Mendadak Dikejar Setan

Mendadak Dikejar Setan
Kehilangan


__ADS_3

Pagi ini keadaanku sudah lebih baik dari sebelumnya. Tanganku yang kaku, sudah bisa aku gerakkin dikit-dikit. Kata pak Karan efek aku tidur terlalu lama, makanya sendi dan otot-ototku berasa kaku.


"Sudah waktunya makan," kata pak Karan.


Entah dari semalam, adek sepupu kayak menjelma jadi baby sitter buat aku. Tengah malam aku pengen minum aja dia bangun buat ngambilin. Aku ngerasa diurusin banget tapi aku takut berhutang budi terlalu banyak.


Atau mungkin dia lagi nebus kesalahannya karena dulu pernah menjebakku tentang cincin bertuah milik ibunya?


Aku membuka mulutku saat sendok yang berisi bubur udah siap menunggu untuk dilahap.


"Udah..."


"Baru juga satu sendok, bagaimana kamu bisa cepat sembuh kalau makan saja hanya sedikit? jangan bilang kamu sedang diet?" pak Karan nyerocos.


"Sudah kenyang," kataku bohong.


Padahal hatiku lagi nggak karuan, karena sampai saat ini aku nggak atau belum ketemu sama Ridho.


"Pak ... bagaimana dengan Vena?" tanyaku.


"Wanita yang memukulmu?" pak.Karan balik nanya.


"Iya,"


"Saya akan jawab setelah kamu menghabiskan 5 sendok bubur..." pak Karan ajak nego.


Sebenernya aku males buat makan, tapi demi rasa penasaran pun aku mau ngelakuin itu. Aku paksa makanan lembek itu masuk ke dalam perutku.


"Jadi sebenernya apa yang terjadi? maksudnya, aku cuma inget aku dipukul dan setelah itu aku ... ehm maksudnya saya nggak inget apa-apa lagi..."


Pak Karan diam beberapa saat, penpilannya hari ini lebih segar dari pertama kali aku lihat. Kayaknya dia habis cukuran.


"Bapak janji kan tadi mau jawab pertanyaanku..." aku mendesak.


"Kamu itu tidak sabaran ya? ini juga saya mau jawab. Jadi, sayabdan Ridho datang dengan membawa polisi, Vena sudah ditangkap beserta dengan dukun dan juga para orang- orang yang terlibat dalam penyekapan itu. Motifnya hanya sepele, masalah percintaan anak muda yang sarat akan kesalahpahaman. Tapi karena tindakannya sudah diluar batas, jadi bagaimanapun dia harus mempertanggung jawabkan perbuatannya sesuai hukum yang berlaku,"


"Jadi Ridho dateng? dia dateng, Pak?" aku membelalak.


"Iya dia datang," jawab pak Karan singkat.

__ADS_1


"Lalu, apa lagi yang--?" ucapku sambil menatap kedua mata adek sepupu.


"Sudah, kita bahas ini lain kali lagi. Kamu harus istirahat, keadaanmu belum pulih benar," kata pak Karan yang menaruh mangkok bubur di atas meja. Dia menaikkan selimut yang menutupi setengah badanku.


"Kenapa dia nggak datang kesini?" tanyaku penasaran.


"Dia akan datang jika dia ingin datang," ucap pak Karan dengan nada yang kurang bersahabat.


"Saya pergi dulu sebentar, ada meeting di kantor. kalau butuh apa-apa, kamu pencet saja belnya. Perawat akan segera datang, saya akan kembali secepatnya! jangan melakukan hal-hal yang aneh!" kata pak Karan yang kemudian pergi meninggalkan aku di ruangan ini sendirian.


Nggak ada yang bisa dilakukan selain rebahan dan sesekali nonton tivi.


"Hapeku dimana, ya? aih ... kenapa aku nggak nanya sih tadi, kali aja pak Karan yang nyimpenin!" aku mau noyor kepala, tapi aku tahan karena kepalaku masih diperban. Ntar otaknya geser kan berabe.


Satu jam dua jam dua jam, aku mulai bete. Aku mulai gerakin dikit-dikit badanku. Tapi rasa sakit langsung menyerbu saat aku berusaha buat bangun dan turun dari tempat tidur.


