Mendadak Dikejar Setan

Mendadak Dikejar Setan
Waktunya Pindah


__ADS_3

Bener-bener si Ridho muka tembok. Dia kayak nggak ada apa-apa gitu, tenang aja udah duduk di depan Mona sama Bara.


"Ngerjain tugas apa malam-malam kayak gini?" kata Ridho yang membalikkan situasi. Nggak ada akhlak emang ini orang.


"Ya banyaklah, Masa mau disebutin satu-satu?"


"Maaf Mas Ridho. Tadi kita mampir buat makan dulu sebelum kesini..." ucap Bara.


"Bener, Mon?" tanya Ridho yang persis kayak bapak-bapak yang lagi ngintrogasi anaknya.


Kalau aku jangan ditanya, aku nggak mau ngomong apa-apa. Natap Mona aja rasanya kayaknya udah malu banget.


"Jangan dibiasain pulang malem, Mon! nggak bagus..." kata Ridho.


"Udah malem, saya permisi mas Ridho mbak Reva..." Bara pamit.


"Hati-hati, Bar..." ucap Mona.


"Sampai ketemu di kampus!" ucap Bara ke Mona.


Dan setelah Bara pergi, barulah Mona protes ke abangnya.


"Mas ngapain sih sok galak sama Bara?" Mona ngelirik sinis.


"Mas cuma nggak mau kamu kebiasaan pulang malem, Mon..." jawab Ridho.


"Kalian ada hubungan khusus?" sellidik Ridho.


"Kok nanya sampe kesitu sih, Mas? kepo deh..." ucap Mona.


"Ya jelas perlu kepo. Kan kamu adik Mas. Mas udah janji sama ibu buat jagain kamu selama disini," ucap Ridho.


"Mas cuma nggak mau--"


"Tenang aja, Mona tau gimana jaga diri. Percaya deh..." Mona bangkit dan berniat mau pergi.


"Tunggu duu, Mon!" ucap Ridho nahan Mona.


"Iya iya mas minta maaf. Mas percaya kamu bisa jaga diri, duduk dulu. Ada yabg mau mas bicarain..." ucap Ridho.


"Akhir bulan ini kita pindah kontrakan. Rumah ini sudah disewakan ke orang lain sama pak Burhan..."


"Loh kok tiba-tiba? emang kita telat bayar apa gimana?" tanya Mona.


"Pokoknya rumah ini udah ada penyewa yang baru. Jadi mulai sekarang, kamu bisa pack barang-barang kamu yang jarang kepake. Biar nanti nggak repot pas pindahan..." ucap Ridho.


"Secepetnya mas cari kontrakan baru yang nggak jauh dari kampus kamu," lanjut Ridho.


"Ya udah, kalau gitu Mona ke dalem dulu Mas ... Mbak..." ucap Mona yang keliatannya udah capek.


Mona udah pergi ke kamarnya baru aku bisa napas lega.

__ADS_1


Plaaakkk!


Reflek aku nabok lengan Ridho, "Aku malu tau, nggaaaaak!"


"Malu kenapa coba? nggak apa-apa santai aja udah, ntar juga Mona lupa..." ucap Ridho santai.


"Ya ampuuun, ini bibir kalau ngomong suka seenaknya!" aku kruwes bibir mas pacar.


"Aww! sakit tau, Va!"


"Ini gimana, aku ketemu sama Mona..."


"Ya tinggal ketemu aja apa susahnya? namanya juga udah terlanjur, mau gimana lagi?" kata Ridho.


"Udah ada Mona, jadi aku pulang, ya?" lanjut Ridho yang mau bangkit. tapi aku tarik paksa tangan dia, sampai si kangmas hampir kejengkang.


"Astagaaa, Reva!"


"Temenin dulu, aku belum siap mental ini!" ucapku narik-narik baju Ridho.


"Sekali lagi sini, biar afdol!" kata Ridho yang mencuri satu sosoran lagi secara kilat.


"Dah ya, aku pulang. Baik-baik kamu sama Mona..." ucap Ridho. Aku cuma bisa kedap-kedip kayak lampu 5 watt yang pengen diganti.


Di dalem kamar, si Mona lagi senyam-senyum sendirian. Kenapa lagi dah tuh bocah. Perasaan waktu tadi pagi dia kesel-kesel sama si Bara itu. Tapi pas pulang udah kayak orang kesambet.


