Mendadak Dikejar Setan

Mendadak Dikejar Setan
Halah, Kelamaan!


__ADS_3

Dan beberapa saat kemudian...


Bola mata Ridho berputar-putar dan ia terus melihat ke atas. Aku rebut cangkir dari tangannya dan aku taruh di atas karpet.


"Dho? kamu kenapa, Dho? Ridho!" aku panik melihat Ridho yang kini tiba- tiba ambruk dan kejang-kejang diatas karpet.


Matanya sekarang nutup, dan badan nya yang tadi kejang-kejang mendadak anteng.


"Lah, kok diem? Dho, kamu kenapa? tadi kejang sekarang diem?" aku panik banget.


"Tuh kan apa aku bilang, nih ramuan pasti nggak bener! bego banget kamu main tenggak aja! dasar bego!" aku goyangin badan dia,


"Dho sadar, Dho!" aku tepokin pipi Ridho, nggak ada respon. Aku cepetan ngecek cangkir yang isinya masih setengah.


"Berarti bener ini ramuan tuh ada apa-apanya! jangan-jangan isinya racun? kalau Ridho koit gimana? nggak, nggak, Ridho nggak boleh koit duluan!" aku ngecek keadaan Ridho lagi.


"Kalau di film-film kalau pingsan kayak gini harus dikasih napas kan ya? berarti nggak ada pilihan lain, aku harus kasih dia bantuan napas...! tenang, Dho! kamu nggak akan mati sekarang,"


Aku buka mulut Ridho dan perlahan mencoba menyalurkan setengah nafas aing buat dia.


Jarak wajah kita semakin dekat dan semakin dekat hingga hembusan nafasku mungkin udah menyapu wajah gantengnya.


Dan tiba-tiba aja si kuyang mendadak ketawa.


"Pppppfffttttt! hahaha,"


Aku yang kaget ngeliat Ridho ketawa pun langsung ngeruwes congornya yang minim akhlak itu, "Beraninya ngerjain aku, ya!"


"Aaaaawwwwhhhh!" Ridho ngelepasin tangan aku dari bibirnya yang habis aku uwes-uwes kesel. Aku tegakin badan dan duduk secara terhormat.


"Sakit tau, Va! ini tuh bibir bukan kain pel!" ucap Ridho yang ngelus-ngelus bibirnya yang kemerahan itu.


"Siapa suruh pura-pura keracunan! masih untung nggak aku sumpel pake ulekan yang buat bikin sambel!"


"Ya abisnya kamu tuh parnoan banget sih! ramuan buat bikin kamu sehat kok malah dicurigai ada racunnya," kata Ridho angkat cangkir yang ada di deketnya.


"Nih liat kan aku baik- baik aja. Masih bisa napas juga. Jadi nggak ada alasan buat kamu nggak mau minum ramuan ini," Ridho nyodorin cangkir ke arahku.


Aku yang masih kesel sama nih makhluk yang rambutnya makin gondrong tapi bikin seksoy, ogah nerima tuh ramuan sakti mandraguna.


"Iya iya aku minta maaf, udah ngerjain kamu tadi. Sekarang minum, ya?" kata Ridho yang duduk semakin dekat denganku.

__ADS_1


"Nggak mau!"


"Dih, ngambeknya bisa kayak bocil! udah deh, tinggal minum apa susahnya, sih? Ini nggak pait, kok! apalagi kalau aku transferin dari mulut aku, beuh dijamin manisnya ngalahin syrup cocopandan!" Ridho ngemeng nggak pake otak. Dia yang ngomong begitu otak aing jadi travelling bayangin yang iya iya, kupret emang nih manusia.


"Iya iya aku minum, puas?" aku ngelirik dia sinis.


"Nah gitu dong! mau dari gelas apa dari sini?" dia nunjukin bibirnya.


"Pulang dari hutan otakmu tambah mensle ya, Dho!" aku ambil cangkir dari tangan Ridho, walaupun dalam hati nggak bisa dipungkiri aku pengen milih opsi yang kedua tadi.


Haiiissh, otak otak mikirnya malah yang aneh- aneh. Aku gelengin kepala ngusir pikiran- pikiran laknat gara-gara Ridho.


"Kok geleng-geleng, kenapa?" tanya Ridho.


"Nggak apa-apa!"


"Ya udah cepet minum!" Ridho nunjuk cangkir yang aku pegang.


