
"Venaaa?" lirih Mona.
"Kamu kenal siapa Vena?" tanyaku pada Mona.
"Dia mantan pacarnya Bara," ucap Mona. Sekarang tatapan Mona berganti menjadi tatapan benci melihat ke arah Aris.
"Kamu tega ya, Ris! hiks" ucap Mona yang kini malah menangis.
"Ssshhh, udah, Mon! jangan nangis, ntar kita urus dia sampai selesai..." aku nyoba nenangin Mona.
"Dho, Bara ada dimana? dia udah pulang atau?"
"Pulang, Va! aku yang nyuruh pas jam 11 an tadi..." ucap Ridho.
"Dho, kamu telpon Bara sekarang. Suruh dia kesini..." aku nyuruh Ridho.
"Oke," Ridho segera nelpon Bara dan nyuruh gebetan Mona itu balik lagi ke rumah sakit.
Ridho ngeliat tanganku yang berdarah, "Tangan kamu luka, Va!" ucap Ridho.
"Aku panggil perawat ya?" lanjut Ridho.
"Urusin dulu tuh manusia, aku nggak apa-apa, Dho!" ucapku bohong. Padahal mah sakit banget.
Apalagi kedua punggung tanganku bekas di infus dan dua-duanya habis dicabut secara paksa.
Keadaan Mona jauh lebih baik dari sebelumnya. Dia udah bisa diajak ngomong, buktinya dia juga udah bisa ngebalin muka tuh orang yang ternyata temen si Bara.
"Kita tanya-tanya lagi setelah Bara dateng," ucap Ridho yang kini ambil tisu dan beraihin tanganku dari darah.
Situasi kamar udah amburadul saat Bara datang.
"Ada apa, Mas?" tanya Bara.
"Kamu kenal dia, Bar?" Ridho nunjuk orang yang duduk di sofa dengan tangan dan kaki yang terikat.
"Aris? ngapain kamu kesini? dan pakaian kamu?" Bara mendekat dan menunjuk pakaian Aris yang mirip emak-emak pakai longdress warna putih.
"Dia berusaha menakuti Mona dengan menyamar sebagai mbak Kun!" ucap Ridho. Dia memutar ulang rekaman suara tawa kun-kun di hape Aris, "Dia pakai suara backsound itu,"
"Kamu kenal sama dia Bar?" tanya Ridho.
"Kenal, kenal banget malah, Mas! dia itu temen akrabku dan kita juga sering nongkrong bareng, sama Mona juga..." kata Bara.
__ADS_1
"Kamu kenapa sih, Ris? nyamar kayak gini buat nakutin Mona? kamu kan tau Mona itu paling takut sama hantu!" ucap Bara yang nggak bisa mengkontrol raut wajahnya, dia jelas terlihat sangat kesal.
"Dia ini menyelinap ketika aku pergi ke mushola yang ada di bawah. Untung saja Reva memergoki ini orang dan berhasil nangkep dia yang tadinya udah mau kabur," kata Ridho.
Aku sama Mona mah nyimak aja, biar jadi urusan Ridho sama Bara soal urus mengurus orang yang meneror Mona.
"Kamu kenapa ngelakuin ini, Ris? kita kan temen, ada dendam apa kamu sama Mona?" Bara murka.
"Dia disuruh, Bar! sama cewek yang namanya Vena!" serobot Ridho.
"Vena? bener itu, Ris?" Bara emnatap tajam temannya itu. Aris mengangguk.
"Aku juga diancem, Bar! aku dipaksa buat ngelakuin ini," Aris membela diri.
"Halah, alesan! bilang aja kamu itu dibayar sama Vena, iya kan? aku nggak nyangka kamu tega berbuat jahat sama temen sendiri, Ris!"
"Nggak, Bar! aku nggak dibayar sama sekali. Beneran, Bar! aku juga ngga mau tapi aku ngelakuin ini karena terpaksa,"
"Jadi, aku sebenernya lagi lewat di toilet cewek. Terus aku denger ada yang teriak, aku nggak pikir panjang masuk aja niatnya mau nolongin. Kali aja tuh cewek kepleset atau kejedot di toilet, tapi itu semua cuma tipu-tipu. Tuh cewek malah mukulin aku dan nuduh aku mau ngintipin, padahal mah nggak! suwer, deh!" jelas Aris.
"Terus?" Bara minta Aris buta lanjutin ceritanya.
"Ya ternyata adegan aku dipukulin di toilet itu direkam sama Vena. Dia ngancem mau ngelaporin aku ke pihak kampus, karena udah meresahkan..." kata Aris.
