Mendadak Dikejar Setan

Mendadak Dikejar Setan
Waktu Berjalan Terlalu Cepat


__ADS_3

2 tahun kemudian...


Ngerti nggak kalau ditinggal pas sayang-sayangnya itu satu hal yang bikin kita suka gagal move on dari hubungan yang sebelumnya. Aku udah nggak pernah ketemu Ridho selama dua tahun ini. Udah kayak ditelan bumi aja tuh orang.


Hubungan kita juga ngegantung, nggak ada kejelasan. Putus atau lanjut, semuanya dibiarin aja kayak proyek mangkrak karena ditinggal pemborongnya.


Ah, Aku nggak mau mikirin itu, karena sekarang aku lagi fokus ke karir dulu aja dan ngebiayain Ravel kuliah. Hidupku cukup aku dedikasikan buat keluarga.


Aku udah nggak tinggal dengan pak Karan, aku tinggal sendirian di apartemen. Tenang aja, aku nggak bakat jadi sugar baby, jadi hidupku yang sekarang ini jauh lebih baik karena aku dihibahin satu perusahaan yang masih dibilang kecil lah ya kalau dibandingin sama Perkasa Group. Itu yang bikin aku sanggup buat tinggal di apartemen dan bukan di kosan kecil yang cuma pake kipas angin buat ngilangin gerah


Masalah perusahaan, awalnya aku nolak, karena aku ngerasa kalau ini terlalu berlebihan dan aku nggak mau berhutang budi terlalu banyak sama adek sepupu.


Tapi pak Karan bilang kalau ini sebagai bentuk rasa pertanggungjawaban dia sama aku dan mama berserta Ravel yang karena papaku yang akhirnya menghadap tuhan pas nolongin ibunya pak Karan. Ya udah lah akhirnya aku terima tuh perusahaan meakipun aku nggak ada pengalaman dalam hal pimpin-memimpin.


Jangankan ngurusin perusahaan, ngurusin perasaan aja nggak kelar-kelar.


Tapi pak Karan kayaknya tau soal itu, dia kasih aku asisten yang pinter. Jadi aku cuma ongkah-ongkah kaki aja. Aku naikin satu kaki diatas kaki yang lain sambil duduk sambil mainin pulpen tanpa harus mikir hal-hal berat.


"Ini pisang crispy pesanan anda, Nonaa!" ucap Arlin.


Aku turunin kaki dan duduk dengan elegan, tenang aing pakai celana panjang, jadi nggak ada tuh paha plus segitiga bermuda keliatan dan diobral kemana-mana.


Aku liat papper box yang dia taruh di meja, "Gula halus dan bubuk kayu manis?" ucapku.


"Ya, seperti yang anda inginkan..." jawab Arlin.


"Ya sudah kamu boleh pergi," kataku.


Ngeliat bentukannya nggak sama dengan yang bu Ratmi bikin waktu itu. Tapi karena lagi pengen banget, jadilah aku nyoba satu potong dan memasukkannya ke dalam mulutku.


"Bener dugaanku ... rasanya nggak sama," aku ngomentarin pisang goreng crispy yang dibelikan Arlin.


Kalau ada yang nanya aku masih bisa ngeliat setan atau nggak, jawabannya masih. Tapi nggak sesering dulu, dan kalaupun ngeliat aku nggak bereaksi berlebihan.


Aku cenderung nyuekin mereka, aku nggak mau lagi ada interaksi yang bikin mereka ke GR-an dan pengen mengusik kehidupanku yang udah tenang ini.


Bukan hanya menjaga pandanganku dari setan-setan yang terkutil itu, tapi sekarang aku juga menjaga apa yang aku makan. Biar badanku nggak melar kayak karet gelang yang dikasih minyak tanah.

__ADS_1


Hari-hariku cuma dihabisin dengan kerja, balik ke apartemen dan olahraga. Mama sering nanya kapan kawin, tapi sampai saat ini aku nggak ada niatan buat mikirin hal itu.


Aku lagi nggak mau berhubungan dengan siapapun, enakan juga kayak gini. Sendirian tanpa ada tekanan dan harapan yang tak kunjung menemui jalannya.


Baru juga dipikirin, mama tau-tau nelfon, "Ya, halo ... mama sosialita?"


"Kurang ajar kamu, Reva! bisa-bisanya nama mama diganti seenaknya!" mama ngomel.


"Hadeeeuuuh, arisan udah nyampe kemana-mana, sosialita aja nggak ngerti. Aih, mama nih..."


"Sosialita itu buat sebutan mama-mama hedon yang suka beli dan pamer-pamer barang-barang mewah itu loh, Mah..." lanjutku, menyudahi kesalahpahaman ini.


"Ohhhh, itu..."


"Mama ada apa nelfon? tumben?" tanyaku.


