Mendadak Dikejar Setan

Mendadak Dikejar Setan
Bisikkan Di Telinga


__ADS_3

Brrrrrraaaaaaakkkk!


Munculah Ridho?


Bukan!


Bukan Ridho, tapi hantu kuku panjang dengan rambut menjuntai ke depan menutupi seluruh wajahnya.


Dia memekik, "Dia milikku, jangan sekali-kali kau menyentuhnya, karena aku yang paling berhak mengambil jiwanya," sosok itu menghempaskan wanita yang sedang mencengkram leherku dan pak Karan.


Baru kali ini aku bersyukur hantu itu datang. Minimal memperlambat ketewasan kami berdua. Aku dan pak Karan terjatuh.


"Pak, Pak Karan!" ucapku yang mendekat ke arah pak Karan.


"Ini bukan daerah kekuasaanmuuu!" teriak Belevia.


"Tapi jiwanya milikku, dan hanya aku yang boleh membawanya,"


Sementara kedua hantu itu sedang adu kekuatan. Aku menopang kepala pak Karan di pahaku. Akikah tepok-tepok pipi si bos, "Pak pingsannya nanti aja. Minimal kita harus kabur dulu dari sini, Pakk!"


Aku mencoba menyadarkan pak bos, aku menyeka darah yang ada di wajahnya dengan ujung dress plum yang aku pakai.


"Maaf ya, Pak! aku nggak sengaja loh nyuruh hantu yang ada di kamarku ke kamar Bapak. Aku kira Bapak cuma bakal jejeritan manja aja, Pak!" seketika aku merasa bersalah.


Pak Karan masih anteng, memejamkan matanya, "Pak! bangun, Pak. Kita harus cepat kabur, ini satu-satunya kesempatan yang kita punya," aku menggoyangkan badannya. Seketika aku teringat saat di rumah Karla. Ketika Ridho mencegahku pergi.


"Coba aja kita nggak ke hotel ini, semua ini pasti nggak akan terjadi, Pak..." aku menangis, aku nggak tau lagi harus gimana. Kabur juga nggak bisa, nggak ada yang bisa aku lakukan selama pak Karan belum sadar sepenuhnya.


Awalnya aku berharap Ridho yang datang, tapi harapan hanya tinggal harapan, yang datang malah makhluk yang tak diharapkan.


"Harusnya aku, harusnya aku itu nggak main pergi... huhuhuhu, sekarang keluar dari kandang macan masuk ke kandang buaya, sama-sama apesnya! Pak Karan, sadar dong, Pak! kita harus cepat menyelamatkan diri," aku dekap kepala pak Karan, air mataku udah mblewer hidung pun udah kembang kempis.


Aku melihat sela jari yang terpasang cincin batu merah kini melepuh, "Aaakkkkh," aku mencoba melepaskan cincin dari jari manisku tapi nggak bisa. Aku nggak bisa nahan sakitnya kulit yang melepuh bergesekan dengan benda berbentuk lingkaran itu.


Makhluk kuku panjang itu membuka mulutnya, dan mengeluarkan cairan berwarna hitam pekat yang berbau busuk, lebih busuk dari rambutnya yang sudah sekian abad nggak shampoo-an. Dia beberapa kali menyerang Belevia yang mencoba bertahan dengan segala kekuatannya.


"Rrrrrrrrrrrrrghghhhh!" makhluk kuku panjang memekik dan disambut jeritan Belevia.


"Aaaaaaaaaaaaaaakhhh,"


Belevia mengeluarkan bola api yang ia keluarkan dari kedua tangannya. Ia membuat gerakan memutar, ia mengarahkan bola berwarna merah itu pada hantu yang memakai gaun putih.

__ADS_1


"Aaaaaaaaaaaaaaaarrrhh," Belevia memekik.


Dan.


Wuuuuusssss...


Bola api itu hanya menembus tubuh si hantu kuku panjang tanpa melukainya sedikit pun.


"Hahahahahaha," si hantu kuku panjang menertawai Belevia.


"Sialan!" Belevia mengumpat saat kekuatannya tak bisa melukai sosok yang ada di hadapannya.


"Walaupun kau kerahkan semua kekuatanmu, itu tak akan cukup memusnahkanku!" hantu itu tertawa.


Melihat kedua hantu yang sedang mengadu kekuatan masing-masing, aku masih berusaha membangunkan pak Karan, si bos galak minim akhlak.


