Mendadak Dikejar Setan

Mendadak Dikejar Setan
Bertemu Papa


__ADS_3

"Eeerrghhh! Mbaaaak ... Mbak Revaaaa! hiks..." Mona menangis ngeliat aku yang udah meringis kesakitan.


"Mbaaakkk, bangun Mbakkk! Mbak Revaaaaa..."


Tanpa diduga, kursi Mona ditarik dengan cepat melebihi kecepatan angin.


"Aaaaaaaaaaaaakkkkkkhhh!" Mona menjerit.


Braakkkk!


Punggung Mona menghantam tembok.


"Aakhhhh!" Mona terjatuh, berikut kursi yang dia duduki.


"Hahahhahahahahaaaa..." suara perempuan meringik, membuat telingaku berdengung.


Aku nggak tau udah berapa lama kita disini. Yang jelas aku ngerasa udara makin dingin, aku makin nggak ada tenaganya. Suara Mona bercampur dengan suara lengkingan entah dari makhluk yang mana.


Tap!


Tap!


Tap!


Ada suara langkah kaki seseorang yang kayaknya buru-buru.


Braakkkkk!


Pintu di dorong secara paksa.


"Bara?" lirih Mona sebelum dia pingsan.


Ngapain dia kesini? apa dia mau ngeliat gimana kita tersiksa atau gimana.


Bara langsung berlari ke arah Mona tanpa memperdulikan para makhluk yang ada di ruangan ini.


"Mon, Monaaaa?" teriak Bara.


"Aarghhh!" Bara tampak sibuk membuka ikatan yang melilit tubuh Mona.


"Mon, sadar, Mon?" Bara menopang tubuh Mona di pangkuannya.


Namun aksi pertolongan itu terjeda saat ada teriakan dari seseorang


"Baraaaa! apa yang kamu lakukan?!!" teriak seorang perempuan dengan mata yang melotot. Bara hanya melihatnya sekilas, lalu dia matanya beralih pada Mona.


"Maafin aku, Mon! maafin aku, Monaaaa!" Bara memeluk Mona yang sama sekali nggak bergerak.


"Feelingku emang nggak bisa dibohongi, ternyata Bara balik lagi kesini, shiiit!" gumam Vena.


"Gimana sih Ki Dhaluuuuu, katanya mantranya manjur! arrrghhhjh, ini nggak bisa dibiarin! aku harus bikin Bara balik lagi sama aku!" ucapan Vena sayup-sayup aku denger.


Dan aku yang masih tergeletak dengan darah dimana-mana, ngeliat Vena ngambil satu balok kayu dan dia perlahan-lahan bergerak mendekat pada Bara.


Langkahnya begitu halus, Bara masih sibuk menepuk pipi Mona, "Mona ... Mona? bangun, Monaaa..."


Vena kini hanya beberapa langkah aja dari Bara. Aku nggak tau siapa yang menjadi targetnya. Mona atau Bara?

__ADS_1


Vena sudah mulai angkat kayu itu ke atas dan siap memukul Bara dengan kuat.


"Nggak...!" aku menggeleng.


Tapi, dengan sisa tenaga yang masih ada aku berusaha berlari dan melindungi dua orang itu.


"Aaarrrrrrghhhhhhh!" aku udah nggak ngerasain apa-apa lagi. Badanku rasanya ngambang.


"Mbak? Mbak Revaaa?" teriak Bara.


Aku terjatuh, terkapar di lantai, dengan darah yang merembes dari mulutku sendiri.


BRAAAAAAKKKKK!!!!


"ANGKAT TANGAN!" ucap salah satu penegak hukum yang membawa pasukannya datang.


Klontraaaaanggg!


Vena menjatuhkan balok kayu yang ada di tangannya.


"B-bukan saya!" ucap Vena bergetar.


Dan...


Samar-samar aku melihat dua orang yang berlari ke arahku.


"Vaaaa ... Revaaaaaaaaa!!!!!!"


Salah satu diantara dua pria ini mendekati Bara, dan menghajarnya habis-habisan.


"Breng-sek kamu, Bar!" teriak pria itu sebelum akhirnya mendekat ke arahku.


"Maaf..." hanya kata itu yang bisa meluncur dari mulutku, sebelum semuanya menjadi padam dan sangat gelap.


Aku nggak tau ada dimana, karena sejauh mata memandang hanya ada warna putih disekitarku. Tempat yang aneh. Karena disini nggak ada apa-apa hanya jalanan sepi yang bener-bener asing.


Tapi jauh di dalam lubuk hati, aku kayak punya perasaan yang berbeda. Aku jauh lebih tenang dan damai. Aku nggak pernah ngerasain perasaan kayak gini sebelumnya. Aku tuh Kayak mau ketemu seseorang yang udah lama aku kangenin.


Aku ngeliat apa yang aku pakai.


"Dress? putih?" aku bingung dengan apa yang aku kenakan saat ini. Baju terusan yang sampai mata kaki. Tapi pas liat ke bawah, kok kaki aku nyekermen? Nggak pakai alas kaki. Itu cukup bikin aku ngerasa tambah aneh.


