Mendadak Dikejar Setan

Mendadak Dikejar Setan
Belum Terbiasa


__ADS_3

"Tante..." panggil Ridho ke mama yang berjalan mendekat.


"Jangan panggil tante, kamu sudah resmi jadi suaminya Reva. Jadi manggilnya mamah aja," kata mama.


Sebenernya aku masih bingung dengan semua kejadian yang serba dadakan ini. Kenapa mama bisa ngasih restunya, dan bukannya mama masih marah sama Ridho.


"Sekarang Reva sudah menjadi tanggung jawabmu, jaga dia bahagiakan dia. Mama sebagai orangtua hanya bisa mendoakan yang terbaik buat kalian," kata Mama yang menyatukan tanganku dan Ridho. Air mataku tiba-tiba aja terjun bebas, tanpa ada yang bisa menghalangi.


Aku dan Ridho peluk mama sambil sesenggukan, "Sudah-sudah, jangan nangis! nanti mama ikut nangis, make up mama bisa luntur, nih! mama kan masih harus nemuin temen-temen mama yang dateng kesini,"


Sekarang acara ramah tamah, aku yang jadi penganten dadakan pun jadi kikuk sendiri saat ada banyak orang yang ngasih ucapan selamat.


Ridho mah stay cool banget, sementara aku yang malah salting sendiri, "Aduuuh, sekali ngucap langsung sah! mantep banget, Jang! Ya Allah meni bageur pisan," kata ibu tetangga sebelah yang salaman sama Ridho, terus pegang-pegang gemes lengan kangmas yang keras kayak papan kayu.


"Aduuh, Ibuuu Jangan malu-maluin," ucap anaknya si ibu tadi.


"Sekali lagi selamat ya, Revaaa. Suaminya kasep pisan!" si ibu ngucap lagi dengan logat sundanya.


Hadeuuh, kangmas mulai meresahkan kaum ibu-ibu deh. Dari tadi adaaa aja yang ngucapin salam pakai modus pegang-pegang.


"Aaarrrghh, akhirnya selesai juga..." aku masuk ke kamar dengan heels yang sengaja aku cangking.


Aku denger suara pintu di tutup, aku sontak nengok dong.


"Loh, kenapa kamu masuk?" ucapku ngeliat Ridho yang ikutan masuk dan nutup pintu.


"Lah terus aku istirahat dimana kalau bukan disini?" Ridho mulai buka jasnya.


"Lagian kita kan udah sah jadi suami istri, Va!" Ridho mendekat, dia lempar tuh jas ke atas sofa.


"Jangan macem-macem, Dho! di-diluar masih banyak orang!" ucapku samb ambil labgkah mundur.


"Emang kenapa kalau banyak orang?" tanya Ridho yang kini melepas kancing kemeja di pergelangan tangannya satu-satu. terus dia gulung.


"Yaa ... ya, ya nggak boleh!" aku mundur mentok ranjang.


Sementara Ridho terus maju, maju, maju dan...


Bugh!


Dia ngelempar badannya ke ranjang empuk milikku, sedangkan aku otomatis minggir. Masih untung nggak ketubrukan, bisa penyet aku.


"Astagaa, aku capek banget, Vaaa!" Ridho tiduran telungkup tanpa rasa risih.


Pengen aku getok pake heels nih lama-lama, "Iishhh, bikin kaget aja!" aku bergumam.


"Dho, keluar dulu! aku mau gantiii..." aku tusuk-tusuk punggungnya pakai telunjuk.

__ADS_1


"Dhooooo, aku mau ganti kamu keluar duluuuu! Ridhoooooo...!" aku ulangi lagi. Tapi si Ridho kayaknya udah molor.


"Ya ampun, cepet banget tidurnya! dasar beruang!" aku lempar heelsku sembarangan. Dan jalan ke arah sofa.


"Duh, kaki ku sakit banget lagi!" aku selonjoran di sofa panjang.


Aku taunya acaranya nggak lama, jadi aku sengaja pakai heels yang 7 senti. Biar bagus gitu, ehmalah jadi kesiksa sendiri.


"Hemm, nanti aku ganti ke kamarnya Ravel aja lah,"


Aku lepasin giwang, gelang, cincin dan yang lainnya. Tadi aku sama Ridho nggak pakai acara tuker cincin kawin, jadi cincin yang aku pakai ya punyaku sendiri. Yang Ridho kasih seperangkat perhiasan itu buat mas kawinnya.


