Mendadak Dikejar Setan

Mendadak Dikejar Setan
Sesuai Prediksi


__ADS_3

Setelah foto prewed jadi, eh maksudnya foto rontgentnya jadi. Dokter mulai jelasin lagi tuh keadaan gigi ku yang sebenarnya.


"Sesuai prediksi saya!" ucap si dokter.


"Apaan sesuai prediksi, situ emang lagi main sulap, Pak? sebel deh! ngagetin aja nih si dokter, tiba-tiba aja suaranya menggelegar udah kayak bledeg di siang bolong!" batinku.


"Gimana, Dok?"


"Memang ini ada gigi yang mau muncul, disini, disini, disini dan disini. Makanya gusinya sedikit demi sedikit robek, karena gigi yang dibawah mendesak buat keluar," pak dokter nunjukin 4 titik yang menjadi permasalahanku. Dia nunjukin gambar yang dia pasang di sebuah tempat pembaca rontgent berbentuk kotak yang ditempel di tembok.


Kita yang duduk di meja konsultasi pun hanya bisa manggut-manggut ngedengerin penjelasan nih orang.


"Apa perlu di bedah, Dok?* tanya Ridho.


Plaaaakkk!


Tanganku melayang di lengannya, "Ngapain dibedaaaah? nggak usah usul yang aneh-aneh, deh!" aku ngomong lirih, bahan gemes.


"Perlu dibedah apa gimana, Dok?" tanya Ridho yang mentang-mentang udah pengalaman masalah kayak gini.


"Kalau dilihat dari rontgent ini sih---" ucap dokter menggangtung.


Dokter menghela nafas sejenak sebelum menatap aku dan Ridho, astaga apaan sih nih dokter.


"Kalau dilihat dari hasil rontgent ini, keempat gigi ini harus diambil atau dioperasi. Karena ini posisinya tidur semua, kalau tidak diambil malah akan sering sakit dan mengganggu gigi yang lainnya," kata dokter.


"Whaaat? dioperasi? disilet-silet, terus dicongkel-congkel begitu? oh, Nooo! nggak ...!makasih. Aku nggak mau!" mendadak aku blingsatan.


"Tidak sakit, Nona. Nanti Nona akan dibius, jadi tidak akan merasakan sakit," ucap si dokter enteng banget.


"Ya elah, Va. Dokter nggak mungkin ngambil gigi kamu sembarangan, tenang aja semua ada prosedurnya!"


Masa bodo dengan prosedur denger kata operasi, dibedah, gitu aja udah bikin kaki lemes. Lagian kenapa sih ini gigi pake acara tiduran segala, mentang-mentang yang punya suka mageran. Terus dia jadi ikut-ikutan gitu, glosoran dan males buat tumbuh dengan semestinya.


Keluar dari ruang dokter gigi, bikin aku malah sutres. Gimana nggak, ibarat nggak ada win-win solution yang enak di aku gitu loh. Diambil sakit, nggak diambil juga sakit. Jadi tadi, Ridho main sat set aja nentuin jadwal buat tindakan pengambilan gigi itu.


"Gimana?" tanya Ridho saat di mobil.


"Udah, nggak usah takut. Lagian tadi kan kita udah bikin kesepakatan buat ngebedah gigi kamu!" lanjut Ridho.


Aku natap Ridho tajem, "Gampang banget bilang nggak usah takut! ini kalau dibius terus aku bablas wassalam nggak bangun-bangun gimana?"


"Ya enggak lah, Va. Aku pernah ngelakuin dan--"

__ADS_1


"Nggak sakit?"


"Sakit lah! tapi kan ada obatnya, jadi kamu tenang aja!" kata Ridho.


Heleh, kirain nggak sakit. Kalau aku dibius, terus ditengah operasi aku out dari dunia gimana. Nanti aku jadi member baru dari setan-setan penghuni rumah sakit ini dong? Uh, nggaaaaak mauuuuu.


.


.


.


"Masih tegang aja mukanya," ucap Ridho sambil nyetir.


"Berisik, ah!" aku kesel banget sumpeh, nggak tau apa kita ini lagi ada perdebatan batin.


Dan lagi kondisi yang sangat tidak menyenangkan ini, si Ravel nelpon. Aku nyuruh Ridho diem dan jangan bersuara.


"Ya, kenapa, Dek?" tanyaku antara nahan pusing dan nyeri.


"Mbak, katanya kebaya pengantin aku udah jadi. Tolong ambilin ya di Madam Anna,"


"Duuuh, nyuruh si Dilan aja sih, Vel!"