Jujurly, aku jarang banget pakai dress warna putih karena aku takut disangka kunti. Tapi kali ini kok bisa-bisanya aku yang seumur hidup menghindari pakaian kayak gini kok ya tiba-tiba make nih baju long dres, nggak banget gitu.


Masih sibuk merhatiin apa yang aku pakai, tiba-tiba ada satu cahaya yang sangat terang. Bahkan mataku aja susah buat dibuka.


"Eeugh, aku dimana sih? kok terang begini?" aku tutupin muka pakai kedua tangan seakan aku menahan cahaya itu supaya nggak nubruk.


Tapi perlahan, cahaya tadi meredup. Aku menurunkan tanganku. Dan ada satu sosok yang udah lama banget pengen aku temui.


"Papa..." ucapku.


Aku seperti anak perempuan kecil yang berlari mendekati papanya.


"Revaaaa. Gadis kecilku..." ucap papa.


Aku peluk papa erat, "Pah, Reva kangen, Pah..."

__ADS_1


Aku belum pernah merasakan hal emosional kayak gini. Air mataku lolos gitu aja, mbleber kemana-mana.


"Papa, maafin Reva, Pah..." aku menangis dipelukan papa.


"Papa yang harus minta maaf sama Reva. Papa udah ninggalin kamu, mama dan Ravel..." kata Papa.


Papa melepaskan pelukanku, dia menangkup kedua pipiku yang udah basah daritadi. Dia menyeka air mata ini dengan kedua ibu jarinya.


"Gadis kecilku sekarang sudah besar, menjadi wanita yang sangat cantik. Mirip sekali dengan mama mu, Ivanna ketika masih muda..." ucap papa tersenyum.


Sekarang tangannya menggandeng aku, aku inget banget terakhir kayak gini waktu rambutku masih sering dikuncir ekor kuda kanan dan kiri, dengan dilengkapi lilitan tali berwarna-warni.


Papa mengajakku duduk di satu kursi panjang yang juga berwarna putih. Papa menepuk punggung tanganku, dia tersenyum begitu tulus.


"Kenapa papa pergi? Reva masih butuh Papa. Hidup kita begitu sepi tanpa kehadiran papa..." ucapku.


"Kalian wanita-wanita yang kuat. Kamu tau apa hal terberat dalam hidup papa?" tanya papa.


Aku menggeleng.


"Berjalan kedepan, tapi tanpa membawa kalian..." ucap papa.


Air mataku netes gitu aja. Aku bisa ngerasain sebuah beban yang ada di kedua pundak papa.


Aku senderin kepalaku di bahu papa, tangannya merangkulku.


"Hidup ini tentang pilihan, Reva. Jangan pernah menyesali apa yang sudah terjadi, karena tidak ada satu detik pun yang lolos dari pengawasan tuhan. Semuanya sudah digariskan..." kata papa, aku mengangkat kepalaku, ngeliat papa dengan tatapan sendu.


"Bilang sama mama, kalau papa nggak pernah ninggalin kalian. Karena kalian selalu ada disini," papa menyentuh pelipis dan dadanya.


"Kalian selalu ada disini, di dalam sanubari papa!" lanjutnya.


Aku tersenyum, tapi lagi-lagi air mataku ngalir gitu aja dari sumbernya.


"Sekarang, lanjutkan hidupmu, Sayang! perjalananmu masih sangat panjang..." kata papa.


Aku menggeleng, "Aku nggak mau, Pah. Aku lelah, aku ingin ikut papa. Disini..."


Papa menggenggam kedua tanganku, "Nanti pasti kita akan bertemu, tapi bukan sekarang. Bukan saat ini..." ucap papa dengan suara yang bergetar.


"Satu hal yang perlu kamu tau, bahwa papa sangat menyayangimu, Reva. Sangat! kamu dan Ravel merupakan berkah dan anugerah yang tidak bisa dinilai dengan apapun. Hiduplah dengan sebaik-baiknya. Jaga mama dan adikmu," kata papa yang melepas genggaman tangannya dan berdiri.


"Nggak, Pah! Papaaaaaa....?!!" aku berusaha menahan papa.


"Biarkan Reva ikut, Paaaaah!" aku teriak saat sosok papa perlahan menjauh.


"Paapaaaaaaaaaaaaa!!!!" aku menangis saat tanganku tak bisa lagi menggapainya.


"Paaapaaaaaaaaaaaah..." aku menangis sambil menjulurkan tanganku yang semakin lama semakin ditarik menjauh, sejalan dengan bayangan papa yang semakin memudar.


Tiiit.


Tiiit


Tiiit.


Suara alat kedokteran yang sering aku dengar

__ADS_1


"Kembalilah, Revaaaaa! kembalilah, mereka semua menunggumu!" ucap seseorang pria yang memberikan satu sengatan di badanku.


__ADS_2