Kreeek!


Seseorang membuka pintu.


"Anda mau apa, Nona?" tanya seorang perawat yang dengan cepat menghampiriku.


"Ah, aku ... aku cuma mau,"


.


.


.


Hari mulai berganti, selama itu juga Ridho belum pernah sekali pun ngejenguk aku disini. Saat aku minta hapeku dan mencoba buat ngehubungin Ridho, ternyata nomornya nggak aktif, begitu juga dengan Mona.


Aku nggak ngerti kenapa dia bersikap kayak gitu. Kalau dia marah sama aku, harusnya dia ngomong. Bukan malah ngehindari aku kayak gini.


"Ayo kita pulang," ucap pak Karan.


Ya, hari ini aku udah boleh pulang dari rumah sakit. Mungkin nanti dokter yang akan datang ke rumah untuk ngecek dan memonitoring keadaanku. Katanya sih, aku sempat nggak sadar selama seminggu, dan hampir aja wassalam waktu pertama kali dateng ke rumah sakit ini.


Aku nggak tau dia mau bawa aku kemana, yang jelas aku nggak punya tujuan lain jadi aku ngikut aja udah.

__ADS_1


Selama di mobil, aku cuma diem. Karena aku ngerasa kalau aku kayak dibuang gitu aja sama Ridho. Aku nggak berharga buat dia.


"Ada yang lagi kamu pikirkan?" tanya pak Karan yang kebetulan nyetir sendiri mobilnya.


"Nggak ada," aku menggeleng pelan.


"Baguslah! fokus saja dengan kesehatanmu. Untuk sementara ini kamu tinggal di rumahku, " ucap pak Karan.


"Hemm..." aku cuma berdehem.


Dan mobil melaju dengan sangat hati-hati. Aku cuma menatap jalanan dengan tatapan yang kosong. Pikiranku tetap tertuju sama Ridho, rasanya kangen banget.


"Ah, ngapain aku mikirin orang yang sama sekali nggak peduliin aku!" aku dalam hati.


Nggak kerasa, aku udah nyampe di rumah pak Karan. Aku nggak nanya barang-barangku dimana atau gimana, karena aku sendiri lagi nggak mood buat bahas itu.


Kita berdua masuk ke dalam, pak Karan nuntun aku yang lagi menjelma jadi manusia tua renta yang butuh pertolongan.


"Iini kamar kamu," ucap pak Karan.


Vibes nya ya kayak gitu lah. Ruangan gede, barang-barang mewah dan kasur yang empuk. Aku duduk di atas ranjang.


"Barang-barang kamu udah ada di kamar inj, termasuk semua dokumen atau apapun itu. Saya taruh di dalam ruang ganti sana. Masih rapi di dalam tas..." pak Karan nunjuk satu ruangan khusus.


Aku cuma ngangguk aja. Dia nekuk kakinya di lantai, supaya tinggi kami sejajar.


"Apa ada yang tidak kamu suka?" tanya pak Karan.


Aku menggeleng.


"Apa kamu hanya bisa mengangguk dan menggeleng? atau ada masalah dengan rongga mulutmu?" tanya pak Karan gregetan.


"Saya capek," ucapku dingin.


"Ya sudah, kamu istirahat, saya akan keluar...." ucap adek sepupu.


Dia kemudian pergi ninggalin aku di ruangan ini, di kamar yang luasnya bisa buat salto dan koprol sesuka hati.


"Aku jahat ya? udah ditolong tapi malah kayak gini sikapku," aku ngomong lirih.

__ADS_1


Aku marah sama Ridho, tapi orang lain yang kena imbasnya, bener-bener nggak tau diri banget jadi orang. Perlahan, aku rebahin badan, "Apa dia nggak mau deket sama aku karena dia udah nyadar, kalau aku itu bawa sial di kehidupannya?"


"Ada aja hal buruk yang terjadi. Apa ini artinya aku sama Ridho udah nggak mungkin berjodoh?" aku menghela nafas, ngebuang semua keruwetan yang ada di kepalaku.


__ADS_2