Mendadak Dikejar Setan

Mendadak Dikejar Setan
Untungnya Punya Suami


__ADS_3

Emang apapun makanannya, kalau bareng orang yang kita sayang rasanya berkali-kali lipat enaknya. Kayak sekarang, makan sop iga aja rasanya enak banget. Apalagi sesekali dapet lirikan maut dari suami, beuuh hati adek jadi deg-deg ser.


"Disini nggak ada---" ucapku menggantung.


"Nggak ada apa?" tanya Ridho.


"Nggak ada setan, kan?" ucapku.


"Ada nggak ya? lupa aku juga," kata Ridho.


"Lah ini kan rumah kamu, Mas..."


"Iya tapi kan aku jarang pulang, seringnya di kantor. Nyampe sini tidur aja, tapi kayaknya sih nggak ada gangguan yang aneh-aneh," jelas Ridho.


"Oh, ya syukur deh kalau gitu. Soalnya aku males kalau ada yang gangguin lagi, capek..." kataku.


"Bismillah aja udah,"


Malam ini kita istirahat sebagaimana mestinya. Pokoknya beneran istirahat yang sesungguhnya. Di tempat yang baru dan suasana yang baru bikin aku beberapa kali terbangun. Tapi alhamdulillahnya nggak ada yang iseng nongol, sampai ke bawah mau ambil minum juga berayukur banget nggak ada apa-apa.


Paginya kita bangun pagi. Sat set sat set siap-siap buat ke kantor. Sarapan juga ala bule, roti dan susu. Kenapa, ya karena itu yang paling bisa aku siapin untuk saat ini.


Tadinya Ridho mau masak nasi goreng, tapi aku larang. Lagian waktunya mepet, soalnya Ridho harus nganter aku dulu ke perusahaan baru dia ke kantornya sendiri. Bener-bener habis nikah boro-boro bulan madu. Kita langsung kejar setoran buat kerja.


"Nanti kalau mau pulang telfon ya?" ucap Ridho waktu aku turun dari mobil.


"Oke, hati-hati Sayang!" kataku seraya melambaikan tangan.


Ridho ngelempar senyum termanisnya sebelum dia nutup kaca mobil dan pergi.


"Pagi, Bu..." ucap security yang jaga di depan.


"Pagi," ucapku seraya berjalan ke dalam.


Beberapa karyawan juga melakukan hal yang sama. Aku yang udah ninggalin kerjaan selama berhari-hari pun langsung ke tempat tujuan, ruanganku.


"Selamat pagi, Nona!" sapa Arlin.


"Pagi, Lin. Ada scedule apa hari ini?" aku nanya sambil masuk ke dalam ruanganku diikuti Arlin.


"Tidak ada, Nona. Hanya banyak berkas yang harus ditanda tangani hari ini juga," ucap Arlin.


"Oke, bawa saja kemari," ucapku setelah duduk di kursi.


Emang si Arlin nggak pernah main-main. Ketika dia bilang 'banyak berkas' berarti emang berkasnya banyak beneran. Sampe pegel tanganku buat tanda tangan.


"Hadeeuuh, nggak abis-abis," gumamku.


Tok!

__ADS_1


Tok!


Tok!


"Ya masuk?!" aku setengah berteriak.


Pintu dibuka dan ternyata Arlin yang nongol.


"Ada apa, Lin? ada tambahan lain?" tanyaku tanpa melepaskan pandanganku dari kertas yang lagi aku cek satu-satu.


"Ada kiriman bunga dari Tuan Karan Perkasa, Nona..." ucap Arlin.


Aku mendongak.


"Pak Karan?"


"Iya, ini bunganya," Arlin menunjukan satu buket bunga mawar merah.


"Terima kasih, kamu boleh keluar" ucapku seraya menerima buket dari tangan Arlin.


"Kalau begitu saya permisi, Nona..." ucap Arlin.


Setelah pintu ditutup kembali, aku mengambil satu kartu ucapan yang terselip diantara bunga berwarna merah itu.


Have a good day! Selamat atas pernikahanmu.


Tapi ya udahlah, lumayan dapet kiriman bunga pagi-pagi. Aku taruh aja tuh bunga mawar diatas meja, dan kembali fokus sama kerjaan. Kerasa pegel banget nih tangan, untung aja semalem kualitas tidurku cukup baik.


.


.


.


Ceklek!