"Please, Bar! jangan bawa aku ke kantor polisi, please! aku salah, aku minta maaf!" ucap Aris memohon pada Bara.
"Tindakan yang dia lakukan ini juga termasuk tindak kejahatan. Seandainya Mona punya sakit jantung terus dia wassalam karena kaget ngeliat begituan, gimana?" Ridho kesel banget sama Aris.
"Coba tanyain, selain disuruh nyamar jadi setan, dia disuruh ngapain aja sama Vena?" lanjut m Ridho.
"Jawab, Ris!" ucap Bara.
"Naruh sesaji di rumah kalian, termasuk nyebarin ikan busuk dan cacing! tapi yang nyuruh ke dukun buat neror Mona secara ghoib itu bukan aku, Bar! beneran, bukan aku!" kata Aris.
Aku yang mendengarnya kaget, "Diteror secara ghoib?" gumamku.
Tapi cuma aku yang kaget sedangkan Ridho dan Bara kayaknya udah tau masalah ini duluan dibanding aku.
"Aku udah tau, beruntung Mona masih bisa diselamatkan!" ucap Bara.
"Kalian ini bener-bener keterlaluan!" kata Bara nunjuk muka Aris.
"Maaf, Bar! aku nggak bermaksud---"
__ADS_1
"Udahlah, Ris! kita selesaikan aja di kantor polisi!" ucap Bara.
"Jangan, Bar! jangan, gimana kuliah aku, Bar! please!"
"Harusnya kamu mikirin itu sebelum melakukan ini semua,"
"Kamu minta maaf sama Mona dan kakaknya! kamu tuh udah bikin kegaduhan di rumah kontrakan mereka!" ucap Bara.
"Bang, maafin saya. Saya nyesel, saya janji nggak bakal ngulangin hal kayak gini lagi!" kata Aris.
"Kalau semua hal bisa diselesaikan dengan minta maaf, penjara sepi, tau nggak?" ucap Ridho.
"Saya mau ngelakuin apa aja, asalkan abang jangan dijeblosin ke penjara! Mon, maafin aku, Mon! please, Mon..." Aris mengiba pada Ridho dan Mona.
"Ada satu hal yang pengen aku tanyain! dimana kalian menyembunyikan Gadis?" tanyaku penasaran
"Gadis? hantu penunggu rumah kontrakan kalian?" tanya Aris.
"Dia ada bersama Vena..." lanjut Aris.
Jadi orang yang melakukan teror- meneror di kontrakan bukanlah pak Karan, melainkan mantan pacar si Bara Kumbara.
"Oke, kita bisa selesaikan ini secara kekeluargaan. Asalkan kamu mau membantu kita buat bikin Vena ngaku, kalau dia adalah dalang dibalik semua kekacauan ini!" kata Ridho.
"Dan kalau sampai Vena tau akan hal ini? aku pastikan besok kamu dijemput paksa ke kantor polisi, karena semua pengakuan kamu tadi sudah kita rekam di dalam sini!" ucap Ridho nunjukin hapenya.
Setelah men-screenshoot bukti chat antara Aris dan Vena, selanjutnya Ridho melepaskan teman Bara itu di jam 2 pagi. Jam nya setan-setan pada kongkow di jembatan.
"Mona..." Bara mendekati Mona. Sedangkan aku yang tau diri langsung geser, ngasih mereka ruang dan waktu.
"Kita ke IGD ya? buat obatin luka kamu..." ucap Ridho lembut.
"Bara, jagain Mona! aku mau nganter Reva ke bawah..." ucap Ridho pada Bara.
"Siap, Mas!"
Ridho mapah aku keluar kamar, sebenernya nggak usah dipapah juga aku masih bisa jalan sendiri.
Dan tepat diujung lorong sana, aku ngeliat pak Karan yang berjalan tergesa-gesa ke arahku dan Ridho.
"Astaga, kemana saja kamu? baru ditinggal sebentar sudah menghilang!" ucapnya cemas.
"Tangan kamu kenapa?" tanya pak Karan lagi.
__ADS_1
"Nggak apa-apa, cuma luka..." jawabku. Aku agak sedikit nggak enak karena udah salah paham dan nuduh bos galak ini uang bikin keriweuhan di kontrakan.
"Permisi, kita mau k IGD!" ucap Ridho. Tanpa aba-aba Ridho angkat badanku dengan kedua tangannya yang macho itu. Dia berjalan melewati pak Karan begitu saja