Mendadak Dikejar Setan

Mendadak Dikejar Setan
Jangan Tinggalin Aku


__ADS_3

Aku ngikutin Ridho dari belakang.


"Dhooooo ... aku tadi hampir wasaalamualaikum warohmatullahi wabarokatuh loh, Dho!" ucapku lirih. Ridho cuma nengok ke belakang sekilas, lalu pandangannya lurus lagi ke depan.


Sedangkan aku yang lagi ngikutin Ridho juga ngeliat pak Karan yang ucluk-ucluk dateng.


"Balik ke kamarmu sekarang! " ucap pak Karan yang ngeraih tanganku yang luka dan ngebalutnya dengan sapu tangan.


"Saya ada urusan!" ucapku yang secepatnya menepis adek sepupu.


Tapi tenaganya lebih kuat, dia meraih tanganku yang luka dan ngebalut dengan sapu tangan dari sakunya.


Sedangkan Ridho tetep jalan santai aja kayak nggak peduliin aku yang jalannya dihalangi.


"Dhooo, tunggu!" aku setengah teriak.


Setelah pak Karan selesai, aku langsung melepaskan tangan adek sepupu dan berusaha ngejar ayang. Alhamdulillahnya pak Karan nggak ngejar, dia cuma liatin aku yang jalan ngekorin kangmasku dari belakang


"Ridhoooo, tungguuuu!" aku yang baru aja pulih mendadak pusing. Tapi aku tahan, sambil pegangin kepala yang nyut-nyutan.


Ya ampun Ridho mau kemana coba jalan pakai tangga darurat segala, nggak tau apa aku ini masih kliyengan begini.


"Dho kita mau kemana, sih? aku ... aku pusing banget!" aku auto pegangan besi tangga.


Kalau dilanjut aku takut ngegelinding ke bawah kayak bola.


"Akkkkk, hhh ... hhh..." aku memekik sampai rasanya aku ngeliat ke depan aja rasanya samar-samar.


"Kamu nggak apa-apa?" tanya Ridho yang ternyata balik badan dan nyamperin aku.


Aku cuma bisa gelengin kepala karena terlalu sakit kepalaku sekarang.


"Naik!" Ridho jongkok depan aku dan dia nyuruh aku buat naik ke punggungnya.


Tanpa malu, aku pun nemplok ke punggung Ridho. Dia mulai gendong aku buat turun ke bawah.


"Kenapa pakai tangga darurat sih, Dho?" aku kalungin tanganku di lehernya.


"Pengen aja!" jawabnya singkat.


"Maaf tadi aku sempet--"

__ADS_1


"Nanti aja ngomongnya setelah kita dapet tempat yang enak buat ngobrol!" kata kangmas.


Ya udah, aku nurut aja. Masih untung kan dia mau gendong aku yang emang lagi lemes dan pusing.


Tap!


Tap!


Tap!


Yang kedengeran cuma suara langkah kaki Ridho, dia masih pakai baju kerja. Itu artinya dia dari kantor emang langsung ke rumah sakit.


Aku kira Ridho mau ngajakin ngobrol di tangga darurat yang rasanya horor banget gitu ya. Tapi ternyata nggak, dia ngajak aku keluar dari salah satu pintu, nggak tau ini lantai berapa yang jelas bukan lantai lobby.


Ada beberapa deretan kursi tunggu. Ridho nurunin aku dan duduk di salah satu bangku kursi yang ada di sana.


"Ini dimana, Dho?" tanyaku. Tapi dia nggak jawab.


Ridho duduk di sampingku, dia menunduk dan menyangkah dahinya dengan dua jempol dari kedua tangannya.


"Kamu kenapa, Dho?" aku usap punggungnya.


Tumben-tumbenan ini calon imam jadi pendiem kayak gini.


"Bukan itu!" serobot Ridho.


"Lalu apa? aku salah emang, kenapa aku turun kr bawah dan ninggalin Mona sama Bara di ruang perawatan!"


"Aku bilang bukan karena itu, Va!"


"Terus karena apa? sini liat aku, Dho...." aku pegang dan angkat kepala Ridho yang daritadi nunduk ke bawah.


"Kenapa?" aku tanya lagi.


