
Suwer ewer ewer! belum apa-apa, keringat dingin udah membanjiri jidat dan sekitarnya.
"Kan kamu udah sering ketemu yang beginian, Va...! udah santai aja," kata Ridho nggak ada akhlak.
"Sembarangan kalau ngomong!" aku kruwes congornya si Ridho.
"Astaghfirllah, ini bibir, Va! bukan kertas bungkus nasi yang mau dibuang!" Ridho mulai protes.
"Makanya kalau ngomong dipikir dulu!"
"Makanya, jadi cewek tuh jangan sembrono! kita nggak bakalan disini kalau tadi kamu mau dengerin omongan aku!" Ridho nggak mau kalah.
"Udah ah, jangan nyalahin aku terus. Yang jelas kamu harus mikir gimana caranya kita bisa turun dari sini!" ucapku memelas.
"Ya nggak bisa, zeyenk!" kata Ridho.
Klak klek klak klek.
Suara rubik yang lagi dimainin bagaikan alunan musik pengiring perjalanan malam ini.
Ngeri-ngeri sedap ya. Oke, aku sering ketemu makhlum ghoib. Tapi nggak sebanyak ini juga kali.
Ayang Ridho ngeliat ke arah luar jendela, lalu diliriknya jam di tangan kanannya.
"Kenapa, Dho? kira-kira kita nyampe jam berapa?" aku nanya bisik-bisik tetangga.
"Nggak kenapa-napa. Tapi kok kita udah sampai di tengah hutan ya, Va? kamu liat aja ke jendela..."
"Kalau di hutan emang kenapa?" tanyaku bego.
"Ya berarti kita udah ngelewatin setengah perjalanan. Padahal ini baru jam 11 malam, kita baru satu jam naik busnya..." jelas Ridho.
Aku manggut-manggut, sambil mataku mengawasi keadaan.
"Dho?"
"Hemmm?" sahut Ridho.
"Kalau kita udah ngelewatin setengah perjalanan, bisa nggak kamu request ke supirnya supaya di-gas lagi. Biar kita bisa cepet nyampe dan ceet turun dari sini?" tanyaku.
"Ogah, sana kamu aja, Va! noh supirnya di depan. Sekalian liat itu kakinya nginjek pedal gas apa nggak, kalau nginjek kan berarrti dia manusia kayak kita!" ucap Ridho.
"Diiiihhhh!" aku kruwes lagi congornya.
"Bisa monyong bibirku kalau diginiin terus, Va! ini aset, loh!" Ridho ngusapin bibirnya yang udah pasti merah karena beberapa kali aku kruwas-kruwesin.
Kenapa juga aing bisa apes mulu coba. Astaga, kepengen hidup tenang gitu ya, nggak ada urusan sama mereka-mereka ini. Tapi takdir sepertinya nggak pernah bosen buat mempertemukan aku dengan para makhluk halus ini.
"Merem aja," kata Ridho sambil mejamin mata.
Merem gundulmu. Orang kita lagi disituasi genting malah nyaranin buat tidur, Ridho bener-bener dah.
"Meremin aja dulu, nanti juga sampai, Va! Itung-itung test drive buat kamu. Kan katanya kamu mau nolongin mbak kos kamu yang namanya Sena itu? masa segini aja udah takut?" Ridho setengah nyindir.
"Udah tau penakut, mau jadi pahlawan kesiangan. Kadang kita harus ngukur kemampuan kita dulu Va sebelum melakukan sesuatu. Menolong orang itu baik, tapi kalau kamunya aja nggak mampu? yang ada malah nyusahin orang!" Ridho nyerocos, sementara matanya masih merem.
"Jadi kamu ngerasa aku itu nyusahin? iya?" aku sewot.
"Ya nggak. Nggak salah maksudnya, hehehe. Canda kali, Va!" Ridho dengan cengiran khasnya.
__ADS_1
Aku pasrah aja udah, mau turun juga nggak mungkin. Masih untung ada Ridho yang nemenin aku.
Wait, Ridhoooooo?
Aku mendadak ragu.
"Dhooooo?" aku panggil orang yang ada disampingku.
"Hem," dia cuma dehem.
"Kamu manusia, kan?"
"Maksudnyaaaa?" Ridho melek tiba-tiba dan nengok ke arahku.
Plak!
"Kaki mana kaki?" aku teplak paha si Ridho sambil nyenterin bagian kaki dengan lampu hape.
"Alhamdulillah napak!" aku bernapas lega saat ngeliat si Ridho nggak ngawang-ngawang.
"Astaghfirlah, punya pacar gini amat! jadi lamu pikir aku setan, gitu?" Ridho berbisik dengan penuh penekanan dibagian kata 'setan'.
Aku nggak mau jawab karena pasti kita akan berdebat lagi dan lagi, aku memilih untuk merangkul lengan kangmas minta perlindungan. Setelah beberapa saat tadi aku meragukan kalau dia itu manusia sama seperti aing.
