Mendadak Dikejar Setan

Mendadak Dikejar Setan
Lagi Nggak Mood Diomelin


__ADS_3

Sedangkan Ridho mengeluarkan jurus toyoran khasnya. Dia mendorong jidatku dengan telunjuknya, "Siapa yang mau ketemu calon mertua, somplakkk?"


"Lah tadi ngajak ke rumah Karla,"


"Astaga, aku nggak nyangka kamu mikir sejauh itu..." Ridho nyisir rambutnya pakai jari dengan gaya yang sok cool banget!


"Damage aku segede itu ternyata," Ridho senyum-senyum sendiri.


"Jadi?" aku nanya lirih.


"Jadi, aku ke rumah Karla mau nanyain sebenernya apa yang dia lihat waktu nggak kamu video call-an sama Karla. Barangkali aja ada petunjuk mengenai cincin batu merah, emabg kamu nggak capek dikejar mereka terus? aku aja capek ditemplokin dan direpotin kamu mulu!" jelas Ridho, tampangnya berubah jadi ngeselin lahir batin.


Dan seketika aku sangat maluuuuu, udah ngira Ridho mau ke rumah Karla karena ehem. Nggak sanggup aku bilangnya gengs!


Yang jelas kulit muka ku saat ini udah pasti kayak tomat, aku cuma bisa nunduk ngitungin semut yang lewat. Nggak kuat aing, liat muka Ridho saking nggak kuat nahan malunya.


"Udah malem, Dho. Aku duluan ya," aku balik badan dan masuk ke dalam kontrakan. Sedangkan Ridho ketawa puas banget ngeliat reaksi aku tadi. Udah marah, salah pula!


Malam ini aku mencoba mempelajari lagi bacaan shalat, berapa aja rakaatnya terus apa aja yang dilakuin ibadah wajib itu. Dan seketika aku kangen sama mama.


Aku ambil hapeku dan mencoba menghubungi mama, masih jam 9 malam. Nggak mungkin orang rumah udah pada tidur, kan?


Tapi sayangnya, panggilanku nggak dijawab, bahkan nggak tersambung. Mungkin hapenya mama sengaja lagi di non aktifin, biasanya juga kan gitu kalau lagi dicharge suka dimatiin dulu biar cepet ngisi dayanya.


"Coba aku telfon Ravel," aku beralih pada nomor adik perempuanku satu-satunya. Dan satu-satunya juga yang bikin puyeng.


"Nggak diangkat juga," aku menyerah dan melemparkan hape ke atas kasur.


Sedangkan Mona udah molor duluan, adeknya Ridho itu emang nggak bisa begadang. Mentok jam 10 malem dia bisa melek, itu juga kalau ada tugas yang digarap.


Ketika aku baru mau meremin mata, tiba-tiba pak Karan nelfon. Aku yang denger hape bunyi langsung angkat, daripada kena semprot.


"Halo,"


"Reva, bagaimana keadaan kamu? apa sudah lebih baik?" tanya pak Karan.


"Sudah, Pak..."

__ADS_1


"Kalau sudah besok kamu mulai kerja, jangan banyak bolos atau saya..."


"SP, Pak? tenang aja besok saya masuk kerja, saya tidak akan membuat kerugian untuk perusahaan Bapak..." kataku dingin.


"Maksud saya bukan begitu,"


"Maaf bukannya tidak sopan, tapi kalau tidak ada lagi yang ingin dibicarakan, saya tutup telfonnya," kataku yang lagi nggak mood diomelin bae sama pak Karan.


"Jangan ditutup dulu!" pak Karan main nyerobot aja.


"Ada apa lagi, Pak? kalau Bapak mau ngomelin saya pending besok saja, Pak. Karena hari ini saya lagi nggak mood,"


"Apa kamu masih suka diganggu?"


"Lumayan, Pak. Dosisnya sekarang nambah jadi 2 kali sehari," aku udah mulai ngantuk, tapi pak Karan nyerocos mulu.


Sayup-sayup aku dengar pak Karan ketawa, "Tapi ngetawain apa, coba?" ucapku dalam hati, tapi mataku keburu nggak kuat melek jadi masa bodoh itu bos mau ngomel atau ketawa, biarin aja.


