Mendadak Dikejar Setan

Mendadak Dikejar Setan
Jadi Supir Dadakan


__ADS_3

Sesuai rencana, hari ini aku meriksain tuh kangmas ke posyandu. Eh, bukan. Meriksain dia ke rumah sakit maksudnya ya. Soalnya suami aku ini tumben banget bangun dengan wajah yang lesu dan nggak ada semangat sama sekali.


"Masih lama nggak sih?" Ridho udah mulai ngeluh.


"Baru juga sampe, udah nanya masih lama nggak sih. Emangnya kenapa? kan hari ini kangmas ijin nggak ngantor kan? apa perlu aku telfon pak Bagas?" aku nyerocos aja.


"Aku ada kerjaan mendadak. Nggak bisa diwakilin, pak Bagas lagi ke singapore. Si Rimar juga daritadi ngga bisa dihubungin," ucap Ridho.


Pantesan aja daritadi dia kayak cacing kepanasan. Duduk juga kayak orang bisulan, gelisah banget. Elah dalah, ternyata nggak jauh-jauh dari urusan kerjaan sebagai budak corporate.


"Ya cancel kek,"


"Bukan hakku buat cancel-cancel pertemuan, Sayang..." kata Ridho yang mijitin pelipisnya.


"Astaga, bener-bener ya. Pengen aku pites tuh pak Bagas! harusnya kan dia yang punya perusahaan, dia yang sibuk dong. Bukannya malah kamu yang sana sini oke-in dan menangin tender buat memperkaya si Bagas itu," aku udah mulai naik tensi nih.


"Kan kamu yang bilang, nasib asisten?" Ridho ngeliatin aku.


"Ehem, ya ... ya kan nggak gitu juga lah, Maszeeeh! tetep dong, harus ada yang namanya peri-keasistenan tuh bos nyebelin. Dia harusnya ngerti kalau asistennya yang ganteng ini lagi sakit," aku nggak mau kalah.


"Namanya juga bos, mana tau hal-hal kayak gitu. Kamu juga kan suka nyuruh-nyuruh Arlin buat ngewakilin kamu meeting sama orang, kan?"


Lah kenapa kita malah debat masalah kerjaan kayak gini sih. Makin cekot-cekot kan tuh kepalanya kangmas.


"Periksa dulu, nanti kalau mau berangkat ya udah sih berangkat aja. Yang penting ada obat yang masuk kamu minum dulu gitu loh, Mas..." aku mencoba untuk membujuk supaya kangmas mau nunggu bentar lagi.


"Ya udah kalau 10 menit nggak dipanggil, aku pergi ya? nanti kita jadwal ulang aja periksanya, aku minum obat anti nyeri aja dari apotik," kata Ridho.


Ya emang kalau urusan ketemu sama orang, apalagi meeting nggak bisa dianggap remeh. Dan bener aja, 10 menit berlalu. Tapi nama Ridho belum juga dipanggil.


"Udah 10 menit, kan? aku pergi dulu aja. Nanti kita kesini sorenya aja..." Ridho bangkit.


"Pasien atas nama Tuan Ridho, silakan masuk," ucap seorang perawat.


Dan pertama kali masuk, bukan cuma sosok dokter yang kita tangkap dengan indera penglihatan kita. Tapi ada sosok lain yang berdiri bagaikan patung selamat datang di pojokan persis di belakang meja konsultasi.


"Astaganaga, ada aja yang nyempil disitu, ya?" ucapku melihat sosok perempuan dengan rambut yang menjuntai sampai lantai, berdiri tanpa ekspresi.


Aku nyenggol lengan kangmas, sontak Ridho nengok ke aku. Dia cuma ngangguk.


"Jadi keluhannya apa, pak Ridho?" tanya Dokter.


"Cuma pusing aja sih, Dok..." kata Ridho.

__ADS_1


Ya udah Ridho disuruh rebahan dan diperiksa sama dokter.


"Semuanya baik-baik saja, mungkin hanya faktor kelelahan. Ini resepnya, ada anti nyeri dan multivitamin," kata dokter.


"Terima kasih, Dokter..." ucap Ridho.


Kita berdua pun keluar dan mengabaikan sosok misterius yang ada di ruangan dokter itu.


"Ya ampun, apa dia nggak sadar kalau dibelakangnya ada seauatu ya, Mas?" aku ngegosipin tuh makhluk setelah keluar dari ruang dokter.


