Mendadak Dikejar Setan

Mendadak Dikejar Setan
Cing Ciripit


__ADS_3

Aku yang notabene perempuan yang juga merangkap sebagai istri kangmas Ridho Menawan ini pun agak emosi gitu ya ngebaca chat-annya si Rimar. Iya tau mereka sama-sama asistennya pak Bagas. Da ya aku tau, selama ini Rimar yang suka handle kalau kangmas lagi ngurusin aku. Tapi nggak gini juga dong. Masa iya, di chat itu dia minta tolong Ridho beliin minuman datang bulan plus pampersnya.


Walaupun disitu Ridho nyuruh OB lagi, tapi kan kesannya nggak enak banget gitu. Sedeket apapun aku juga nggak pernah tuh minta tolong adek sepupu buat beliin barang-barang yang sifatnya privacy kayak gitu.


"Kok bikin kesel, ya?" aku tutup chatnya dan taruh hape kangmas persis di samping hapeku. Aku coba atur napas, soalnya kalau emaknya lagi dongkol, si jabang bayi yang di dalem sini suka koprol-koprol nggak jelas.


Udah mau jam 5, tapi kangmas belum pulang juga. Mau nelfon, lha wong hapenya aja ada di rumah.


"Atau aku telfon pak Bagas aja ya? Ah tapi nggak enak lah, masa iya sampai harus telfon ke bosnya cuma buat nanyain 'suami saya ada dimana, Pak?'. Nggak banget deh," aku bimbang.


Perasaanku udah nggak enak soalnya, mau maghrib. Di rumah sendirian, mban Rina juga lagi nggak ada.


"Apa aku telfon bu Ella aja ya? minta tolong ditemenin gitu? firasat udah nggak enak soalnya," batinku.


Aku ambil hape dan mulai menghubungi bu Ella selaku ibu RT dan kepala suku di kompleks tercinta ini, "Halooo, bu Ella..."


"Halooo, bu Reva. Tumben nelfon ada yang perlu saya bantu, Bu?"


"Deuuh, bu Ella udah kayak customer service bank aja,"


"Oh ya jelas dong, Bu. Saya kan harus seramah mungkin terhadap warga," kata bu Ella.


"Bu Ella ada di rumah?"


"Saya? kebetulan saya lagi keluar ini, Bu. Lagi nemenin anak makan di luar, emangnya ada apa ya, Bu?"


"Ah, nggak Bu Ella, saya cuma mau lapor. Tadi ada orang aneh yang sempet ke rumah saya. Orangnya nyeremin ibu-ibu yang ngakunya pembantu yang dikirim buat jadi pembantu sementara di rumah saya, Bu. Padahal saya kan nggak lagi nyari pembantu. Pokoknya hati-hati aja, Bu. Kali aja itu ibu-ibu setres, dan masih berkeliaran di kompleks kita ini. Dia sempet mau mencelakai saya loh, Bu..." kataku.


"Wah, terima kasih banget infonya ya, Bu Reva. Saya share info ke grup, biar ibu-ibu yang lain juga waspada, nggak asal menerima tamu yang nggak dikenal," ucap bu Ella.


"Ya sudah, saya tutup telfonnya, Asaalamualaikum," ucapku.

__ADS_1


"Waalaikumsalam," sahut bu Ella.


Pupus sudah harapanku ditemenin bu Ella. Langit perlahan mulai menjingga. Aku nyalain tuh semua lampu yang ada di lantai bawah. Kebapa disaat nggak adaborang, barulah kejadian-kejadian aneh muncul.


Nih kayak sekarang nih, aku lagi duduk di ruang tengah. Tiba-tiba ada suara orang nge-flush tadi dalam toilet. Nggak mungkin cicak-cicak di dinding diam-diam nge-flush closet.


Pura-pyra nggak denger aja udah. Mau lari? nggak bisa. Perut udah gede begini, salah-salah bisa kepleset dan ngebahayain dedek yang di dalem sini.


Aku nggak bisa minta tolong siapa-siapa lagi selain minta Arlin buat dateng kesini. Dah lah aku alesan aja ada hal yang pengen aku bicarain tentang perusahaan, biar nggak keluatan-jeluatan banget kalau sebenernya tuh kita lagi takut ya dan minta ditemenin gitu.


