
"Buat nyari Mbak, nyusulin Mbak. Tapi pas ke kontrakannya mas Ridho, mama kaget soalnya kontrakan itu udah di tempati orang lain..."
Aku sampai sini diem aja, aku takut banget buat bayangin kalau mama liat kondisi aku sebenernya waktu itu.
Dan Ravel terus aja nyerocos, dia bilang kalau setelah dari kontrakan dia menghubungi adek sepupu galakku di kantornya. Dan ternyata setelah mendengar cerita yang sebenarnya, mamaku langsung lemes. Posisinya untungnya aku udah sadar, jadi pak Karan ternyata minta mama buat diem-diem aja. Pura-pura kalau nggak ngerti tentang kejadian yang menimpaku. Karena aku yang baru pulih nggak boleh terlalu banyak pikiran. Ravel terus aja cerita ngalor ngidul, pokoknya mama cuma bisa dapat kabar lewat video yang selalu dikirimkan sama pak Karan. Disitu pak Karan ngeyakinin mama banget, kalau katanya dia bakal ngejagain aku ngedampingin aku sampai sembuh.
"Ya gitu deh, Mbaaak. Makanya mama kesel banget tuh sama mas Ridho. Pas kesana tapi mas Ridhonya nggak ada, nggak tau kemana. Sedangkan, Mbak jadi sakit kayak gitu kan karena nolongin adeknya. Jadi, mama pikir dia laki-laki cemen yang nggak tanggung jawab..." ucap Ravel.
"Tapi sebenernya ceritanya nggak kayak gitu, Vel..."
"Maksudnya gimana, Mbak? soalnya yang mama liat, yang jagain Mbak ya saudara sepupu kita itu. Aku manggilnya apa sih? Karan? Mas? atau apa? aku mau manggil kamu kamu aja, soalnya dipanggil Om langsung melotot," Ravel malah ngelantur.
"Terserah kamu mau manggil apa!"
"Terus gimana dong?" aku malah jadi gelisah. Aku takut mama nggak ngereatuin hubungan aku sama Ridho.
"Gimana apanya?" Ravel malah garuk-garuk kepala.
"Ya ... gimana? argh, maksudnya ... gimana kalau Ridho diusir mama terus ngelarang buat dateng kesini lagi?" aku panik.
"Ya itu resiko!" Ravel jawabnya enteng banget.
Aku mendelik, "Ck, kok kamu ngomongnya gitu sih?"
"Sekarang aku tanya, emang Mbak sama Mas Ridho punya hubungan apa? bukannya hubungan kalian udah kandas? Lah, aku juga kaget, kenapa dia tau-tau nongol kesini!" ucap Ravel.
"Huufh, kita ... emh, kita udah balikan lagi, Vel. Aku sama Ridho lagi sama-sama ngebangun hubungan dari awal lagi,"
"CLBK nih ceritanya? jadi? Mbak ydah ounya keinginan buat nikah kayak aku?" tanya Ravel.
"Ya iyalah, cepat atau lambat pasti aku bakal nikah..."
"Terus maunya sama Mas Ridho gitu?" Ravel nanyanya aneh banget.
"Yaaa ... iya..." ucapku lirih.
"Yang mantep dong jawabnya, Mbak!"
"Iya, Vel! aku maunya nikah sama Ridho, puasss?" aku malah ngegas.
"Dihhh, sabar atuh, Mbak! kan aku cuma nanya dan mastiin. Tapi kalau mama nggak setuju gimana?" Ravel mulai mancing emosi aing.
"Masa sih Mama nggak setuju? buktinya kamu nikah muda sama Dilan aja , mama ngerestuin kok!"
__ADS_1
"Ya kan aku Aa Dilan kan nggak pernah menyakiti aku, Mbak. Beda dong! kalau Mas Ridho kan udah terlanjur jeluatan jeleknya dj depan Mama, aku sih nggak yakin mama mau nerima dia jadi mantu," mulut Ravel nggak ada akhlak emang.
Aku teplak itu bibir adekku, "Ini mulut bisa nggak ngomong yang baik-baik? bukannya doain supaya Mbaknya bisa bersatu sama orang yang dicintai, lah ini malah doain suoaya Ridho ditolak jadi mantu di rumah ini!" kesel banget aku sama Ravel.
"Dah sana keluar. Mbak mau istirahat!" ucapku sambil ngibasin tangan.
"Diiihhh, habis manis sepah dibuang. Habis dapet info, malah aku diusir. Huuuh, tau gitu aku nggak ceritain tadi!" Ravel jalan ke arah pintu.
