
Mukanya Ridho mendadak sendu, mendung kayak langit mau ujan. Sontak aku liat ke langit bentar, kali aja ada gledek yang tiba-tiba nyamber.
"Revaaaa ... dengerin aku bentar,"
"Lah emang daritadi aku nggak dengerin? nih kuping udah dijembreng daritadi, kamu bilang aku nggak dengerin?" aku sewot.
Ridho narik becak, eh narik napassss dulu sebelum lanjutin omongannya tadi, "Huuufh, aku nggak pernah pergi sebenernya. Nggak pernah, Va..."
"Fix kamu sakit!" aku tempelin punggung tangan di jidat dia.
"Ya, aku sakit! aku sakit karena kamu, Va..."
"Nih orang beneran nglantur, deh! aku curiga Ridho punya gangguan,aku liat Ridho agak takut ya..." batinku.
"Dia yang ninggalin dia yang sakit, nggak jelas banget!" aku bergumam.
"Kasih aku kesempatan buat cerita..." kata Ridho penuh harap.
Aku ngeliat dia, wajahnya, tatapannya semua mengundang tanda tanya. Sejenak kita lupain kita ada dimana dan sedang berbuat apa. Dia ngajak aku travelling buat nengok masa lalu, lebih tepatnya dua tahun yang lalu ketika dia gone begitu sajah.
.
.
Flashback 2 tahun yang lalu
---POV Ridho---
Demi apapun di dunia ini, aku nggak akan sanggup kalau terjadi sesuatu dengan Reva-ku, calon nenek dari cucu-cucuku yang unyu. Aku sempet denger teriakan Reva ketika kita nggak sengaja terhubung dengan panggilan telepon. Aku jelas denger seauatu ditutup dengan sangat kencang. Aku coba ngomong sama Reva, tapi kayaknya fokus dia lagi fokus pada hal lain. Aku segera minta temenku yang biasa nyadap telpon orang, buat nyari tau keberadaan Reva.
Kerja, tapi otak dan hati nggak bisa tenang. Aku punya tanggung jawab di kantor, tapi ada hal yang lebih penting dari itu. Dan firasatku bilang, kalau aku harua cepat pergi.
"Kamu mau kemana, Dho?" tanya salah teman yang berpapasan sama aku di depan lift.
"Ada urusan penting!"
Aku telfon Bara, tapi nggak diangkat. Lalu aku telfon pak Sarmin juga sama aja.
"Aku ke kosan dulu, deh! kayaknya ada yang nggak beres!"
Nggak biasanya aku kebut-kebutan motor dijalanan, tapi hari ini nggak tau kenapa aku pengen banget cepet sampai di tempat tujuan. Sesampainya di kosan aku menuju ke kamarku, dan aku ngeliat pak Sarmin lagi diiket dengan mulut yang dilakban.
__ADS_1
"Paaak hajiiii!" refleks aku mendekat dan segera meloloskan tangan pak Sarmin dari ikatan.
Sretttt!
Aku buka lakban coklat yang biasa buat ngebungkus paket dari mulut pak Sarmin.
"Apa yang terjadi, Pak?" aku natap pak Sarmin dengan wajah yang bingung.
"Hhh, saya juga tidak tetlalu ingat, nak Ridho! yang jelas, saya tadi di pukul oleh seseorang dari arah belakang sewaktu saya mau mengambil baju dari dalam tas!" ucap pak Sarmin.
"Lalu dimana Bara, Pak haji?" tanya ku pada pak Sarmin.
"Itulah, Nak! huuufh, saya melihat samar-samar Bara di bawa oleh beberapa orang dan saya sudah tidak ingat apa-apa lagi, karena sepertinya saya pingsan," ucap Pak Sarmin.
"Tapi, adikmu dalam bahaya, Ridho! ada banyak makhluk yang mengincarnya, tapi..."
"Adik saya? maksud pak Haji, Monaaa?"
"Sebaiknya kita cepat pergi, sebelum semuanya terlambat!"
"Adik saya sedang dalam bahaya, Pak?" aku panik.
"Tidak ada waktu untuk menjelaskan, ayo cepat pergi!" pak Sarmin segera bangkit berbarengan dengan sebuah info yang aku terima dari salah satu kawanku.