Giliran tangan dia yang menangkup kedua pipiku, "Karena aku udah gagal!"


"Aku nggak ngerti..." kataku sambil menatap kedua mata Ridho yang keliatan kecewa berat.


"Aku gagal ngelindungin kamu dan Mona. Aku ini sama sekali nggak berguna, Va!" Dia nurunin tangannya. Tapi aku raih lagi dan genggam dengan erat.


"Kamu ini ngomong apa sih, Dho...?"

__ADS_1


"Ngeliat kamu digendong pak Karan dari dalam lift yang rusak itu, ngasih satu tamparan telak buat aku, Va! gimana pun aku berusaha kesini buat nolongin kamu, nyatanya dia yang paling cepat dan dia yang bawa kamu keluar dari sana," ucap Ridho.


"Tapi aku nggak minta dia buat kesini,"


"Lalu darimana dia tau kamu terjebak di dalam lift?"


"Aku ... aku nggak inget pasti," ucapku sambil pegangin kepala.


"Udahlah, Va! nggak usah diinget-inget, toh itu semua udah terjadi. Dia yang jadi penyelamat kamu," kata Ridho.


"Aku nggak bisa jagain kalian," ucap Ridho lagi.


"Kamu ini ngomong apa sih, Dho? aku juga nggak mau ditolong sama dia, kalau perlu aku mending milih lemes di dalem sana nungguin kamu yang dateng. Daripada aku selamat tapi kamu jadi berpikiran negatif kayak gini sama aku..."


"Mungkin emang bener apa yang dia bilang, Va! kalau kamu itu lebih butuh dia daripada aku," Ridho mendadak melow kayak marshmelow.


"Apa sih, Dho? kok kamu jadi mikir hal nggak penting kayak gitu? mulut dia kamu percaya," aku berusaha ngeyakinin Ridho kalau pemikiran dia itu salah.


"Atau kamu sebenernya udah capek dapet kesialan karena deket-deket sama aku, Dho? hidup kamu yang tenang mendadak berubah setelah kenal sama aku kan? aku udah bisa nebak arah pembicaraan kamu ini, Dho!" aku berdiri dan berniat ninggalin manusia ini sendirian disini. Karena kita kayaknya butuh waktu buat menenangkan diri sendiri.


Ridho pegang tanganku, dia mendongak. Dan nyuruh aku buat duduk lagi.


"Aku yang bawa sial buat kamu, Dho. Jadi kamu nggak usah nyalahin diri. Apa yang terjadi sama Mona, mungkin itu juga tetjadi karena kamu deket sama aku. Sampai adik kamu ngalamin hal-hal yang nggak diinginkan..."


"Kalau kita nggak pernah kenal, nggak pernah deket mungkin kamu nggak perlu pindah kosan. Mona nggak perlu ngalamin kejadian yang aneh-aneh dan hidup kalian bakal baik-baik aja..." aku nyerocos terus.


Ridho tiba-tiba meluk aku. Aku nggak tau lagi harus gimana, apa emang kita harusnya nggak pernah deket dari awal?


"Maafin aku, Va!" kata Ridho.


"Aku nggak tau apa yang harus aku lakuin, banyak hal yang berkecamuk dalam pikiran aku saat ini. Aku cuma kecewa sama diriku sendiri, Va. Kalau dia nggak dateng dan hal paling buruk terjadi sama kamu, mungkin aku nggak bakal maafin diriku sendiri, Va. Karena nggak bisa kamu andalkan disaat genting seperti itu..." kata Ridho, dia menjeda ucapannya sesaat.


"Walaupun emang bener sejak kenal sama kamu hidupku jadi kayak roaler coaster, tapi mungkin rasanya akan sepi dan hampa kalau nggak direpotin dan diruwetin sama kamu..." ucap Ridho.


Aku lepasin pelukan kangmas, "Jadi maksud kamu aku ini selalu ngrepotin gitu?


"Iya. Dan semua orang tau itu, Va..." ucap Ridho.


"Nyebelin," aku pukul lengannya, dia cuma senyum seikhlasnya.


Dia narik dan meluk aku, ngerasain detak jantungku.

__ADS_1


"Jangan berpikiran buat ninggalin aku, Dho! jangan pernah! apapun yang terjadi..."


__ADS_2