
--Masih POV-NYAAA RIDHOOO---
Nggak ada hari terlewat buat aku dateng buat jengukin Reva. Aku masuk diam-diam kayak maling, demi bisa ngeliat dia dari deket.
"Sadar, Va ... sadar, buka mata kamu,"
Aku selalu mencoba mengajaknya bicara, tapi nggak ada respon apa-apa. Mungkin tidurnya terlalu dalam, sehingga apapun yang aku nggak terdengar oleh wanitaku ini.
"Kamu capek ya, Va? makanya kamu tidur terus, kamu nggak kangen sama aku, Va?" aku terus aja nyerocos nggak jelas.
Hati pria mana pasti sakit, melihat orang yang dicintainya hidup dengan disokong alat kedokteran kayak gini.
"Aku tau kamu pasti nggak nyaman dengan semua alat ini, makanya kamu bangun! kalau kamu bangun, aku janji, Va. Aku bakal kerja lebih keras, buat modal kita nikah. Kamu masih mau kan nikah sama aku, Va?"
"Kita bakal punya anak-anak yang lucu, kalau perempuan dia cantik dan cerewet kayak kamu. Kalau laki-laki, dia tampan dan menawan seperti ayahnya. Akan ada lengkingan suara kamu yang mirip sirine mobil barak yang siap bangunin aku dan anak-anak setiap pagi. Bukankah itu sangat sangat menyenangkan, Va...?" ucapku.
Tap!
Tap!
Tap!
Ada langkah seseorang.
"Ada yang datang, nanti kita bicara lagi!" ucapku melepaskan tangan Reva yang aku genggam.
menyadari itu aku langsung bersembunyi di toilet.
Ceklek!
Dan benar saja ada yang masuk ke dalam ruangan perawatan Reva. Aku nggak begitu denger apa yang dia ucapkan tapi aku yakin orang yang masuk tadi adalah orang yang berusaha misahin aku dari Reva.
"Dokteerrrr, dokterrr!" dia berteriak.
Aku mencelos, "Apa ada sesuatu yang buruk dengan Reva?" batinku.
__ADS_1
Tapi aku nggak bisa keluar, aku takut orang itu tau kalau aku ada disini dan malah akan memindakan Reva ke tempat yang lebih jauh lagi.
Aku menajamkan pendengaranku, aku mencuri dengar ternyata Reva sudah sadar. Aku bersyukur dengan berita baik ini, setelah beberapa hari tertidur lelap akhirnya dia bangun juga.
Setelah dokter pergi, aku pun keluar dari persembunyianku. Aku mendekati Reva sebelum aku meninggalkannya di ruang ini sendirian, "Aku akan datang lagi," ucapku seraya mengecup pelan keningnya.
Aku segera pergi sebelum ada orang memergokiku berada di tempat ini.
Beberapa hari setelahnya, ketika Reva udah pulang dari rumah sakit. Orang sombong itu datang, ke kontrakanku. Saat aku lagi-lagi dalam kondisi mengenaskan, menjadi pengangguran.
"Ada apa anda datang kemari?" tanyaku tanpa basa basi.
"Saya tidak perlu basa-basi, tinggalkan Reva. Dia akan selalu celaka jika bersamamu!" ucap Karan.
"Tidak akan, bahkan dalam mimpimu sekalipun!" ucapku tegas.
"Hah, Ridho ... Ridho, apa yang akan kau berikan padanya, bahkan saya tau sekarang bahkan saat ini kau tidak mempunyai pekerjaan! kau ingin mengajaknya hidup susah?" manusia itu mencibirku.
"Kau...!"
"Jangan menunjuk wajahku!" dia menepis tanganku.
"Oh ya, satu lagi. Saya tau jika selama ini diam-diam kau menemui Reva di rumah sakit, bahkan kau mengawasi rumahku setiap hari. Tapi it's okay, saya maafkan..." ucapnya, kemudian pergi dari kontrakanku.
FLASH BACK-NYA 'UDAHAN' 😀
.
.
Mendengar dia nyeritain semuanya, air mataku lolos. Aku nggak nyangka kalau Ridho ternyata nggak mencampakkan aku.
