
"Gaaaaeees, itu air terjunnya!" teriak Ridho.
Hari sudah gelap, aku cuma bisa samar ngeliatmt, karena posisi kita juga masih agak jauh, tapi suara deras air itu nggak mungkin bohong.
"Alhamdulillah! akhirnya kita nemuin tempat ini juga, Va..." ucap Ridho menghampiriku, aku cuma ngangguk. Ridho ngajak aku mendekat ke arah air terjun.
"Akhirrrrrnya! aaarghk!" teriak pak Karan.
"Akhirnya bisa pulang juga," kata Karla.
Sekarang, aku bisa ngeliat air yang turun secara kroyokan dan menimbulkan suara yang nyaring.
Saking senengnya aku sampai nggak bisa berkata-kata, aku cuma bisa nangis. Ridho bawa aku ke pelukannya seiring dengan tenggelamnya sang surya. Beuuh, so romantic!
Sekarang suasana sudah menjadi gelap total, Ridho nyalain senternya, dia memberikan satu senter buat pak Karan.
"Terima kasih," ucap pak Karan
"Kita dirikan tenda dulu sambil menunggu petunjuk selanjutnya," kata Ridho.
"Pegang," Ridho ngasih senternya ke aku. Cuaca udah pasti dingin, apalagi kita deket air terjun kayak gini.
"Ayo, Pak!" ajak Ridho pada pak bos. Pak Karan nggak jawab, dia cuma ngikutin kemana Ridho naruh tasnya. Mengeluarkan tenda parasut berwarna biru. Aku nyenterin mereka, sedangkan Karla kayaknya lagi ngumpulin ranting-ranting kayu yang ada di sekitar sini.
"Bantuin kek," Karla mulai nyap-nyap.
"Nggak osah pakai ngegas juga kali," aku ngejawab.
Aku yang daritadi berdiri sambil ngasih penerangan cinta buat Ridho dan pak Karan mendadak berbalik, otomatis mereka yang lagi pasang tenda teriakan.
"Revaa, mau kemana kamu? kita belum selesai pasang tendanya!" seru pak Karan.
"Mau bantuin Karla nyari kayu,"
"Nanti aja, Va. Kita nggak bisa liat kalau nggak disenterin. Dah, kamu berdiri aja disitu," kata Ridho.
"Tuh denger sendiri, kan? bukannya aku nggak mau bantu loh ya, tapi aku juga ada tugas khusus nih nerangin mereka berdua!" aku ngomong sama Karla.
"Alesan!" gerutu Karla, kayak nggak terima banget.
Aku balik badan dan nyenterin pak Karan dan Ridho yang lagi ngerakitin tenda. Dan nggak lama, tenda pun berhasil didirikan.
Ridho masukin dua tas gede ke dalam tenda, sementara si Karla udah ngumpulin kayu kering lumayan banyak.
Pak Karan nyamperin aku, "Kita cari tambahan kayu bakarnya,"
"Nggak jauh-jauh kan, Pak? kaki saya udah gempor banget rasanya,"
__ADS_1
"Kita mencari di sekitar sini saja, kayu bakar segitu mana cukup untuk bisa menyalakan api sampai besok pagi," kata pak Karan menunjuk tumpukan kayu dan ranting pohon yang dikumpulin Karla.
"Saya ngomong dulu sama Ridho,"
"Tidak perlu, memangnya dia suami kamu?harus selalu ijin sama dia? inget Reva saya bos di tempat kamu bekerja!" kata pak Karan.
"Ayo, cepet!" pak Karan narik aku pergi.
Tapi baru juga beberapa langkah, Ridho ternyata ngejar aku sama pak Karan.
"Kalian mau kemana?" tanya Ridho yang menarik tanganku.
"Ehm, mencari tambahan kayu bakar," aku jawab mendahului pak Karan.
"Tidak perlu, kamu di tenda aja. Biar aku dan pak Karan yang mencari..." kata Ridho posesif.
"Kita bikin api unggunnya saja dulu, kalau kurang nanti kita baru cari kayu bakarnya lagi. Lagian hutan ini berbahaya, inget pesan nenek Karla, Va..." ucap Ridho.
Ah, kan untung Ridho mencegahku. Aku sampai lupa kalau aku nggak boleh sampai ketemu sama sosok itu, dia nggak boleh menyentuh apalagi melukai ku walaupun dengan ujung kukunya sekalipun.
Akhirnya aku melepaskan genggaman tangan pak Karan dan memilih untuk mengikuti Ridho balik ke tenda. Aku liat pak Karan berjalan di belakang kita berdua.