Aku nggak tau kenapa Reva bisa menclok di gedung tua kayak gitu, mau apa dia sebenernya? tapi, raut wajah pak Haji yang serius, menandakan aku harus mengurus Mona terlebih dahulu.
Baru kali ini pikiranku bercabang, aku nggak bisa mastiin Mona sedang bersama Reva atau nggak.
Dan ketika baru mau gas ngeng dijalanan dengan pak Sarmin, tiba-tiba pak Karan nelfon. Aku pun mengangkatnya sebentar, kali aja ada info penting
"Kalau sampai ada apa-apa dengan Reva, kamu tanggung akibatnya!" ucap pak Karan mengancam.
Ngedenger hal kayak gitu, aku jadi bimbang.
"Ada apa, Nak? ayo, kita harus segera sampai disana!" kata pak Sarmin.
Dua-duanya penting buat hidupku, yang satu sedarah dengan ku dan yang satu calon ibu dati anak-anakku. Dan saat ini aku harus milih kemana aku harus pergi. Aku minta temenku itu buat nyadap juga hape Mona.
"Ayo, nak. Lebih cepat lagi, saya hanya bisa melindungi satu orang. Kalau kita terlambat mungkin kita akan kehilangan salah satunya," kata pak Sarmin ambigu.
"Salah satunya siapa maksud Bapak?" tanyaku agak kenceng.
__ADS_1
"Nak Revaaaa!" ucap pak Sarmin.
"Jadi Reva bareng sama Mona?" ucapku refleks.
"Cepat, Nak!" pak Sarmin udah nggak bisa berkata apa-apa lagi. Mungkin tenaganya sudah terkuras.
Aku memutuskan buat sekarang menuju dimana titik lokasi dimana Reva berada. Kalau memang Mona sedang bersama dengan Reva, itu bikin aku lega karena aku bisa nyamperin keduanya secara bersamaan.
Dan pas aku lagi dijalan menuju lokasi, temenku itu nelfon dan bilang kalau ada sebuah chat yang agak mencurigakan. Dia beberin semua isi chat itu, aku dengerin sambil ngebawa motorku ini.
Beruntung aku sudah dekat dengan tempat mereka berada sekarang, coba kalau nggak. aku udah pasti lebih gila lagi di jalanan menarik gas di tangan kanan dengan kekuatan penuh.
Cyiiiittt!
Motorku berhenti di depan sebuah gedung tua.
Bukan hanya aku saja yang datang ke tempat ini, tapi pak Karan dan beberapa aparat penegak hukum juga bergerak ke gedung itu pada saat langit sudah berubah menjadi gelap.
Kita semua berlari kw gedung yang tampak menyeramkan itu.
Kemudian pintu di dobrak.
Brakkkkkkkk!!!
Aku melihat sebuah balok dipegang eh wanita bernama Vena. Sementara Reva sudah twrkapar di lantai dengan penuh darah.
"ANGKAT TANGAN!" ucap salah satu penegak hukum yang membawa pasukannya datang.
Klontraaaaanggg!
Vena menjatuhkan balok kayu yang ada di tangannya.
"B-bukan saya!" ucap Vena bergetar.
Aku dan pak Karan berlari menuju Reva, tapi mataku segera memicing saat melihat adikku Mona dalam pelukan Bara. Aku menghajarnya terlebih dahulu tampa ampun, "Breng-sek kamu, Bar!"
Setelah dia babak belur, baru aku menghampiri Reva. Aku segera mendekatinya yang badannya disanggah oleh pak Karan.
"Maaf," Reva mengatakan itu sebelum akhirnya tak sadarkan diri.
"Revaaaaaaaaaaa!" aku teriak saat melihat banyak sekali cairan berwarna merah membasahi wajahnya. Aku ingin mengambil alih Reva, tapi ada tangan yang menghalangiku.
__ADS_1
"Kau sudah gagal, mengerti? urus adikmu dan Reva ... di akan bersamaku!" ucap pak Karan yang membawa tubuh Reva dengan kedua tangannya meninggalkan ruangan ini.