
"Iiihhh, lepas!" aku menarik tanganku, dan nggak ada aba-aba si kamfret ini tiba-tiba lepasin gitu aja. Dan aku pun kembali nyungsruk.
"Aawwh!"
"Eh, Sorry Va ... kamu nggak apa-apa?"
"Nggak apa-apa," aku jawab sambil dibantu berdiri sama Ridho.
"Beneran nggak apa-apa?"
Badan aku nggak apa-apa, tapi hati aku itu loh jauh dari kata baik-baik aja. Apalagi liat itu bekas lipstik si karet masih nangkring disitu, dicongornya Ridho.
"Bener kata pak Karan, lebih baik kamu ke tenda sekarang. Karena Karla pasti nungguin kamu disana, buat ngelanjutin sesuatu yang tertunda..."
"Aku bisa jelasin,"
"Jelasin apa? jelasinnya nanti setelah kamu elap dulu tuh bekas lipstik si Karla..."
Aku ogah banget buat ngehapus perbuatan si karet nasi warteg itu. Ogaaaaah.
Ridho langsung ngelap bibirnya pakai tangan. Malah makin berantakan, bego.
"Oh, ya ... nggak ada gunanya juga jelasin ke aku. Lagian sebagai apa? nggak ada hak aku buat marah atau apapun itu, karena kalian sama-sama single, dan fine aja kalau kalian punya hubungan yang spesial. Iya, kan?" aku tersenyum getir segetir pare kukus.
"Nggak gitu, Va. Kamu salah. Aku sama Karla nggak ada apa-apa, Va. Kita cuma temen..." Ridho pegang kedua bahu aing.
"Oh ya?" aku maksain senyum.
"Kamu nggak percaya?"
"Nggak,"
__ADS_1
Geblek sengklek apa gimana dah si Ridho, udah jelas Karla nyosor kok dibilang cuma temen. Jangan-jangan si Ridho fakboi yang terselubung nih.
"Kita temenan, Va..."
"Tapi dia nganggepnya nggak ... dia expect lebih sama kamu, dan kamu tau kenapa? karena kamu sendiri yang ngasih celah itu sama dia. Bukan salah Karla kalau dia nyangka kamu suka sama dia, karena gesture kamu cara kamu nerima perhatian dia, itu udah cukup bikin cewek kebawa perasaan, tau nggak...?" aku tatap tajam mata Ridho, lalu aku berbalik.
Tapi dengan cekatan Ridho nangkep aku dari belakang.
"Ini bukan waktu yang tepat, tapi aku janji bakal bikin semuanya jelas buat kita semua. Tolong, jangan pergi lagi dan jangan deket-deket sama pak Karan..." ucap Ridho.
Ngapain juga dia ngelarang aing buat nggak deket-deket sama pak bos. Lha wong aing bisa idup sampe detik ini juga kan karena pak bos juga. Apa sih yang mau diperjelas, aku nggak mau high expect, takut dikecewain lagi dan lagi. Ibarat kata aku diterbangin ke langit tertinggi terus dijatohin lagi ke bumi. Sakitnya aku yakin sampe ke tulang-tulang.
Dan cukup lama kita di posisi ini sampai emosi aku tone down, kita berdua diem. Ridho menaruh dagunya di bahu kananku.
"Mau kamu apa sih, Dho? kamu kira hatiku ini kertas coretan? yang bisa seenak jidat kamu gambar, kamu tulis apa yang kamu mau. Aku takut kayak Karla, yang dia udah ngerasa deket banget sama kamu, tapi ternyata semua itu hanya tipu-tipu. Kamu anggep dia cuma temen, teman tapi mau di peluk, temen tapi mau di tiam-tium. Definisi temen yang kayak gimana yang kamu maksud, Dho!" aku nyerocos dalam hati aja. Sementara Ridho masih peluk dari belakang,
Dan aku nggak sengaja ngeliat daun yang bergerak, tapi nggak ada angin. Fix, ada orang lain selain aku dan Ridho di tempat ini. Bisa jadi orang atau mungkin makhluk ghoib.