"Iya bawel! sabar napa, aku kan mau tutup hidung dulu!" kataku.


"Halah kelamaan!" Ridho nyamber cangkir dan langsung tempelin ke mulutku, dia maksa aku buat minum.


Aku yang nggak siap mental mendadak gelagapan. Rasa pait bikin aku pengen ngeluarin lagi ramuan ini, tapi sebelum niat itu terlaksana Ridho keburu bungkam mulutku dengan tangannya.


Aku kelabakan karena nggak bisa napas, baru si Ridho lepasin tangannya.


"Hhh hah hhh, tega banget sih!" aku tabokin lengan dia yang sekeras papan kayu.


"Sorry, Va ... ini juga buat kebaikan kamu!" dia ngelus pundak aku.


"Yang kamu lakukan itu jahat, tau nggak?" ucapku sambil menirukan sebuah dialog dalam sinetron.


Aku bangkit dan memilih buat balik kamar, aku lagi kesel banget ama Ridho. Udah gitu mulutku pait banget.


"Kamu mau kemana?" tanya Ridho narik tanganku, lalu dia ikut berdiri.


"Mau cari yang manis-manis buat ngilangin yang pait-pait!" ucapku ketus.


"Mau nyari pak Karan kamu?!" Ridho mendadak sewot.


"Bisa jadi, bisa jadi," kataku.

__ADS_1


"Nggak, nggak boleh! sini, aku punya permen," Ridho narik aku buat duduk lagi. Dia main tekan bahuku, aku kejengkang.


"Ridho, ikh! kebangetan" aku gampar punggungnya kali ini.


"Sorry sorry, hahahaha,"


Lah si kuyang malah ketawa, sungguh menyebalkan kan sodara-sodara. Nih cowok nyebelin maksimal tapi gimana lagi, udah jodoh dari tuhan yang nggak bisa ditolak.


"Nih, permen!" kata Ridho nyodorin permen dari saku celananya.


Aku kira permen apa gitu yang enak, lah ini permen rasa tamarin coba yang manis dan ada asem-asemnya gitu.


"Permen dari mana?" aku nanya iseng.


"Nggak tau, aku nemu aja di celana ini," jawab Ridho. Aku yang tadinya lagi nikmatin asem-asem manis mendadak mau kluarin tuh permen takut nih permen udah kadaluarsa.


"Eh, nggak kok Va! canda, kali! itu aku ambil di belakang, di meja makan ada toples permen punya bu Wati..." ucap Ridho, aku yang mau lepehin mendadak nggak jadi sementara mataku menyorot Ridho sinis.


"Sabar, Vaaaaaa. Jangan marah-marah mulu, ntar suka lagi," kata Ridho.


"Ikh, apaan sih!" ucapku, dan pipiku kok rasanya jadi anget-anget gitu.


Dan tiba-tiba aja sosok pak Karan dateng nyamperin kita. Dia duduk bersila di depan aku sama Ridho, udah kayak penghulu yang mau nikahin aku ama Ridho, eh.


Si adek sepupu lagi kenapa lagi dah, muka kok angker begitu. Udah keluar dari utan, malah jadi nggak jelas kayak gini. Akh, mungkin efek tiap orang beda-beda kali, ya.


"Ridho, Reva. Besok saya mau pulang, kalian mau ikut atau kalian masih mau tinggal disini?" tanya pak bos dingin.


"Kita mau pulang lah, Pak. Iya kan, Dho?" aku nyenggol lengan Ridho.


"Ya kalau itu tidak merepotkan Bapak," kata Ridho sok jual mehong, vhangkee emang.


"Ya sudah kalau begitu, jam 8 pagi kalian sudah harus siap!" pak bos berdiri dan main ngeloyor pergi.


Punggung tegap pak bos akhirnya hilang dari pandangan kami berdua. Perasaan waktu di utan, sikap dia ngelindungi dan ada anget-angetnya gitu kayak nasi abis keluar dari rice cooker. Nah, sekarang sifat bossy nya udah balik lagi, aku cuma bisa menghela nafas.


"Nggak usah diliatin mulu kali!" celetuk Ridho.


Aku otomatis nengok ke Ridho, " Lebih baik kamu bobo, biar nggak emosian mulu!" ucapku sambil mencet hidung mancung Ridho, dan seketika aku kabur ke kamar.


"Aaaakkh!" Ridho ngelus hidungnya yang merah.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2