Dia genggam tanganku, "Dipecat dari pekerjaan itu nggak seberapa, lontang lantung nggak punya duit aku lakuin, demi bisa liat kamu setiap hari di rumah sakit," ucapnya sambil ngehapus air mata yang udah bleweran kemana-mana.
"Aku bisa maafin Bara dan mengabulkan permintaan Mona buat ngebebasin dia, tapi aku nggak bisa maafin diriku sendiri karena aku udah gagal lindungin kamu! malah ku yang berkorban buat Mona. Aku nggak tau gimana jadinya kalau kamu bener-bener nggak selamat, aku pasti hancur, Va! aku pasti dihantui rasa bersalah" ucapnya dengan mata yang merah menahan air mata.
__ADS_1
Aku tau Ridho berusaha buat menahan emosinya.
"Selama 2 tahun, aku selalu mengawasimu dari jauh. Melihatmu tanpa bisa menyentuhmu..." ucapnya lagi.
"Jadi selama ini ... kamu?" aku menatapnya nggak percaya.
"Aku berada di posisi ini dengan susah payah, Va! tujuanku cuma satu, menjadi layak buat kamu. Dan sekarang kamu tau? hidupku perlahan berubah, Mona udah lulus kuliah. Semuanya nggak kayak dulu lagi, walaupun sebenernya aku nggak tau apakah di posisi sekarang ini aku udah masuk kriteria 'layak' atau nggak..." ucap Ridho.
Pantesan aja, kayaknya kemana-mana aku harus diikuti pengawal. Jadi selama ini pak Karan yang nggak ngebolehin Ridho buat nemuin aku.
"Tapi ketika aku denger kabar itu, aku udah nggak bisa nunggu lagi. Aku harus ketemu sama kamu, aku harus ngomong kalau aku cinta sama kamu, nggak ada yang berubah. Jadi aku mohon kamu batalkan pernikahan kamu itu," ucap Ridho menggebu.
"Pernikahan?"
"Jangan pura-pura bodoh, Va! kamu boleh pukul aku, jambak aku, cakar bua lampiasin kemarahan kamu. Tapi please, jangan lakukan itu!" kata Ridho menggenggam tanganku dan menciumnya bertubi-tubi.
"Pernikahan? siapa yang mau nikah? stress nih Ridho kelamaan jomblo!" batinku.
Dia mengajakku berdiri dan peluk aku dengan posesifnya, "Aku akan terima hukuman apapun yang kamu berikan, asalkan kamu mau kembali sama aku. Dan inget, kita belum pernah putus! jadi sampai detik ini status kamu masih pacarku, Va!"
Wait, kayaknya si Ridho kupret ini salah inpoh atau mungkin dia korban berita hoax. Yang mau kawin kan si Ravel, bukan aku. Astaga, aku yang tadi habis bleweran air keran eh air mata duyung mendadak pengen ketawa, tapi sekuat mungkin aku tahan.
"Jadi, dia ngira aku yang mau nikah? makanya setelah sekian lama dia ngilang, terus dia mutusin buat nampakin batang gedebog pisang, eh ... batang hidungnya, gitu?" batinku.
"Vaaaa? kamu denger aku nggak sih?" Ridho menjarak tubuh kita berdua.
"Ehm gimana ya, Dho..." ucapku menggantung.
"Nih, pukul Va! kalau itu bakal buat kamu puas," dia angkat tanganku dan arahin ke mukanya.
"Kamu boleh lakuin apapun, tapi jangan lanjutin pernikahan itu!" Ridho mengiba.
Aku melihat keseriusan di matanya, tapi maap aja Dho. Dua tahun bukan waktu yang singkat buat aku ngerasain perasaan ditinggalin, dicampakkan dan nggak dipedulikan sama kamu. Walaupun apa yang kamu lakuin bukan atas kehendak kamu, tapi tetep aja nih hati nggak bisa segampang itu nerima.
"Va..." dia manggil aku.
__ADS_1
Aku lepasin tangan aku dari Ridho, "Aku butuh waktu..." ucapku sambil meninggalkan Ridho gitu aja.
"Aku butuh waktu buat ngasih kamu pelajaran, Dho..." lanjutku dalam hati.