"Aa Dilan lagi ada kesibukan yang sama sekali nggak bisa ditinggalin, sedangkan aku nggak mungkin kesana cuma buat ambil kebaya pengantin, bengkak diongkos. Jadi, Mbak Reva satu-satunya orang yang bisa aku mintain tolong, dan bayarin ya mbak Kemarin DPnya baru dikit,"


"Mbaaaaaaaa...?!!!" seru Ravel.


"Iyaaaaa, nggak usah tereakk juga kali. Kuping mbak nggak budek, Vel!" aku balik nyemprot.


"Ya abisnya, diajak ngomong malah semedi. Nggak nyautin, kirain nggak denger kan!" Ravel nggak mau kalah.


"Iya iya iya, nih aku ambil! sekalian mbak bayariiiinn! udah ya, mbak lagi di jalan, bye!" kali ini aku yang nutup duluan.


"Yang sabar, Va...." ucap Ridho tiba-tiba.


"Hadeuuh, adek kamu sama adek aku tuh 11 12 somplaknya, Dho. Bisa cepet ubanan aku kalau kayak gini," aku misuh-misuh.


"Ngomong-ngomong soal Mona, gimana kabar dia?" tanyaku.


"Mona? baik kok," ucap Ridho.


Sebenernya aku kepo banget tentang Mona, tapi etis nggak ya kalau nanyain ke Ridho.

__ADS_1


"Ehm, Dho. Aku boleh nanya?"


"Tanya aja nggak apa-apa, jangankan nanya, minta sesuatu juga boleh," kata Ridho.


"Gimana kabar Mona sama Barra?" tanyaku.


"Maksudnya?" Kening Ridho mengerut.


"Ya ... Mona dan Barra, apa mereka masih bareng atau...?"


"Setauku, mereka masih menjalin hubungan. Tapi aku nggak tau, gimana gimananya. Yang jelas mereka berada di satu kota yang sama. Tapi bukan disini..." ucap Ridho.


"Oh..."


Suasana hening, dan aku ngerasa ada sosok penumpang gelap di belakang. Sontak aku menoleh.


"Ada apa, Va?" tanya Ridho.


"Nggak ada apa-apa..." ucapku saat aky ngeliat kalau di jok belakang nggak ada siapapun.


"Kamu ngeliat sesuatu atau gimana?"


"Nggak ... nggak ada, aku nggak ngeliat apa-apa," sahutku.


Aku kembali duduk dengantenang dan pandangan lurus ke depan. Tumben saritadi nggak ada satu telpon pun yang masuk ke dalam hapenya si Ridho. Biasanya kan ada aja perintah dari pak Bagas. Tapi baguslah, jadi aku nggak terganggu soal itu.


Menuruti keinginan Ravel, sebelum pulang aku mampir dulu ke butik miliknya Madam Anna. Aku cuma bingung kok cepet banget jadinya, apa Madam Anna dibantu makhluk ghoib yang buat ngejaitin kebaya apa gimana. Dan ternyataaa tidak sodara-sodara. Emhhh, adekku itu emang top markotop banget. Karena apa? dia bilang kalau Madam Anna bisa bikin kebayanya express, dia bakal kasih bonus tambahan. Kan kamfreeet ya.


"Ini nominalnya, Nona..." ucap pegawai yang ditugasin buat ambilin catatan pembayaran dari semua kebaya yang dijait si Ravel.


"Segini, Mbaaaak?"


"Iya, Nona..." ucap pegawai tadi ikutan ngecek list yang ditulis sama madam Anna yang lagi rempong ngabsenin satu-satu kebaya yabg bakal aku angkut.


Gila siiiih, ini Ravel pengen bikin aku miskin mendadak. Ya ampun, punya adek gini amat kelakuannya.


"Kenapa, Va?" tanya Ridho.


"Nggak apa-apa..." aku antara pengen nangis saking keselnya. Dengan tangan yang mebcet oin di mesin EDC buat bayarin tuh kebaya jahanam.


"Hai, Revaaaa. Kebayanya mau ditaruh dimana? sudah diselesaikan pembayaran dan perjanjian bonusnya?" sapa Madam Anna diikuti beberapa pegawai yang membawa kebaya di tangannya.


"Hai juga Madam, iya sudah aku bayar semuanya tanpa terkecuali. Taruh saja kebayanya di dalam mobil..." aku nunjukin ke arah pintu dengan wajah kusut.

__ADS_1


Ridho berbisik, "Yang sabar, Va..."


"Tau, akh!" aku kesel diledekin Ridho.


__ADS_2