
Kita makan di satu meja yang sama. Ridho pun nyeruput kopinya yang masih ngebul. Dia udah ngabisin satu porsi nasi goreng yang emang enak banget. Nggak tau deh kalau aku yang bikin, pasti acakadul bin ngawur.
"Bu, Ridho udah pesenin untuk acara malam nanti. Oh ya, Mbok Surti kemana?" tanya Ridho yang tinggal nikmatin secangkir kopi buatan istri.
"Mbok Surti lagi nengokin anaknya yang habis melahirkan di luar kota, mungkin minggu depan baru kesini lagi..." jelas ibu.
"Oh, Ridho kira udah nggak kerja disini lagi. Soalnya dari kemarin nggak keliatan,"
"Bu, Ridho mau ngajakin Reva pergi, biar sekalian liat situasi..." lanjurnya.
"Iya ajak aja, ke pantai kek kemana kek. Kasian Reva kalau cuma di rumah terus," ucap ibu.
"Ya bener, Bu. Selain pengen cari suasana baru, kalau di rumah terus badanku bisa gepeng kayak papan triplek," batinku.
Setelah mastiin orang-orang yang mau beresin rumah udah dateng, aku dan Ridho ijin keluar dulu. Ridho ngajakin muter-muter ngukur jalan, tapi mataku kayaknya pengen merem aja rasanya. Kenapa sejak nikah aku jadi ngantukan gitu.
"Kayaknya kalau ke pantai cuma bisa bentar, karena pasti matahari naik dan itu panas banget," kataku.
"Ya bentar aja,"
Setelah kira-kira 20 menit perjalanan, kira sampai di pantai. Ridho ngajakin keluar.
"Pakai, biar nggak masuk angin," Ridho masangin jaketnya.
"Lebih bisa masuk angin kalau disuruh keramas terus sebelum subuh!" aku nyeletuk.
Ridho cuma bisa nyengir, nggak jawab. Tapi manis banget, ya ampuuun. Kita berdua kayak orang galau yang berdiri ngadep laut, mau duduk takut kotor celananya.
"Mau kemana?" aku nanya Ridho, dia berbalik menuju mobil.
"Ngambil sesuatu, kamu tunggu aja," suruh Ridho.
Sepanjang mata memandang cuma hamparan laut dan juga ombak yang saling kejar-kejaran, kayak aku ama Etan. Si Etan
yang ngejar aing mulu sampe bosen kita yak.
"Lama banget ngambil apaan sih?" aku celingukan kayak bocah ilang.
Dan pas 'seeeet' kepalaku nengok ke belakang, Ridho kayak lagi ngobrol gitu sama cewek yang posisinya ngebelakangin aku. Jadi aku nggak ngerti nih siapa tuh cewek. Yang jelas dia napak, berarti dia bukan Etan.
"Ngobrol sama siapa, sih?" aku bergumam. Aku liat Ridho ketawa kecil dan sempet ngelambaikan satu tangannya ke arahku, sedangkan satu tangannya lagi kayak bawa kain, nggak tau buat apaan.
Nggak tau apa yang mereka omongin, Ridho ngajak tuh cewek nyamperin aku.
"Sayang, kenalin ini Arini. Dia temenku waktu SMA. Kenalin Rin, ini istriku Reva... "ucap Ridho yang berdiri di sampingku dan mempublikasikan aku sebagai istrinya yang saaaahhh.
"Arini," wanita itu mengulurkan tangannya.
"Reva..." ucapku.
__ADS_1
"Kita nggak sengaja ketemu tadi, katanya dia lagi cari mood. Arini ini script writer, film apa ya, Rin?"
"Lagi ada project nulis naskah film horor," jawab Arini.
Ran Rin Ran Rin, kayaknya mereka lebih dari sekedar akrab deh. Keliatan banget dari cara Ridho nyapa si Arini.
"Jangan lupa dateng ya, Rin..." ucap Ridho.
Wait wait wait, dateng kemana nih. Jangan bilang Ridho itu ngundang Arini ke acara malam syukuran nanti malam?
"Inshaa Allah, Dho. Ya udah, aku duluan ya, Ridho, Reva..." ucap Arini agak canggung.
"Oke, hati-hati," kata Ridho, sednagkan aku hanya tersenyum tipis.
Roman-romannya aku mencium bau-bau hubungan yang nggak biasa nih antara Arini dan Ridho.
"Duduk sini, Yuk..." Ridho ngegelar kain buat aku duduk.
