Mendadak Dikejar Setan

Mendadak Dikejar Setan
Butuh Ruang


__ADS_3

"Dia yang waktu itu makan malam sama kamu," lanjut Ridho, mukanya udah nggak enak banget.


"Astaga, yang mana ya?" gumamku dalam hati, otakku buffering bentar.


Ahaaa, maksudnya si Dilan mungkin ya. Ya ya ya, jadi si kutu kupret ini ngeliat kalau Dilan dateng kesini tadi pagi. Dilan kesini buat jemput Ravel tapi dari ucapan Ridho dia nyangkanya Dilan kesini buat nemuin aku.


"Oh, dia..." ucapku.


Ridho angkat dagunya, dia ngeliat ke aku.


"Rasanya aneh kalau liat ada orang lain yang deketin kamu, maksudnya lebih dari kata deket..." ucap Ridho.


"Ya gimana, aku kan emang terlalu mempesona..."


"Iya iya, kamu emang mempesona. Tapi harusnya dimataku aja, jangan dimata oranglain, aku nggak yakin dia bakal bisa bahagiain kamu, Va. Buktinya waktu kalian dinner aja, dia nggak nganterin kamu kesini. Dari situ aja dia nggak gentle," kata Ridho.


Aku muter ingatan lagi. Oh, yang waktu aku makan bertiga terus aku balik sendirian ke apart. Ya jelas lah Dilan nggak kesini, orang dia pergi pacaran sama si Ravel. Tapi biarlah kesalahpahaman ini berlanjut, itung-itung shock therapy buat Ridho. Suruh siapa ngilang dan ninggalin aing gitu aja.


"Kalau aku jadi dia, nggak mungkin aku ninggalin calon istriku gitu aja setelah makan dinner bareng," lanjutnya.


"Kamu malah lebih parah dari dia. Kamu ninggalin aku waktu aku terbaring di rumah sakit. Apapun alasannya," aku nyautin ucapan Ridho.


"Ngerti nggak saat itu siapa orang yang terus berputar-putar di kepalaku?"


"Kamu," ucapku dingin.


"Aku mikir kalau aku ditinggalin karena kamu marah dan kecewa karena aku nggak becus jagain adek kamu, Ramona..." ucapku menaikkan satu sudut bibir, tersenyum miris.


"Aku kan udah jelasin situasinya itu---"


"Tapi apa kamu tau gimana rasanya jadi aku? ditinggalin kayak sampah yang nggak guna,"

__ADS_1


Ridho langsung bergerak ke arahku, dia nekuk dua kakinya di lantai. Dia pegang kedua tanganku, "Sshhh, nggak gitu, Va. Aku terpaksa..."


"Aku nggak bener-bener ninggalin kamu, aku ada di dekat kamu, tapi aku nggak bisa nampakin diri aku. Karena dia selalu ada disekitar kamu, Va. Aku nggak mau dengan aku bersikap gegabah, dia bawa kamu jauh ke tempat yang nggak bisa aku jangkau..." Ridho mengecup kedua punggung tanganku yang dia genggam.


Aku nggak bisa nahan air mata, apa yang aku lakukan sekarang bentuk rasa kesel aku sama Ridho dan rasa benci aku sama Karan Perkasa.


Aku malingin wajah, dengan air mata yang terus menetes ke pipi.


"Va..." Ridho mau ngusap pipiku. Tapi aegera aku tepis. Aku usap air mataku sendiri.


"Selama aku nggak punya power, selama aku jadi Ridho si laki-laki pengangguran. Aku nggak bisa berbuat apa-apa. Dia punya kuasa, dia punya segalanya. Saat itu aku cuma mikir, yang penting aku bisa liat kamu baik-baik aja itu udah lebih dari cukup buat aku, Va..." kata Ridho dia pegang rahangku lembut dan minta aku buat menatap kedua matanya.


"Dan setiap hari aku berusaha ngelamar dari satu perusahaan ke perusahaan lain. Lagi buntu-buntunya nyari lowongan kerja, aku ketemu sama pak Bagas. Mobilnya mogok di tengah jalan, aku yang lagi nongkrong di warteg m, nawarin bantuan buat benerin mobilnya. Awalnya dia mau bayar atas jasa yang aku lakukan. Tapi aku tolak. Dan pak Bagas ternyata bukan orang yang mudah menerima kebaikan oranglain dengan percuma. Dia ngasih aku kartu nama dan nyuruh aku datang ke kantornya..." Ridho terus aja nyerocos.


