
"Mereka tidak boleh pergiiii?!!" teriak nenek Yuna.
"Awas kamu Nela?!!! cepat buka pintunya...!" lanjut nenek.
Brakk braakkk braaak?!!!
Dia masih menggedor pintu.
"Cepat?!! kalian cepat pergiii...!" ucap bu Nela yang langsung menutup pintu ketika nenek Yuna akan bangkit dari duduknya.
"Apa yang kamu lakukan anak durhaka!" teriak nenek Yuna.
"Cepat, selamatkan diri kalian?!!" ucap bu Nela yang kuat nggak kuat nahan pintu supaya nggak bisa dibuka sama si nenek.
Jederrrrr?!!!
Petir menggelegar.
Please, masa kita harus kejar-kejaran lagi sih, mana diluar ujan deres lagi. Dan lagi yang diincer anakku yang katanya istimewa. Anak guweeh mau diapain coba? Nggak, nggak boleh. Anakku harus selamat.
"Cepat?!!" Bu Nela menahan pintu itu supaya nenek nggak bisa keluar.
Si nenek pun gedor-gedor lagi kayak debt collector, sedangkan Ridho dengan sigap menggendong aku berlari menembus hujan. Ridho bukain pintu dan mendudukkan aku di kursi dengan hati-hati.
"Aaaerhhhh," perutku merasakan sakit lagi.
Kali ini sakitnya dua kali lipat dari sebelumnya.
Ridho nutup pintu dan dia lari lagi nerjang ujan, dan duduk dengan kondisi basah kuyup di kursi dibelakang kemudi.
Dan kalian tau? Si nenek bisa ngeclap jalan dari arah samping rumah. Guweh curiga nih si nenek lompat dari jendela, mirip anak abegeh yang bolos sekolah. Dia rentangin tangannya, menghalangi mobil kita yang mau pergi dari rumah jahanam ini. Aku kira disini mau ditolong, tapi ternyata malah mau dicelakain juga.
Eeeiit mau kemana eeeiiit. Kita ke kiri si nenek ke kiri. Kita mengkanan, si nenek ke Kanan. Tuman emang, nggak takut ketabrak apa gimana itu si nenek.
Akhirnya, Ridho yang melihat si nenek di depan mobil kita dan di tengah hujan disiang bolong ini, nggak kalah pinter. Dia mundurin mobil dan langsung aja puter stir dan langsung meninggalkan rumah itu.
Sontak aku pegangan lengan kangmas, soalnya mobil ini bergerak sat set cepet banget, kayak lagi balapan di sirkuit tau nggak.
Aku bisa ngeliat si nenek dengan susah payah mengejar mobil kita.
"Alhamdulillah, dia udah nggak keliatan..." kali ini aku bisa menghela nafas lega.
"Kali ini firasatmu sangat tepat. Maafin aku ya, Sayang. Aku hampir gagal ngejagain kamu," ucap Ridho sendu.
__ADS_1
"Mungkin lebih baik kita nggak usah mampir-mampir dimanapun, apapun yang terjadi, Mas. Pokoknya jangan mampir?!" kataku menahan sakit.
"Iya iya, kita akan langsung menuju rumah pak Sarmin,"
Aku mengangguk, rasanya perutku menegang kembali. Apa mungkin si ratu iblis itu melakukan sesuatu sama aku, lebih tepatnya sama janin yang sedang aku kandung saat ini.
"Tenang ya, Sayang. Mami akan menjagamu, walau nyawa Mami taruhannya. Kamu harus tetap hidup, bagaimanapun caranya..." batinku.
Perjalanan ini kerasa lama banget. Kita nggak begitu jelas juga ngeliatin jalanan.
"Kamu capek apa nggak, Mas? atau mau gantian nyetirnya?" tanyaku yang basa basi aja. Padahal boro-boro buat nyetir, bajunbasah kena ac aja bikin aku kayak mau masuk angin. Untung aja nggak ndrogdog atau mengigil.
"Bibir kamu udah biru kayak gitu, kita menepi sebentar. Biar aku ambilin apapun yang bisa bikin kamu anget," ucap Ridho khawatir.
"Tapi, Mas..."
