
Beuuuuhhh, yakin banget ini si Karla yang hobinya pake blush on warna oranye itu liat aku digendong kayak gini tuh pasti hatinya langsung fanasssh dibayar kontan, nggak pake cicilan.
"Kamu kenapa, Reva?" pak Karan langsung nyamperin, kayaknya doi khawatir sama aing.
Ridho berjongkok, nurunin aku.
"Aawkkh," aku pura-pura lemah tak berdayah aja lah, biar itu si Karla tambah panas.
Pak Karan dengan sigap bantu aku berdiri, "Kamu darimana saja?" tanya pak Karan sambil bantu mapah aku, sedangkan Ridho kayaknya pengen mencegah tindakan pak Karan tapi nggak bisa.
Mungkin dia masih menjaga perasaan si Karla, takut si ondel-ondel itu mikir yang enggak-enggak, terus dia main pergi aja tanpa ngebawa kita-kita.
"Hati-hati..." pak Karan ngedudukin aku di depan tenda.
Dia memegang daguku dengan tangannya, "Wajah kamu kenapa?"
"Habis ketemu sama makhluk penunggu cincin, Pak, makhluk yang sama yang melenyapkan Bellevia saat kita ada di hotel berhantu" kataku, pak Karan terkejang, eh terkejut.
"Lalu apa yang dia lakukan padamu?" tanya pak Karan. Baru juga aku mau ngomong si Ridho nyela ngasih botol air minum punya dia.
"Minum dulu, Va..." kata Ridho.
"Makasih, Dho..." aku nerima botol itu dan meneguk air buat ngebasahin kerongkonganku yang kering kerontang.
Dan mataku ngeliat Ridho ngajak Karla nggak jauh dari tenda, mereka cuma berdiri berhadap-hadapan tapi muka Karla itu loh bete sebete-betenya.
"Hey! kamu belum jawab pertanyaan saya!" pak Karan menggoyangkan bahuku.
"Eh iya, Pak! emh, tadi nggak sengaja ketemu makhluk itu dan ketika ada energi yang kuat sepertinya cincin ini otomatis mengeluarkan sensasi panas," aku mengeluarkan cincin dan menaruhmya di telapak tanganku.
Aku melihat warna hitam di cincin itu bertambah, seperti berkumpul dan sudah hpir menutupi hampir setengah bagian dari batu berwarna merah.
"Kenapa cincin ini berubah warna? kamu apakan cincin ibu saya?"
"Nggak saya apa-apain suwer ewer ewer deh, Pak! kalau saya bohong, saya berani dikutuk cantik paripurna tujuh turunan, Pak!" aku berusaha meyakinkan pak Karan.
"Lalu bagaimana bisa batu ini bisa berubah warna?"
"Mana saya tempe, Pak? saya juga bingung, tapi sepertinya setiap kali makhluk itu berhasil menyentuh dan menyakiti saya maka warna hitam di cincin itu bertambah, aawkkh!" aku menyentuh wajahku yang perih, tapi dicegah pak Karan.
"Apakah ketika batu merah ini berubah menjadi hitam akan ada sesuatu yang buruk?" pak Karan menatapku.
__ADS_1
"Bisa jadi, Pak..."
"Lalu bagaimana bisa kamu selamat dari makhluk itu? dan sepertinya hanya kamu yang terluka," tanya pak Karan.
"Nggak tau, Pak. Tiba-tiba aja saya dilepasin dan dia kayak kesakitan gitu. Kalau masalah kenapa cuma saya yang diserang, emang dia kan ngincarnya saya dan Bapak..."
Pas aku dan pak Karan lagi tatap-tatapan sementara tangan pak bos lagi pegang tanganku, Ridho main duduk aja disampingku dengan kotak P3K di tangannya.
"Maaf, Pak. Saya mau ngobatin lukanya Reva dulu," kata Ridho dengan nada yang kurang bersahabat.
"Nanti kita bicara lagi," kata pak Karan yang masuk ke dalam tenda.
"Kita duduk disana," Ridho ngajak aku buat pindah. Sementara waktu kita udah berdiri, Karla nyamperin Ridho.
"Kita disuruh cepat bergerak," kata Karla.