Dan nggak kerasa matahari udah nongol, menyapa diriku yang harus kembali mengais rezeki demi sesosok jodoh yang masih di negeri antah berantah.


Buah mangga ikan kembung, nggak nyambung!


Okray, hari ini aku udah bisa ngantor, dan seperti biasa aku nggak akan bisa jauh dari Ridho. Oh ya kalau masalah cincin, benda lingkaran itu masih disimpen seorang Ridho Menawan.


Sebenernya di kantor pun aku melihat hantu, bahkan sepagi ini. Tapi aku kan nggak mungkin teriakan, apalagi kalau pas rapat divisi atau pas jam absen karyawan kantor yang udah pasti itu lagi ramai-ramainya orang. Nggak mungkin kan aku ngejerit histeris, yang ada aku langsung dipanggilin ustadz buat di ruqyah.


Tau ngga yang bikin aku nggak habis pikir, si syaithonirrojim itu usil tau-tau nyelip diantara segerombolan orang yang naik lift tadi pagi, yang lain mah santai aku doang yang banjir keringet.


Tapi satu hal yang Ridho yang aku inget, Ridho sempet bilang sebelum kita naik lift, kalau aku harus berpura-pura nggak liat penampakan mereka. Biar tuh setan pada kesel sendiri. Dan ide itu datang dari lembah mana aku pun nggak tau.


"Kasihin ini ke pak Tobi dong, Va!" Si Ridho enak banget kalau nyuruh. Dia nyodorin satu map laporan


"Kamu aja lah, Dho ... aku lagi banyak kerjaan," aku ngejawab sekenanya sambil mata terus ke layar monitor.


Akhirnya tuh manusia kamfret sendiri yang nganterin laporan ke ruangannya pak Tobi. Tumben banget nggak pakai mekso-mekso.


"Aaaaaaarhhhhg, pinggangkuuuh....! pegel," aku stretching-in badan yang rasanya ampun-ampunan. Aku lihat jam di tangan, udah waktunya pulang. Aku ngelirik ke kubikelnya Ridho.

__ADS_1


"Uy, cangcorang!" aku manggil si ganteng pakai panggilan baru.


Dia nggak jawab bahkan di-notice juga nggak. Aih, si Ridho kenapa dah? muka serius begitu.


Aku nggak nyerah. Aku panggil lagi tuh manusia, " Psssssttttt, pssssst ... Dho!"


"Apaan?" akhirnya dia jawab juga.


"Balik, yuk?" aku melihat ruangan divisi kami sudah semakin minim orang.


"Duluan aja, Va!"


"Bareng aja," aku maksa karena nggak mau di dalam lift sendirian.


"Kenapa? takut?" Ridho ngelirik sebentar.


Sebelum dia ngelanjutin omongannya, "Bukannya udah biasa? tinggal pura-pura nggak liat kan bisa. Kan aku udah bilangin tadi pagi, kalau mereka lagi berusaha narik perhatian kamu, kamu cuekin aja dan nggak usah tanggepin..."


"Oh, No! tadi dia bilang apa? cuekin dan nggak usah tanggepin! astaga, pikiran dia taruh dimana sih? jangan-jangan di kolong meja, sumpeh gedeg banget sama ini orang!" aku ngomel dalam hati.


Aku mikir lagi, gimana caranya supaya nggak naik lift sendirian.


"Dho, sekarang tuh udah sore loh, itu kerjaan kan bisa dilanjutin besok! yang lain juga udah beres-beres meja tuh!"


"Besok tuh libur, oncom! lagian besok kita kan mau pergi. Jangan bilang kalau kamu lupa?" Ridho ngejeplaknya enak banget.


"Nggak kok. Nggak lupa, makanya kita pulang sekarang. Aku kan belum packing!" aku alesan.


"Masaaaaa? Ridho menataku penuh selidik.


"Ck, masa nggak percaya sama aku sih, Dho?"


"Lah emang muka kamu nggak mercayain!" celetuk Ridho.


"Ayo pulang...."


"Kamu itu sungguh berisik, Reva! nggak di rumah nggak di kantor, hobi banget nyusahin orang!" jawab Ridho.

__ADS_1


"Dan kamu itu sungguh ter-laaaa-luuu, Ridho!"


Ridho memicingkan matanya ke aku sebelum akhirnyaaaa...


__ADS_2