"Kita cuma berhenti sebentar. Nggak lama kok, aku nggak tega liat kamu kedinginan kayak gini, Sayang..." Ridho berhenti dan menarik rem tangan.
Daaaaan terjadi lagi...🎶🎵Kisah lama yang terulang kembaliiii....🎶🎶
Kita berhenti di tepi hutan, bagooooos. Pemilihan pemandangan yang uwow syalalala banget gitu ya wahai suamii aing. Unchh, pinterrrr banget siiih milih tempat. Gemessss deh kita yaaaa.
Sebenernya bukan cuma aku yang basah kuyup, tapi kangmas juga. Tapi dia nggak sampe kedinginan kayak aku. Mungkin kulit badannya setebel badak makanya dia masih bisa fokus nyetir ditengah dingin yang mendera.
Maap ya, Pak. Kita gorek-gorek koper Bapak. Ini cara kita buat bertahan hidup dalam situasi yang serba susah ini. Pokoknya maapkeun lah.
"Ya ampun, ngambilnya lama bangett," gumamku, gigiku saling beradu. Aku kedinginan.
Perutku sakit, badanku udah nggak tau lagi harus menyensor rasa sakit atau rasa dingin. Yang jelas aku mencoba untuk tetep bertahan.
Dan seeettt?!!
Pas nengok ke jendela sebelah kiri, elaaaaahhh ada yang nempelin mukanya gitu di kaca. Laki-laki dengan usia yang udah uzur.
Tok!
Tok!
Dia ketok jendela mobil.
"Astaghfirullah, siapa lagiii ituuu..." aku mlengos, nggak mau liat tuh muka etan yang numpang pansos.
Ya ampuuun, aku juga pengen kali rehat bentar, Napas dulu semenit dua menit. Ngerti nih di dunia para per-etanan lagi pada riweuh salinh berlomba ngedapetin anakku. Tapi please lah, kasih aku jeda buat mikir gimana caranya kabur dari incaran kalian semua.
__ADS_1
Ridho keluar buka pintu mobil dengan membawa jas dan juga kemeja.
"Kamu ada uang 10 ribuan?..." tanya Ridho.
Ya ampun Ridho, inj ada setan di samping aku. Dia malah ribut duit ceban! Mengkesal banget loh.
"Sayang? ada?" tanya Ridho lagi.
"Ada, kok ada..." aku ambil duit di dalem casing hape. Masih untung hape aku lindungi sedemikian rupa, jadi nggak ikutan basah kayak yang punya.
Aku kasih duit ke Ridho, "Nih..."
"Buka jendelanya dan kasih ke Bapak itu..." ucap Ridho.
"Hah?" aku melongo.
"Kasih ke Kakek itu. Kakeknya udah nungguin loh..." kata Ridho nunjuk jendela.
Aku buka jendela dan nyodorin duit ceban ke si Bapak yang ternyata berdiri dengan memegang payung.
"Maaf, ini Kek..." ucapku.
"Terima kasih, Nak. Semoga Tuhan selalu melindungi kalian. Kalian orang baik..." ucap si kakek.
"Iya terima lasih juga Kek..." ucapku ramah.
Kemudian aku mengatupkan kedua tanganku dan mencet tombol naikin tutup jendela.
"Maapkeun aku, aku udah suujon sama si Kakek. Aku Kira si Kakek tergabung dalam kelompok E-ttaan---" ucapku yang mbleret dan celingukan nyari kemana perginya si kakek.
"Loh udah pergi aja? ngilangnya cepet banget?" aku masih aja celingukan.
"Nyariin apa, Yank?" tanya Ridho.
Aku cuma nunjuk jendela tapi Ridho kayaknya paham.
"Yang tadi itu manusia beneran Va. Tadi udah pergi lewat sana," ucap Ridho menunjuk jalan kecil.
"Ooouh, aku kiraaa..." ucapku menghembuskan nafas lega.
Ridho nyerahin jas sama kemeja, " Ganti baju kamu, Sayang. Nanti kamu masuk angin..." ucap Ridho.
"Dengan kemeja ini? aku nggak ada jeans loh. Aku pakai baju dress hamil kayak gini," ucapku nunjukin bajuku yang basah bagian depannya aja.
__ADS_1