Dan tiba-tiba aja ada yang narik rambutku dari belakang. Nariknya dikit-dikit tapi ganggu banget.
"Dhooooo!" aku bisik-bisik panggil Ridho.
"Apaaa?"
"Ada yang narik rambutku!"
"Sembarangan banget sih kalau ngomong! mana ada aku kutuan!" aku protes.
"Udah diem, Va!"
Kita ngomong bisik-bisik. Aku mencoba buat nggak bergerak, walaupun sekujur badan udah merinding. Aku liat Ridho lagi komat-kamit.
Dan seketika dia yang dibelakang seakan berhenti buat mainin rambut aing yang udah pasti hitam berkilau mirip iklan shampo.
"Huuuuuufffhhh!" aku otomatis buang napas.
Baru juga terlepas dari tangan-tangan jahil, eh bus ini mendadak berhenti.
Ciiiiiiiit!
"Dhoooooooooooooooo!" aku narik-narik jaket Ridho.
Dia buka mata lalu berucap, "Siapa kamu?" Ridho nengok ke arahku.
"Nggak usah becanda deh, Dhooo! nggak lucu! ini busnya berhentiiii! gimana ini?" kataku.
"Aku bukan ngomong sama kamu, Va! tapi sosok yang ada di dekat kepala kamu!" Ridho nunjuk pakai dagunya.
"Hihihi," terdengar suara anak kecil.
Udah nggak usah diliat, pasti dia bukan manusia. Tapi masalahnya dengan tawanya yang nyaring itu, mengundang penumpang tak kasat mata yang lainnya ikut melihat ke arah kami.
"Kita turun sekarang!" ucap Ridho yang nyambar tas kami yang ditaruh dibagasi atas.
__ADS_1
Dia pakai ranselnya dengan gerakan super cepat. Sedangkan satu tangannya membawa tas milikku dan tangan satunya ngegandeng tanganku.
Tap!
Tap!
Tap!
Kita setengah berlari menyusuri lorong bus ini.
"Hihihihihihi...!" suara tawa saling sahut bersahutan.
Dan hap!
Akhirnya kita turun juga dari bus ghoib itu. Baru aja kita turun, bus itu mendadak hilang gitu aja. Ridho ngajak aku lari, padahal napas udah nggak kuat.
"Stop, Dhoo! aku capeeek!" aku minta berhenti.
Kakiku lemes seketika. Aku pegangin kedua lututku yang rasanya lunglai.
Ridho juga nggak kalah ngos-ngisannya. Kita berdua kayak lagi lomba marathon tengah malam.
"Hah ... hhhh ... hhh! kita dimana, Dho?" aku mencoba mengatur napas.
"Kayaknya ini udah deket, Va!" jawab Ridho.
"Kuta jalan lagi kesana, kayaknya disana ada warung!" lanjut Ridho nunjuk ke salah satu arah.
"Kamu masih kuat, kan?" tanya kangmas memastikan keadaan pacarnya yang cantiknya nggak ketulungan. Aku ngangguk.
"Jalan pelan-pelan aja, ayo!" Ridho meraih salah satu tanganku.
Angin malam menyapa kulit. Dingin dan menusuk sampai ke tulang meskipun aku udah pakai jaket yang lumayan tebal.
Kita berjalan ke sebuah warung yang tengah malam begini masih buka.
"Duduk dulu, Va..." Ridho naruh kedua tas yang dibawanya dan nyuruh aku buat duduk di salah satu bangku kayu yang panjang.
"Mau minum apa, Mas, Mbak?" tanya si penjual yang merupakan wanita muda yang cantik.
Baru juga Ridho mau mangap, aku bekep mulutnya. Dan aku tarik dia.
"Ini warung beneran atau bukan?" tanyaku mulai waspada.
Waspada soal warungnya ini emang warung beneran atau warung ghosting eh warung ghoib? Dan satu lagi, naluri waspadalu muncul karena yang ngedatengin kita penjualnya yang bisa dikatakan cantik dan lumayan memikat.
"Ini warung beneran atau bukaaaaan?" aku tanya Ridho lagi, sementara ekspresi wajah mbak penjualnya agak-agak aneh ngeliat kita.
"Mbak Luri, kopi itemnya satu!" ucap salah seorang pria yang kebetulan baru datang mengendarai sepeda motor
"Tunggu sebentar, Mas!" sahut wanita tadi, yang kemudian masuk setelah dapet orderan kopi.
Pria yang memakai jaket hitam itu nganggukin kepala ke arah kami sebelum akhirnya duduk.
"Dhooooo? dia manusia atau bukaaan?" aku ngomong pelan deket telinga kangmas.
"Coba kamu tanya aja, Va!" sahut Ridho.
...----------------...
__ADS_1