Lumayan udah nggak pegel, aku ambil baju dan keluar ke kamarnya Ravel.


"Mbak, numpang ganti ya, Vel!"


"Heeemmm," sahut Ravel males. Dia lagi bersihin make up. Kasian yang gatot nikah emang, mukanya nggak bisa bohong kalau dia lagi kesel banget dan nggak mood buat diajak ngomong.


"Kenapa nggak di kamarnya sendiri aja, sih?" tanya Ravel ketus.


"Ada Ridho,"


"Lah terus?" Ravel nengok ke aku, bingung.


"Terus? ya terus aku kesini lah!" kataku yang mulai ngelepas kebaya dan ganti pakai baju yang longgar.


"Ya emang udah nikah. Tapi kan belum terbiasa," aku nyautin.


"Sini, Bagi..." aku ambil kapas dan mulai basahin dengan cairan pembersih muka.


Ravel manyun, "Kagak modal!" lirihnya.


"Apa kamu bilang, Velll?" aku naik tensi.


"Nggak ada. Cepetan bersihin mukanya, terus cepetan kelyar, soalnya aku mau istirahat..." jata Ravel yang bangkit dari duduknya dan pindah rebahan ke tempat tidur.


"Gimana Dilan?" tanyaku.


"Gimana apanya?"


"Ya kondisinya, udah mendingan belum? kalau belum kan mbak panggil dokter buat kesini," kataku sambil terus bersihin muka.


"Udah," jawab Ravel.


"Udah apa?"


"Udah mendingan, dan udah dipriksa dokter juga," sahut Ravel.

__ADS_1


"Kamu jangan ngambek terus, kasian kan Dilan. Lagian masalah ijab, besok kan bisa diulang..."


"Tapi kan aku malu, Mbaaak!" sahut Ravel.


"Ya elah, malu sama siapa sih?" aku nggak habis pikir.


"Ya udah sih, mau gimana lagi? lagian urus banget sama pandangan orang? ke depannya banyak masalah yang bakal kamu hadapi, Vel. Kalau kamu selalu mikirin omongan orang, kamu bakal stres sendiri," aku sok bijak.


"Dari sini, Dilan bisa menilai kamu loh, Vel. Kelamaan ngambek, bisa putar haluan tuh si Dilan!" aku nambahin.


"Ya jangan! jangan putar haluan," Ravel bangun dari rebahannya. Sekarang dia duduk meluk guling.


"Makanya, jangan kelamaan ngambeknya! emangnya Dilan juga mau gagal ijab? kan nggak..." aku ngomong gini biar Ravel sadar.


Jadi, Ravel yang nggak mau pake kebaya yang sama buat besok pagi. Katanya takut gagal lagi ijabnya. Untung aku bawa tuh kebaya yang dikasih sama Madam Anna. Bisa aku kasih tuh kebaya buat si Ravel, kalau Dilan mah pakai sarung ama peci aja nggak masalah, yang penting ijabnya lancar jaya.


Intinya aku-aku juga yang riweuh gitu, ya walaupun aku tinggal nyuruh W.O buat ngurusin ini semua.


Kelar ngebersihin muka, aku keluar dari kamar Ravel dengan bawa kebaya yang tadi aku pakai buat acara.


"Loh, kok kamu dari kamarmya Ravel?" aku dipergoki mama.


"Lagi kasih pencerahan buat Ravel, Mah..." aku alesan.


"Emang kenapa lagi?"


"Masih ngambek," kataku yang mendekat ke arah mama.


"Aiishh, anak itu!"


"Dilan masih istirahat di kamar bawah?" aku nanya.


"Udah balik ke hotel, padahal mama bilang nginep disini aja nggak apa-apa..." ucap mama.


"Oh ya, Ridho mana? kalian udah makan?" lanjut mama nanya.


"Belum makan sih, dia lagi istirahat di kamar..." ucapku malu.


"Oh, ya udah. Apa mau dianter makanannya ke kamar?" mama nawarin.


"Nanti mama suruh mbak Rosma," lanjut mama.


"Boleh deh, Mah..."


"Mama ke bawah dulu kalau gitu..." Mama nepuk pundakku pelan sebelum turun tangga buat nyari mbak Rosma.


"Huufhhhh," aku menghela nafas, sebelum masuk lagi ke kamarku.

__ADS_1


__ADS_2