
Aku nggak boleh pasrah dibawa makhluk sialan ini.Aku berusaha memberontak di dalam air. Dan itu membuat makhluk dengan rambut dan kuku panjang ini melepaskan cengkramannya di pergelangan kaki ku dan sekarang dia memegang rahangku dan menancapkan kukunya yang tak beradab itu di kulit mulus aing.
"Waktumu sudah habis, ahhahahahahahahaha!" ucapnya dengan suara bisikan dan tawa yang menakutkan.
Kini dia menunjukkan wajahnya tepat di depan muka ku, dia membuka mulutnya lebar dan sekarang waktunya dia akan menghisap seluruh energi bahkan jiwaku.
Satu hal yang aku ingat untuk yang terakhir kalinya, Mama dan Ravel adikku. Air mataku menetes bercampur dengan air yang ada di sekelilingku.
Satu kilasan buruk tentang papa pun tak dapat aku tepis, bagaimana papa meninggalkan aku dan mama. Dia pergi saat Ravel masih bayi dan ada di gendongan mama saat itu. Aku berteriak memanggil papa, tapi seberapapun aku memohon papa tetap pergi bersama wanita itu. Wanita yang sepertinya tak asing bagiku, wanita berambut ikal dengan garis wajah yang sangat mirip dengan pak Karan.
Dan tiba-tiba saja ada sebuah cahaya berpendar diantara aku dan makhluk ini. Mataku yang hampir redup mendadak terbuka lagi, aku melihat sebuah cahaya putih yang kemudian berubah menjadi satu sosok wanita cantik berambut ikal. Dia menggerakkan tangannya dan keluarlah cahaya putih yang menghantam makhluk itu.
"Aaarggk!" pekik makhluk yang kini melepaskan tangannya dari rahangku, dia bahkan terdorong ke belakang.
"Pergilah..." ucap wanita itu.
Aku melihat pak Karan yang berenang ke arah ku dan melihat wanita yang sedang menahan makhluk penunggu cincin dengan kekuatannya.
Matanya menyiratkan sebuah kerinduan pada sosok itu. Dan aku baru ingat, wanita yang ada di hadapanku ini persis dengan wanita yang ada di dalam lukisan. Dia, Ilena Jessalyn. Wanita yang sama, yang aku lihat pergi bersama papa. Pantas saja ketika aku melihat lukisan yang ada di kamar.
"Asa, bawa dia dan kembalikan cincin itu! aku tak bisa menahan makhluk ini lebih lama, cepatlah!" ucap wanita itu pada pak Karan. Tapi pak Karan malah melihatnya tanpa berniat untuk bergerak.
"Cepat peeerrrrgiiiiiiiii!" teriak Ilena yang mulai kehabisan tenaganya.
Dan barulah pak Karan sadar, dan membawaku yang lemah ini pergi menjauh. Pak Karan berenang lebih cepat, dia menatapku sesaat dan kini dia kembali bergerak menuju batu berbentuk cangkang kerang. Sekarang pak Karan mencari cincin di tanganku, dia melepaskan cincin itu.
"Akuuu tidak akan membiarkan kalian mengembalikaaaannyaaaa!" teriak makhluk itu yang ternyata mengejar kami.
Pak Karan menepuk pipi ku, membuatku agar tetap sadar. Aku hanya mengedipkan mataku lemah. Dia menyuruhku untuk memegang salah satu cincin itu, dan ia pun memegang sisi satunya.
__ADS_1
"Tidaaaaaaaaaaakkkkk!" pekik makhluk itu saat aku dan pak Karan menaruh cincin itu di dalam batu berbentuk kerang yang disinari cahaya.
"Aaaaaaaaaarrrrrrgkkkkk!" dia memekik.
Dan seketika makhluk itu terhisap ke dalam batu berbentuk kerang yang kini menutup secara tiba-tiba.
Setelah batu itu menutup, ada pusaran air bercampur cahaya mengelilingi aku dan pak Karan.
Kita berdua berpegangan, dan terlihat potongan demi potongan masa lalu berhamburan.