"Kamu duduk disini, udara dingin. Kamu pasti butuh sesuatu yang hangat," Ridho nyuruh duduk.
Sekarang Ridho dan pak Karan lagi nyalain api unggun, Ridho juga ngeluarin kompor yang biasa dipakai buat camping gitu.
Sekarang kita duduk mengelilingi api unggun. Masing-masing memegang gelas panas berisi minuman sereal rasa cokelat.
"Bagaimana rencana selanjutnya? kita sudah menemukan air terjun ini, lalu apa yang harus kita lakukan?" tanya pak Karan.
"Gimana, La? ada petunjuk lagi dari nenek kamu?" tanya Ridho.
"Belum," jawab Karla santai.
"Shiiiit! lalu kita harus menunggu sampai kapan!" pak Karan nggak sabar.
"Sabar, Pak! kita nggak boleh bertindak sembarangan, salah-salah nyawa kita semua yang jadi taruhannya..." kata Ridho.
Ya emang dalam keadaan kayak gini tuh, kita nggak boleh grusa-grusu. Jadi makin kesengsem deh aku sama Ridho.
"Jangan senyum-senyum, nanti kesambet!" Karla nyeletuk.
Dih sirik banget nih orang-orangan sawah. Mulut juga mulut aing, mau ketawa kek mau senyum juga terserah aing. Kenapa dese yang repot coba.
"Pokoknya, jangan ada yang keluyuran malem-malem, disini energinya kuat banget. Terutama kamu, Reva. Jangan ngeloyor pergi sendirian," Ridho natap aku.
"Iya, Dho..."
__ADS_1
"Dengerin tuh, jangan kabur-kaburan yang ujungnya nyusahin orang," Karla nyeletuk lagi.
"Dih, kayak bensin, nyamber aja!" aku ngejawabin omongannya Karla.
Fix ini orang cari masalah mulu deh, maklumin aja udah yang abis ditolak cintanya sama Ridho jadi begitu tuh bawaannya sensi mulu.
"Sudah malam, lebih baik kita semua masuk tenda," kata pak Karan.
Tendanya tuh gede, cukuplah buat kita berempat. Lah tapi gimana ini cara ngaturnya siapa tidur disamping siapa.
Karla masuk duluan ke dalem, dan pas aku mau masuk aku ngeliat gadis kecil berdiri lumayan jauh dari tenda, dia menampakkan sebagian badannya dan melambaikan tangannya memintaku mendekat.
Aku yang merasa kalau ada yang pengen disampein tuh bocil pun berniat mendekat. Tapi tanganku di cegah Ridho
"Kamu mau kemana? tendanya disitu bukan disana," Ridho membalik badanku menghadap tenda.
"Di luar semakin dingin, cepat masuk!" kata pak Karan.
Akhirnya aku pun masuk ke dalam tenda, dengan seribu tanya yang tersimpan dalam benak. Apa yang ingin disampaikan hantu itu.
"Geser!" aku nyuruh Karla mepet ke pojokan, ya kali dia tiduran di tengah-tengah gitu.
"Kamu aja sana yang dipojok!" Karla nggak mau kalah.
"Ridho sama pak Karan nggak bisa masuk kalau badan kamu udah ngalang-ngalangin kayak gini," aku sewot ama ini perempuan.
"Ya ampuuun, kalian bisa nggak sih jangan ribut?" Ridho mencoba menengahi.
"Karla kamu geser ke pinggir, nanti aku akan taruh tas di tengah buat pembatas," kata Ridho.
Dan setelah Ridho yang nyuruh, nih wanita ondel-ondel mau bangun juga.
Ridho ngambil tas gede buat ditaro di tengah, si Karla dapet bagian paling dalem, terus baru aku, Ridho dan terakhir pak Karan yang deket pintu tenda.
Aku yang nggak biasa tidur tanpa bantal pun susah nyari posisi yang pewe daritadi. Yang lain mah udah tidur kayaknya apalagi si Karla, udah ngebo dari tadi.
"Kenapa, Va? kok gelisah gitu?" tanya Ridho lirih.
"Nggak ada bantal, nggak bisa tidur..." kataku jujur.
Ridho menggeser sedikit tas yang ada diantara kami, lalu dia menjulurkan tangannya ke arahku.
Dia menepuk lengannya, "Tidur disini," kata Ridho.
Aku pun menoleh dan melihat Ridho yang juga lagi menatap aku saat ini.
...----------------...
__ADS_1