Mendadak Dikejar Setan

Mendadak Dikejar Setan
Ridho Si-alan


__ADS_3

Aku nutup pencet tombol buat nutup jendela, sedangkan aku nyuruh Ridho buat ngebut sekarang, "Cepetan jalan!"


"Gimana nyetirnyaaaaa?" dia nunjuk aku yang dengan enaknya duduk di pangkuan Ridho.


"Ya terserah yang jelas cepetan, jalan sekarang juga!" ucapku dengan rok yang udah naik setengah paha, karena aku angkat tadi pas ngelompat ke depan. Ninggalin tasku yang ada di kursi penumpang bagian belakang.


Ridho mundurin kursinya dikit ke belakang sebelum tancap gas. Mataku mengawasi ke arah jendela belakang, waspada kalau-kalau si mbak tadi nekat mau numpang.


Selama muka setannya nggak nakutin banget, aku sih biasa aja. Tapi kalau yang udah ngeri-ngeri sedap apalagi yang bleweran darah aku juga ogah ngeliatnya. Aku duduk nyamping, kakiku sampai nyentuh jok kursi samping kursi kemudi.


"Huuuuffhhhhh, hhh ... hhh, bikin kaget aja tuh setan!" gumamku.


Dan baru aku menyadari kalau posisi sekarang ini memberi keuntungan extra 50% buat si akang yang lagi nyetir, nggak tau fokus apa nggak dia nyetirnya.


"Ekhem, sorry!" ucapku lirih yang udah ngerasa kalau posisi kita sekarang absurd banget. Tapi tangan Ridho yang dua-duanya lagi pegang stir, ngehalangin aku yang mau pindah ke kursi samping.


"Tanggung! tadi kan kamu yang maksa buat aku nyetir dengan posisi kayak gini!" kata Ridho.


"Awas, aku mau pindah!"


"Tanggung bentar lagi nyampe..." ucapnya lembut sambil sekilas menatapku.


Aku cuma nelen salivaku dengan susah payah. Jarak kami begitu dekat, aku harusenjaga benteng pertahanan agar nggak jatuh ke pesonanya untuk kedua kalinya.


Ditinggalin itu rasanya sakit, dan itu udah cukup menjadi alasan buat aku malas untuk menjalin dan merajut kasih lagi dengan orang yang sama. Yang udah ninggalin luka yang mendalam di dalam rongga hati ini.


Tadi dia bilang sebentar lagi nyampe, tapi ternyata nggak cuma sebentar. Ini cukup lama buat aku duduk di pangkuannya dia.


"Beneran cari kesempatan dia," batinku. Aku bisa mencium aroma parfum yang dia pakai. Manly tapi soft, nggak bikin pusing kepala.


Dengan jarak sedekat ini, aku bahkan bisa ngeliat garis rahangnya yang tegas dan bibir yang merah. Karena yang aku tau selama ini dia nggak pernah ngebul, ngerokok maksudnya.


Dan mobil ini tiba-tiba berhenti.


"Kok malah berhenti, sih? kamu sengaja ya biar---"

__ADS_1


"Tuh, udah nyampe!" ucap Ridho yang kemudian narik rem tangan.


Aku sontak ngeliat ke depan, ya kita udah nyampe di basement apartemenku.


"Kamu terlalu fokus mengagumi salah satu keajaiban dunia, sampai-sampai kamu nggak sadar kalau kita udah sampai..." ucap Ridho sambil menyentuh rahangku dengan tatapannya yang dalam.


Kata-katanya bagaikan sebuah mantra yang bikin aku diem ditempat. Sedangkan tangan yang satunya mendarat di pinggangku, menahan badanku agar nggak geser kemana-mana.


Cukup lama kita terdiam, nggak ada kata-kata yang terucap. Hanya mata kita yang saling terhubung dan dengan sentuhan yang lembut.


Dia menyentuh setiap inci wajahku, dengan tatapan rindu. Sedangkan aku, menatap dia dengan tatapan bingung. Karena jujur sampai saat ini aku nggak tau alasan dia ninggalin aku dulu. Aku nggak tau apa yang dia inginkan sekarang. Apa dia pengen aku terpotek-potek lagi apa gimana.


Dia ninggalin aku karena aku bawa sial, atau udah bosen direpotin sama aku, atau bosen nungguin aku yang nggak bangun-bangun dari tidur panjangku atau gimana?