Aku melihat papaku pergi dengan wanita yang kini aku tau bernama Ilena, papa masuk ke dalam sebuah mobil mewah.
"Mereka keluargamu, kamu yakin akan pergi denganku?" ucap Ilena yang kini duduk di samping papaku.
"Demi kamu terlepas dari kutukan itu, aku yakin Reva dan Ravel suatu saat akan mengerti..."
"Tapi istrimu, bagaimana kamu meninggalkan istrimu sendirian, Dave?"
Pak Karan masih memegang tanganku, kilasan itu terus berjalan seperti sebuah cuplikan film, aku melihat mobil yang di tumpangi Ilena dan Papa kecelakaaan. Namun beruntung, Ilena masih hidup, dia keluar dari mobil sebelum mobil itu akhirnya terjun ke jurang. Dan aku baru tau kenapa papa tak pernah kembali, ternyata papa sudah menghadap tuhan terlebih dahulu. Air mataku kembali menetes, dadaku seperti dikoyak-koyak, sakit dan sesak.
"Paapaaaaaaa!" aku berteriak dalam hati saat aku melihat mobil itu terguling ke dalam jurang.
Aku menangis melihat kejadian yang aku lihat di depan mata.
Kini aku melihat Ilena tergolek lemah di atas ranjang, kulitnya pucat bahkan seperti tak darah yang mengalir di tubuhnya.
"Asa, kemarilah," tangannya yang lemah melambai pada pak Karan.
"Ibu..." pak Karan mendekat pada Ilena. Dia duduk di tepi ranjang Ilena.
__ADS_1
"Ada yang ingin ibu katakan," ucap Ilena lirih.
"Ini sudah malam, lebih baik Ibu istirahat. Besok kita bisa bicara lagi," kata pak Karan lembut, dia mengusap punggung tangan ibunya. Aku melihat pak Karan yang melihat kilasan itu dengan tatapan sendu, aku yakin hatinya sangat sedih dan terluka saat ini.
"Ibu sudah tidak kuat, tolong Ibu..." kata Ilena.
"Apa yang harus aku lakukan, Bu?"
"Cabut semua alat ini," Ilena menunjuk infus dan selang oksigen. Aku melihat kamar Ilena seperti disulap seperti kamar perawatan yang terdapat banyak alat medis.
"Tidak, Bu... Ibu masih membutuhkan ini semua," ucap pak Karan.
"Sekarang ataupun nanti aku akan tetap mati, Asa. Tanpa atau dengan alat ini aku akan tetap pergi, dia sudah mengintaiku..." ucap Ilena.
"Siapa yang mengintaimu, Bu? akan aku binasakan dia!" pak Karan menggenggam tangan Ilena, air mata menetes dari kedua matanya.
"Dia bukan manusia, aku dijebak. Dia tak menyukaiku sejak aku ada di rumah ini, aku bisa merasakannya, aku mendengarnya merencanakan sesuatu..." kata Ilena. Aku sejujurnya nggak mengerti dengan apa yang dikatakan Ilena.
"Iya, siapa Bu? rencana apa?" tanya pak Karan.
Nafas Ilena mulai tersengal, matanya semakin sayu.
"Turunkan lukisan itu, ada sebuah kotak masukkan kodenya tanggal lahir ayahmu, ambilah kain yang ada disana," ucap Ilena lirih.
Pak Karan menurut, dia menurunkan lukisan ibunya dan menemukan sebuah brankas, setelah memasukkan kode, kotak besi pun terbuka.
Pak Karan segera mengambil apa yang diminta ibunya, lalu ia menutup kembali brankas dan memasang kembali lukisan itu. Aku melihat pak Karan kembali mendekat pada ibunya. Aku menggeleng tak percaya, mengapa pak Karan bohong sama aku, dia bilang dia baru menemukan kotak brankas. Tapi nyatanya, kotak itu sudah ditunjukkan bahkan ketika ibunya masih hidup.
Aku menatap pak Karan penuh tanya, sedangkan pria dingin ini hanya bisa menggenggam tanganku.
__ADS_1
...----------------...