
Aku semakin tercengang saat aku melihat pak Karan membawa kain itu pada ibunya. Ilena menyuruh pak Karan membukanya dan menjelaskan secara detail dengan suara yang lirih.
"Percayalah, aku dijebak. Seseorang mengirim cincin ini untukku dia menukarnya dengan cincin peninggalan ibuku. Aku ... aku sudah menulisnya disini, ini adalah petunjuk untukmu mengembalikan cincin terkutuk itu. Semakin lama kau menyimpannya, dia akan melekat dengan mu Asa, karena setelah aku tiada cincin ini akan berpindah kepemilikan padamu..."
"Tapi siapa, Bu? siapa yang mengirim cincin ini untuk Ibu?"
"Suatu saat kamu akan mengetahuinya. Aku tak punya banyak waktu. Asa, carilah wanita yang lahir di malam bulan purnama sama seperti diriku. Kembalikan cincin ini bersamanya, masuklah ke dalam hutan terlarang, dan temukan sebuah air terjun dan disana akan ada kolam yang tersembunyi jauh di dalam air. taruh cincin ini di dalam sebuah batu yang berbentuk kerang, maka makhluk ini akan terkunci selamanya disana..." Ilena melepaskan cincin di jarinya dengan susah payah, dia meletakkannya diatas telapak tangan pak Karan.
"Tapi bagaimana ibu tau kalau cincin ini harus diletakkan disana?" tanya pak Karan, semua ini diluar batas nalarku sebagai manusia. Pak karan sudah mengetahui semuanya tapi seolah dia tak mengetahui apapun. Apa maksud dia berbuat seperti itu?
Ilena menggeleng, "Aku mencuri dengar saat makhluk itu bicara dengan...." ucapan Ilena terhenti, matanya melihat ke atas, dan sepertinya dia telah menghembuskan nafas terakhirnya.
"Dengan siapa, Bu? dengan siapaa?" pak Karan menggoyangkan badan ibunya. aku melihat pak Karan berteriak histeris, dia memeluk ibunya, saat tak ada lagi respon dari Ilena.
"Ibuuuuuuuuuuuuuuuuu!" teriak pak Karan seraya memeluk ibunya erat sebelum beberapa orang datang masuk ke dalam ruangan itu.
Aku bisa melihat kesedihan dan kehilangan yang teramat dalam dari sorot mata pak bos, bahkan saat ini.
Aku melihat kilasan pak Karan sedang berada di ruang kerjanya, dia memerintahkan orang untuk memberinya daftar nama berserta tanggal lahir setiap karyawan yang bekerja di Perkasa Group. Aku melihat Elin keluar dari balik kursi pak Karan, dia mendekat pada pak Karan.
"Beritahu aku, dari sekian banyak karyawan yang aku miliki, adakah yang lahir di malam bulan purnama?" tanya pak Karan.
Kertas-kertas itu berhamburan dan menyisakan satu lembar di atas meja, Elin menunjuk sebuah nama. Dan aku bisa melihat namaku yang tertera disana.
"Kau yakin?" tanya pak Karan.
Elin mengangguk tanpa bicara, lalu dia bersembunyi lagi di belakang kursi pak bos.
Sekarang cuplikan berganti, aku melihat diriku sendiri sedang pergi memisahkan diri dari rombongan outbond, awal mula aku menemukan cincin ini. Dan disini aku ngeliat pak Karan memakai topi putih sengaja menabrak ku dan menjatuhkan cincin batu merah di tanah.
dan aku baru ingat kalau ada seseorang yang menabrak badanku sebelum aku melihat sebuah cincin cantik itu tergeletak di tanah.
Jadi, pak Karan sudah merencanakan ini semua dari awal. Shiiit!
__ADS_1
Aku melihat pak Karan pergi menjauh dari rombongan, dan Elin muncul lagi.
"Tugasmu, kau harus dekati wanita tadi. Dan kamu harus memberi tahu satu persatu teka-teki yang ada di dalam kain ini, mengerti?" ucap pak Karan, Elin hanya mengangguk patuh.