Ridho yang sadar kalau aku melihat ke satu arah pun membalik badan aku, "Kenapa?"
Ridho menyelipkan jari jari ditangannya di rambut panjangku yang tergerai sambil ibu jarinya mengusap pipiku lembut, tangan satunya dia gunain buat menyangga punggungku, dia mengusapnya pelan. Ridho aneh banget, nggak biasanya dia bersikap seperti ini.
"Aku bersyukur kita bisa ketemu lagi, aku hampir gila saat tau kalian berdua hilang. Apalagi hanya ada mobil pak Karan yang ditinggalin gitu aja di jalanan. Aku khawatir sama kamu, Va. Udah ya? abis ini jangan bertindak bodoh lagi, kalau ngelakuin sesuatu dipikir dulu," ucap Ridho yang semakin mepetin badan dia.
"Hemm," aku cuma berdehem. Nggak tau juga harus ngomong apa.
"Reva ... ada yang harus kita omongin, tapi nggak disini. Kita cari tempat buat duduk, kamu mau, kan? karena kita udah nggak punya banyak waktu,"
Dia melepaskan badanku dan mengusap sekilas pucuk kepalaku. Dia menggenggam tanganku, supaya aku bisa ngikutin kemana dia melangkah, walaupun masih ada banyak tanda tanya tapi aku coba ikutin aja apa maunya ini orang.
Ketika aku menengok ke belakang, aku melihat satu sosok tinggi besar dan berbulu lebat, seketika cincin yang aku pakai terasa hangat.
__ADS_1
Aku juga melihat ada sekelebat wanita dengan rambut panjang yang duduk di atas dahan pohon dengan kaki yang menjuntai ke bawah.
"Dho? ngapain kita kesini? aku takut, Dho!"
"Nggak usah direwes, diem aja. Pura-pura nggak liat," kata Ridho.
"Dho mereka makin banyak. Dho, aku mau balik lagi ke tenda..."
"Diem, Reva. Jangan perhatikan mereka..."
"Aku nggak mau, Dho. Aku takut..." aku ingin menangis karena banyak sekali makhluk yang berseliweran dengan berbagai macam bentuk.
Dan tiba-tiba aja Ridho berhenti, "Kamu denger ada suara air? aku yakin banget itu air terjun, tadi sebelum ada angin kencang itu, Karla sempat bilang kalau dia mendapatkan petunjuk dari neneknya, kalau posisi kita sekarang sudah semakin dekat dengan air terjun," Ridho menyuruh aku menajamkan pendengaran.
"Tunggu, tunggu. Maksud kamu apa? aku nggak ngerti. Otak aku ngelag, delay, Dho..."
"Jadi, sebelum aku mencari kamu kesini. Aku dateng ke rumah nenek Karla. Dan setelah aku memperlihatkan foto kamu, ternyata kamu udah pernah ketemu sama dia. Di hari yang sama ketika kamu tiba-tiba ngilang sewaktu aku dan Karla nangkep ikan di balong..." jelas Ridho perlahan.
"Jadi nenek galak yang mukulin aku itu nenek Karla?" aku ngomong lirih.
"Awalnya dia nggak mau bantu, karena cincin yang ada padamu saat ini memiliki kekuatan jahat..."
"Terus aku harus gimana?" aku nanya ke Ridho.
"Aku nggak tau, aku nggak tau! yang aku tau cuma harus nemuin air terjun itu," kata Ridho yang keliatan udah frustasi banget.
Ngeliat wajah Ridho yang udah keluatan gusar kayak gitu, bikin aku tambah takut. Gimana kalau kita semua bakal disini selamanya.
Dan seketika aku teringat kain milik pak Karan. Apa aku cerita aja sama Ridho tentang kain itu?
Dan gadis kecil itu kenapa nggak muncul lagi kenapa dia nggak ngasih aku clue lagi, dan sebenernya siapa anak gadis itu. Kenapa dia mau ngebantu aku.
__ADS_1
"Dho..." aku manggil Ridho, aku putuskan untuk menceritakan semua yang aku tau tentang cincin ini.
...----------------...