
Pelayan itu nampak sungkan memandang anak majikannya itu. Aku sih menebak aja, kalau nih master pelayan atau apapun itu lagi ngedongkol dalam hati. Hah, emang pak Karan itu butuh pawang khusus biar jinak gitu. Biar nggak marah-marah mulu.
Pak Karan, main duduk aja. Kita pun ngikutin apa yang dia lakukan setelah dapet kode tentunya, buat ngerasain empuknya nih sofa milik orang kaya.
Mantan bos aing duduk dengan tegap dan angkuh. Menatap pelayannya yang agak gelagapan dan ragu buat ngelanjutin ucapannya setelah terjeda beberapa saat.
"Ehm, maksud saya. Nenek anda sedang berkunjung ke rumah nyonya Gayatri..."
"Untuk apa?" tanya pak Karan dengan mode sengak.
Yassalam, dia nggak bisa gitu nanya baek-baek. Nggak usah pake ngegas begitu. Pantes aja belum kawin-kawin. Begini sih kelakuannya.
"Untuk apa?" nih bos galak ngulangin lagi pertanyaannya.
"Maaf, saya tidak tahu persisnya, Tuan. Hanya saja yang saya tahu kalau nyonya sekarang sedang sakit parah..." jawab pelayan tadi.
"Baguslah," jawab pak Karan tanpa empati.
"Hah?" pelayan itu terperangah mendengar jawaban pak Karan. Nggak cuma pelayan itu, aku dan Ridho pun sempat saling lempar lembing eh lempar pandang.
"Saya bilang bagus, kenapa? ada yang salah?" pak Karan mengintimidasi.
Maap aja ini, mantan bos otaknya agak miring kanan apa kiri gitu ya. Ya tau sih, nenek Gayatri itu udah berbuat jahat sama dia dan juga tante Ilena, tapi nggak harus ditunjukkan di depan orang kayak gini juga kan ya kalau dia emang benci sama nenek sihir itu.
"Baiklah, mungkin saya harus melihat secara langsung penderitaan wanita tua itu. Ah, seberapa parah hingga ayahku harus repot-repot untuk mengunjunginya kesana," kata pak bos sambil bangkit dari duduknya.
"Maaf, kita nggak perlu ikut, kan?" aku lantas berdiri dan mencekal lengan adek sepupu.
"Va, tangan Va tangan!" lirih Ridho. Aku pun melepas cekalan tanganku dengan pak Karan. Pak Karan mengibaskan tangannya byat nyuruh si pelayan pergi.
"Kalau saya nyuruh ikut?"
"Saya nggak mau! Ini kan urusan keluarga, Bapak. Saya nggak penting juga ada disana, iya kan?" aku nyari dukungan Ridho.
"Ishh, kau ini!" pak Karan mendesis
Ya kali aku nemuin si nenek galak itu lagi, ogah banget aing. Masuk ke rumahnya aja hawanya nggak enak, udah kayak mau uji nyali tau nggak.
__ADS_1
"Reva benar, karena pak Reynold juga berada di tempat lain jadi lebih baik kami pulang," Ridho nambahin.
Tapi pak Karan kayaknya nggak puas atau nggak berkenan dengan jawaban kita. Dia natap aku, seakan mengisyaratkan kalau aku harus ikut. Aih, aing menggalau kali ini.
Aku ambil napas dulu sebelum ngomong, "Ya sudah, tapi setelah ini kita boleh pulang ya, Pak!"
"Va...?" Ridho manggil aku, dia kayaknya nggak setuju. Aku cuma angkat kedua bahu secara bersamaan.
"Ck, ya udah aku temani! aku nggak mau kamu berdua aja di mobil sama dia," bisik Ridho di kuping bikin geli.
"Tidak sopan bicara bisik-bisik di depan oranglain, saya tunggu di mobil!" pak Karan mendahului aku dan Ridho, dia main keluar aja.
"Ya ampun, perut udah kruyukan tapi masih aja ngider!" aku menggerutu.