"Setelah sampai di sana, ternyata aku baru tau dia adalah salah satu pengusaha sukses yang punya perusahaan di berbagai pelosok negeri. Pak Bagas bersikeras menyuruh aku menerima sejumlah uang. Kamu tau kenapa? karena pada saat mobilnya bermasalah itu dia ada pertemuan penting. Dan sebagai bentuk rasa terima kasihnya, dia ngasih aku pilihan uang atau pekerjaan. Karena keadaanku yang semakin terdesak, akhirnya aku terima tawaran yang kedua, pekerjaan. Jadilah aku asisten pak Bagas,"


"Mungkin itu jalan Tuhan buat membalikkan keadaan. Buat balikin kamu ke aku lagi, Va..." ungkap Ridho.


"Nggak, itu nggak bakal terjadi. Karena aku tau, cuma ada aku di hati kamu, Va..." jawab Ridho dengan pedenya.


"Satu hal yang nggak kalian ketahui, para kaun laki-laki tukang ghosting. Kalau perempuan itu emang gampang terpuruk soal cinta, tapi kita juga dengan mudah bangkit lagi. Bahkan ninggalin kalian dalam kubangan penuh penyesalan, karena udah menyia-nyiakan kesempatan yang udah kita berikan..." ucapku.


Ridho meluk aku, "Aku nggak bakal biarin kamu ngelakuin itu..."


Aku bisa ngerasain getaran penyesalan dari cara ngomong sama aku, natap aku, dan setiap sentuhan yang dia berikan. Semua itu kayak jadi satu rangkuman perasaan yang sebenernya nyentuh sampai ke dasar relung hatiku saat ini.


Kita sekarang pindah ke ruang tamu. Dari tadi si Ridho nekuk kakinya, dia auto kesemutan. Jadilah kita pindah disini, duduk jejeran. Tapi nggak ada obrolan.


Breeeesssss!!!


Aku liat diluar ujan. Ya karena aku nggak nutup tirai, jadi keliatan butiran air turun dari langit secara kroyokan.

__ADS_1


Dan ngerti nggak, karena tadi aku nggak sempat makan, perutku keruyukan.


"Kamu laper? oh ya, kamu kan nggak makan apa-apa tadi ya?" Ridho buka suara.


"Aku makan buah aja," kataku.


"Aku pesenin ya ... kamu pasti capek juga habis masak ya kan? kalau cuma makan buah mana kenyang," ucap Ridho.


Dia mengetikkan sesuatu di hapenya.


"Udah lama kita nggak makan ayam penyet berdua, aku mendadak pengen makan itu sama kamu..." lanjut Ridho.


Aku kira dia bakal pesenin apaan, ternyata ayam penyet legend yang sering kita beli dulu. Emang aku juga kangen sih makan di pinggir jalan kayak dulu. Sekarang boro-boro mampir buat makan, kesibukanku kadang bikin aku sering mengabaikan jam makan siang dan makan malam. Walaupun yang sibuk tetep Arlin ya, tapi kan tetep aja. Aku sibuk mencerna apa yang harus lakukan sebagi pemimpin perusahaan. Jadi, jangan diremehkan.


Kita terdiam lagi, nggak tau kenapa. Dia nggak slengean kayak biasanya, dia juga nggak curi-curi kesempatan. Kita berdua kayak lagi ngasih ruang buat berdamai dengan diri kita masing-masing.


Ting!


Tong!


Bunyi suara bel.


Ridho bangkit, "Biar aku yang buka. Mungkin itu pesanan ayam kita yang datang. Kamu tunggu aja di meja makan," kata Ridho.


Pria itu berjalan dengan gagahnya kayak tentara mau perang, padahal cuma mau ngambil pesanan ayam.


Ting!


Tong!


"Ya, sebentar..." ucap Ridho dengan suara machonya.

__ADS_1


__ADS_2