Mendadak Dikejar Setan

Mendadak Dikejar Setan
Sudahi Kebohongan Ini


__ADS_3

Masih untung kita dibukain pintu, padahal ini bukan jam wajar orang bertamu. Bisa dibilang Freya ini orang berada lah. Keliatan juga dari rumah emak bapaknya.


"Pagi...?" ucap seorang paruh baya yang keliatan bingung dengan kedatangan kita berdua.


Aku dan Ridho pun yang semula duduk kini berdiri dan menyalami ibu Santi secara bergantian.


"Maaf, anda siapa ya?" tanya bu Santi.


"Saya Reva dan ini suami saya, Ridho. Kami berdua datang kemari ingin memberitahu tante tentang suatu hal..." aku menatap bu Santi.


"Silakan duduk dulu," ucap bu Santi.


"Terima kasih," Aku dan Ridho duduk berdampingan berhadapan dengan bu Santi yang masih menatap kita berdua secara bergantian.


"Gimana, Dho?" aku tanya lirih Ridho.


"Jelasin aja apa yang sebenernya terjadi," kata Ridho.


"Tapi mulai darimana?" aku malah bisik-bisikan sama Ridho.


"Darimana aja,"


"Ehemmm?!" bu Santi berdehem.


"Begini, Bu Santi. Percaya atau tidak, apa yang akan dikatakan oleh istri saya ini adalah sebuah kebenaran," ucap Ridho.


"Apa itu?"


"Tentu tante sudah sangat kenal dengan Dilan," ucapku membuka pembicaraan.


"Ya, tentu..."


"Jadi, Dilan itu calon suami adik saya..."


"Tunggu-tunggu, jadi kalian itu bukan teman anak saya?" bu Santi memotong pembicaraan.


"Maaf, Bu. Kami terpaksa berbohong. Karena ibu pasti tidak mau menemui kami yang tiba-tiba saja datang sebagai orang asing," ucap Ridho.


"Dari awal saja kalian sudah berbohong, bisa saja apa yang kalian akan bicarakan merupakan kebohongan-kebohongan yang sudah direncanakan," tuduh bu Santi.

__ADS_1


"Begini saja, Bu. Biarkan istri saya melanjutkan apa yang ingin disampaikannya, selanjutnya terserah ibu mau percaya atau tidak," ucap Ridho.


"Baiklah, katakan!" ucap bu Santi yang udah nggak welcome lagi.


Emang ya, kalau sesuatu yang berawal dari sebuah kebohongan pasti hasilnya nggak bagus. Ya nggak jauh beda dengan apa yang


dilakukan bu Santi dulu.


"Ehm, begini Tante. Dilan itu calon suami adik saya, seharusnya kemarin mereka menikah. Tapi karena suatu hal pernikahan itu gagal..."


"Lalu apa hubungannya dengan saya?" tanya bu Santi.


"Memang tidak ada hubungannya dengan Tante, tapi dengan anak tante. Freya..." ucapku.


"Jangan bawa-bawa anak saya yang sudah meninggal! bagaimana bisa anak saya yang sudah tiada menjadi penyebab gagalnya pernikahan seseorang? saya kira kalian berdua ini sudah tidak waras!" bu Santi murka ketika nama anaknya disebut.


"Maaf, dengan sangat menyesal saya harus mengatakan ini. Kalau arwah Freya saat ini masih berkelana, dia mengikuti kemana pun Dilan pergi. Sekarang Freya menganggap Dilan sudah menghianatinya, dan tentunya tante yang lebih tau kejadian yang sebenarnya. Karena soal janji pernikahan yang diucapkan Dilan itu atas dasar permintaan dari Tante..."


"Omong kosong!" bu Santi mencibir apa yanf baru aja aku ucapkan.


"Sebaiknya kalian pergi. Sayabtidak mau mendengar lelucon ini," bu Santi sudah berdiri dan akan meninggalkan kami.


"Freya ... Freya akan berbuat apapun untuk menggagalkan pernikahan Dilan dan bisa jadi dia akan mencelakai adik saya. Jadi tolong, tante jelaskan pada Freya kalau selama ini dia salah paham mengartikan kebaya oengantin itu, ucapan Dilan dan semuanya! p


aku mohon, Tante..." aku sampai berlutut di depan bu Santi.