"Kayak lagi seneng banget!" aku yaruh tas dan duduk di samping Mona yang lesehan di bawah.


"Emang keliatan, ya?" tanya Mona.


"Jadi aku baru tau kalau Bara sama Vena itu udah nggak pacaran. Vena kecantol ama cowok laen yang lebih tajir, kalau Bara kan orang biasa kayak kita, Mbak..." ucap Mona.


"Jadi kamu seneng diatas penderitaan si Bara yang baru putus dari pacarnya?" kataku.


"Ya nggak gitu juga, Mbak! mereka kan putus bukan karena aku, aku cuma seneng aja karena kesempatanku buat dapetin Bara terbuka lagi..." Mona senyam-senyum sendiri.


Aku geleng-geleng kepala. Mona bucin juga ternyata.


.


.


.


Beberapa hari berlalu.


Waktunya kita, maksudnya aku dan Mona buat pindahan. Sebelumnya Ridho sempet nyari kontrakan yang nggak begitu jauh dari kampus Mona. Dan untuk sementara, Ridho masih ngekos di tempatnya pak Baim karena ya ribet juga kalau ikutan pindah dalam waktu dekat.


Semua barang diturunin dari dalam mobil pick up. Kita dibantu juga sama Bara, gebetan Mona. Yang nggak tau hubungan mereka masih sebatas temen atau udah lebih dari itu.


"Tolong turunin, Bar!" seru Ridho yang turun dari kursi kemudi. Aku dan Mona yang umpel-umpelan di kursi depan berdua pun ikut turun. Sedangkan Bara, dia duduk bergabung dengan barang-barang kita.

__ADS_1


Ridho buka pintu, dan mulai bantuin Bara nurunin barang. Kalau aku dan Mona paling angkut-angkut barang yang ringan-ringan aja.


"Kalian mau minum apa? biar aku beliin di minimarket!" kataku.


"Apa aja, yang penting dingin dan manis kayak kamu," ucap Ridho.


"Howeeeekkk! mas liat-liat kalau mau ngegombal. Jiwa jomblo kita meronta-ronra tau nggak!" protes Mona.


"Ganggu aja sih, Mon! Namanya juga usaha," kata Ridho yang mulai gotongin lemari sama Bara.


"Kamu mau nitip apa, Mon?" aku nanya Mona daripada ngeladenin kangmasnya.


"Aku soda aja, Mbak...."


"Kalau Bara?"


"Samain aja, dia mah apa aja mau kok!" sahut Mona.


"Ya udah, aku ke jalan dulu ke minimarket!" ucapku.


Aku yang pakai tas selempang kecil jalan ke arah minimarket yang nggak jauh dari rumah yang mulai kita tempatin hari ini.


Mikir daripada bolak-balik, selain beli minuman dingin mending aku juga beli kebutuhan lain kayak alat bersih-bersih dan juga sabun.


"Soda, soda, soda..." aku bergerak ke lemari pendingin. Aku masukin beberapa, dan juga aku masukin cemilan beserta mie seduh ke dalam keranjang belanjaan.


Lagi susah-susahnya ngangkat keranjang yang overload, tiba-tiba ada tangan kekar yang mengambil alih keranjang dari tanganku.


"Pak Karan?" aku mengernyit.


Lah ini kenapa mantan bos bisa sampe disini. Dia nggak ngerewes aku yang masih kaget dengan kemunculannya yang secara misterius.


Dia jalam ke kasir buat ngebayar semua belanjaan aku.


"Pak Karan kok ada disini?" aku nanya abil liatin wajahnya dan juga kakinya, oke napak.


"Memangnya ini minimarket punya kamu?" tanya balik mantan bos.


"Bukan,"


"Ya sudah berarti tidak ada larangan saya untuk tidak boleh datang kemari..." ucap pak Karan.


"Berapa semuanya?" tanya pak Karan pada kang kasir, dia ngelyarin sejumlah uang cash.


"Pak, saya bisa bayar sendiri!" aku menolak dengan halus. Tapi lagi-lagi dia nggakau dengerin.


"Silakan kembaliannya," ucap si kasir laki-laki.


"Tips buat kamu!" ucap pak Karan. Dia mengambil barang belanjaan dan ngasih ke aku.


"Nih, bawa!" suruh pak Karan.

__ADS_1


Dia berjalan keluar dari minimarket begitu saja. Sedangkan aku kerepotan membawa dua keresek belanjaan yang lumayan berat.


...----------------...


__ADS_2