Ada yang buka pintu tapi nggam ngetok dulu. Baru mau nyemprot, ternyata suami sendiri yang dateng.


"Aku kira makhluk siapa yang buka pintu tapi nggak ketok dulu," aku nyeletuk sambil bangkit dari kurai dan ninggalin segambreng berkas yang menunggu dieksekusi.


"Sengaja aku nggak ngetok, biar yang punya ruangan keluar tanduknya," ucap Ridho yang ribet banget tangannya pegang jinjingan.


"Udah makan?" tanya Ridho.


Aku menggeleng, "Belum, lumayan banyak kerjaan jadi belum sempet keluar. Kok dateng kesini sih, Mas?" tanyaku yang harus membiasakan diri dengan sebutan itu. Aku ngajak Ridho duduk di sofa.


"Tadi ada kerjaan di luar, terus kebetulan selesai sebelum jam makan siang. Jadi aku pikir, kayaknya sekalian aja aku kesini sambil bawa makanan. Dan kita makan siang bareng," kata Ridho yabg mulai mengeluarkan satu persatu makanan dan minuman dari reusable bag yang dibawanya.


"Kwetiaw," ucapku ketika aku buka salah satu box.

__ADS_1


Bau harumnya menyeruak, bikin kruk-kruk perutku.


"Alhamdulillah bukan seafood!" gumamku.


"Ya nggak lah, Sayang. Kalau seafood yang ada aku harus ngegarukin badan kamu seharian ini, dong. Karena alergi," kata Ridho.


"Minum?" Ridho nyodorin minuman dingin yang nyess banget ditenggorokan, milkshake rasa vanilla. Aku pun nyedot sebanyak-banyaknya. Rasanya enak banget, seger.


Kita makan di ruanganku, sesekali kanfmas nyuapin aku. Ternyata Ridho perhatian banget. Walaupun daritadi beberapa kali dia liat jam tangannya, yang nunjukin kalau pasti ada kerjaan lain setelah ini. Tapi dia tetep nemenin aku sampai aku selesai makan.


"Habis ini mau kemana?" aku sengaja mancing.


"Ada ketemu orang lagi, tapi nggak jauh dari sini, kok..." kata Ridho.


"Aku udah selesai makan. Barangkali mas mau pergi nggak apa-apa," kataku.


"Ya udah, nanti sore kabarin kalau mau pulang ya? nanti aku jemput," kata Ridho seraya bangkit. Namun kayaknya dia melihat ke salah satu arah, meja kerjaku.


"Bunga dari siapa?" tanya Ridho nunjukin bunga yang tergeletak di meja dengan dagunya.


"Dari pak Karan. Ngucapin selamat buat pernikahan kita,"


"Oh," Ridho cuma 'oh' aja.


"Kalau nggak percaya aku ambilin kartu ucapannya,"


"Nggak usah. Aku percaya kok, ya udah aku pergi ya?" kata Ridho. Dia mengecup sekilas pucuk kepalaku.


"Hati-hati, ya?"


"Pasti," sahut Ridho sebelum sepenuhnya hilang dari balik pintu.


Setelah kenyang aku balik kerja lagi. Aturan aku yang dateng ke kantornya kabgmas dan bawain makanan. Tapi kenapa ini jadi kebalik lagi. Dia yang kesini bawain makan siang.


Kelakuannya so sweet, tapi yang nggak bikin suka sebel utu cuma karena dia suka lupa ngabarin.


Punggungku udah kerasa pegel, selama berjam-jam aku duduk di kursi ini, "Akhirnya selesai juga," aku mulai regangin otot-ototku yang menegang.


"Pantesan udah mau jam 5 sore, pegel semua nih badam," gumamku sambil pijitin pu dak sendiri.


Aky nyoba ngehubungin suami buat ngajak pulang bareng. Tapi kebiasaan, nggak diangkat.


Dan beberapa saat kemudian, Ridho nelfon dan katanya dia lagi otewe ke kantorku. Ternyata gini ya ada suami, berangkat dan pulang ada yang nganterin.


Aku keluar dari ruangan sebelum maghrib datang, nggak lagi-lagi pokoknya ketemu yang serem-serem.


Buru-buru aku masuk ke dalam lift, karema kebetulan lorong disini udah sepi. Arlin ternyata udah nggak ada.


"Syukur, nggak ketemu yang aneh-aneh," ucapku ketika pintu lift udah terbuka di lobby.

__ADS_1


__ADS_2