
Dan akhirnya aing lebih milih duduk di luar. Daripada denger dua orang itu rebutan aing yang cantik paripurna ini, ya kan?
Sedangkan mbak Luri lagi minum yang panas-panas, belum bisa ditanyain yang macem-macem. Kalau urusan nyari mbak Sena, tadi adek sepupu udah ngerahin para pengawalnya buat mencari di sekitar sini.
"Pak Sarmin kok lama ya, Mas?" aku nanya sama mas Rahman dengan intonasi yang menurutku biasa aja tapi memancing kedua pria yang jauh dari kata dewasa buat ngeliatin akikah.
"Beliau bilangnya 3-4 jam, Mbak. Mungkin sebentar lagi," kata mas Rahman.
"Siapa pak Sarmin?" tanya pak Karan.
"Dia orang yang membantu kami untuk mencari mbak Sena. Dan menurut kabar, dulu dia yang pernah menemukan suaminya eh maksudku mantan suaminya mbak Luri yang waktu hilang di hutan," aku nunjuk mbak Luri yang di dalam tenda pakai dagu.
"Lalu, kira harus menunggu sampai kapan?"
"Sampai pak Sarmin datanglah!" jawabku.
"Intinya kita kesini karena ada keperluan, Pak. Bukan mau camping!" kata Ridho nyeletuk.
Pak Karan nggak nanggepin omongannya Ridho. Dia malah sibuk sama kompor portable yang biasa buat naik gunung.
"Sudah lewat jam makan siang, kamu sudah makan?" tanya pak Karan.
"Belum, aku belum lapar juga," kataku.
"Mau buat minum panas?"
"Kami sudah ada minum tinggal tuang, Pak! jadi Bapak tidak perlu repot-repot ngeluarin kompor segala!" kata Ridho.
"Mending kamu diam, Ridho!" kata pak Karan.
"Allahu akbaaaaarrrr!" mas Rahman kayaknya setres dengerin dua orang ini.
"Yang sabar mas Rahman!" ucapku.
Para pengawal pak Karan belum juga balik lagi kesini. Nyasar nggak tuh orang-orangnya pak bos? Atau jangan-jangan mereka digondol makhluk halus, secara kan namanya hutan ada aja penunggunya.
Mbak Luri tiba-tiba keluar dari tenda.
"Istirahat di dalem aja, Mbak..." kata mas Rahman.
__ADS_1
"Saya udah mendingan, Mas. Makasih..." kata mbak Luri.
"Jangan bengong, ntar kesurupan lagi!" aku nyeletuk.
"Revaaaa..." Ridho bicara lembut dan gelengin kepalanya.
Hari beranjak sore, orang suruhan pak Karan udah balik dengan tangan kosong.
"Maaf, Tuan! kami sudah berkeliling, tapi tidak menemukan apapun!" kata seseorang diantara para pengawal pak bos yang kayaknya udah kecapean banget.
Pak Karan ngangguk, " Kalian istirahat saja!" perintahnya.
"Terima kasih, Tuan!" ucap orang itu lalu bergabung dengan teman- temannya.
"Kamu yakin dia masih hidup?" tanya pak Karan.
"Yakin banget sih nggak, tapi menurut penglihatanku dia masih hidup..." kataku, aku menceritakan bagaimana aku bisa keukeuh nyari mbak Sena. Aku bilang kalau aku sempat ke rumah nenek Karla buat nanyain itu, dan aku diberi penglihatan kalau mbak Sena masih terjebak disana, di alam ghoib.
"Kalau itu saya juga tau kamu ke rumah Karla!" kata pak Karan, aku cuma bisa 'oh' aja sambil ngeliatin ekspresi wajah mas pacar.
"Sampai kapan kita menunggu seperti ini?" tanya pak bos.
"Kalau Bapak tidak sabaran, lebih baik Bapak pulang daripada nanya kapan pulang kapan pulang terus!" ucap kangmas.
"Saya juga kurang tau, Mbak! yang lebih paham mbak Luri,"
"Mencari orang yang tersesat di alam lain itu nggak semudah itu. Butuh kesabaran dan keyakinan, mungkin sekitar 2 sampai 3 hari. Tapi tidak ada yang tidak mungkin kalau orang yang mbak cari bisa ditemukan hari ini juga," kata mbak Luri tanpa ditanya.
"Semoga aja bisa cepat ditemukan," ucapku lirih.