"Kan nggak semua orang peka dengan hal-hal kayak gitu, Sayang..." kata Ridho.


Habis ngambil obat di apotek, aku anterin Ridho buat ketemu sama orang yang katanya penting banget. Dan aku pastiin kalau Ridho udah minum obatnya.


"Aku tuh nggak separah itu, Sayang. Sampai harus kamu yang nyetirin mobil segala," kata kangmas.


"Ya nggak apa-apa, aku kan yang mau. Lagian irit tenaga, syukur-syukur obatnya udah bekerja. Jadi nyampe kesana kamu nggak pusing," aku sesekali ngeliat Ridho.


"Kamu nggak ngantor?" tanya Ridho.


"Nggak. Aku hari ini full jadi supir kamu, Mas..." ucapku nunduk hormat.


"Beruntungnya...! supirnya cantik lagi," puji Ridho.


"Woh ya jelas, ini supir bukan sembarang supir," kataku.


"Kamfreeet, ngapain dia ngikuuutin kitaa?" gumamku.


"Siapa?" tanya Ridho.


"Itu loh set---" pas aku liat di spion lagi, sosok itu nggak ada. Gone entah kemana.


"Set apa?" Ridho naikin satu alisnya.


"Setan, setan yang ada di ruang dokter tadi. Aku liat ada di jok belakang," kataku.


Badan Ridho otomatis nengok ke belakang. Tapi ya itu nggak ada apa-apa.


"Nggak ada. Mungkin nebeng bentar doang kali tadi, terus udah turun pas dia udah sampia tujuannya," kata Ridho yang nggak mau ambil pusing perkara Etan nggak beradab itu.


Ya udah, aku nganterin Ridho yang ada pertemuan di salah satu resto yang terkenal dengan harganya yang bikin kantong meringis ngeri.


Ridho meeting, ya aku ikutan duduk di salah satu meja yang kosong dan pesen minuman.

__ADS_1


Ya tau, Reva sekarang udah disulap pak Karan jadi horang kayaa. Tapi ingat, jiwa misqueennya masih melekat. Jadi ngeliat harga makanan yang sebenernya mampu aku beli, tuh udah males duluan. Untuk satu steak wagyu harus ngeluarin uang jutaan, ogah banget.


Jadilah aku pesen minuman aja, itu juga minumnya irit-irit biar nggak cepet abis.


"Weeitts, ketemu disini," ucap seseorang yang familiar.


"Barraq?" alisku bertautan.


Dia main narik kursi dan duduk aja gitu di depan ku.


"Kamu sendirian, Rev? Kok sekarang nggak keliatan lagi di apartemen?" tanya Barraq yang manggil waitress. Dan ikut pesen minuman.


"Aku udah nikah, dan kebetulan ikut suami," ucapku jujur.


"Wah selamat, ya? kok nggak ngundang-ngundang?" tanya Barraq.


"Ya, serba mendadak. Dan aku nikahnya nggak disini, tapi di luar kota," kataku.


"Oh, kirain emang lupa ngundang,"


"Nggak, kok..." ucapku.


"Maaf, kamu nunggunya lama ya, Sayang?" ucap Ridho.


"Eh, iya..." aku kaget dengan kedatangan Ridho.


"Ini suami aku, Bar. Ini Barraq, Mas. Tetangga di apartemen dulu," ucapku ngenalin Barraq biar nggak ada salah paham. Sebenernya Ridho kan udah pernah tau, tapi barangkali suamiku udah lupa mending aku kenalin ulang.


"Ridho," Kangmas ngulurin tangannya.


"Barraq," Barraq menyambut uluran tangan Barraq.


"Aku udah selesai, kita pulang sekarang?" kata Ridho.


"Oh ya udah, aku bayar dulu---"


Ridho langsung manggil waitress dan kasih dia sejumlah uang buat bayar minuman yang baru setengah gelas aku minum.


"Kita duluan ya, Bar?" ucapku.


"Oke," Barraq cuma senyum ramah aja.


Sedangkan Ridho, mukanya lagi nggak welcome nggak tau kenapa.

__ADS_1


"Kamu kenapa sih, Mas?" aku nanya saat kita berdua lagi jalan ke arah pintu keluar.


"Nggak apa-apa, cuma nggak suka aja liat kamu dideketin sama cowok lain," jawabnya


__ADS_2