aku dan pak Karan.
__ADS_1
"Waalaikumsalam," jawab pak Sarmin dan yang lainnya.
Sementara mas Rahman, Danang, Juned, Mbak Luri udah duluan duduk disana. Sedangkan mbak Sena juga senderan di tembok dan diganjel bantal. Aku liat dia didampingi oleh bu Ratmi.
Aku duduk mendekat ke arah mbak Sena. Aku lihat dia udah bisa buka mata.
"Mbaaak, ini aku Reva..." ucapku.
Ya kali aja dia amnesia kan, lupa siapa namaku. Aku ngelus punggung tangannya.
"Mbak Sena udah ngerasa lebih baik?" tanyaku.
Dia cuma ngedip sebagai jawabannya. Pak Sarmin dan rombongan emang sampai duluan di rumah ini, sedangkan mobil pak Karan agak melambat karena si bos yang minta berhenti buat nyari minimarket yang ternyata letaknya agak jauh. Jadi pokoknya kita muter-muter dulu sebelum nyampe disini.
Mungkin mbak Sena udah sempet didoain sama pak Sarmin, jadi pas kita kesini mbak Sena kayak udah lebih baik kondisinya daripada sewaktu di hutan.
"Begini Nak Ridho, Nak Sena ini alhamdulillah sudah lebih baik. Hanya saja, memorinya ada yang sebagian yang hilang. Dia hanya ingat kalau dia sesang mendaki dengan temannya, laku dia terpisah, hanya sebatas itu. Jadi lebih baik, kalian jangan terlalu mencecarnya dengan pertanyaan-pertanyaan yang mengarah pada kejadian bagaimana dia bisa hilang atau apa saja yang dialaminya saat di dunia ghoib..." ucap pak Sarmin panjang lebar.
"Baik, pak haji..." ucap Ridho. Sedangkan pak Karan diem aja, no komen.
"Untuk memastikan kesehatannya secara fisik, kalian bisa membawanya ke rumah sakit. Kemungkinan nak Sena ini butuh perawatan untuk mengembalikan kondisi tubuhnya seperti semula," kata pak Sarmin lagi.
"Tenang saja, saya akan membiayai dia sampai sembuh. Kamu tidak perlu khawatir..." kata pak Karan padaku seakan menangkap sinyal-sinyal bingung soal duit di jidatku yang nong-nong ini.
Ridho ngucapin terima kasih buat pak Sarmin, mas Rahman, Danang, Juned dan juga mbak Luri yang udah mau ngebantu kita selama ini. Aku pun melakukan hal yang sama.
Aku kayak berhutang budi sama keluarga pak Sarmin, tapi lagi-lagi sosok yang dikenal dengan pak haji ini sangat rendah hati. Dia mengatakan kalau ini sudah kewajibannya sesama manusia untuk saling tolong menolong. Dan beliau tidak mau kalau aku dan Ridho merasa sudah berhutang kebaikan.
Sedangkan Bu Ratmi membawa mbak Sena ke dalam dibantu mbak Luri. Katanya mereka akan membantu mbak Sena untuk bersih-bersih dan mengganti baju mbak Sena yang udah kotor banget.
Kita masih duduk-duduk di teras sambil minum jahe panas yang disuguhkan oleh pak Sarmin. Aku ragu, tapi ada hal yang membuaku penasaran.
"Maaf, pak haji. Ada hal yang ingin saya tanyakan..." ucapku.
__ADS_1
...----------------...