"Ya, nanti aku beresin tenda, tapi aku ngobatin lukanya Reva dulu. Setelah itu baru kita pergi dari sini," kata Ridho.
"Kamu nggak apa-apa, Va?" tanya Karla.
"Nggak cuma luka kecil," jawabku.
"Oh, kirain. Soalnya sampai digendong, aku kira ada yang patah," kata Karla.
"Kita kesana, ada yang mau aku omongin juga..." Ridho narik tangan aku pelan.
Lalu Ridho nyuruh aku duduk diatas sebuah batang kayu yang gede nggak jauh dari tenda. Sedangkan aku bisa liat kalau mata Karla selalu mengawasi kami dari depan tenda.
"Aku udah bilang jangan deket-seket sama pak Karan," kata Ridho.
"Kenapa emang? tadi kan aku cuma ngobrol, sama kayak kamu dan Karla yang tadi sempat mojok,"
"Aku nggak mojok Reva. Aku lagi nanya ada petunjuk apalagi dari neneknya Karla," jelas Ridho.
"Emangnya dia dapat petunjuk darimana?"
"Dari bisikan di telinganya," kata Ridho yang mulai mengoleskan antiseptik.
"Aaawwhhh! perih kuyang!" aku teplak itu tangan Ridho.
"Kuyang kuyang, sayang aja sih, Va. Kuyang mah nakutin!" celetuk Ridho.
__ADS_1
"Pelan-pelan kali, Dho. Perih tau..." aku meringis ngipasin muka pakai tangan.
Tapi tangan aku ditangkep Ridho, dan dia niupin pipi aku yang abis di bersihin.
"Fiuh ... tahan dulu, ini baru juga dibersihin. Obatnya belum masuk," kata Ridho sedikit berbisik.
Hati Karla pasti lagi cekit-cekit kayak lagi ditujukin jarum jait. Rasain emang enak, makanya udah banyak gebetan aja masih nyerobot jatah aing.
"Perih, Dho!" aku berisik lagi pas Ridho mulai ngolesin obatnya, kepalaku otomatis ngehindar. Tapi keburu ditahan sama Ridho biar nggak gerak-gerak terus.
"Dho jangan, Dho..."
"Ya elah, Va. Diolesin obat aja berisik banget kayak mau diapain aja, Va..."
"Bibir kamu kenapa, Va?" Ridho menunjuk sudut bibirku pakai cotton bud yang dia pakai buat ngolesin obat.
"Oh, ini waktu kejadian aku nyasar di hotel yang udah lama bangkrut, hotel Belle Femme milik mendiang Bellevia," aku pun menceritakan kejadian beberapa waktu itu, tanpa aku kurangi sedikit pun. Kecuali part aku yang deket-deketan dan hampir disosor pak bos ya. Kalau yang itu sih biar jadi rahasia antara aku dan pak bos ajah.
"Untung kamu masih bisa selamat, Va..." kata Ridho.
"Iya, Dho ... aawwkkh!" ternyata disaat aku lengah, Ridho ngolesin obat lagi. Kupret emang nih orang.
"Diem dulu, jangan gerak-gerak..."
"Udah ah, perih tau!"
Sekarang Ridho buka plester dan nempelin tuh di muka aku, berasa kek bajak laut kalau kayak gini tuh. Mana plesternya dibuat nyerong lagi. Ridho kalau diliat dari jarak deket kayak gini ganteng banget sumpeh, kayak ada manis-manisnya gitu.
"Udah jangan diliatin terus, aku tau aku ganteng!" celetuk Ridho.
"Dih pede banget!"
Ridho cuma nyengir sambil beresin kotak obat.
"Oh ya, Dho. Sini deh, aku mau bisikin sesuatu..." aku narik Ridho.
"Waktu aku di bawa ke atas pohon sama hantu itu, dia sempet bilang kalau dia nggak akan ngebiarin aku nemuin kolam dibalik air terjun..." aku bisik-bisik tetangga di kupingnya Ridho, terus aku menjarak badanku.
"Gotchaaa!" Ridho nepuk pipiku.
"Salah satu petunjuk udah kita dapetin," Ridho langsung meluk aku yang masih loading.
__ADS_1
...----------------...