"Bangun, Reva! Sayang..." Ridho berusaha membuatku bangkit. Tapi aku nggak mau, aku pegang kedua kaki Bu Santi. Aku rela kehilangan harga diri, daripada aku kehilangan Ravel. Aku tau apa yang diucapkan Freya nggak main-main. Aku bisa melihat aura kebencian dimata wanita yang sudah berbeda alam itu.


Dan saat aku berlutut, tiba-tiba ada panggilan dari mama.


"Mama, Dho..." ucapku pada Ridho.


"Angkat," kata Ridho.


Bu Santi menggerakkan kakinya supaya terlepas dari genggaman tanganku.


"Ya kenapa, Mah?"


"Kamu dimana, Revaaa? Ravel, Ravel, adik kamu---"

__ADS_1


"Kenapa dengan Ravel, Maah?" feelingku udah nggak enak.


"Ravel tiba-tiba aja pingsan, dan sekarang sedang mengamuk, dia merusak semuaa tatanan dekorasi, bukan cuma itu dia juga merobek-robek kebaya pengantinnya. Tolong mama, Va! cepetan balik ke rumah!" ucap mama panik.


Dan ketika bu Santi akan berjalan ke dalam aku segera mengatakan ini.


"Sesuatu yang buruk sedang terjadi, dan jika tante punya hati nurani. Tante bisa ikut saya, menghentikan kebohongan di masa lalu dan menghentikan kesalahpahaman antara Freya dan Dilan. Supaya Freya bisa pergi dengan tenang..." kataku.


"Siapa yang bertamu sepagi ini, Mam?" tanya seorang pria yang lebih tua beberapa tahun dari bu Santi.


"Siapa kalian?" tanya pria paruh baya itu pada kita berdua.


"Bukan siapa-siapa, Pah. Lebih baik kita sarapan di dalam!" ucap bu Santi.


"Tante .... tante Santiiiii!" aku berteriak tapi percuma saja, dia nggak ngegubris sama sekali.


"Udah, Va! lebih baik kita pulang sekarang! ayo!" Ridho menyadarkan aku kalau Ravel lebih penting.


Kita berdua meninggalkan rumah orangtua Freya dengan tangan hampa. Bahkan sejak tadi banyak sekali telepon dari orang rumah. Mereka bilang Ravel berkali-kali pingsan, lalu bangun dengan kondisi yang menyeramkan, dia mengamuk dan merusak apapun yang ada di hadapannya.


"Suruh siapapun manggilin ustad yang bisa ngeruqyah, Va!" suruh Ridho yang gokus nyetir dengan kecepatan tinggi.


Aku yang daritadi kerjaannya cuma nangis, nelfon mbak Rosma dan ngasih tau apa yang diminta Ridho. Aku nggak bisa ngebayangin situasi di rumah sekarang, pastinya semuanya jadi gaduh dan kacau. Apalagi mama, dia pasti shock melihat anaknya yang mau menikah bisa hilang kendali seperti itu.


"Dhooo, tambah lagi kecepatannya! sini aku aja yang nyetir!" aku berusaha meraih stir yang dipegang Ridho.


"Jangan macem-macem, Va! bahaya! tenang, aku juga ini udah ngebut. Kamu duduk yang tenang!" kata Ridho.


"Gimana aku bisa tenang, Ridho? harusnya aku nggak kesini, ngelakuin hal sia-sia kayak gini! aku tuh bego banget! harusnya aku nungguin Ravel di rumah aja, kalau aku disana pasti---"


"Pasti dia tetep kesurupan juga!" sambung Ridho.


"Ingat, Va! yang Freya incar itu Ravel dan Dilan, walaupun kamu ada disana pasti Freya tetap akan ngeganggu Ravel atau Dilan. Atau bahkan keduanya, jadi stop menyalahkan diri sendiri, oke? kita kesini nggak sia-sia, ngerti?" Ridho ngelus kepalaku dengan satu tangannya.


"Sejarang kita cuma bisa berdoa, minta sama Allah supaya bisa menjaga Ravel dari hal-hal yang nggak diinginkan!" lanjutnya.


"Hikkkkks, iya, iya, Dho..." aky ngangguk sementara air mata keluar mulu.


Dalam hati, "Aku nggak bakalan tinggal diam jika Freya berani berbuat tindakan yang menbahayakan nyawa adikku,"

__ADS_1


Sementara Ridho , dia menggenggam tanganku dengan satu tangannya, "Kamu nggk akan sendirian menghadapi ini semua," dia mengecup sekilas punggung tanganku, dan kemudian fokus kembali pada jalanan.


__ADS_2