"Mama nelfon dibilang tumben. Nggak nelfon dikira lupa sama anak yang merantau, dan dibilang lebih sayang ke Ravel. Ih, mama jadi serba salah jadinya!"


"Hahahahahaha, ya nggak Mah. Kali aja ada hal penting gitu yang pengen mama sampein..." kataku.


"Ngomong aja lagi, Mah. Nggak usah pakai galau segala..."


"Tapi kamu jangan marah ya, Va. Maksudnya kalau kamu nggak setuju juga nggak apa-apa sih ... mama cuma..."


"Mama mau minta restu buat kawin lagi?" aku nyerobot omongan mama yang belum selese.


"Ck, ih! kamu nih, ada-ada aja. Ngapain juga mama kawin lagi? udah tua, malu sama umur!" kata mama.


"Siapa yang bilang mama tua? aku jamin dia harus periksa mata tuh ke dokter THT!" ucapku.


"Iisshhhh, ngawur kamu, Reva! periksa mata kok ya ke THT?"


"Terus apa, dong? ngomong aja kali, mah. Nggak usah pakai bab pendahuluan segala, kayak lagi mau bikin karya tulis, ajah" kataku.


"Begini, Va ... kemarin Ravel ngomong sama mama, kalau dia ... udah punya pacar..." ucap mama hati-hati.


"Ya bagus dong, berarti dia laku! nggak sia-sia tancap skincare tiap malem. Terus apa masalahnya?"

__ADS_1


"Masalahnya, cowoknya ini seumuran sama kamu," kata mama.


"Ya kalau cowoknya lebih tua ya nggak apa-apa, emang kenapa? mukanya boros apa gimana?"


"Iishhhh, dengerin mama dulu, Revaaaa" ucap mama, gregetan banget nih sama aku.


"Oke oke, aku dengerin, Mah..."


"Ya, tadi sampai mana ya? oh, ya ... hemmm ... jadi pacarnya si Ravel ini kan seumuran sama kamu, dan dia bilang kalau mau ngelamar Ravel..." mama ngomong dengan suara yang terdengar ragu.


"Ya, kalau Ravelnya suka ya---"


"Kalau kamu nggak setuju nggak apa-apa, Va! mama nggak mau ngebebani kamu..." potong mama.


"Ngebebani apa sih, Mah? ya kalau Ravel dan cowok nya udah mantep mau tunangan ya, udah nggak apa-apa. Aku nggak ada masalah..." kataku mencoba tetap ceria.


"Mama udah ngomong sama Ravel buat nungguin kamu nikah dulu,"


"Apaan sih, Mah? mama masih aja nurutin pakem kayak gitu? kalau aku nikahnya ntar umur 40, nah itu si Ravel bakal disuruh nungguin juga?"


"Apaaaaaa???!!! jadi kamu mau nikahnya umur 40...?!!!!!" mama terkejut.


"Astaga, ya nggak. Ini kan misalnya, Mah. mama nih suka bikin jantung aku koprol deh,"" aku coba nenangin mama.


"Ya abisnya kamu kalau ngomong asal nyeletuk aja, nggak dipikir dulu. mama kan jadi takut kalau bener iya kamu nikahnya umur 40 apa kata tetangga? Kamu mau dicap perawan tua? mama sih maunya kamu dulu, Va! daripada ntar jadi bahan gibahan 'eh, jeng? si Reva kok nggak kawin-kawin? nggak laku ya?' kalau denger kayak gitu kan mama jadi kepikiran, Va..."


"Mama nih, udah jaman canggih kayak gini masih aja ngurusin omongan tetangga. Mah, mereka nggak berhak buat ngatur hidup kita, bayarin air dan listrik juga nggak, kan? jadi selow aja udah. Kalau Ravel maunya gitu. aku setuju asal cowoknya emang udah terseleksi dengan baik ya, aku nggak mau adek aku itu disakitin karena salah pilih pasangan. Dan dia harus selesein kuliah, walaupun nanti dia udah nikah atau gimana..." kataku sok bijak.


"Reva..." ucap mama dengan suara yang bergetar.


"Jangan melow gitu, Mah. Aku bahagia kalau adek aku juga bahagia..." kataku.


"Ya udah, mama mau nyiapin bahan buat masak buat makan malam. Kamu jaga diri baik-baik, jangan bekerja terlalu larut!" perintah mama.


"Oke, Mah. Siap laksanakan!" ucapku sebelum menutup telepon dari kanjeng mami.


Aiih, gercep banget tuh Ravel ngegebet orang. Ternyata waktu udah berjalan terlalu cepat, sampai aku nggak menyadari kalau adekku itu lagi tumbuh menjadi bunga yang diincar setiap kumbang.

__ADS_1


__ADS_2