
"Kamu siap-siap. Kita pulang sekarang!" perintah adek sepupu. Mona bergeser ke sampingku.
"Ridho mana?" aku celingukan nyari kangmas.
"Dia masih ngurusin rumah kontrakan," jawab pak Karan.
"Lah terus?"
"Terus sekarang kamu masuk, ganti baju dan kita pulang sekarang juga..." ucap pak Karan gemes.
"Emang Ridho nyuruh kayak gitu?"
"Iya, Revaaaaaaaaa! cepetan siap-siap sekarang juga!" kata pak Karan.
"Ya udah, tunggu bentar!"
"Eh...." aku balik badan mau nanyain satu hal.
"Ada apa lagi? huufh," pak Karan hembusin napasnya kesal.
"Terus bu Ratmi gimana?"
"Bu Ratmi ya tidak ikut kan rumahnya disini, kamu tinggal pamitan!" kata pak Karan.
"Maksudnya nggak apa-apa kita tinggalin disini?" aku ragu.
"Ini rumahnya, Reva. Lalu apa yang kamu khawatirkan? kecuali kamu tinggalkan Bu Ratmi di kota orang!" pak Karan udah gregetan banget, keliatan dari rahangnya yang mengeras kaya nahan marah.
"Ya udah sih! nggak usah marah-marah juga, orang aku cuma nanya, kok!" aku mlengos gitu aja masuk ke dalem.
"Gimana, Mbak?" tanya Mona.
"Ya udah, kita beresin tas terus pulang!" ucapku.
Mona pun menurut, dia cepetan ganti baju dan beresin tas. Setelah seleaai, kita berdua nyari bu Ratmi di dapur yang kayaknya lagi masak buat makan malam.
"Bu..." aku panggil bu Ratmi yang lagi madep kompor.
"Eh, Nak Reva. Ibu lagi masak semur jengkol, yerus itu juga ada telur dadar sama cah kangkung," kata bu Ratmi.
"Kita mau pamit, Bu..."
Tapi Mona kayaknya ngiler banget itu liat semur jengkol yang ada di wajan.
"Loh, memangnya Nak Ridho sama Bapak sudah balik kesini?" tanya bu Ratmi.
"Ridho dan pak Sarmin masih ngurusin rumah kontrakan, Bu. Dan sekarang kita dijemput sama pak Karan,"
__ADS_1
"Kalau begitu kita makan malam dulu, sebelum kalian pergi..." kata bu Ratmi.
Aku nggak bisa nolak kalau disuruh makan masakannya bu Ratmi. Makanan rumahan tapi rasanya itu endul banget.
"Sudah siap?" tanya pak Karan.
"Bu Ratmi udah terlanjur masak, kita makan dulu baru berangkat..." ucapku.
"Baiklah..." pak Karan mode pasrah.
Aku dan Mona ikut bantu nyiapin makan di ruang tamu, masih mode lesehan. Pak Karan juga manggil dua pengawalnya buat makan, itu juga karena aku yang nyuruh. Ya gimana, kasian juga udah ngejogrog seharian di depan rumah udah kayak patung selamat datang, eh nggak ditawarin makan sebagaimana mestinya. Tapi keliatan banget mereka berdua kayak tertekan gitu makan bareng bosnya.
"Ayok dimakan, Nak.."bu Ratmi menawari kami semua.
Mona langsung aja nyamber lauk incarannya, semur jengkol. Imi anal doyan banget makan, apa aja dia embat, apalagi kalau ada sambelnya, beuuuh dia bakal nambah dua piring dijamin itu.
Aku yang liat Mona ambil jengki pun, jadi ikutan ngambil juga.
"Yang kamu ambil itu apa? bulat tapi gepeng," tanya pak Karan.
"Oh ini, masa Bapak nggak tau ini apa?" aku nunjukkin makanan yang bikin orang kalap makan.
"Ini namanya kentang gepeng!" aku ngomong lirih.
"Atau baby potattoes?" tanya Pak Karan.
Dia ngambil satu dan diliatnya secara seksama. Aku yakin sih, dia nggak pernah makan tuh jengkol. Secara dia kan kaya dari orok, mana tau soal makanan yang nikmatnya bisa bikin melayang sampai ke langit ke tujuh .
