Mendadak Dikejar Setan

Mendadak Dikejar Setan
Diluar Rencana


__ADS_3

Setelah Ridho talking-talking sama bos-nya, akhirnya kangmas dikasih juga liburan dalam rangka bulan madu bersama aing maung. Pak Bagas sempet nelfon juga, ternyata dia baru tau kalau istri dari asistennya itu adalah satu dari sekian kolega-nya yang udah lumayan lama menjalin kerjasama dengan perusahaannya.


"Jadi?" alisku bertaut.


"Jadi, ya ... kapan aja kamu mau liburan pak bos udah oke buat ngasih cutinya," kata kangmas ditelepon.


"Kemana aja?" aku mastiin.


"Iya kemana aja," sahut Ridho.


"Ya udah, nanti aku kabarin lagi," ucapku, saat Arlin ngetok pintu dan masuk ke dalam ruanganku.


Aku matiin sambungan teleponku sama kangmas, "Ada apa, Lin?"


"Pak Wisnu membatalkan kerjasama dengan perusahaan kita, Nona..."


"Urus aja pinaltinya," kataku.


"Baik, Nona..."


"Ada yang lain lagi?" aku menopang dagu, pikiranku lagi kebagi kemana-mana.


"Tidak ada, kalau begitu saya permisi," ucap Arlin yang seketika membalikkan badan.


"Lin, tunggu?!"


"Ada apa, Nona?" Arlin mendekat lagi.


"Tolong kosongin jadwal buat besok dan seminggu ke depan. Saya mau liburan,"


"Baik, Nona..."


"Nanti tolong pesenin tiket dan hotelnya ya?" aku mulai nyuruh-nyuruh.


"Siap, Nona..."


"Ya sudah kamu boleh keluar," kataku.


Semangat menuju healing yang sebenarnya aku pun langsung tancap gas menyelusuri lorong-lorong destinasi wisata yang terpampang nyata di internet.


Untuk ngilangin stress, berarti lebih baik milih tempat atau resort yang emang jauh dari keramaian. Kalau bisa yang udaranya dingin. Aku terus nyari sampai aku lupa ini udah lumayan sore. Sampai akhirnya ada telepon dari mama.


"Mama?" alisku berkerut.


Aku usap tombol warna hijau, "Assalamualaikum, Maah..."


"Waalaikumsalam..." jawab mama.


"Gimana kabar kamu, Sayang?" mama nanya.


"Baik, alhamdulillah. Mama gimana?"


"Mama juga baik. Ehm," suara mama jadi agak aneh.

__ADS_1


"Kenapa, Mah? apa ada masalah?" aku nanya, soalnya kalau nggak dipancing mama nggak bakalan cerita.


"Kamu gimana sama Ridho?" akhirnya mama buka suara.


"Gimana? gimana apanya? aku sama Ridho ya baik-baik aja alhamdulillah, sejauh ini dia suami yang baik dan bertanggungjawab,"


Mama menghela nafas, "Bukan itu maksud mama,"


"Lah terus?" aku malah jadi bingung.


"Maksudnya, gimana kamu sudah ada tanda-tanda hamil belum?"


"Hamil?"


"Iya, hamil. Jangan bilang kamu sama Ridho menunda untuk punya anak karena alasan sibuk?" mama langsung nuduh.


"Kepikiran hamil aja nggak, Mah


Gimana mau menunda..." aku nyautin seadanya.


"Nggak kepikiran gimana? astagaaa, aduuh kepala mama jadi pusing..."


"Kalau pusing minum obat, Mah,"


"Bukan pusing itu, Revaaa?!" mama kesel banget.


"Lah kan tadi mama bilang pusing, kenapa malah aku yang diomelin?" aku bergumam sendiri.


"Kamu sudah coba periksa kandungan belum?" tanya mama.


"Emangnya kamu tau kalau kamu hamil atau nggak, Revaaa...?!" mama gregetan setengah nahan esmosi.


"Yaaa ... ya nggak tau, Mah..."


"Ya maka dari itu, kamu harusnya ke dokter buat periksa. Tanya kondisi kamu, udah ada isinya apa belum,"


"Iya iya, Mah. Nanti aku coba periksa," kataku


Padahal mah aku males banget kalau harus ketemu sama dokter.


"Jangan cuma iya iya aja kamu, Reva. Mama tau, kamu kan paling anti minum obat dan ketemu sama dokter. Jadi mama putuskan buat nyamperin kamu. Mama ada di rumah, kamu pulang sekarang," kata mama.