"Halo, Lin?" aku tempelin hape di kuping.


"Halo juga, Nona..."


"Lin? kamu bisa ke rumah saya sekarang? ada hal yang pengen saya omongin masalah perusahaan," kata ku dengan penuh wibawa.


"Maaf, Nona. Tapi saya sedang nganterin temen ke rumah sakit. Dia demam tinggi," ucap Arlin.


"Sekali lagi, maaf. Nona..." ucap Arlin.


Pasti si Etan udah nguping pembicaraan aing di telepon sama si Arlin. Buktinya ada suara ketawa-ketawa renyah di dalam toilet. Ngledek emang nih makhluk.


Udah, aku nggak ada harapan lagi selain pak Karan. Aku nggak mungkin diem disini menunggu dieksekusi sama makhluk yang entah kenapa bisa nongol lagi. Padahal kan sebelumnya hidup kita udah ayem tentrem. Emang setan nggak tau diri lu!


"Daripada aku kenapa-napa," aku nggak boleh egois. Prioritasku nyelametin nih bayi dari makhluk-makhluk jahanam.


Perlahan aku yang di ruang tengah, bergerak ke ruang tamu, biar kalau ada apa-apa aku bisa kabur keluar. Minta tolong siapa kek.


Aku sakuin hape kangmas, dan ditangan aku bawa hape dan mulai ngehubungin pak Karan, "Ha-halo..." ucapku. Sementara suara tawa itu makin kenceng aja.


"Ada apa, Reva?" tanya adek sepupu.

__ADS_1


"Kamu sedang bersama siapa? suruh orang yang lagi sama kamu diem dulu jangan tertawa terus," lanjutnya.


"Emang kedengeran ya?"


"Iya. Makanya suruh dia diem dulu," sahut pak Karan.


"Bisa kesini?" tanyaku.


"Bisa, apa ada hal yang penting,"


"Ada. Ada satu makhluk yang bersamaku saat ini. Ridho belum pulang, tolong aku..." ucapku pada adek sepupu.


"Shiiiiiit?!! Tunggu, aku segera kesana. Jangan lari ataupun melakukan hal yang berbahaya!" pesan pak Karan yang nada suaranya langsung berubah menjadi serius.


Aku tutup telfonnya.


Aku dengan perut yang udah lumayan gede, berusaha jalan dengan sangat pelan supaya nggak menimbulkan suara. Saat aku berusaha membuka kunci pintu depan. Pintu toilet yag ada di ruang tengah kebuka.


Aku baru juga muter kunci, dan mau narik handle tiba-tiba ada suara persis di telingaku, "Mau kemana? bukankah ini waktunya kita untuk bermain-main?"


"Cing ciripit, tulang bajing kacapit. Kacapit ku bulu pare. Bulu pare seuseukeutna. Jol padalang mawa wayang, jrek jrek nong jrek jrek nong..." dia nyanyiin lagu yang aing pun nggak ngerti.


Aku cuma denger cepirit cepirit, lagu apa itu. Aku mematung sesaat, bulu kudukku merinding.


Perlahan baju belakangku ada yang menarik, aku nggak mungkin lari. Posisiku sekarang nggak memungkinkan, aku cuma berdoa ada yang datang buat ngusir nih setan yang sempet kabur waktu diadain pengajian dan sekarang tiba-tiba nongol lagi.


Yasaalaaam, kita pengen hidup tenang nggak ada gangguan tapi nggak bisa gitu.


Dia membuka telapak tangannya, dan dia ambil telunjukku dan mulai lagi menyanyikan lagu cipirit tadi.


"Cing ciripit, tulang bajing kacapit. Kacapit ku bulu pare. Bulu pare seuseukeutna. Jol padalang mawa wayang, jrek jrek nong jrek jrek nong..." dia nyanyiin lagu dengan nada yang serem-serem sedap sambil jari telunjykku kayak ditutul-tutulin gitu ke telapak tangannya. Dan terakhir, telapak tangannya yang kebuka tiba-tiba kayak mau nangkep jariku yang spontanitas aku tarik.

__ADS_1


"Sepertinya kamu mulai mengerti cara bermain dengan lagu ini," ucapnya tersenyum menyeramkan.


__ADS_2