"Sabar ya, Cing! nanti kita makan sampai puas setelah nih urusannya majikan kamu sama mantan bos sekaligus sepupunya nya udah kelar!" kata Ridho ngajak ngomong cacing di perutku yang nggak tau diri.
Ya udah, aku kali ini aku duduk di depan. Karena aku ogah bersebelahan sama hantu lagi. Ya kan kali aja ada yang nggak sengaja mau numpang lagi. Emang hantu suka nggak punya adab. Mau numpang mobil orang mbok ya kulo nuwun, permisi gitu boleh apa nggak sa yang punya mobil. Kan kita pasti auto tancap gas pol, ogah ditumpangin. Astaga...
Okelah, ini pak bos lumayan punya hati nurani. Kita diajak makan, ya walaupun di fast food. Tapi it's oke lah daripada ini lambung keburu perih. Habis itu kita lanjut ke rumahnya nenek goyang, eh nenek Gayatri, maap!
Kesan pertama ngeliat rumah ini emang nggak enak, ditambah penghuninya macam begitu jadi ya tambah-tambah nggak enak.
Pilar-pilar segede gaban, ngebuat bangunanya kokoh. Ridho hanya ngelirik sekilas keadaan sekitar, tapi aku liat mukanya nggak enak.
"Kenapa, Dho?" aku tanya saat kita jalan menuju pintu utama.
"Jangan jauh-jauh dari aku," mata Ridho melirik pada satu titik.
"Kenapa?" aku tanya lagi, aku kan kepo.
Belum juga Ridho ngejawab, pintu utama yang keliatan berat banget itu akhirnya dibuka oleh seseorang.
"Ayah saya dimana?" tanya pak Karan tanpa basa-basi.
"Tuan ada di dalam. Mari saya antar," ucap pelayan itu tapi matanya seakan nggak lepas dari aku dan Ridho.
"Dia saudara saya," kata pak Karan singkat.
__ADS_1
"Maaf, Tuan. Mari..." kali ini si pelayan jalan duluan menuju sebuah ruangan dan kemudian menaiki satu persatu anak tangga menuju lantai atas.
Tiba-tiba Ridho menggenggam tanganku. Dia beneran nggak ngebiarin aku menjauh walaupun hanya 10 senti.
"Hati-hati," lirih Ridho, beuh nih hati langsung meleleng bang. Pka Karan kayak mau nengok ke belakang tapi nggak jadi, dia tetap melanjutkan langkahnya menaiki setiap anak tangga yang bikin kaki gempor.
Bangunan yang menjulang tinggi ini harusnya memiliki sirkulasi udara yang baik, tapi entah kenapa aku ngerasa kalau semakin kakiku menapak tangga, semakin hawa yang aku rasain nggak enak.
"Sebelah sini, Tuan..." ucap pelayan itu dan dia berhenti di depan sebuah kamar.
Tok.
Tok.
Tok.
Pelayan itu mengetuk pintu terlebih dahulu sebelum tangannya menarik handle.
"Silakan, Tuan..." ucap si pelayan yang perlahan membukakan pintu.
Pak Karan melangkah masuk. Tapi nggak dengan kita, aku sama Ridho nggak ikut ke dalam. Kita nunggu di depan kamar ini. Karena kamar sesuatu yang privacy, apalagi kita hanya orang luar.
"Anda tidak masuk?" tanya si pelayan.
"Kami disini saja," kata ku.
"Kalau begitu saya tinggal, karena saya mau turun ke bawah. Permisi," ucap si pelayan yang pergi menuruni anak tangga.
Mata Ridho menelisik ke seluruh bangunan ini, dan mata kami bertemu.
"Ada yang nggak beres," kata Ridho pelan.
"Apaan yang nggak beres? jangan nakut-nakutin aku, Dho!" aku mepet ke ayang. Emang berarti feelingku ini ada benarnya, nyatanya Ridho juga ngerasain hal yang sama.
Dan tiba-tiba.....
"Aaaaarrrrrrghhhh!"
__ADS_1
Sebuah teriakan nenek tua datang dari dalam kamar.
...----------------...