Mendadak Dikejar Setan

Mendadak Dikejar Setan
Sadar


__ADS_3

"Revaaaa ... bangun, Vaaa!" ucap seorang pria yang suaranya sangat familiar di telinga.


Kepalaku pusing, suara lirih tadi semakin lama semakin jelas. Aku pengen buka mata tapi kok susah banget. Rasanya pengen kayak gini aja terus, merem.


"Reva ... bangun, Vaaaa..." ucap pria itu lagi.


Dan...


Tes...


Ada tetesan air yang membasahi pipiku. Apa disini lagi ujan terus gentengnya bocor?


Tes...


Tes...


Perlahan aku buka mata.


Dan aku ngeliat sepasang bola mata yang indah. Jarak kami begitu dekat, matanya seolah antara terkejut dan senang. Dia tersenyum, meluk aku dengan sesekali aku denger dia nangis.


"Ridhoo? nangis? kenapa?" batinku bertanya-tanya. Tapi mulutku kayak nggak kuasa buat sekedar ngucapin sepatah dua patah kata, aku cuma bisa menikmati momen ini. Pelukan hangat kangmas bikin aku nyaman.


"Vaaaa! kamu kok hobi banget sih bikin aku khawatir, hem? suka banget bertindak ceroboh! srudag-srudug, gedebag-gedebug! kenapa pergi sendirian, kenapa nggak ngasih tau aku dulu sih, Va!" kangmas nyerocos aja kayak kereta api.


Aku aja masih oleng, dia udah ngomong panjang lebar


"Reva, sudah sadar? Minggir!" suara pak bos.


Dan sepertinya ada yang memaksa supaya Ridho ngelepasin pelukannya. Tapi mas pacar keukeuh dong, dia nggak mau lepas. Aku juga bisa ngerasain dia khawatir banget sama aku.


"Lepaskan Reva, dia tidak bisa menyerap oksigen dengan baik jika kamu peluk seperti itu!!!"


Perlahan Ridho membuat jarak diantara kami.


"Lebih baik kalian berdua mencari tempat lain untuk berdebat..." ucap pak Sarmin.


Dan kedua pria ini pun menjauh dariku, mataku menangkap beberapa orang sedang duduk bersila mengelilingi aku yang terbaring.


"Syukurlah kamu sudah sadar, Nak..."


Dan sekarang mataku baru bisa memandang sekitar, aku ada di dalam tenda. Tapi, sesaat kemudian aku terlonjak dan berusaha bangkit untuk mencari seseorang.


"M-mbak Senaaa?" ucapku lirih. Aku melihat nggak ada mbak Sena dimanapun.

__ADS_1


"Tenang dulu, Nak..." ucap pak Sarmin. Lalubak Luri mendekat buat membaringkan aku lagi. Dia menyelimutiku kembali.


"Awas, Mbaaak! saya mau nyari mbak Sena..." aku mulai panik, tapi badan masih loyo nggak ada tenaga.


"Mbak Reva ... tenang, Mbak!" kata mbak Luri dengan suara khasnya.


"Nggak mungkin dia ketinggalan dan jadi penghuni tetap disana, kan? Kita masih bersama-sama dan jika aku bisa kembali, kenapa mbak Sena nggak?" kataku, keras kepala.


"Mbak Reva, mbak Reva baru aja sadar. Mbak Reva harus istirahat dulu!" kata mbak Luri lembut, dia berusaha mencegahku buat bangun.


Aku liat Ridho mau mendekat tapi dicegah pak Sarmin. Karena mungkin akan menimbulkan kegaduhan dengan pak bos seperti tadi.


"Nak Reva, kami menemukan kamu tergeletak di dalam hutan. Sendirian, tidak ada orang lain lagi..." ucap pak Sarmin.


Aku menggeleng, "Nggak, Pak! nggak mungkin, saya ... saya bersama orang yang saya cari, kami sudah bertemu!"


"Nak Reva, lebih baik kamu istirahat saja dulu .Nanti kita bicara lagi setelah kondisimu lebih tenang..." kata pak Sarmin.


"Kita semua keluar, supaya Reva bisa istirahat!" ucap pak Sarmin pada yang lain


Dan ketika semua orang berbalik mau meninggalkanku sendirian di dalam tenda ini, aku panggil nama ayang, "Ridhooo..."