"Ck! kamu kira saya tidak tau? ini bukan kentang gepeng! ini JENGKOOOOL!" ucap pak Karan yang selesai mengendus makananya terlebih dahulu.
Bu Ratmi yang mendengar kegaduhan kita pun cuma geleng-geleng kepala. Sedangkan Mona, dia udah kalap dari tadi. Nhgak urus dia sama perdebatan antara aku dan pak Karan.
"Kirain orang kaya nggak tau jengkol..." aku bergumam.
Baru juga mau ngambil jengkol dari piring adek sepupu, tanganku dia geplak.
"Kalau mau, sana ambil sendiri!" kata pak Karan.
"Iiihhh,"
Lah bijimane nih orang absurd banget, mau aku ambil tuh jengki nggak boleh.
Baru juga bilang gitu, pak Karan mulai nyuapin makanan ke mulutnya. Termasuk kentang gepeng yang jadi perdebatan kita tadi.
Aku cuma bisa melongo, ngeliat dia makan dengan santainya.
"Nanti ada nyamuk masuk!" ucap pak Karan yang ngeliat mulutku terbuka, dia jejelin satu jengki ke dalam mulutku.
__ADS_1
Mau nggak mau aku kunyah itu makanan yang udah ada di mulutku.
Selesai makan, kita pamit sama bu Ratmi. Sebenernya ya nggak tega ninggalin dia sendirian di rumah. Tapi aku juga bingung kalau disini terus-terusan.
"Bu, saya pamit. Maaf kami sering merepotkan..." ucapku.
"Tidak apa-apa, Nak. Ibu malah senang, rumah jadi tidak sepi..." kata bu Ratmi.
"Bu, saya juga pamit!" kata Mona.
"Hati-hati, Nak Mona..."
Kalau pak Karan cuma salaman aja, dia mungkin lagi irit ngomong perkara mulut sekarang pada bau naga semua.
Ternyata pak Karan adalah pak Karan, dia nggak mau ditolong secara gratisan. Dia memberikan sejumlah uang pada bu Ratmi, ya walaupun bu Ratmi sudah menolak. Tapi manusia yang satu itu tetap memaksa sampai bu Rai mau menerima apa yang dia taruh di dalam sebuah amplop berwarna coklat.
Definisi orang nggak mau hutang budi ya kayak gini. Semuanya dia anggap bisa selesai sama uang.
Di dalam mobil ini cuma ada kita bertiga, aku duduk di depan sama adek sepupu sedangkan Mona duduk di kursi belakang sendirian. Selama di perjalanan, mobil pengawal ada di belakang, ngikutin kita.
"Mbak? mas Ridho nanya, itu hapeau sampe kapan matinya?" tanya Mona.
"Sampai aku mood nyalainnya lagi! balesin kayak gitu aja, Mon!" kataku.
Mona diem, mungkin dia lagi ngetik buat balesin chat nya kangmas.
"Ini kita baliknya krmana berarti?" aku enngok ke adek sepupu yang lagi ngemut permen.
Mungkin dia nggak pede dengan bau yang bakal keluar dari congornya itu.
"Ke rumah," jawab mantan bos.
"Iya, tauuuu. Tapi rumah yang mana?" aku gemes banget.
"Ya rumah!" kata pak Karan yang nggak mau ngasih tau.
Percuma kalau aku tanya lagi, dia pasti jawabannya nyebelin. Jadi aku mending diam dan merem.
"Heh, jangan tidur!" kata pak Karan yang nusuk-nusuk lengan aku pakai jarinya.
"Ngantuk!"
Sabodo amat lah sama adek sepupu aing, daripada sepi dia nyetel musik. Daritadi kek ya biar nggak krik-krik. Nggak nyangka orang macam batu kayak dia ternyata suka banget musik-musik melow. Musik yang enak banget buat pengantar tidur. Aku yakin di belakang Mona juga udah molor, soalnya kayak udah nggak ada pergerakan apapun dari arah belakang.
Breeeeessssss!!!
Dan hujan pun turun di tengah-tengah lagu yang lagi aku nikmatin.
__ADS_1
"Semoga nggak ada kejadian yang aneh-aneh," ucapku dalam hati.