Air semakin kencang berputar diantara aku dan pak Karan, dan aku baru merasakan mulai kesusahan bernafas.
Dan sekarang aku melihat nenek pak Karan dalam kilasan masa lalu.
"Ibu tidak setuju kamu menikah dengan Ilena, Reynold! Dia berbeda dengan kita!" teriak nenek pak Karan.
"Dia bilang dia akan mengikutiku, Mah!"
"Aku tetap tidak setuju!"
"Aku akan membuktikan kalau Ilena akan mengikutiku, dia bersedia menjadi seorang mualaf!" kata Reynold.
"Terserah!" nenek pak Karan yang saat itu masih sangat muda meninggalkan yang aku tebak itu ayah dari pak Karan, Reynold Perkasa.
"Ini sangat mirip! terima kasih," kata nenek pak Karan.
"Setelah dia memakainya, makhluk itu akan mengikutinya bahkan sampai pada keturunannya,"
"Kerja yang bagus!" nenek pak Karan jelas sangat terlihat sangat puas.
Lalu, Nenek pak Karan pergi dan kini ia berada di dalam kamar Ilena, aku melihat pak Karan kecil sedang tidur di dalam box bayi.
"Sampai kapan pun kau bukan cucuku! mengerti!" ucap nenek pak Karan yang melihat cucunya sedang terlelap sedangkan Ilena sepertinya sedang berada di kamar mandi. Nenek pak Karan segera menukar cincin yang ada di dalam laci dengan cincin yang dia ambil dari dalam sakunya.
Aku dan pak Karan semakin sulit bernafas, tapi cuplikan ini belum selesai, aku melihat Ilena yang sedang menggandeng pak Karan yang kini sudah lebih besar melewati sebuah kamar. Tapi Ilena menutup mulutnya saat melihat satu sosok makhluk yang menyeramkan sedang berbicara dengan mertuanya.
Ilena menutup mulut pak Karan kecil, dia menyuruh anaknya itu agar jangan bersuara. Sementara wajah Ilena sudah pucat pasi.
"Aku tidak menyangka Ibu melakukan semua ini," ucap Ilena yang kemudian membawa pak Karan kecil menjauh dari sana.
__ADS_1
Dan seketika air berputar seperti pusaran air yang sangat kuat, membuat tanganku terlepas dari pak Karan.
Tapi entah kekuatan dari mana, sekarang badanku seakan bergerak menuju ke permukaan.
"Uhuuuukkkk!" kepalaku muncul keluar.
"Revaaaaaaaaa!" satu suara yang sangat aku rindukan memanggil namaku, itu suara milik Ridho.
Byuuuurrrrrr!
Aku denger kayak ada sesuatu jatuh ke dalam air. Aku yang emang nggak bisa berenang akhirnya nyelem lagi, padahal ini kaki udah kecipak-cipak tapi nggak tau kenapa aku malah jadi gelagapan. Tapi beruntung kayaknya ada dewa penolong buatku saat ini, badanku terangkat ke atas dan muncul ke permukaan. Akhirnya aku bisa napas juga.
"Revaaaaa!" Ridho memanggilku, sementara aku celingukan mencari sosok pak bos yang sama sekali nggak keliatan.
"Pak Karan!" teriakku.
"Pak Karan dimana, Dho?" aku nanya sementara tanganku melingkar di lehernya.
"Aku nggak tau!"
"Kita harus cari pak Karan, Dho!" aku mulai panik, karena aku melihat sekitar nggak ada makhluk galak bin ganas itu. Dia nggak boleh main ngilang aja sebelum ngejelasin semuanya sama aku.
"Pak Karan!" giliran Ridho yang berteriak.
"Pak, Pak Karan! Pak Karan...!" kini aku yang berteriak.
"Kita menepi dulu aja, nanti aku yang mencari pak Karan," kata Ridho yang berniat membawaku menuju tepi air terjun.
"Nggak Dho, kita nggak boleh ninggalin dia. Dia pasti masih ada di dalam air..." kataku.
Dan tiba-tiba saja....
...----------------...
__ADS_1