Kangmas pun berbalik dan berjalan mendekat. Pak Karan yang melihat itu nggak tinggal diam, dia berusaha buat mendekat juga tapi pak Sain menahannya dan menggelengkan kepala. Dan membawa pak Karan buat keluar dari tenda yang lumayan luas dan nyaman.


"Jangan pergi,"


Dia ngangguk, "Iya aku nggak pergi. Aku bakal disini kok, tenang aja. Kamu istirahat, aku bakal jagain..." ucap Ridho.


Dan setelah orang lain semua keluar. Baru aku berani bicara lebih detail sebenarnya apa yang sudah terjadi.


"Dho ... aku itu udah ketemu mbak Sena, Dho..." aku tatap matanya.


"Iya iya, Vaaa ... iyaaa"


"Kamu nggak percaya sama aku? iya?"


"Percaya, Va. Aku percaya banget tapi buat sekarang jangan bahas itu dulu ya? kamu kan baru bangun setelah dua hari ini nggak sadarkan diri. Kamu butuh istirahat buat pulihin keadaan tubuh kamu, Va..." kata Ridho.


"Dua hari?" ucapku lirih.


Aku heran, perasaan aku ilang cuma beberapa jam. Kok Ridho bilangnya 2 hari. Ngeliat aku yang mikir keras, Ridho pun ngomong lagi.


"Kita masih tetep nyari mbak Sena

__ADS_1


Tapi mungkin lebih baik kamu pulang dulu ke rumah pak Sarmin. Kondisi kamu nggak memungkinkan buat ikut dalam pencarian..." kata Ridho.


"Tapi, Dho..."


"Nggak ada penolakan, Reva. Kamu udah bikin kita semua khawatir. Aku aja nggak tidur selama kamu belum sadar Va. Aku bakal nyari dia sampe dapet, aku janji..." kata Ridho.


Aku ngeliat dengan jelas ketulusan Ridho, dari sorot matanya, dari sentuhan tangannya.


Aku memandang kangmas, "Aku ngerepotin ya, Dho?"


"Banget!" jawab Ridho.


"Kok gitu, sih?" aku protes.


"Nggak Va ... nggak salah," lanjut Ridho yang masih aja nyebelin dengan jawaban yang dilontarkannya.


"Ih nyebelin!" aku mau nabok Ridho tapi nggak jadi karena tanganku ditahan sama dia.


"Ternyata lebih mending dengerin ocehan kamu daripada liat kamu diem aja, tidur nggak gerak sama sekali, Va!" kata Ridho.


"Hati aku tercabik-cabik ngeliatnya..." lanjutnya.


"Bukannya kamu seneng? kan kamu bisa tuh jadian ama cewek laen? iya kan? udah ngaku aja!' aku nuduh.


"Iya juga ya, Va? harusnya kan aku seneng ya? ck, kok nggak kepikiran sampe situ ya?" Ridho kayak kegirangan banget.


PLAAAK!


"Ck, kamu ih!" aku nabok lengannya.


"Hahahahaha, tabokannya kurang keras. Efek baru sadar kayaknya ya?" kata Ridho.


" Becanda kali, Sayang! udah jangan marah-marah. Baru melek juga..." lanjutnya.


Aku pun nggak jadi melayangkan tabokan yang kedua dan ketiga. Aku fokus liat kedua mata kangmas. sekarang dia senyum tapi, senyumnya nahan sedih gitu.


"Waktu kamu dinyatakan hilang. Aku tuh kayak orang abis kecolongan tau nggak? aku kesini, nemenin kamu itu kan biar kamu nggak ngalamin hal-hal yang mistis sendirian..." ucap Ridho kali ini serius.


"Tapi itu aku ... aku itu ilang karena ngikutin kamu, maksudnya sosok yang mirip kamu..." kataku, yang mungkin berasa kayak habis nyeritain mimpi. Soalnya kan aku ingetnya cuma semalem aja aku ilang, lah ternyata aku itu selama dua hari tidur doang. Kan nggak matching sama apa yang ada diingatan aku.


"Kata pak Sarmin, ada seseorang yang sengaja menarik kamu ke sana. Dia sengaja memanfaatkan satu makhluk untuk nyamar sebagai aku. Dan beberapa makhluk didatangkan supaya mengecoh aku, dan dengan itu dia berhasil menarikmu ke dunia ghoib..." ucap Ridho.


"Siapa yang sengaja melakukan ini, Dho?" aku tatap mata mas pacar.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2