Tapi pas tangannya baru megang handle pintu, aku langsung inget sesuatu.
"Tunggu, Ravel! katanya kamu mau bikin klepon sama onde-onde buat, Mbak? sebagai syarat perjanjian Mbak mau dilangkah sama kamu. Tolong bikinin sekarang ya, Mbak tunggu!" kataku yang mulai rebahan
"Diiiiihh, Mbaaaakkk! besok aja sih, aku capek, pengen tiduran..."
"Nggak ada alesan! cepet buatin! jangan lupa tutup pintunya ya?" ucapku ngibasin tangan supaya Ravel pergi.
Berbarengan dengan Ravel nutup pintu kamarky, hapeku bunyi. Ada chat dari Ridho.
📱Aku balik, ya?
Baca chat itu aku nggak bales, tapi aku langsubg nelfon dia.
"Kamu udah pulang?" tanyaku yang dengan sigap bangun dari tempat tidur.
Aku lari menuju balkon dan ngebuka jendela, "Aku ada dibelakang kamu,"
Ridho berbalik dan celingukan.
"Diatas!"
Ridho mendongak dan aku lambaikan tangan.
"Kamu mau balik ke?"
"Aku nginep di hotel sekitar sini," kata Ridho.
"Maaf, ya..."
"Nggak apa-apa, Va. Semua butuh perjuangan, iya nggak? nanti aku telfon lagi kalau aku udah sampai di hotel ya?" ucap Ridho.
"Hu'um ... hati-hati," ucapku.
Ridho sempet tersenyum sebelum dia berbalik dan berjalan menuju mobilnya. Sedangkan aku, tetap berdiri sampai mobil Ridho udah nggak keliatan lagi.
__ADS_1
"Huuhhh, banyak banget halangannya!" aku berjalan gontai menuju ranjang. Baru juga mau rebahan.
Ada yabg ketok pintu.
"Masuk!"
Ternyata mama yang muncul, "Va, cepet turun! bantuin mama, bentar lagi ada orang dekor yang mau dateng!"
"Iya, Maaaah!" aku nggak bisa bersantai ternyata.
Jalan pun kayak nggak ada tenaganya.
"Mbak Reva kenapa, Mbak? sakit?" tanya Mbak Rosma yang papasan sama aku di tangga. Dia bawa alat bersih-bersih, kayaknya mau beresin kamarnya Ravel yang udah kayak kandang kebo.
"Nggak, Mbak. Aku nggak sakit. Mba Rosma mau beresin kamarnya Ravel?" aku gantian nanya.
"Nggak, Mbak. Ini saya disuruh beresin kamar tamu,"
"Emang siapa yang mau dateng?" alisku bertaut.
"Nggak tau, Mbak. Tapi kata ibu beresin dulu aja, barangkali ada saudara yang mau nginep gitu..."
"Oh,"
"Saya keatas dulu, Mbak..." mbak Rosma naik ke atas. Ke arah kamar tamu yang ada di lantai dua.
Aku lanjutin tujuanku buat mencapai ruang tamu. Katanya kan disuruh nungguin orang dekor dateng.
Sebelum ke ruang tamu, aku nengok ke dapur. Si Ravel udah ngerjain apa yang aku suruh atau belum.
Ternyata, iya. Tumben dia nurut. Ravel lagi nimbang-nimbang tepung. Aku sih bodo amat jadi atau nggaknya tuh klepon sama onde-onde, yang jelas aku cuma mau si Ravel ada usahanya dikit. Jangan apa-apa digampangin aja, nanti kebiasaan dia.
"Kok lama sih jadinya?" aku mendekat.
Ravel mendongak dengan wajah yang ketempelan tepung di beberapa bagian, "Nggak usah banyak protes, ini juga lagi usaha," Ravel ketus.
"Mbak Rosma kemana sih? tadi katanya mau bantuin, ini kok orangnya main ngilang aja!" adekku ngedumel bae.
"Mbak Rosma lagi beresin kamar tamu, udah kamu bikin yang khusyuk, biar bener. Mbak udah kepengen!"
"Kenapa nggak beli aja siiihhhh?" Ravel nyolot.
"Ini tuh syarat mbak mau dilangkah, jadi lakuin aja dengan ikhlas! masih untung mbak mintanya klepon sama onde-onde, nah kalau Mbak minta mobil sport? kamu bisa beliin nggak? nggak kan? jadi nggak usah banyak gaya! kurangin ngedumel, banyakin kerjanya biar cepet selesai!" kataku sebelum ngeloyor pergi.
__ADS_1