"Berarti kalau pak Sarmin belum kembali juga sampai petang nanti bagaimana, Bang?" kini giliran Ridho yang nanya. Karena nggak bisa dipungkiri matahari semakin bergerak ke arah barat.
"Terpaksa kita harus menginap disini, tapi mudah-mudahan pak Sarmin cepat kembali. Oh ya, lebih baik kita isi perut dulu," kata mas Rahman yang membuka tas perbekalan.
Aku sih nebak ini bungkusan yang bikin kalau nggak Luri ya emaknya. Dan alasan kenapa mas Rahman yang disuruh buat ngejagain kita, mungkin karena mas Rahman ini bisa menghandle para makhluk yang mungkin mengganggu. Jadi pak Sarmin bisa dengan tenang mencari mbak Luri tanpa takut terjadi sesuatu dengan kami
Kalau tadi mbak Luri sempat diruqyah, mas Rahman apa nggak berniat buat meruqyah Ridho dan pak Karan? Biar otaknya sama-sama bener lagi.
Pak Karan menolak untuk memakan nasi yang dibungkus dengan daun pisang dan daun jati ini. Dia mau makan mie cup yang diseduh katanya. Pokoknya dia itu bawa minum dan perlengkapannya sendiri, aku bisa membayangkan gimana repotnya para pengawal pak Karan buat nyiapin ini semua.
__ADS_1
"Kenapa? kamu mau?" tanya pak Karan yang tumben-tumbenan nawarin.
"Lebih sehat makan nasi daripada makan mie, Reva!" Ridho nyamber aja.
"Kalau sekali-kali tidak apa-apa, saya punya banyak dokter yang bisa menangani segala penyakit!" kata pak Karan.
Nggak mau bikin perdebatan yang bikin yang lainnya ngerasa jadi obat nyamuk, jadi aku habisin aja makanan yang ada di bungkusan daun pisang ini.
Waktu berjalan begitu cepat, kita yang menunggu nggak juga dapat kabar dari pak Sarmin.
"Berhubung pak Sarmin belum kembali, mau tidak mau, kita menginap disini malam ini!" kata mas Rahman.
"Reva kamu ke tenda saya saja, disana ada kasur angin, jadi badan kamu tidak akan kesakitan," kata pak Karan. Aku cuma dehem aja, sebagai jawaban.
Ridho ngeliatin aja, sekarang baru nyaho kan rasanya cemburu itu kayak apa. Ini hati juga terpotek-potek liat situ deketan sama mbak Luri.
Malam ini kita bikin api unggun, mengusir sedikit hawa dingin yang menusuk. Kali ini kita lebih mirip orang yang lagi berkemah daripada orang yang lagi nyari temen yang ilang di hutan.
Kita semua lagi antri bikin minuman panas, pokoknya disini yang repot ya orang suruhannya pak Karan. Lumayanlah nggak kaya waktu dulu pas ilang sama pak Karan, makan dan minum aja susah, harus bener-bener diirit.
"Mas Rahman, tadi siang saya tuh kenapa?" tanya mbak Luri. Karena dia ngerasa ada yang aneh sama badanny, dia bener-bener lemes.
"Mbak Luri kemasukan makhluk lain, Mbak! tapi beruntung dia bisa keluar sebelum jadi parasit di dalam tubuhbak Luri," jelas mas Rahman.
"Lalu, mbak Reva kenapa? jangan bilang saya yang membuat mbak Reva seperti itu?" mbak Luri melihat ke arahku.
Ya udah, mas Rahman menceritakan kejadian yang mbak Luri alami dan apa yang terjadi sama aku bahkan orang-orang suruhan pak Karan. Dia auto ngerasa bersalah.
"Maaf ya, Mbak! saya nggak bermaksud..." kata mbak Luri.
"Iya nggak apa-apa!" jawabku.
"Revaaaa..." Ridho protes dengan cara jawabku yang terkesan cuek.
"Iya nggak apa-apa, Mbak! mbak kan nggak sengaja kerasukan setan, iya kan? lagian lain kali kalau badan lagi nggak fit mending jangan dipaksain buat ikut, Mbak!" kataku lebih lembut.
"Saya bukannya nggak fit, tapi saya ingat seseorang yang pernah hilang disekitar sini juga..." ucap mbak Luri sendu.
"Jadi mungkin itu yang membuat pikiranku kosong! maafkan saya ya mbak Reva?" lanjutnya.
__ADS_1
"Hemmm, iya..."
...----------------...