"Pak, bangun, Pak! mumpung mereka lagi sibuk sendiri, kita bisa kawin lari, Pak. Eh, lari nggak pakai kawin maksudnya, Pak..." aku ngomong sambil nangis, aku cek nafasnya. Masih ada.


Lalu aku sedikit mengangkat tubuh bagian atas pak Karan, agar bisa bersandar di bahu ku. "Aaargh, astaga ... berat banget!"


Jujur aku takut dengan apa yang mungkin terjadi saat ini ditambah aku nggak tau kita sekarang ada dimana.


"Dhoooo, huhuhuhu ... Ridhooooooooooo," aku menangis menyebut nama Ridho.


Praaaaang!


Kaca jendela pecah begitu saja.


Reflek aku menunduk melindungi kepalaku dan kepala pak bos dari serpihan kaca.


Praaaaaaaaang!


Entah barang apa lagi yang pecah. Dan semua ini perbuatan siapa lagi kalau bukan kedua makhluk yang saling serang menyerang tanpa henti itu.


Brakkkkk.


Sebuah lemari melayang dan menghantam dinding.


Sreeeeeet braaaaakkkk.


Kini giliran tempat tidur yang bergerak dan terbalik.

__ADS_1


"Suwer, Paaaakk, kita harus pergi dari sini, sebelum kita dihantam dengan barang-barang itu, aarghhh," aku nggak mau mati konyol. Aku berusaha sedikit demi sedikit beringsut, memenarik tubuh pak Karan.


"Bismillah..." aku mencoba mengangkat badan pak bos. Gagal, badannya lebih jangkung dan lebih gede dari aku, aku nggak kuat. Tiba-tiba saja ada satu bisikan di telinga kananku.


"Revaaaaa..." ada suara lirih dari wanita paruh baya, rasanya tidak asing. Aku melihat sekelilingku, tidak ada orang lain selain kedua hantu itu yang masih gelud dan pak Karan yang tepar dalam pelukanku.


"Hah ... hhh ... hhh," nafasku memburu.


"Pulang, Naaaaaak! pulang, Nak. Pulang, Nak..." suara itu diucapkan berulang-ulang dan membuat telingaku berdengung.


"Pulang, Naaak. Kami menunggumu, kami menunggumu, kami menunggumu..."


"Aaaaaaaakhhhhhh!" aku melepaskan tanganku dari tubuh pak Karan dan aku gunakan untuk menutup kedua telingaku yang terus berdengung, sangat menyakitkan.


Dan gerakanku yang tiba-tiba itu membuat pak Karan jatuh dan mulai sadar, "Rev ... Reva,"


Pak Karan perlahan bangkit menangkup kedua wajahku.


"Aaaaaaaaaaaaakkkkkkhhhhh!" aku menutup telingaku, entah apa yang ingin dikatakan wanita itu, yang jelas aku merasakan sakit yang teramat sangat.


"Reva, Revaaaa kamu kenapa, Reva?" pak bos panik, dia memelukku.


Kalau aja kupingku ini nggak sakit, aku pasti akan ngomong sama pak bos. Daripada kita peluk-pelukan mending kita kabur aja, Pak.


Dan Jederrrrrrrr.


Sebuah kilatan cahaya menembus tubuh Belevia.


"AAAAAAAAAAAARGHHHHH!" wanita dengan gaun merah itu memekik. Tubuhnya melengkung seperti busur sementara rambutnya yang panjang menjuntai ke bawah.


Satu nama yang dia teriakkan "Kareeeeeel..."


Tiba-tiba sebuah cahaya merah keluar dari tubuh Belevia yang melayang. Cahaya itu berpendar di sekeliling ruangan ini, dan munculah kilas balik kejadian di masa lalu seperti sebuah film yang diputar ulang.


Sosok Belevia memakai gaun berwarna merah dengan senyum yang merona. Ia berjalan masuk ke dalam sebuah rumah dengan membawa kue di tangannya.


Rumah tampak sepi, namun Belevia tetap berjalan. Nampaknya ia sedang mencari seseorang. Belevia yang sangat cantik dengan rambut digerai itu terus bergerak, dan dia berhenti di depan sebuah pintu ber-cat putih.


Belevia memegang handle dengan satu tangannya, dan membuka pintu itu dengan gerakan tiba-tiba, "Karel...!" dia meneriakkan nama seseorang.


Dan seketika kue yang ada di tangannya mendadak jatuh.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2