Lagi-lagi tatapannya menghipnotis, dia mendekatkan wajahnya dan menciumku dengan lembut. Tapi, semenit kemudian aku mendorongnya.


Dan klik. Aku membuka tombol buat ngebuka pintu.


"Pulanglah, terima kasih sudah mengantar!" ucapku yang segera bangkit dan berusaha untuk pergi. Tapi badanku di tahan.


"Maaf, kalau tadi---"


"Lupain aja, anggap itu bukan apa-apa!" ucapku enteng. Padahal dalam hati mah udah bledar-bledor kayak petasaan.


"Tinggu sebentar, Va! aku masih kangen!" kata Ridho yang meluk aku posesif.


"Apaan sih, Dho? lepasin, nggak?" aku berusaha buat nglepasin pelukannya.


Tapi dia mendekap aku kenceng banget, kayak orang yang mau ditinggalin. Padahal kam dia yang ninggalin aku ya, kenapa dia yang malah kayak gini.


"Shiit, kangen? kalau kamu kangen nggak mungkin kamu ngilang selama dua tahun! kita udah nggak ada hubungan apa-apa lagi, Dho! jadi please jangan kayak gini. Bisa aja kamu udah jadi milik orang lain, dan aku nggak mau dituduh sebagai perebut atau perusak kebahagiaan orang!" ucapku dengan menggebu.


Ridho menjarak tubuh kami, dia selipin tangannya di rambutku. Menahan kepalaku supaya nggak pegel sedangkan tangan yang satunya ngambil tanganku, dia templokin ke pipinya.


"Aku nggak mungkin ngelakuin itu!" kata Ridho.

__ADS_1


"Percaya sama aku, Va. Hati aku cuma ada kamu, Va..." lanjutnya.


Sekarang dia arahin telapak tanganku buat nyentuh dadanya.


"Aku terlalu percaya sama kamu. Dan karena itu aku terlalu mudah buat kamu tipu dengan semua omong kosong kamu, Dho!" aku cengkram kemejanya, tatapanku sinis.


"Aku---" Ridho sepertinya pengen ngomong sesuatu, tapi kayak tertahan.


"Aku lagi nggak mau denger apa-apa dari mulut kamu! kita profesional aja, hubungan kita sekarang hanya sebatas pekerjaan, nggak lebih! jadi aku harap jaga sikap kamu!" katalu dengan ucapan yang lumayan bikin sakit hati.


"Aku tau kamu kecewa sama aku, Va. Tapi aku punya penjelasan untuk itu..." kata Ridho yang menangkup kedua pipiku.


"Aku bosen! dan aku nggak mau denger!"


"Aku tau kamu juga masih cinta kan sama aku, Va! kamu nggak bisa pungkiri itu," ucapnya sambil menyentuh bibirku.


Dan sekali lagi dia melakukannya dengan sangat lembut. Lalu dia menyatukan kening kami.


"Hhh ... hhh, kamu nggak bisa memungkiri itu! ucapanmu nggak selaras dengan hati kamu, aku yakin masih ada ruang buat aku di hati kamu, Va!" ucapnya.


Tanpa menjawab apa yang dia katakan aku beranjak dan keluar dari mobilnya. Aku berlati menuju lift.


"Revaaaaaa!" Ridho keluar dan berteriak. Dia mengejarku


Ketika lift terbuka aku langsung masuk dan menutupnya segera. Pintu lift tertutup sebelum Ridho bisa menjangkau keberadaanku.


Aku menutup wajahku dengan telapak tangan. Aku nangis sejadi-jadinya. Aku nggak tau perasaan apa yang sedang mendominasi saat ini, yang jelas aku ngerasa dadaku begitu sesak. Aku mengusap air mata yang terjun bebas ke pipi.


"Kenapa aku nggak menolaknya tadi! dasar Reva bego!" aku ngusek-ngusek bibirku sendiri. Aku berdiri dengan perasaan yang campur aduk kayak karedok.


"Huuuufhhhh, huuffhhhhh!" aku berusaha menormalkan kembali nafasku. Berusaha menenangkan diri.


Dan Ting!


Kotak besi terbuka, aku keluar dan segera menuju unitku.

__ADS_1


"Dasar Ridho sialan!" umpatku.


__ADS_2