"Itung-itung nyari vitamin D, katanya baik buat tulang," lanjutnya.
"Tapi yang tadi itu kayaknya baik buat kesehatan mata ya, liat yang bening-bening jam segini," aku duduk sambil nyindir.
"Yang mana?" tanya Ridho.
"Arini!" ucapku tanpa basa-basi.
"Nggak, ah. Kan pusat duniaku udah pindah ke kamu semua, Va. Jadi nggak ada tuh yang bening selain dirimu," Ridho ngegombal.
"Beneran, suwer?! kalau nggak percaya, nanti malem kita main krambol lagi," ucap Ridho ngode.
.
.
.
Matahari semakin naik, semakin fanash. Kita pun sebagai makhluk yang karena panas dikit auto minggir akhirnya balik ke mobil.
"Udah lumayan siang, kita pulang ya. Kamu mau makan apa, biar sekalian kita beli..." kata Ridho.
"Drive thru aja, aku udah laper pake banget?!"
"Oke,"
Nggak pake banyak cingcong, Ridho langsung tancap gas menuju restoran fast food. Aku malesakan di dalem, males antri jug, jadi mending pesen aja dari mobil.
Setelah makanan udah di tangan kita melipir nyari tempat yang aman buat mobil berhenti.
"Aku juga laper," ucap Ridho yang narik tanganku yang lagi pegang burger, terus diarahin ke mulutnya.
__ADS_1
Mulutnya yang blepotan mayonaise, aku elap pakai tisu.
"Harusnya elapnya jangan pakai itu," ucap Ridho nunjuk tisu yang ada di d
tanganku.
"Terus pake apa? kanebo? apa serbet makan?"
"Sadis banget, ngelap mulut suami pakai kanebo! pakai ini dong?!" Ridho nyentuh bibirku.
"Ntar lagi dilap pake jidatnya ikan lohan," selorohku, Ridho cuma bisa ketawa.
Aneh, aku ngomong gitu aja dia ketawa renyah kayak gitu. Dikira kita lagi ngelawak apa ya. Aku cuma ngelirik ngeliatin Ridho yang sekarang lagi minum ice chocholate.
Kelar makan, kita lanjut lagi pulang ke rumah. Tapi pas nyampe di teras rumah, ada satu mobil merah terparkir disana.
"Mona pulang ke rumah," ucap Ridho.
"Hah, Mona?" gumamku.
Ridho keluar dan ngebukain pintu buat aku. Kita berdua masuk ke dalam.
Di dalam udah digelar karpet-karpet empuk, sedangkan kursi-kursi kayaknya dipindahin ke belakang.
"Mbak Revaaaaa?" seru seorang wanita yang suaranya familiar.
"Monaaa?"
Mona langsung meluk aku saat aku dan Ridho masuk ke ruang tengah.
"Mbaaaak, ya ampuunn. Gimana kabarnya, Mbaaakkk? hiksss," Mona malah nangis.
"Loh, kok nangis? Mooonn?" aku usap punggungnya.
"Maafin aku ya, Mbaaak. Maafin aku..." Mona meluk aku kenceng banget.
"Udah, Mon. Semuanya udah berlalu, jangan diungkit lagi..." kataku. Ridho tersenyum ngeliat kedekatan aku sama Mona. Cuma ibu yang kayaknya bingung, kenapa Mona ketemu aku malah nangis.
Aku menjarak badan aku dan Mona, aku usap pipinya yang basah air mata, "Udah jangan nangis, diliatin tuh sama ibu,"
Aku ngajak Mona buat duduk di sofa ruang tengah.
"Ada apa sebenarnya? kalian sudah saling kenal?" tanya Ibu yang duduk memandang aku dan Mona secara bergantian. Sedangkan Ridho duduk disampingku.
"Mereka sudah kenal sejak lama, Bu. Ceritanya panjang, yang jelas Mona dan Reva pernah satu kontrakan Bu..." kata Ridho.
Tapi Ibu keukeuh minta dijelasin, karena ibu kayaknya penasaran kenapa Mona sampai nangis, berarti kan ada sesuatu yang pernah terjadi. Nah, kalau kayak gini mirip banget sama Mona deh.
Jadilah Ridho yang jadi juru bicara, Ridho ceritain semuanya. Dan disitu Ibu malah ikutan meluk aku, "Terima kasih ya, Reva. Sudah melindungi Mona saat itu,"
__ADS_1
"Iya, Bu ... saya sudah anggap Mona seperti adik saya sendiri," kataku