"Hah? di rumah? rumah siapa? rumah aku sama Ridho?"


"Ya iyaaaa rumah kamu sama Ridhooo, masa iya rumahnya artis sinetrooon? cepetan pulang?!" perintah Mama.


Aku yang dapet titah dadakan suruh pulang karena mama udah di rumah pun jadi gelagepan. Ketauan kan aku ngantor sampe sore kayak gini. Padahal mama udah ngewanti-wanti, walaupun aku dan Ridho sama-sama kerja. Aku sebagai istri harus bisa menempatkan posisi, jangan sampai rumah dan suami jadi terlantar.


"Alaamaaat diceramahiiin 7 hari 7 malem ini, Maaaaah..." aku nyamber tas dan kunci mobil.


Matahari udah bergerak menuju senja, sekarang aja udah jam 5 lebih seperempat. Situasi kantor jelas udah sepi.


"Gara-gara searching tempat liburan nih, jadi keaorean kayak gini pulangnya," aku menggerutu, dan agak gelisah.

__ADS_1


Ya, emang aku udah sering liat makhluk ghoib. Tapi percayalah, males banget kalau ketemu begituan di kantor sendiri. Aku pencet-pencet tombol lift, dan pas pintu besi itu kebuka aku ngibrit masuk ke dalam.


Nggak mau liat ke belakang, nggak mau kepikiran apa-apa. Pokoknya fokus aja ngerasain kotak besi ini bergerak turun ke bawah.


Ting!


Pintu lift terbuka saat sudah mencapai lobby. Seketika aku merasa beruntung karena apa, aku ngerasa ada yang berdiri di belakangku saat ini. Aku males ngadepin mereka-mereka yang nggak tau diri dan suka banget sok nampakin diri dengan wajah yang nyeremin.


.


.


.


"Halo, Sayang. Mama dateng ke rumah kamu---"


"Iya ini aku lagi di jalan," aku nyerobot ucapan kangmas di telepon.


"Disini ujan, dan lumayan macet," kataku lagi.


"Ya, hati-hati, nggak usah ngebut, oke?" ucap Ridho.


"Iya iya, ya udah aku tutup dulu. Paling setengah jam lagi aku udah nyampe rumah,"


"Oke," ucap Ridho dan panggilan pun tertutup.


Udara semakin dingin, aku atur lagi ac dalam mobil. Tanganku aja hampir kaku karena kedinginan, "Bisa tiba-tiba ujan, kalau kayak gini kan pasti tambah macet,"


Perasaan ac udah diatur m, tapi hawa dinginnya masih sama nggak berkurang. Hujan juga semakin lebat, aku yang daritadi ngedumel terus sesekali ngechat Ridho buat pesen makanan. Karena aku nggak mungkin mampir dengan kondisi hujan kayak gini.


"Ya ampuuuun, bisa keburu maghrib nyampe rumah ini mah,"


Aku nggak mau ambil resiko dengan ngebut nggak jelas, mending nyari alasan aja buat ngeles setiap pertanyaan dari mama. Lagian aku udah nikah, udah dewasa jadi ya nggak mungkin mama marahin kayak waktu aku kecil. Apalagi sekarang ada Ridho yang pasti belain.


Beneran kan, aku nyampe rumah bertepatan dengan adzan maghrib.


Ceklek.


"Assalamualaikum?" aku ucapin salam.


"Waalaikumsalam," sahut mama yang udah nungguin di ruang tamu.


"Loh kok mama nunggu sendirian disini? kemana mas Ridho, Mah?"


"Lagi sholat dulu diatas. Kamu setiap hari pulang jam segini, Sayang?" tanya mama langsung ke poinnya.


"Iya nggak juga, Mah. Ini pas kebetulan aja lagi banyak kerjaan ditambah macet di jalanan," aku ngeles, nutup dan ngunci pintu.


"Nggak baik, Reva pulang terlalu sore bahkan menjelang mahgrib kayak gini, kasihan suami kamu," mama ngingetin.


"Iya, Mah. Reva ngerti kok, ini juga nggak tiap hari kayak gini. Masuk ke dalem yuk, Mah..." aku ajak mama masuk ke dalem.


"Kerjaan penting, tapi kesehatan dan hubungan rumah tangga kamu juga pentjng, Revaa. Jangan sampai kamu kecolongan nantinya," mama kasih ceramah sembari naik tangga.

__ADS_1


"Iya, Maaah..." aku iyain aja.


__ADS_2